
Setelah nama Nanda disebut sebagai finalis terakhir yang masuk tiga besar, semua teman-teman yang ada di ruang ganti bertepuk tangan dan beraorak. Zahra dan Almira saling memeluk penuh bahagia. Mereka tidak menyangka Nanda begitu cerdas dan lancar saat melakukan speech dengan tema speech yang di luar dugaan.
Tidak dengan Ria dan Jeje. Kedua gadia itu diam-diam meninggalkan ruang nonton bareng. Mereka berdua menuju ke ruang ganti Nanda. Mata mereka langsung tertuju pada tas gaun yang menggantung di stand hanger. Keduanya langsung melangkah mendekati stand hanger itu. Ria membuka resleting tas gaun itu.
"Ayo Je, keluarin guntingnya" perintah Ria.
Jeje mengeluarkan gunting dari dalam kantong celananya. Dia mengguting gaun Nanda bagian punggung hingga membuat gaun itu bolong. Tidak hanya itu, dia juga menggunting bagian bawah gaun hingga membuat belahan setinggi pinggang.
"Rasain kamu. Sekarang dia nggak bakal bisa tampil di babak terakhir. Dan Sindi langsung dinobatkan sebagai pemenang" ujar Jeje.
Ria tersenyum membalas perkataan Jeje. Mereka berdua langsung keluar dari ruang ganti Nanda agar tidak ketahuan.
*****
Nanda sudah turun dari panggung. Dengan senyum merekah mengiri langkahnya menuju ruang ganti. Dia langsung disambut pelukan hangan kedua sahabatnya dan beberapa teman-teman yang lain.
"Selamat Nanda. Tadi speech kamu keren banget" puji salah satu finalis.
"Makasih" balas Nanda ramah.
"Kita nggak nyangka kalau ada mahasiswi sepintar kamu" kata finalis yang lain.
"Iya, aku memang jarang ikut acara kampus. Karena tugas mahasiswa S2 itu banyak banget. Tiap minggu suruh ngumpulin paper. Jadi aku nggak punya banyak waktu buat sosialisasi sama kalian" jawab Nanda setulus mungkin.
"Girls, dilanjut nanti ya ngobrolnya. Nanda harus ganti baju nih" potong Zahra.
Zahra menggeret tangan Nanda untuk menuju ke ruang gantinya. Sesampainya di sana Nanda langsung meepas aksesoris di rambut dan perhiasan yang masih menempel di tubuhnya. Karena dia akan menggunakan perhiasan yang lain.
"Al, kamu keluarin gaunnya dari dalam tas" perintah Zahra.
"Oke Kak" sahut Almira.
Almira berjalan menuju stand hanger yang ada di sudut ruangan itu. Perlahan Almira membuka resleting tas yang membungkus gaun itu. Kemudian melepaskan tas itu dari gaung. Mata Almira langsung membelelak dengan mulut menganga saat melihat kondisi gaun yang dia pegang.
__ADS_1
"Aku sempat khawatir waktu kamu dapat tema speech yang berbeda dari finalis yang lain" ujar Zahra.
"Aku juga kaget. Bukan karena tema speechnya yang belum aku ketahui. Tapi siapa yang sengaja membuat aku mendapatkan tema yang berbeda dari yang lain. Pasti ada sabotase" balas Nanda.
"Aku juga berpikir begitu. Siapa yang melakukan ini ya?" ucap Zahra.
"Entahlah" jawab Nanda sambil mengedikkan bahunya.
"Al, kenapa lama sih" seru Zahra.
Nanda dan Zahra menoleh ke belakang secara bersamaan. Dan di saat itu juga Almira menenteng dan memperlihatkan gaun satin berwarna merah itu. Nanda dan Zahra terkejut bukan main saat melihat gaun itu rusak parah.
"WHAT THE HELL!!!" teriak Nanda dengan ekspresi terkejut.
Zahra langsung merabah gaun itu dan hampir 80% bagian gaun itu rusak parah dan tidak bisa dipakai lagi.
"Nan, gaunnya rusak" lirih Zahra hampir terisak.
"Tapi, tadi gaunnya baik-baik aja kok. Kenapa sekarang jadi begini?" kata Almira dengan wajah kebingungan.
"Terus gimana Nan? Kamu harus ganti pakai gaun. Panitia cuma memberi wakti 15 menit untuk ganti. Sementara kita udah nggak ada gaun lagi" sela Zahra mulai khawatir.
Nanda mengambil HP-nya yang berada di atas meja rias. Dia mencari nomer seseorang lalu menelepon nomer itu.
"Halo..."
*****
Langga menyetir mobil secepat mungkin setelah dia menerima telepon dari Nanda. Dia diminta mencari gaun pengganti setelah Nanda memberitahu bahwa gaun yang seharusnya dia pakai rusak. Langga tidak memiliki waktu jika harus ke butik Siska. Tempat yang paling dekat dengan kampus adalah rumahnya. Dia memutuskan untuk mengambil gaun di rumah.
Akhirnya Langga sampai di rumah. Dia langsung berlari memasuki rumah.
"Den Langga kenapa lari-lari?" tegur Bi Nani.
__ADS_1
"Darurat Bi. Bibi harus bantu aku cari gaun yang biasa dipakai Kak Apsa, Mami Rara atau sama Mama Isyan. Aku butuh sekarang" ucap Langga dengan napas tersengal-sengal.
"Ya sudah, kita ke ruang pakaian saja" ajak Bi Nani.
Bi Nani mengajak Langga menuju ruang pakaian. Ruangan yang cukup luas dan mewah yang khusus untum menyimpan berbagai macam koleksi tas, sepatu, dan pakaian mahal keluarga ini. Bi Nani menuju salah satu lemari kaca yang cukup tinggi dan besar. Lemari itu menyimpan beberapa gaun yang menggantung di dalamnya.
"Bi yang cocok buat Nanda yang mana?" tanya Langga terlihat kebingungan memilih gaun karena dia tidak begitu paham fashion.
"Kalau pakai gaun Non Apsara pasti kebesaran. Pakai gaun milik Nyonya Isyana saja. Ada satu gaun yang pernah nyonya pakai waktu masih muda" ucap Bi Nani.
"Cepetan ambil sekarang Bi" teriak Langga.
Bi Nani berlari terbirit-birit menuju sebuah pintu yang di dalamnya masiha da sebuah ruang penyimpanan. Ruangan ini lebih spesifik menyimpan koleksi pakaian, tas, dan sepatu lama dari milik Kusuma dan Rama hingga milik Isyan dan Dion.
Tak berapa lama Bi Nani kembali dari ruangan itu dengan menenteng gaun panjang dengan model punggung terbuka berwarna merah maroon dipenuhi payet bertabur kristal-kristal kecil yang indah.
"Ini punya mama?" tanya Langga memperjelas dengan ekspresi kagum melihat gaun itu.
"Tuan Arya memberikan gaun ini sebagai kado ulang tahun Nyonya Isyan. Dan nyonya memakainya saat perayaan ulang tahunnya. Gaun ini selalu disimpan baik-baik oleh nyonya. Dia bilang siapa tahu di antara kedua putrinya akan ada yang memakainya"jelas Bi Nani.
"Papa Arya memang romantis ya. Aku nggak nyangka mama pernah sekurus ini? Atau bahkan lebih kurus dari Nanda" celetuk Langga sambil terkekeh.
Tiba-tiba terdengar suara HP Langga. Dia merogoh kantong celananya dan mengangkat telepon yang dia dapat.
"Halo Nen."
"Lang buruan balik ke kampus. Aku nggak bisa lama-lama nungguin saklar listrik kampus. Lama banget ambil gaun doang" teriak Nendra sampai membuat Langga menjauhkan HP-nya dari telinganya.
"Iya tukang es cincau sabar. Ini kan harus nyari gaun yang cocok buat kembaran kamu" balas Langga langsung mematikan telepon dari Nendra dengan perasaan jengkel.
Bi Nani mengamati perubahan wajah Langga, "Bagaimana Den?" tanya Bi Nani.
"Bawakan gaun ini Bi" tutur Langga.
__ADS_1
"Siap Den" balas Bi Nani.
Bi Nani membungkus gaun itu dengan tas pembungkus gaun agar tetap rapi. Setelah mendapatkan gaun itu Langga bergegas meninggalkan rumah dan menuju kampus secepat mungkin.