
Dafa masuk ke kelas untuk mengajar seperti biasa. Dia tidak melihat keberadaan Nanda di bangkunya.
"Apa ada mahasiswa yang tidak masuk?" tanya Dafa.
"Ada Pak. Nanda tidak masuk. "
"Kenapa?" tanya Dafa lagi.
"Katanya sih sakit Pak."
"Mungkin gara-gara kejadian kemarin, Pak."
Berita pertengkaran Nanda dan Geng Miss memang langsung menjadi trending topik di kampus. Apalagi setelah Nanda masuk ke rumah sakit. Dan yang lebih heboh lagi, Dafa yang menggendong Nanda dan membawanya ke rumah sakit.
Setelah mata kuliah di kelas Nanda selesai, Dafa kembali ke ruang kerjanya. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Sepi. Ya, Dafa merasa sepi ketika Nanda tidak ada di kelasnya.
"Kenapa aku jadi memikirkan dia? Apa peduliku" ujar Dafa.
Dafa kembali teringat bagaimana wajah Nanda saat perempuan itu pingsan dengan wajah pucat dan kepala bersimbah darah. Dan kemudian terlintas dipikiran Dafa, bagaimana Langga dan Nendra begitu khawatir dengan Nanda.
"Astaga. Dafa stop memikirkan dia" gerutu Dafa.
*****
Saat ini Nendra sedang menunggu Zahra di koridor kelasnya. Seperti biasa dia akan mengajak Zahra untuk makan di kantin.
"Zahra" panggil Nendra saat melihat Zahra baru keluar dari kelasnya.
Mendengar namanya dipanggil, Zahra menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat Nendra berdiri melambaikan tangan kepadanya. Tapi, Zahra tak memghampiri Nendra. Dia justru pergi ke arah lain. Melihat Zahra ngacir begitu saja, Nendra pun mengejarnya.
"Zah...kamu mau ke mana?" tanya Nendra berjalan mengikuti Zahra.
Nendra meraih tangan Zahra hingga membuat perempuan itu terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nendra.
"Kamu kenapa?" tanya Nendra.
"Memang aku kenapa?" tanya Zahra balik.
Nendra kelihatan bingung dengan sikap Zahra hari ini, "Kenapa kamu menghindari aku? Apa aku melakukan kesalahan?"
Zahra menghela napas, "Aku mau ke perpustakaan."
"Aku temani ya" tawar Nendra.
"Nggak perlu" bentak Zahra menepis tangan Nendra
__ADS_1
"Kenapa? Biasanya kan kita pergi berdua" ucap Nendra.
"Aku tidak mau bersaing dengan wanita lain hanya untuk memperebutkan seorang laki-laki" ketus Zahra lalu dia pergi meninggalkan Nendra begitu saja.
Nendra berdiri mematung menatap kepergian Zahra dengan perasaan bingung, "Dia kenapa sih?" tanyanya pada diri sendiri.
"Apa maksudnya memperebutkan laki-laki? Susah sekali memahami perasaan wanita. Lebih susah daripada mengerjakan soal UAS" ucap Nendra.
*****
Almira sedang duduk di bangku taman sambil mengerjakan tugas yang diberikan dosennya tadi saat di kelas. Dia merasa tidak mengerti dengan soal-soal yang diberikan.
"Huft...gimana cara ngerjainnya coba?" ucap Almira frustasi.
"Mau aku bantu?" Almira terkejut saat mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. Dia menoleh ke sumber suara dan melihat Langga berdiri menatapnya.
Langga langsung duduk di sebelah Almira. Dia mengambil buku yang dipegang Almira dan melihat soal yang ada di buku itu.
"Wah ini sih gampang. Aku ajarin ya" ucap Langga tersenyum pada Almira.
Langga mengambil pulpen dan mulai menulis di buku itu mengajari Almira. Almira hanya bisa menatap Langga. Tapi tiba-tiba dia teringat saat Langga memeluk Nanda. Seketika perasaan kecewa muncul dibenaknya. Almira mengambil bukunya dari Langga dan langsung memasukannya ke dalam tas.
"Maaf Kak, aku bisa ngerjain sendiri kok" kata Almira bangkit dari duduknya.
"Kenapa? Bukannya biasanya aku juga ngajarin kamu?" tanya Langga.
Langga hendak meraih tangan Almira tapi perempuan itu sudah lebih dahulu pergi. Langga bingung dengan sikap Almira yang tidak seperti biasanya. Bahkan sekarang kepala Langga rasanya berputar saking pusingnya.
"Dia kenapa sih? Perasaan siapa coba yang akan tersakiti? Fans-fans aku gitu? Nggak masuk akal banget deh" ujar Langga sambil menggaruk kepalanya.
*****
Sepulang kuliah, Almira bisa membantu Asmara berjualan mie ayam, karena besok dia libur kuliah. Selain itu dia sudah menyelesaikan semua tugasnya. Selama dia membantu kakaknya berjualan, pikirannya tidak bisa lepas dari Langga. Entah kenapa semakin dia meyakinkan diri untuk menjauhi Langga, semakin dia memikirkan laki-laki itu.
Asmara melihat adiknya melamun sambil terus mengaduk es teh pesanan pembeli. Dia keheranan melihat sikap adiknya malam ini.
"Al!" panggil Asmara menepuk bahu Almira.
Almira terperanjat saat kakaknya menyadarkannya dari lamunannya.
"Kamu ngelamunin apa?" tanya Asmara.
Almira tersemyum terpaksa lalu menjawab, "Nggak ngelamunin apa-apa kok, Kak."
"Nggak ngelamun tapi dari tadi kamu ngaduk es teh terus. Kamu pikir es teh itu nggak ditungguin pembeli" kata Asmara.
__ADS_1
Almira pun sadar kalau dia melupakan es teh pesanan pembeli tadi. Dengan segera dia mengantarkan es teh itu.
Asmara menggelengkan kepala saat melihat bagaimana paniknya Almira, "Kamu kalau ada masalah cerita sama kakak," ucap Asmara setelah Almira mengantarkan es teh pesanan pembeli.
"Kakak pernah jatuh cinta nggak?" tanya Almira.
"Hump..." Asmara sedikit terkejut dengan pertanyaan adiknya. Almira bukanlah tipe perempuan yang mudah menyukai seorang laki-laki. Apalagi ini pertama kalinya Almira berbicara tentang perasaan.
"Memang kenapa?" tanya Asmara.
Almira bingung harus bercerita mulai dari mana. Karena dia takut kalau kakaknya akan marah.
"Kalau aku suka sama seseorang gimana, Kak?" kata Almira.
Asmara tersenyum lalu merangkul adiknya, "Ya gapapa. Itu artinya kamu perempuan normal yang punya perasaan."
"Ih kakak, jangan ngeledek deh" gerutu Almira.
Asmara terkekeh melihat kejengkelan Almira, "Terus masalahnya di mana, Al?" tanya Asmara.
"Jadi, dia selalu perhatian sama aku, Kak. Tapi aku nggak yakin perhatian yang dia tujukan ke aku itu sebagai wujud rasa suka dia ke aku. Karena aku melihat dia akrab dengan orang lain juga" jelas Almira.
"Jadi kamu takut diphpin nih?" balas Asmara.
Almira pun mengangguk. Asmara paham dengan kekhawatiran adiknya. Karena itu pun yang dia rasakan. Dia merasa Bara menyukainya namun terkadang dia takut terlalu berharap karena dia sadar diri bahwa dia tidak pantas untuk laki-laki seperti Bara.
"Kakak nggak melarang kamu untuk suka dengan laki-laki. Cuma lebih baik kamu fokus dengan kuliah kamu. Oke?" ucap Asmara memberi semangat kepada adiknya.
"Iya Kak" balas Almira dengan senyum.
*****
Walaupun Nanda tidak masuk kuliah, tapi dia sudah bertanya kepada teman-temannya tentang tugas hari ini. Dan sekarang dia sedang mengerjakannya. Tapi yang membuat dia bingung bukanlah tugas dari dosen, tapi dia bingung mrlihat kedua saudara laki-lakinya yang sejak tadi duduk diam di depannya.
Bahkan sikap pendiam mereka sudah terlihat sejak makan malam berlangsung hingga akhirnya mereka sama-sama belajar di perpustakaan.
"Langga, Nendra, kalian lagi kenapa sih? Kalian dapet nilai jelek?" tanya Nanda penasaran.
Kedua laki-laki itu kompak hanya menggelengkan kepala saja. Nanda menyipitkan matanya melihat tingkah mereka berdua.
"Kalian kalau ada masalah cerita dong. Siapa tahu aku bisa bantu. Walaupun cuma bantu doa. Tapi kan lumayan, doa itu mujarab loh" ucap Nanda sedikit bercanda.
"Kita nggak papa, Nan. Cuma lagi banyak tugas aja" ucap Nendra dengan wajah datar.
Nanda terkejut melihat ekspresi datar Nendra. Dia bingung dari mana saudara kembarnya bisa berekspresi datar seperti Bara. Padahal Nendra selalu memasang wajah ceria dan tengil.
__ADS_1
"Terserah kalian berdua aja deh. Aku bingung sama kalian" kata Nanda dengan nada kesal dan rasa jengkel terhadap kedua saudaranya itu.