Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 19


__ADS_3

Sesampainya di rumas sakit, beberapa perawat langsung membawa Nanda ke IGD. Mereka semua menunggu di depan ruang IGD. Langga dan Nendra sangat mencemaskan keadaan Nanda. Kalau sampai orang tua mereka tahu dengan apa yang terjadi kepada Nanda, pasti orang tua mereka akan sangat marah.


Langga dan Nendra terus mondar-mandir di depan ruang IGD seperti setrikaan. Hal itu membuat Dafa keheranan, apa hubungan kedua pria itu dengan Nanda? Karena terlihat jelas kekhawatiran mereka berdua.


"Ini dokter lama banget sih"gerutu Langga yang sudah melipat kedua tangannya di dada.


"Iya nih. Nggak tahu apa kita deg-degan nunggunya"sambung Nendra dengan wajah kesal.


Zahra hanya diam menatap Nendra, tapi ekspresi wajahnya mengisyratkan rasa cemburu dan kesal. Dafa yang melihat Zahra akhirnya mengerti, jika adiknya memiliki perasaan kepada Nendra.


Dan 30 menit kemudian dokter pun keluar dari ruang IGD dan dia langsunf di serang berbagai pertanyaan dari Langga dan Nendra.


"Dokter bagaimana keadaan Nanda?"


"Dia baik-baik saja kan, Dok?"


Dokter membulatkan matanya saat dirinya diberi pertanyaan berturut-turut, "Bagaimana saya akan menjawab jika kalian bertanya tanpa memberi kesempatan saya untuk menjawab."


Dafa selangkah lebih maju di depan Langga dan Nendra, "Bicaralah Dok."


"Keadaan pasien sudah membaik. Lukanya tidak terlalu parah. Tapi saya belum bisa memastikan efek samping dari benturan di kepalanya"jelas dokter.


"Maksudnya bagaimana Dok?"sela Zahra.


"Benturannya cukup keras dan saya belum tahu apakah benturan tersebut mempengaruhi kondisi memori pasien atau tidak. Karena tingkat kerentanan otak setiap orang berbeda"lanjut dokter.


"Artinya, kemungkinan pasien bisa mengalami cidera otak?"ucap Langga.


"Iya bisa jadi. Kita lihat setelah pasien sudah sadarkan diri"kata dokter.


"Boleh kami melihat dia, Dok?"tanya Nendra.


"Oh tentu. Tapi tolong jangan sampai ada keributan"tandas dokter itu.


Mereka semua masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisi Nanda. Terlihat Nanda yang biasanya cerewet dan menyebalkan, terbaring tak berdaya dengan kepala berbalut perban dan wajah yang sangat pucat.


"Nanda, ayo sadar dong"ucap Langga menggenggam tangan Nanda.


"Lebih baik kamu ngomel-ngomel nggak jelas daripada harus pingsan kayak gini"kata Nendra.


Tak berapa lama jari-jari Nanda bergerak, dan pelan-pelan dia membuka matanya.


"Nanda..."ucap Langga dan Nendra bersamaan.


"Aduh sakit..."rintih Nanda memegangi kepalanya.


"Panggil dokter"perintah Dafa yang melirik Almira.


Almira keluar dari ruang IGD untuk memanggil dokter. Dan tak berapa lama dia kembali bersama dokter yang tadi. Dokter pun memeriksa keadaan Nanda.


"Bagaimana Dok?"tanya Dafa.


"Kita coba ya"balas dokter.


Nanda terlihat bingung melihat ekspresi semua orang yang begitu tegang seperti sedang menghadapi sidang skripsi.


"Baik, jawab pertanyaan yang kami ajukan dengan tenang. Siapa nama kamu?"tanya dokter pada Nanda.


Nanda terdiam beberapa detik dan hanya memperlihatkan ekspresi bingung sebelum berkata, "Syainanda Citra."

__ADS_1


"Di mana kamu berkuliah dan jurusan apa?"sambung Dafa.


"Universitas Atma Jaya, program studi S2 hukum."


"Sebelumnya kamu kuliah di mana?"ucap Langga.


"The University of Melbourne."


"Apa kamu mengenal kami?"tanya Zahra.


Nanda melirik satu persatu di antara mereka semua dengan menyipitkan mata dan kenig berkerut seperti orang yang sedang berpikir keras. Mereka semua sudah cemas takut-takut Nanda lupa dengan mereka. Dan akhirnya Nanda menyebut satu persatu nama mereka dengan benar.


"Pertanyaannya terlalu gampang"celetuk Nendra.


"Memang harusnya apa?"tanya Almira.


Langga menghela napas lalu berkata, "Beri pertanyaan yang agak susah."


"Oke, aku aja yang tanya. Nanda siapa dan kapan Candi Borobudur dibangun"ucap Nendra.


Pertanyaan Nendra membuat semua orang menoleh ke arahnya. Tentu saja pertanyaan itu terdengar aneh, karena pertanyaan itu lebih cocok untuk pertanyaan lomba cerdas cermat. Tapi Nendra punya alasan khusus menanyakan hal itu kepada Nanda. Mengingat Nanda sangat pintar pelajaran sejarah dan jika dia bisa menjawab maka artinya Nanda masih ingat betul semua itu.


Nanda terdiam sejenak lalu berkata, "Berdasarkan prasasti Karang Tengah, diperkirakan Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dan baru diselesaikan putrinya, Ratu Pramudawardhani, pada abad ke-9."


Nanda menjawab begitu tenang dan lancar walaupun sedikit pelan. Langga dan Nendra saling memandang dengan senyum sumringah lalu keduanya memeluk Nanda secara bersamaan.


"Syukurlah kamu masih ingat. Aku pikir kamu akan hilang ingatan"ucap Langga.


"Iya, kita sempat takut tadi"sambung Nendra.


Zahra merasa tidak suka ketika melihat Nendra memeluk Nanda. Almira pun merasakan hal yang sama dan dia lebih memilih keluar dari ruangan itu. Tentu saja rasa cemburu timbul karena kedua gadis itu belum mengetahui hubungan antara Nanda dan dua pria yang mereka sukai.


Langga dan Nendra mengangguk bersamaan, dan Nanda berkata lagi, "Dasar gila! Aku tidak selemah itu Bambang," ketus Nanda dengan rasa kesal.


"Kenapa kamu ngegas? Kamu nggak tahu betapa khawatirnya aku!"tegas Langga.


"Kita udah kayak orang gila waktu lihat kamu pingsan dengan kepala berdarah kayak gitu"lanjut Nendra.


"Tapi ya nggak harus dikasih pertanyaan kayak lomba olimpiade juga kali"gerutu Nanda dengan wajah kesal.


Dokter terkekeh saat melihat pertengkaran di depan matanya, "Sepertinya pasien tidak mengalami cidera otak, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau begitu saya permisi"kata dokter kemudian keluar dari ruangan itu.


"Karena Nanda baik-baik saja, sebaiknya kalian kembali ke kampus. Bukannya kalian masih ada kelas setelah ini?"ucap Dafa yang sejak tadi diam.


"Kami ingin menemani Nanda, Pak"tolak Nendra.


"Saya yang akan menjaganya. Saya dosen dia, jadi sudah menjadi tanggung jawab saya untuk memastikan bahwa Nanda baik-baik saja"tandas Dafa yang langsung mendapat tatapan heran dari Nanda.


Langga dan Nendra saling menatap dan mencoba bertelepati untuk berdiskusi mengenai perkataan Dafa.


"Baik Pak"ujar Nendra.


"Tapi tolong jaga Nanda, Pak"seru Langga dengan nada memperingatkan.


Dafa hanya memberi anggukan dengan ekspresi datar. Lalu Langga, Nendra, dan Zahra keluar dari ruang IGD bersamaan. Menyadari Almira tidak ada, Langga pun mencoba mencari sosok gadis itu.


"Bukannya tadi Almira bareng sama kita? Kok dia tiba-tiba menghilang sih?"tanya Langga clingak-clinguk.


"Dia sudah pergi tadi"balas Zahra singkat.

__ADS_1


"Mungkin dia ada kelas, Lang. Ya udah, ayo kita balik ke kampus"ajak Nendra yang hendak meraih tangan Zahra tapi sebelum itu terjadi Zahra sudah menjauhkan tanganya dari Nendra.


Nendra langsung tertegun melihat sikap jutek Zahra. Bahkan perempuan itu sudah pergi mendahului dia dan Langga.


"Kenapa Zahra?"tanya Langga.


"Mana aku tahu. Jutek banget gila"gerutu Nendra dengan ekspresi terkejut.


Akhirnya Langga dan Nendra pun menyusul Zahra, dan mereka bertiga pergi menuju parkiran. Setelah itu ketiganya meninggalkan rumah sakit.


Setelah kepergian kedua saudaranya, tak berapa lama ada seorang perawat yang membawa makanan untuk Nanda. Dia ingin meraih semangkuk bubur itu yang diletakkan di meja samping ranjangnya, namun dia sudah didahului oleh Dafa.


"Biar saya yang suapi kamu"ucap Dafa.


"Saya bisa makan sendiri, Pak"protes Nanda.


"Kamu itu sedang sakit"balas Dafa.


"Yang sakit itu kepala saya, bukan tangan saya. Jadi saya masih mampu untuk makan sendiri"ketus Nanda.


Dafa menghela napas kasar lalu berkata, "Makan atau saya kasih kamu nilai D," ancam Dafa.


Mata Nanda langsung melotot dan mulutnya menganga saat mendengar ancaman konyol dari Dafa.


"Ih bapak nggak kreatif banget. Ngancem kok pakai nilai"tukas Nanda.


"Apa kamu mau saya peluk?"ancam Dafa lagi.


"Ih ogah. Amit-amit jabang bayi"teriak Nanda.


"Ssstt...walaupun kamu lagi sakit tapi tetap saja suara kamu bisa merusak gendang telinga orang yang mendengar suara teriakan kamu"seru Dafa.


"Ya suka-suka saya dong"omel Nanda.


Dafa merasa kesal dengan ocehan Nanda dan tiba-tiba dia menyuapkan sesendok bubur ke mulut Nanda secara mendadak yang langsung membuat Nanda terdiam beberapa detik sebelum akhirnya dia menelan bubur itu.


Astaga, kenapa aku jadi deg-degan kayak orang lagi tes CPNS, batin Nanda.


Walaupun Dafa menyuapi Nanda dengan ekspresi datar, tapi sorot mata tajamnya mampu membolongi kepala Nanda, dan membuat otak Nanda eror seketika.


"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?"tanya Dafa yang membuat Nanda sadar dari lamunannya.


"Idih, siapa juga yang ngelihatin bapak. Kan bapak nyuapin saya, masa saya ngelihatnya ke arah atap sih. Aneh"gerutu Nanda yang berusaha keras menahan rasa gugupnya.


"Sepertinya Langga dan Nendra menyukai kamu"celetuk Dafa.


Mendengar perkataan Dafa, Nanda langsung tersedak dengan cepat Dafa memberikan minum kepada Nanda.


"Hah? Nggak mungkinlah, Pak"protes Nanda.


"Mereka terlihat sangat khawatir sama kamu"ucap Dafa.


Ya iyalah khawatir, aku kan wanita kesayangan mereka setelah mama dan mami, gumam Nanda.


"Bapak cemburu ya?"ledek Nanda yang berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Saya? Cemburu sama kamu? Maaf, saya tidak suka dengan perempuan yang usianya lebih muda daripada saya. Apalagi wanita itu sangat menyebalkan seperti kamu"tandas Dafa.


Mendengar perkataan Dafa, Nanda mencebikkan bibirnya dan memalingkan wajahnya dari tatapan Dafa. Hal itu membuat Dafa tersenyum dalam hati saat melihat ekspresi cemberut dari Nanda yang menurut dia sangat lucu untuk dilihat.

__ADS_1


__ADS_2