Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 58


__ADS_3

Beberapa hari ini Dafa harus bekerja dua kali lipat. Selain mengajar di kampus, dia juga harus mengurusi yayasan. Mengurus yayasan mungkin tidak sesulit mengurus sebuah perusahaan. Tapi bagi Dafa mengurus yayasan memerlukan kejelian ekstra karena dia harus memikirkan sistem pendidikan baru untuk yayasannya yang bergerak di bidang pendidikan.


Lalu dia harus pandai mengalokasikan dana sumbangan donatur untuk semua hal. Dan jangan sampai ada yang menyalahgunakan dana dari para donatur. Selain itu, Dafa diminta oleh rektor untuk mengajar di kelas S1 Hukum karena dosen yang lama akan pensiun. Ini semakin membuat Dafa keteteran untuk membagi waktu.


Hingga membuat Dafa diam termenung di dalam ruang kerjanya menatap lembaran dokumen yang memenuhi meja. Herdian melongok sekilas cucu laki-lakinya itu. Dia tahu tanggung jawab yang dia berikan kepada Dafa sangatlah besar. Dan Dafa harus bisa mengatasi ini. Herdian pun berjalan masuk ke ruang kerja Dafa.


"Dafa" panggil Herdian.


"Iya Yang" sahut Dafa sedikit terkejut karena Herdian membuyarkan lamunannya.


"Saran yangkung, kamu cari asisten dosen yang bisa membantu kamu mengajar di kelas S1. Mungkin ini bisa dilakukan terlebih dahulu sambil mencari dosen yang baru. Kamu cukup fokus dengan kelas S2 dan yayasan saja" ucap Herdian.


"Tapi aku belum menemukan orang yang tepat untuk berada di posisi sebagai asisten dosen" tandas Dafa.


Herdian menatap Dafa seperti memberikan isyarat lewat sorot matanya. Dafa mengernyitkan keningnya seolah-olah dia mengerti apa maksud dari kakeknya ini.


"Memang banyak mahasiswa S2 yang pintar, tapi aku mencari yang jujur dan disiplin. Aku tidak mau jika yang menjadi asisten dosenku tidak memiliki kinerja yang baik" jelas Dafa.


"Ya mungkin kamu bisa mempertimbangkan apa yang ingin yangkung usulkan kepada kamu, dan kamu pasti sudah tahu yangkung akan mengusulkan apa" tegas Herdian lalu pergi meninggalkan ruang kerja Dafa.


Dafa hanya bisa menatap kepergian kakeknya dengan tatapan datar. Tibatiba entah kenapa Nanda kembali terlintas dipikiran Dafa.


Diambilnya HP dan Dafa menatap layar HP-nya yang menunjukkan pukul sembilan malam. Dia teringat sesuatu yang sempat menjadi perdebatan antara dia dan Nanda. Dafa langsung beranjak dari bangku yang dia duduki. Berjalan dengan cepat meninggalkan ruang kerjanya dan bergegas ke kamar Zahra.


"Zahra!" tegur Dafa.


Zahra yang sedang fokus belajar lamsung terperanjat kaget melihat kedatangan mendadak dari kakaknya.


"Ih kakak, kalau masuk itu ketuk pintu atau salam dulu. Bikin kaget aja" gerutu Zahra.


"Iya maaf. Nggak kepikiran soalnya" balas Dafa.


"Kakak ngapain ke kamarku?" tanya Zahra.


"Kamu tahu nggak di mana ulang tahun Rio diadakan?" ujar Dafa.

__ADS_1


Zahra terdiam beberapa saat. Tak memberikan reaksi apapun sebelum akhirnya mulutnya menganga secara perlahan. Dia dibuat terkejut dengan pertanyaan kakaknya. Karena Dafa tidak pernah mau tahu urusan mahasiswa di kampus selama itu tidak mencoreng nama baik kampus.


"Cari tahu aja sendiri" ketus Zahra lalu memalingkan wajahnya.


Dafa melotot saat adiknya enggan menjawab pertanyaannya bahkan cenderung mencuekinya. Dafa pun meninggalkan kamar Zahra. Dan tanpa sepengetahuan Dafa, Zahra mengikuti langkah Dafa hingga akhirnya Dafa pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil.


"Zahra" teriak Herdian menepuk pundak Zahra dari belakang.


"Ih yangkung nyebelin deh. Tadi Kak Dafa ngagetin aku, sekarang giliran yangkung. Suka heran aku" omel Zahra dengan bibir manyun.


"Kamu ngapain jalan mengendap-ngendap kayak maling di rumah sendiri?" ujar Herdian.


"Aku lagi ngelihatin Kak Dafa pergi" jawab Zahra.


"Emang kakak kamu mau pergi ke mana?"


"Nyusulin Nanda."


"Nyusulin Nanda ke mana?"


"Di ulang tahun Rio."


"Itu Goriorio yangkung" gerutu Zahra dengan wajah kesal namun Herdian justru tertawa.


"Kamu kasih tahu di mana ulang tahun Rio?"


"Enggaklah. Biar Kak Dafa usaha sendiri cari tahu. Nggak susah cari tahu di mana Rio bikin pesta. Orang dia bikin update status di instagram" tutur Zahra.


"Anak pintar. Ini baru cucu yangkung" ucap Herdian merangkul Zahra.


"Emang aku pintar. Cuma yangkung nggak mau mengakui. Lagian kakak juga gengsian banget. Kalau khawatir sama Nanda tinggal telepon Nanda kan bisa" cicit Zahra.


"Sok jual mahal banget kakak kamu" sela Herdian terkikik geli.


*****

__ADS_1


Pesta ulang tahun sudah dimulai. Rio sudah melakukan sambutan sebagai ucapan terima kasih karena teman-temannya sudah mau hadir di pestanya. Setiap tamu undangan sudah memegang gelas minuman mereka masing-masing, karena akan masuk sesi bersulang.


"Sebelum kita mulai bersulang, aku mau memperkenalkan tamu spesial pada malam ini. Dia seseorang yang sangat luar biasa, dan istimewa. Kalian semua pasti akan terkejut" ujar Rio.


Rio mengalihkan pandangannya pada Nanda yang berdiri di sisi kanan kolam renang seorang diri.


"Dia adalah Nanda, perempuan paling cantik yang pernah aku temui" seru Rio menunjuk ke arah Nanda.


Nanda dibuat bingung sampai clingukan saat semua perhatian orang tertuju kepadanya. Ari dan Soni bersorak memanggil namanya agar dia maju ke depan panggung. Dan mau tidak mau Nanda pun berjalan menuju ke panggung lagi.


Dan saat Nanda berada di dekat Rio, pinggangnya langsung ditarik dan dirangkul oleh laki-laki itu. Nanda langsung melotot dibuatnya. Dan Rio hanya memberi senyum dengan tampang biasa saja. Dan semua tamu bersorak melihat kemesraan dia dan Rio yang tidak pernah Nanda sangka.


"Karena ini hari ulang tahunku dan kamu adalah tamu spesial pada malam ini, jadi kamu yang harus memimpin kami semua bersulang dan minum bersama" tukas Rio menyodorkan segelas minuman yang dia pegang.


"Apaa??" seru Nanda menganga.


Dia terdiam beberapa saat sambil melihat ke sekeliling. Kini pesta ini bukan lagi pesta ulang tahun tapi lebih mirip pesta minum alkohol. Dan rasanya Nanda ingin kabur dari sini.


"Aku tidak minum alkohol" tegas Nanda menepis tangan Rio yang menyodorkan gelas kepadanya.


"Ayolah Nanda hanya sekali saja. Ini enak kok" bujuk Rio.


"Tidak" tolak Nanda melepaskan tangan Rio yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa? Lakukan demi aku. Ayolah kita bersulang. Benar kan teman-teman?" teriak Rio yang langsung disambut teriakan meriah teman-temannya yang mendukung aksinya.


Rio langsung menggenggam tangan Nanda. Dia terus berusaha menahan Nanda agar di tidak meninggalkan pesta. Dengan terus memaksa Nanda meminum minuman yang dia pegang. Nanda berusaha untuk meronta. Karena Rio terus menarik tangan Nanda, perempuan ini pun berusaha melepaskan genggaman Rio.


Tiba-tiba genggaman tangan Rio terlepas saat Nanda menarik tangannya dengan kuat. Hingga Nanda langsung kehilangan keseimbangan tubuhnya hingga dia terhuyung ke belakang dan jatuh tercebur ke dalam kolam renang.


Suara gebyuran air pun terdengar menggema ke seluruh area private pool. Hal ini membuat semua orang terkejut terutama Rio. Nanda yang tercebur ke dalam air langsung muncul ke permukaan air. Dia menunduk malu dan menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya. Karena gaunnya yang basah itu membuat bagian dadanya terlihat.


Rio berjalan ke pinggir kolam renang dan hendak mengulurkan tangannya untuk membantu Nanda naik. Namun tiba-tiba datang seorang pria yang membuat Rio, Ari, dan Soni terkejut. Siapa lagi kalau bukan Dafa.


Dafa masuk ke dalam kolam renang. Melepaskan jas yang dia pakai. Kemudian menyampirkannya di pundak Nanda. Nanda langsung menoleh ke samping dan melihat sosok Dafa. Dirangkulnya tubuh Nanda lalu diajaknya gadis itu naik ke atas melalui tangga kolam renang.

__ADS_1


Dafa melirik ke arah Rio dan memberi tatapan tajam dan dingin. Tersirat sebuah peringatan dari sorot mata Dafa. Setelah itu Dafa mengajak Nanda meninggalkan tempat itu.


Dafa dan Nanda sudah meninggalkan hotel. Di dalam mobil Nanda hanya terdiam tertunduk. Terlihat tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Dafa hanya diam dan melihat itu. Tak memberi respon apapun. Hingga akhirnya Nanda mengeratkan jas milik Dafa untuk menutupi tubuhnya lalu memejamkan matanya.


__ADS_2