
Pagi ini Apsara akan ikut meeting bersama Isyan dan klien baru yang akan bekerja sama dengan Wijaya Group untuk membangun resort di sekitar Candi Borobudur. Di malam sebelumnya, dia dan Bara sudah membicarakan tentang konsep dan design resort tersebut. Isyan dan Dion pun menyetujui ide kedua anak mereka. Tinggal membicarakannya dengan klien mereka hari ini.
Saat ini Isyan, Dion, dan Wisnu sudah beada di ruang meeting. Sementara Risko ditugaskan memanggil Apsara untuk menuju ruang meeting.
Risko melihat Eta, tentu saja dia menghampiri Eta dan menyapanya, "Hai Eta."
Eta terkejut bukan main saat Risko menyapanya. Siapa yang tidak tahu Risko. Asisten dari Isyana Wijaya yang terkenal dengan ketampanannya. Bahkan semua karyawan perempuan mengidolakan dia. Dan sekarang, bagaikan mimpi, Eta disapa oleh Risko.
"Ha...hai Pak Risko" balas Eta gugup.
Apsara baru saja kembali dari toilet melihat Risko bersama Eta. Apsara tersenyum ketika melihat bagaimana usaha Risko mendekati Eta.
"Pak Risko cari siapa?" tanya Apsara mengakhiri drama Risko dan Eta.
Risko terkejut saat menyadari keberadaan Apsara, "Saya mencari kami." Risko berbicara setenang mungkin. Padahal dia gugup bukan main seperti sedang tertangkap basah oleh Apsara.
"Ada apa Pak?" balas Apsara.
"Kamu diminta untuk menemui Bu Isyan di ruang meeting" ucap Risko.
"Oh iya Pak" kata Apsara menganggukkan kepala.
Risko meninggalkan ruang divisi promosi. Apsara mengambil berkas di atas mejanya. Eta menghampiri Apsara karena merasa penasaran.
"Kenapa Bu Isyan memanggil kamu, Sa?" tanya Eta.
"Oh itu. Bu Isyan mau membahas soal ide dari aku tentang menawarkan produk sabun ke beberapa hotel" jawab Apsara.
"Oh gitu."
"Ya udah, aku pergi dulu ya. Hati-hati nanti kamu kesengsem sama Pak Risko" ledek Apsara sambil menepuk bahu Eta.
"Ih, Apsara jangan ngeledek dong" gerutu Eta.
Apsara terkekeh melihat kejengkelan Eta. Setelah itu dia bergegas pergi menuju ruang meeting. Sesampainya di ruang meeting, Apsara langsung masuk.
"Selamat pagi, Bu, Pak" sapa Apsara dengan ramah.
"Silahkan masuk" ucap Isyan mempersilahkan putrinya masuk.
Apsara duduk di kursi di sebelah Isyan dan berhadapan dengan Wisnu.
"Siapa dia?" tanya Wisnu menunjuk Apsara.
"Pak Wisnu perkenalkan, dia Apsara. Dia salah satu karyawan terbaik di perusahaan ini. Dan Apsara yang akan menjelaskan ide-ide briliannya untuk pembangunan resort kita yang baru" jawab Dion.
"Selamat pagi Pak Wisnu. Saya harap bapak akan menyukai ide yang saya berikan" kata Apsara.
"Silahkan presentasikan ide kamu" ujar Wisnu.
Dengan begitu lancar, tegas, dan penuh keyakinan, Apsara menjelaskan setiap detail ide-ide yang miliki. Wisnu memandang Apsara dengan penuh kekaguman. Kecerdasan dan kepercayaan dirinya membuat dia benar-benar puas dengan semua ide yang diberikan Apsara.
"Luar biasa. Saya sangat kagum dengan semua ide kamu. Saya yakin proyek ini akan sukses nantinya" puji Wisnu.
"Terima kasih banyak, Pak" ucap Apsara dengan penuh hormat.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa Pak Wisnu sepakat dengan kerja sama ini?" sela Dion.
"Tanpa ragu, saya sangat yakin untuk bekerja sama dengan Wijaya Group" kata Wisnu dengan yakin.
Isyan melirik ke arah Arum yang berdiri di sebelahnya untuk memberikan sebuah dokumen perjanjian. Wisnu pun tanda tangan pada dokumen itu. Begitu juga dengan Edi, asisten Wisnu yang memberikan dokumen untuk ditanda tangani oleh Dion dan Isyan.
Setelah meeting selesai, Wisnu dan Edi mengundurkan diri. Keduanya pun meninggalkan ruang meeting. Saat sedang berjalan di koridor kantor, tanpa sengaja ada yang menabrak Wisnu.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja" ucap orang yang menabrak Wisnu.
Wisnu seperti mengenal suara itu, hingga akhirnya dia menoleh orang yang ada di hadapannya.
"Sanjaya..." seru Wisnu.
Sanjaya terkejut setengah mati, saat dia berhadapan dengan orang yang bertahun-tahun berusaha dia hindari. Tapi hari ini dia harus bertemu dengan orang itu.
"Ayah..." lirih Sanjaya.
Sanjaya tidak mau jika teman-teman kantornya mengetahui identitasnya. Maka dari itu, dia hendak pergi meninggalkan Wisnu, namun Wisnu telah lebih dahulu menahan tangan Sanjaya.
"Nak, tolong beri ayah kesempatan untuk bicara" ucap Wisnu memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sepertinya semua sudah jelas. Tidak perlu ada yang diperjelas. Kalaupun ayah ingin menjelaskan semuanya, tidak akan bisa mengembalikan ibu kepadaku" tegas Sanjaya dengan sorot mata tajam.
"Raden, saya mohon beri kesempatan ayah anda untuk berbicara" sela Edi berusaha membujuk Sanjaya.
"Kamu pun sama saja. Di mana kamu saat aku dan ibu membutuhkan bantuan?" seru Sanjaya.
"Sanjaya, ayah mohon sekali ini saja" bujuk Wisnu sambil mengenggam tangan Sanjaya.
"Maaf, saya ada banyak pekerjaan. Permisi" ujar Sanjaya bergegas pergi meninggalkan ayahnya.
"Mari Kanjeng" kata Edi mengajak Wisnu untuk pergi.
Wisnu pun akhirnya meninggalkan kantor Wijaya Group dengan perasaan yang kacau.
Sementara Sanjaya kembali ke ruang divisi promosi dengan langkah tergesa-gesa.
"San kamu kenapa?" tanya Eta keheranan.
"Nggak papa kok" jawab Sanjaya cepat.
"Kamu kelihatan seperti dikejar setan" sela Apsara.
"Bukan setan, Sa. Mungkin aja dia ketemu mantannya" ujar Eta sambil tertawa.
"Hus ngawur kamu. Pacaran aja aku belum pernah gimana mau punya mantan" bela Sanjaya.
"APAA???" Mata Eta membulat sempurna saat mendengar perkataan Sanjaya. Begitu juga dengan Apsara yang juga terkejut mendengar pengakuan Sanjaya.
"Aku nggak percaya" ujar Eta dengan wajah melongo tak percaya.
"Bodo amat. Memang aku peduli" tukas Sanjaya dengan wajah kesal.
*****
__ADS_1
Hari ini Nanda memutuskan untuk masuk kuliah. Dia merasa sangat bosan berada di rumah. Tidak melakukan apapun. Hanya bisa bermain laptop sambil rebahan. Setelah jam mata kuliah pertama selesai, Nanda berniat menemui Zahra. Karena sejak kemarin Zahra sama sekali tidak mengirim pesan atau menelponnya.
Nanda sedang menyusuri koridor gedung jurusan Zahra. Sesampainya di kelas, dia tidak menemukan Zahra. Kata teman sekelasnya, Zahra sedang pergi ke perpustakaan. Tanpa menunggu lama, Nanda pun menyusul Zahra ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, Nanda mencari di setiap lorong, dan akhirnya dia menemukan Zahra yang sedang duduk di salah satu bilik membaca.
"Zahra" panggil Nanda dengan begitu ceria.
Zahra menoleh saat melihat kehadiran Nanda. Dia tak membalas sapaan dari Nanda. Zahra memilih fokus membaca buku tanpa ingin berbicara.
"Serius banget sih?" kata Nanda melongok buku Zahra.
Zahra merasa kesal. Dia pun menutup bukunya agak keras lalu mengambil tas dan beranjak pergi.
"Zah, kamu mau ke mana?" tanya Nanda mengejar Zahra.
"Nggak usah ikutin aku" bentak Zahra.
Nanda menghentikan langkahnya dan terkejut, untuk pertama kalinya dia mendengar Zahra berbicara dengan nada tinggi.
"Kenapa? Apa salahku?" tanya Nanda lagi.
"Maaf Nan, aku pengin sendiri. Tolong jangan ikutin aku" jelas Zahra lalu pergi meninggalkan Nanda yang masih mematung dan mencoba menerna perkataan Nanda.
Nanda keluar dari perpustakaan dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Dia tidak tahu kenapa sikap Zahra berubah kepadanya. Nanda mencoba mengingat, mungkin dia sudah melakukan kesalahan terhadap Zahra. Karena Nanda berjalan sambil melamun, sehingga dia tidak memperhatikan jalan sampai tak sadar dia menabrak seseorang.
BUGH
"Aww" rintih Nanda saat kepalanya membentur kepala orang yang dia tabrak.
"Kamu kalau jalan jangan sambil melamun" tegur orang yang ditabrak Nanda, yang tak lain adalah Dafa.
Karena luka di kepala Nanda belum sembuh total, sehingga benturan itu membuat kepala berdenyut keras. Nanda merasakan pusing, dan tubuhnya sempoyongan.
"Nanda kamu kenapa?" tanya Dafa memegangi tubuh Nanda.
Dafa membawa Nanda untuk duduk di kursi yang ada di koridor kampus. Dia memberi Nanda air putih.
"Kamu kalau masih sakit, tidak perlu berangkat kuliah" ujar Dafa.
Nanda meneguk air pemberian Dafa hingga habis, "Saya bosan di rumah Pak. Nanti kalau saya kelamaan izin, tugas tambah numpuk."
"Terima kasih, Pak. Waktu itu bapak mau menolong saya" lanjut Nanda sambil tersenyum.
"Gara-gara saya menggendong kamu, malamnya badan saya sakit semua. Rasanya semua tulang saya remuk" ucap Dafa dengan nada menyebalkan namun dengan ekspresi datar.
Nanda melotot mendengar perkataan Dafa, "Bapak kalau nggak ikhlas, ya nggak usah nolongin saya," gerutu Nanda.
"Kalau saya nggak nolongin kamu, nanti saya dicap sebagai dosen yang tidak bertanggung jawab" balas Dafa tak mau kalah.
Nanda mengalihkan wajahnya bahkan sekarang dia memanyunkan bibirnya karena merasa jengkel dengan perkataan Dafa. Tanpa sadar Dafa tersenyum melihat ekspresi kesal dari Nanda.
"Nggak usah ngambek. Mending kamu kerjakan tugas dari saya yang kemarin" kata Dafa.
"Hahaha..maaf ya Pak. Walaupun kemarin saya nggak masuk, tapi saya sudah mengerjakan tugas dari bapak" sela Nanda dengan bangga.
Nanda mengalurkan tugas dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Dafa. Dafa tak menyangka bahwa Nanda adalah mengerjakan tugasnya walaupun dia tidak masuk kuliah. Bahkan hasil tugasnya jauh lebih baik dari mahasiswa yang lain.
__ADS_1
"Awas ya kalau tugas kamu nilainya jelek. Saya beri tugas tiga kali lebih banyak" ujar Dafa lalu beranjak berdiri dan meninggalkan Nanda.
"Hih, nyebelin banget itu dosen satu. Kalau bukan karena dosen, udah aku bejek-bejek itu muka sok gantengnya" gerutu Nanda sambil menghentakkan kakinya ke lantai karena merasa kesal.