Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 60


__ADS_3

Perlahan-lahan semburat merah muncul di ufuk timur. Suara kokok ayam jantan makin sering terdengar. Sang ayam gembira sangat


melihat secercah cahaya mulai muncul. Kegelapan akan segera lenyap


berganti pagi.


Perlahan Nanda membuka matanya. Silauan cajaya mata hari membuatnya mengedipkan matanya berkali-kali. Nanda merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Dia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa tempat ini bukanlah kamar miliknya.


Nanda mendudukkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada senderan tempat tidur, "Ini kamar siapa?" tanya Nanda.


Nanda kembali mengingat soal kejadian semalam. Alhasil, dia teringat ketika Dafa membawanya pergi dari hotel. Nanda menduga bahwa Dafa membawanya pulang ke rumahnya. Nanda pun melihat bahwa dirinya sudah memakai pakaian lain. Sepertinya Zahra sudah mengganti gaunnya yang basah semalam.


"Ya ampun, Kak Dafa gimana bisa tahu tempat ulang tahun Rio. Dan ya astaga dia kenapa bisa se-gentleman itu waktu nolongin aku sih?" tandas Nanda sambil mengingat kembali ketika Dafa menolog dan membawanya naik dari kolam renang.


"Kenapa Kak Dafa bawa aku pulang ke rumahnya? Kalau papa sama mama nyariin gimana?" ucap Nanda sedikit khawatir.


"Tapi ngapain mereka khawatir ya. Pasti para bodyguard udah ngasih laporan ke papa sama mama" lanjut Nanda lagi.


Nanda menurunkan kakinya dari tempat tidur. Lantai marmer terasa cukup dingin bagi Nanda. Mungkin karena kondisi tubuhnya masih belum fit. Nanda pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


"Bentar, kalau papa sama mama tahu tentang perbuatan Rio ke aku..." Nanda menghentikan langkahnya dan langsung terpikirkan sesuatu yang membuatnya menepuk jidatnya.


"Gawat!" seru Nanda yang mengurungkan niatnya menuju kamar mandi. Dia justru memilih pergi keluar dari kamar.


*****


Di rumah Herdian, ruang makan dan dapur berada di area yang sama. Maka dari itu tempat ini memiliki ruang yang cukup luas. Apalagi lengkapnya peralatan dapur membuat space yang digunakan untuk area dapur lebih luas dari area meja makan.


Zahra dan Herdian sudah berada di meja makan terlebih dahulu. Walaupun Bi Inem dan beberapa pembantu lain belum selesai memasak. Tapi kali ini Zahra dan Herdian sengaja berada di ruang makan lebih awal karena ingin mendengar cerita menarik dari Bi Inem.


"Bi ceritain dong ke kita ada kejadian romantis apa semalam" ucap Zahra dengan penuh semangat.


"Ah Non Zahra, bibi jadi nggak enak ceritanya" balas Bi Inem malu-malu.


"Haduh Inem, ceritakan saja. Saya juga penasaran. Kamu jangan bikin saya mati penasaran ya" gertak Herdian.

__ADS_1


"Ampun Tuan Besar, bukan begitu maksud saya. Saya takut mencoreng nama baik Mas Dafa" tutur Bi Inem.


"Justru itu. Saya mau tahu, Si Anak Kutub itu melakukan apa saja pada Nanda?" tanya Herdian.


"Jadi begini..."


"Gimana bibi? Cepetan dong" rengek Zahra memotong perkataan Bi Inem.


"Iya Non Zahra, sabar. Jadi, waktu saya mau mengantarkan makanan untuk Non Nanda, ketika saya mau masuk ke dalam kamar tamu, saya melihat Mas Dafa mengoleskan obat ke tubuh Non Nanda begitu hati-hati. Seperti tidak ingin menyakiti dia" jelas Bi Inem.


"Terus-terus apa lagi?" sela Herdian begitu antusias seperti orang yang baru saja dapat medali emas lomba lari.


"Setelah itu, Mas Dafa mencium kening Non Nanda begitu dalam. Lalu, dia menyelimuti Non Nanda dan memastikan agar Non Nanda tidak kedinginan. Romantis sekali" tukas Bi Inem dengan gaya berbicara seperti orang yang sedang jatuh cinta membayangkan perlakuan romantis dari Dafa untuk Nanda.


Herdian dan Zahra saling memandang satu sama lain dan tersenyum. Mereka merasa sangat bahagia karena perlahan-lahan, Dafa mau mendekatkan diri kepada Nanda. Itu artinya ada kemungkinan Dafa bisa membuka hatinya untuk Nanda.


"Kalian sedang membicarakan apa?" Tiba-tiba terdengar suara berat dan dingin yang membuat aktivitas pergosipan mereka bertiga berakhir.


Herdian langsung menoleh ke sumber suara. Dan melihat sosok Dafa berdiri tegap dengan sorot mata yang tajam. Bi Inem langsung undur diri kembali ke dapur dengan wajah agak ketakutan.


"Eh Kak Dafa" sapa Zahra dengan senyum manis khas anak TK Terpadu.


"A...ahh...itu..yangkung..."


"Yangkung lagi ngomongin serial netflix yang baru yangkung tonton" timpal Zahra melanjutkan ucapan Herdian yang nampak bingung memberi penjelasan.


"Memang ada apa dengan serial itu? Yangkung terlihat sangat cemas" balas Dafa.


"Soalnya, kakak kan paling nggak suka kalau kita lagi ngomongin film atau serial yang lagi kita tonton. Ya kan, Yangkung?" ujar Zahra melirik ke arah Herdian.


"Iya benar itu. Yangkung kan juga penasaran sama tontonan anak muda zaman sekarang. Zaman yangkung dulu mana ada tontonan kayak gitu. Isinya kan perang semua" ucap Herdian.


"Tuh Kak, dengerin. Jangan syirik kalau ada orang bahagia. Makanya nikah biar nggak suram hidup kakak" ejek Zahra dengan wajah yang amat sangat menjengkelkan.


Dafa menarik telinga Zahra karena dia merasa tersinggung dengan ocehan adiknya yang sudah menyentuh area pribadi dari kehidupannya. Zahra langsung merintih kesakitan meminta jewerannya dilepas. Herdian pun melerai pertengakaran pasangan kakak adik ini.

__ADS_1


"Kamu ini jahat sekali sama adik kamu. Makanya kamu jomblo terus" tandas Herdian.


Dafa mendengus kesal karena kakek dan adiknya sama-sama kompak menghinanya.


"Maaf semuanya, Nanda mau..." sela Nanda yang tiba-tiba muncul di ruang makan.


"Pagi calon cucu mantunya yangkung" sela Herdian memotong perkataan Nanda. Dia pun berdiri lalu merangkul Nanda dan mempersilahkan dia duduk di kursi yang bersebelahan dengan Dafa.


"Yangkung kenapa sih selalu manggil aku calon cucu mantu? Emang nggak capek?" tanya Nanda.


"Lebih baik kamu duduk dan diam. Tidak perlu banyak bertanya" omel Dafa.


Nanda mengernyitkan keningnya saat Dafa mengomelinya. Kesal tentu saja. Dia kan hanya bertanya. Kenapa Dafa sekesal itu. Zahra hanya menahan tawanya saat Dafa memarahi Nanda. Karena hal itu sangat lucu baginya.


"Apaan sih Kak? Aku kan cuma tanya. Lagi pula yangkung itu sering banget manggil aku dengan sebutan itu. Kan aku penasaran" jelas Nanda.


"Ya udah yangkung kasih tahu. Alasan kenapa yangkung selalu manggil kamu dengan sebutan cucu mantu" balas Herdian.


"Apaan dong, Yang?" tanya Nanda.


"Yangkung..." peringat Dafa memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


"Jadi gini, yangkung itu sayang banget sama kamu. Dan yangkung ingin kamu menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi yankung berinisiatif untuk menjodohkan kamu sama Dafa. Gimana? Kamu setuju?" kata Herdian.


"APAA???" teriak Nanda dengan mata membulat sempurna dan mulut menganga.


Astaga. Nanda begitu terkejut. Dia tidak menyangka kalau dia akan dijodohkan dengan Dafa oleh Herdian. Dia tidak menyangka jika perasaan sukanya akan berbuah perjodohan. Nanda hanya mengikuti saran Apsara agar bisa dekat dengan Dafa.


"Dia tidak akan setuju" potong Dafa.


"Memang yangkung minta persetujuan Nanda? Yangkung hanya memberi tahu. Lagipula yangkung memaksa agar Nanda mau dijodohkan dengan kamu" seru Herdian tak mau kalah.


Astaga, kakek satu ini kayaknya kekeh banget mau jodohin aku sama Kak Dafa. Tapi, bukannya bagus ya kalau aku dijodohin sama Kak Dafa?, batin Nanda.


"Nanda nggak bisa kasih keputusan apapun. Semua tergantung orang tua Nanda, Yang" kata Nanda.

__ADS_1


"Orang tua kamu sudah setuju" tegas Herdian.


"APA?" ujar Nanda lagi. Dia bertambah kaget karena selama ini orang tuanya tidak pernah menceritakan apapun kepadanya. Nanda merasa bahwa ini rencana terselubung dari keluarganya. Dia akan menanyakan ini nanti, ketika sudah berada di rumah.


__ADS_2