Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 32


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Sanjaya langsung berteriak memanggil perawat. Sanjaya menggendong Apsara dan meletakkannya di bankar yang dibawa oleh perawat. Apsara pun langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan. Sanjaya tak henti-hentinya mondar-mandir di depan ruang IGD. Dia sangat mencemaskan kondisi Apsara. Kalau menjaga Apsara saja tidak bisa, bagaimana Apsara bisa yakin untuk menerima cinta Sanjaya. Itulah hal yang terus berputar di kepala Sanjaya.


Tak berapa lama dokter keluar dari ruang IGD.


"Anda anggota keluarga pasien?" tanya dokter.


"Iya. Bagaimana keadaan dia, Dok?" balas Sanjaya.


"Saat ini kondisi pasien kritis. Dia banyak kehilangan darah. Kami membutuhkan darah A-. Kami tidak memiliki stok di PMI" kata dokter.


"Ambil darah saya saja, Dok" ujar Sanjaya tanpa ragu.


"Baik. Mari ikut saya" ajak dokter.


Dokter membawa Sanjaya ke ruangan khusus untuk diambil darahnya. Cukup banyak darah yang diambil dari tubuh Sanjaya hingga membuat dia lemah tak berdaya. Setelah mendapatkan darah yang dibutuhkan, dokter itu langsung mendonorkan darah milik Sanjaya kepada Apsara.


Hingga satu jam berlalu, Sanjaya sedang istirahat di ruangan tadi, sementara Apsara masih dalam penangan dokter. Isyan diberitahu oleh bodyguard yang diam-diam mengawasi Apsara kalau putri sulungnya mengalami kecelakaan. Isyan langsung pergi ke rumah sakit bersama dengan Dion. Karena dia kesulitan menghubungi Arya.


Kedatangan Isyan tentu saja membuat heboh seisi rumah sakit. Kehadiran orang paling berpengaruh di negara ini berhasil membuat semua orang kalang kabut.


"Di mana ruang IGD berada?" tanya Isyan kepada perawat yang dia temui.


"Di lorong sebelah sana" jawab perawat sambil menunjukkan arah.


Isyan langsung berlari menuju IGD bersama Dion. Baru beberapa menit Isyan sampai di depan IGD, dokter keluar dari ruang IGD.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Isyan.


Dokter itu tertegun beberapa detik menyadari siapa yang ada di hadapannya. Dia pun akhirnya tahu kalau pasien yang baru saja dia tangani adalah putri dari Isyana Wijaya.


"Untung saja ada seorang pria yang bersedia mendonorkan darah untuk pasien sehingga dia sudah bisa melewati masa kritisnya. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat" jawab dokter.


"Syukurlah" ucap Isyan dan Dion bersamaan.


Setelah Apsara dipindahkan ke ruang rawat, Isyan dan Dion langsung menemani hingga Apsara sadar. Tak berapa lama Arya datang bersama Bara.


"Sayang, gimana keadaan Apsa?" tanya Arya sambil memeluk Isyan yang terkihat matanya sudah sembab.


"Dia belum sadar" jawab Isyan sedikit terisak.


"Bara, apa kamu sudah menyelidiki kejadian tabrak lari yang dialami oleh Apsa?" tanya Dion.


"Aku sudah meminta Aldi dan Risko untuk menyelidikinya. Sepertinya orang menabrak Apsara memang sengaja melakukan itu" ujar Bara.


"Siapapun pelakunya dan apapun motifnya, berikan dia balasan yang setimpal atas apa yang dia lakukan" kata Arya penuh kemarahan.


"Pasti, Pa. Aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang karena sudah mencelakai saudaraku" ujar Bara.


Percakapan mereka pun terhenti ketika mendengar suara erangan Apsara. Dia sudah siuman dan beberapa kali menerang kesakitan di bagian kepala. Isyan pun meminta Bara memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Apsara.

__ADS_1


*****


Sanjaya baru menghabiskan makanan dan segelas susu yang diberikan perawat setelah dia melakukan donor darah. Kini keadaan Sanjaya sudah lebih baik. Dia ingin sekali melihat keadaan Apsara. Sanjaya keluar dari ruangan itu dan menuju ruang IGD. Namun Apsara sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sanjaya pun pergi menuju ruang rawat Apsara.


"Apsa..." Kalimat Sanjaya terhenti saat melihat kehadiran orang-orang yang ada di ruang rawatnya. Jelas hal ini sontak membuat Sanjaya terkejut bukan main.


"Sanjaya, bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Isyan.


"Bu Isyan, dialah orang yang mendonorkan darahnya untuk putri anda" ucap dokter melirik ke arah Sanjaya.


"Terima kasih Sanjaya, kamu tanpa pikir panjang menolong putriku. Mungkin jika tidak ada kamu, kami tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Apsara" ujar Isyan.


"Putri?" Sanjaya semakin dibuat bingung dengan perkataan Isyan barusan.


Tak berapa lama, HP Bara berbunyi. Dia mendapat telepon dari Aldi kalau pelaku penabrakan Apsara sudah tertangkap. Dia pun berencana ingin bertemu dengan pelaku terlebih dahulu. Arya dan Dion pun ikut serta Bara. Karena mereka juga ingin memberi pembalasan kepada pelaku.


"Sa, bagaimana dengan keadaan kamu?" tanya Sanjaya masih dengan rasa canggung.


"Jauh lebih baik. Tapi kakiku mengalami cidera. Jadi aku harus menggunakan kursi roda dan menjalani terapi" jawab Apsara menampakkan wajah baik-baik saja.


Isyan memperhatikan kontak mata antra Sanjaya dan Apsara. Dia merasa ada sesuatu di antara mereka berdua.


"Sanjaya, boleh saya minta tolong sama kamu?" sela Isyan.


"Tentu Bu."


Sanjaya mengangguk mengiyakan. Lalu Isyan mencium kening Apsara sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan itu. Sanjaya pun mendekati Apsara, dan entah dorongan dari mana Sanjaya langsung memeluk Apsara. Dan saat itu juga entah bagaimana Apsara merasa sangat lemah dan rapuh. Dia takut kalau dia tidak bisa berjalan lagi. Dia tidak ingin cacat.


"Aku takut...kalau aku tidak bisa berjalan lagi" isak Apsara.


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Pasti kamu sembuh. Keluarga kamu tidak akan membawa kamu ke terapis terbaik" ujar Sanjaya menyemangati Apsara.


Sanjaya masih mendengar suara tangis dari Apsara. Dia pun melepas pelukannya lalu beralih menangkup wajah wanita itu. Dia menatap mata Apsara begitu dalam.


"Bagaimanapun keadaan kamu, aku akan selalu menemani kamu. Bukan karena aku kasihan dengan kamu, tapi karena aku mencintai kamu" kata Sanjaya dengan tulus.


Perlahan sebuah senyum terbit dari wajah Apsara. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Sanjaya kembali memeluk Apsara. Kali ini mereka saling memeluk penuh kebahagiaan.


"Terima kasih sudah mencintaiku" lirih Apsara.


*****


Apsara pun menceritakan kepada Sanjaya tentang identitasnya dan alasan kenapa dia menyembunyikan semua itu. Sanjaya paham soal hal itu. Dia tidak merasa ditipu oleh Apsara. Toh dia sudah mencintai Apsara sebelum dia tahu kalau Apsara adalah putri dari Isyana Wijaya. Sanjaya akhirnya menceritakan permasalahan dia dengan ayahnya.


"Aku tidak membenci dia. Aku hanya merasa kecewa. Kenapa ibu harus tinggal di rumah belakang? Apa karena ibu dari kalangan rakyat jelata. Tapi dia juga istri ayah. Saat ibu dituduh selingkuh dari ayah, semua orang mengusir ibu dari rumah besar. Aku yakin ibu tidak melakukan itu. Saat itu tidak ada yang peduli dengan ibu, bahkan ayah sekalipun. Hingga akhirnya ibu meninggalkan aku untuk selama-lamanya" ujar Sanjaya dengan wajah sendu.


Apsara meraih tangan Sanjaya lalu mengelusnya. Apa yang dilakukan Apsara mengejutkan Sanjaya. Ini pertama kalinya Apsara bersikap begitu lembut.


"Aku tahu rasa kecewamu tidak bisa ditukar dengan apapun. Tapi setidaknya beri kesempatan ayahmu untuk bicara dan menjelaskan semua. Pasti terjadi kesalahpahaman" jelas Apsara.

__ADS_1


"Akan aku pikirkan" ucap Sanjaya tersenyum.


"Apsara!!!" Tiba-tiba Rara datang bersama Asmara dan membuat Apsara harus melepaskan tangan Sanjaya.


Rara langsung menghamburkan pelukan kepada Apsara, "Mami khawatir sekali waktu tahu kamu kecelakaan. Kamu nggak papa kan?" tanya Rara.


"Aku nggak papa, Mi" jawab Apsara.


Rara melirik ke arah Sanjaya dan beralih menatap Apsara sebagai isyarat bertanya siapa laki-laki itu.


"Mami perkenalkan, dia Sanjaya. Teman sekantorku" kata Apsara.


"Wah kamu pintar juga pilih pacar. Bara pasti cemburu kamu dapat pacar lebih ganteng dari dia" balas Rara dengan humor.


"Mami" desis Apsara memberi tatapan tajam.


"Apsara, kamu mau makan apa? Aku sudah bawakan makanan untu kamu" sela Asmara.


"Apa saja yang kamu bawa" ujar Apsara.


"Sanjaya, kamu suapi Apsara ya. Pasti dia makannya akan jauh lebih lahap kalau kamu yang menyuapi dia" goda Rara.


"Baik kalau tante yang meminta" balas Sanjaya dengan senang hati.


*****


Bara, Dion, dan Arya pergi ke sebuah gudang. Mereka sudah memerintahkan Aldi dan Risko untuk mengurung pelaku penabrakan Apsara.


"Utomo!" teriak Dion saat melihat Utomo yang duduk terikat di dalam gudang itu.


"Risko, jelaskan apa motif dia mencelakai putriku?" tanya Arya.


"Putri? Jadi Apsara itu..."


"Ya, Apsara adalah putri dari Arya Praditya dan Isyana Wijaya. Kamu terkejut kan?" potong Dion.


"Dia ingin membalas dendam kepada Apsara, karena Apsara penyebab dia dipecat dan saat ini dia tidak bisa bekerja di perusahaan manapun" jelas Risko.


Arya berjalan ke arah Utomo dan langsung memukul wajah, tubuh, bahkan mematahkan kaki Utomo saat itu juga. Arya tidak pernah terlihat begitu menakutkan. Tapi jika ada yang berani menyakiti keluarganya, maka untuk menghajar orang, dia tidak perlu diwakilkan.


"Sebaiknya papa simpan tenaga saja. Biarkan Aldi dan Risko yang mengurus tua bangka ini" sela Bara mengakhiri aksi Arya.


"Risko kamu urus dia" perintah Arya.


"Penjara masih terlalu bagus untuk dia. Sebaiknya kalian habisi saja dia. Dan tinggalkan dia di sini sampai mati" lanjut Bara.


"Baik" jawab Aldi dan Risko bersamaan.


Tiga pria itu pun pergi meninggalkan gudang itu. Dan tidak mempedulikan teriakan Utomo yang meminta maaf dan berteriak minta tolong.

__ADS_1


__ADS_2