Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 34


__ADS_3

Seminggu kemudian, pernikahan Bara dan Asmara pun digelar. Akad nikah akan diadakan dikediaman Surya. Tentu saja sebelum pernikahan dilaksanakan, sebagai keluarga keturunan Jawa, Bara dan Asmara harus melakukan banyak ritual sebelum pernikahan.


Hubungan Langga dan Almira semakin dekat. Mereka sering mengerjakan tugas kampus bersama karena mereka satu fakultas. Begitu juga dengan Nendra dan Zahra yang sudah meluruskan kesalahpahaman keduanya. Untuk Sanjaya, selama seminggu ini dia selalu menemani Apsara untuk terapi. Keadaan Apsara semakin membaik namun harus tetap menggunakan kursi roda untuk mengistirahatkan sendi-sendi pada kakinya.


*****


Hari ini adalah hari pernikahan Bara dan Asmara. Semua anggota keluarga sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Surya. Para laki-laki memakai setelan beskap berwarna abu-abu tua. Sementara para wanita memakai kebaya berwrna abu-abu pastel.


Kusuma, Rama, dan Sinta belum bisa hadir ke pernikahan Bara. Karena kondisi Kusuma sedang kurang sehat. Jadi mereka bertiga memutuskan untuk tetap berada di Amerika.


"Semua udah siap?" tanya Isyan.


"Sudah Mama" seru semua orang.


Mereka pun keluar dari rumah dan menuju mobil yang sudah siap di depan rumah. Sanjaya dengan setia mendorong kursi roda Apsara.


"Kami belum terlambat kan?" seru Herdian yang datang bersama Dafa dan Zahra.


"Loh kami kira yangkung langsung pergi ke rumah Kakek Surya" ujar Arya.


"Aku kan tidak tahu rumah Surya. Daripada nyasar mending bareng sama kalian" balas Herdian.


"Ya udah yuk, kita berangkat sekarang" kata Bara agak meninggi.


"Santai aja kali, Kak. Nggak usah ngegas juga. Kak Asmara nggak bakal kabur juga. Paling diculik sama tukang cilok depan kompleks rumah kakek" sela Nendra dengan nada mengejek.


"Ih ini anak, kalau ngomong suka bener" ujar Dion tertawa mendukung Nendra.


"Udah jangan ribut. Ayo semua masuk mobil" ajak Rara.


Sanjaya mengangkat tubuh Apsara dari kursi roda, dan mendudukkannya di dalam mobil. Barulah kursi roda itu dimasukkan ke dalam bagasi. Dafa melihat bagaimana perhatian Sanjaya kepada Apsara. Dan ekspresi bahagia yang diperlihatkan Apsara. Ini jelas-jelas membuatnya cemburu.


"Oi Kak Dafa. Ngapain ngalamun. Buruan masuk mobil. Ditinggal baru tahu rasa" tegur Nanda.


Dafa tak menjawab dan dia hanya memperlihatkan ekspresi datar dan tatapan dingin sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Dasar gunung es!" teriak Nanda yang membuat Herdian tersenyum kecil melihat kebawelan Nanda yang tidak memperlihatkan ketakutan terhadap sosok Dafa.


Satu persatu mobil mewah itu keluar dari pelataran rumah mwwah Wijaya. Dan mereka semua melakukan perjalanan menuju rumah Surya.


*****


Di kediaman Surya, sudah berdatangan beberapa tetangga dan kerabat dekat keluarga Wijaya dan Praditya. Tidak ada tamu dari anggota keluarga Asmara, karena memang dia tidak tahu siapa saja keluarga jauh kedua orang tuanya.


Saat ini, Asmara baru saja selesai di rias. Dia cantik menggunakan kebaya putih tradisional Solo, dengan paes dan sanggul cantiknya. Sebuah kalung permata putih yang menghiasi lehernya nampak begitu cantik dan serasi untuk dia. Asmara tak henti-hentinya mengagumi dirinya dari cermin. Betapa bahagianya dia hari ini bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Ini adalah pernikahan impian yang selama ini dia impikan.


"Kakak cantik banget" puji Almira yang juga mengenakan kebaya warna abu-abu.


"Kamu juga cantik sayang" balas Asmara.


"Akhirnya kakak menikah. Ayah dan ibu pasti bahagia di sana kan?" ujar Almira dengan mata berkaca-kaca.


Asmara merentangkan tanganmya agar Almira mendekat. Mereka berdua pun berpelukan begitu erat.


"Mereka pasti bahagia di sana, Al. Mulai saat ini ada Kak Bara yang juga akan menjaga kamu" ucap Asmara.


"Iya Kak" kata Almira.


*****


Rombongan keluarga Bara sudah sampai. Satu persatu dari mereka turun. Mereka pun disambut oleh tim penghulu dan tamu yang hadir. Semua sudah duduk di tempatnya masing-masing. Karena akad nikah akan dilaksanakan di ruang tamu yang sudah didekor dengan konsep minimalis yang elegan namun tetap terkesan mewah. Tentu saja ini ide dari para ibu dan campur tangan Si Bungsu Nanda.


"Kamu harus duduk di sebelah aku" ujar Sanjaya menarik kursi roda Apsara agar menempel di kursi yang dia duduki.


Perlakuan Sanjaya itu membuat Apsara tersipu malu, dan keromantisan mereka berdua menjadi tontonan yang menyenangkan bagi yang melihat.


"Ini sebenarnya yang mau nikah aku atau Apsara sih? Kenapa yang mesra kalian berdua?" gerutu Bara.


"Cie Kak Bara iri" ledek ketiga adik Bara sambil tertawa meledek.


"Udah kamu diem dan fokus aja. Mami tahu kamu ngomong kayak gitu buat menghilangkan rasa gugup kan?" timpal Rara.

__ADS_1


"Iya Mami" balas Bara.


"Aku nggak nyangka Si Kutub Utara hari ini mau nikah. Dia udah banyak berubah. Dia jadi sosok yang lebih hangat, ramah, dan kadang dia mau meledek adik-adiknya. Asmara memang membawa perubahan besar dalam kehidupan Bara" bisik Arya pada Isyan.


"Iya Mas. Aku juga melihat hal yang sama dari Apsara. Dia itu paling pintar menyembunyikan setiap emosi yang dia rasakan. Tapi, setiap Sanjaya memberinya perhatian pasti dia tersipu malu. Anak perempuan kita sudah dewasa" balas Isyan begitu terharu.


"Kita doakan yang terbaik untuk mereka" ucap Arya merangkul Isyan.


Penghulu berseru bahwa akad nikah akan segera dimulai. Dia memberi sedikit wejangan kepada Bara tentang pernikahan. Setelah itu penghulu meminta agar mempelai pengantin wanita untuk turun. Tak berapa lama turunlah Asmara dengan digandeng oleh Almira. Bara sampai tak berkedip saat melihat kecantikan alami calon istrinya. Benar-benar cantik. Rasanya Bara bisa lupa dengan segalanya.


"Matanya kedip dong" ledek Dion yang membuat semua orang terkekeh melihat ekspresi melongo dari Bara.


Asmara didudukkan di sebelah Bara. Sementara Almira duduk di sebelah Langga yang sudah tersenyum kepadanya sejak tadi. Setelah semua siap, penghulu menjabat tangan Bara dan mengucapkan kalimat ijab kabul. Bara dengan suara lantang, tegas, dan satu tarikan napas mengucapkan ijab kabul dan akhirnya kata 'SAH' terdengar menggema di seluruh ruangan yang menyatakan bahwa mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri. Doa tak lupa dipanjatkan.


Asmara mencium tangan Bara, begitu juga dengan Bara yang mencium kening Asmara. Tak lupa keduanya saling bertukar cincin. Setelah itu, mereka berdua meminta restu kepada orang tua. Walaupun status keduanya sebagai kakak, tapi mereka juga mendekati adik-adik mereka untuk saling memeluk.


"Selamat ya kakak Kutub Utara kita, semoga selalu bahagia. Jangan jutek sama Kak Asmara. Dan Kak Asmara, kalau Kak Bara jutek laporin aja ke Mama Isyan, biar mama jewer telinga Kak Bara" ucap Nendra.


Asmara tertawa mendengar perkataan konyol dari Nendra. Apalagi ekspresi humornya.


"Kak Bara selamat ya, Nanda sedih deh Kak Bara nikah. Nanti yang jagain Nanda siapa" ucap Nanda terisak seperti anak kecil yang kehilangan balonnya.


"Kan ada Langga sama Nendra" sela Bara.


"Mereka kan udah jadi bucin, Kak" seru Nanda dengan wajah cemberut.


"Makanya jangan jomblo" balas Nendra.


"Sok jual mahal kamu sih" timpal Langga mantap sambil tertawa.


"Seneng banget menghina saudara sendiri" gerutu Nanda.


Mulailah perdebatan antara mereka bertiga yang hanya bisa diakhiri oleh teguran dari Isyan. Setelah acara akad nikah, semua tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan.


"Kak Dafa nggak makan?" tanya Nanda.


"Nggak" jawab Dafa jutek.


"Yangku mau Nanda ambilin makan?" tawar Nanda pada Herdian.


"Kamu mau ambilin yangkung makan?" tanya Herdian.


"Maulah, Yang. Kan yangkung juga kakeknya aku. Soalnya opa sama oma kan nggak bisa pulang. Jadi cuma ada yangkung di sini" ujar Nanda dengan nada sendu.


"Ya udah kalau gitu yangkung minta tolong ambilin makan ya. Nasinya sedikit aja" pinta Herdian.


"Siap Yangkung" sahut Nanda sigap lalu pergi ke meja prasmanan untuk mengambilkan Herdian makanan.


"Nanda lucu ya, Daf. Dia ceria, apa adanya, dan banyak omong. Yangkung suka sama dia" ujar Herdian.


"Maksud yangkung apa?" tanya Dafa tak mengerti.


"Yangkung tahu, kamu sedih kan karena Apsara sudah memiliki kekasih. Jadi cobalah kamu membuka hati untuk wanita lain. Apsara bukan jodoh kamu. Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu. Jadi buka mata dan hati kamu. Lihatlah sosok wanita yang akan membuat hari kamu lebih berwarna" ujar Herdian dengan sorot mata mengarah kepada Nanda yang sedang bercengkrama dengan Zahra dan Nendra saat mengambil makanan.


"Ini makanannya yangkung" kata Nanda menyodorkan piring kepada Herdian.


"Yangkung minta disuapin boleh?" tanya Herdian.


"Boleh dong" balas Nanda.


Nanda pun menyuapi Herdian begitu telaten. Walaupun baru beberapa kali bertemu, tapi Herdian dan Nanda sudah cukup dekat. Apa lagi beberapa kali Nanda berkunjung ke rumah Dafa untuk bertemu dengan Zahra. Disitulah Nanda mulai akrab dengan Herdian, dengan sering mengajak nonton film Avengers, Transforemers, dan film hollywood lainnya. Kadang Dafa harus marah-marah agar kakeknya berhenti menonton film-film itu.


Menururt Herdian, Nanda sudah memberikan pengaruh positif bagi rumahnya. Herdian mersa dirinya lebih bahagia, Zahra kembali ceria, dan Dafa sekarang sudah mau ngomel-ngomel hanya untuk menegur Nanda yang secara terang-terangan mengajaknya berdebat.


Acara pernikahan pun akhirnya selesai. Satu persatu tamu sudah berpamitan untuk pulang. Dan saat itu juga para pelayan langsung membereskan bekas-bekas pesta dan membersihkan rumah Surya.


"Almira, malam ini kamu tidur di rumah tante ya" ujar Isyan.


"Memang kenapa tante? Apa Al nggak boleh tinggal di sini?" kata Almira.


"Bukan begitu sayang. Tapi kan kedua kakak kamu baru saja jadi pengantin baru. Mereka perlu waktu untuk berduaan" sambung Arya sambil melirik ke arah Bara dan Asmara.

__ADS_1


"Kamu nggak mau kan, nantinya kamu terganggung dengan kebucinan Kak Bara yang sudah mulai mendarah daging" sela Apsara dengan nada sinis.


"Sebaiknya kamu berkaca pada diri kamu sendiri" timpal Bara.


"Kenapa aku? Yang menikah kan kamu" seru Apsara.


"Kenapa kalian berdua jadi ribut sih?" tegur Arya sambil melotot.


"Ayo Al ikut kita pulang ya" ajak Nanda.


"Aku ambil baju dulu, Kak" ujar Almira.


"Nggak usah. Kan Nanda juga ada baju. Bahkan lemari bajunya udah kayak Pasar Tanah Abang" sambung Langga.


"Hehehe tahu aja kamu" kikik Nanda cengengesan.


"Kalau gitu, kita semua pulang dulu ya. Bara ingat, kamu sudah menikah. Jadilah kepala keluarga yang baik. Apapun masalahnya bicarakan semua dengan baik" tutur Dion begitu bijak.


"Tumben kamu bijaksana, Mas" ledek Rara.


"Ya sekali-kali" celoteh Dion.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah Surya. Saat Sanjaya akan mendorong kursi roda Apsara, tiba-tiba Dafa hendak melakukan hal yang sama dengan Sanjaya. Keduanya pun saling menatap satu sama lain. Bara yang melihat itu meresa terkejut. Apsara pun bingung harus berkata apa.


"Maaf" kata Dafa datar yang langsung memundurkan langkah.


Sanjaya terdiam beberapa detik mengamati tingkah laku Dafa sebelum akhirnya dia meraih pegangan dorongan kursi roda dan kembali mendorong kursi roda Apsara.


*****


Karena edisi spesial pernikahan Bara dan Asmara, aku kasih bonus visual para pemainnya. Semoga cocok 😊.


Bara Ranggana Wijaya



Asmara Wijaya



Sanjaya Yudhaningrat



Apsara Arsya Praditya



Dafa Atma Jaya



Syainanda Citra Praditya



Airlangga Raksa Wijaya



Almira Putri



Syainendra Wira Praditya



Zahra Atma Jaya


__ADS_1


__ADS_2