Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 25


__ADS_3

Malam pun tiba, keluarga Isyan sedang makan malam seperti biasanya. Tidak ada yang berbicara selama makan malam berlangsung. Hingga akhirnya, Arya buka suara ketika melihat tiga anaknya beberapa hari ini terlihat lebih diam.


"Langga, Nendra, Nanda, kalian ada masalah apa? Kenapa beberapa hari ini papa lihat kalian jadi pendiam? Cukup Bara dan Apsara yang jadi manusia kutub di keluarga kita. Kalian nggak usah ikut-ikutan" ucap Arya.


Ketiga anak itu saling memandang seperti sedang berkomunikasi lewat telepati.


"Nggak papa koh, Pa" jawab Langga.


"Kalian bertiga lagi berantem?" tanya Rara.


"Mana ada" sela Nanda.


"Kita cuma lagi banyak tugas aja. Apalagi bentar lagi mau UAS kan guys" ucap Nendra sambil melirik Langga dan Nanda untuk meminta dukungan.


"Iya Mi. Maklum nasib mahasiswa" ujar Nanda sambil terkekeh.


*****


Asmara sedang membereskan warungnya, karena malam ini dagangannya habis lebih cepat. Jadi, dia tidak pulang larut malam. Orang yang diminta Bara untuk membantu Asmara pun sudah pulang terlebih dahulu. Saat sedang sibuk-sibuknya dia berberes tiba-tiba datang sekelompok pria tak dikenal.


"Siapa kalian?" teriak Asmara.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Asmara. Pria-pria itu justru menghancurkan warung milik Asmara. Dia dan Almira pun menjerit meminta tolong. Tapi tidak ada yang datang menolong mereka karena suasana sudah sepi.


"Jangan hancurkan barang-barang kami!" Asmara meneriaki pria-pria itu tapi tidak ada yang menghiraukannya.


Asmara dan Almira hanya bisa menangis melihat warung milik mereka dihancurkan. Mereka berduanya tidak mampu untuk melawan sekelompok pria itu.


Setelah semuanya dihancur, sekelompok pria itu berdiri mengelilingi Asmara dan Almira yang sudah saling memeluk dan menangis karena suasana yang mencekam. Beberapa detik kemudian munculah seseorang yang tak lain adalah Toni. Dia datang dengan senyum penuh keangkuhan dan kepuasan.


"Bagaimana pertunjukan anak buahku?" ucap Toni dengan tampang tak berdosa.


"Apa maksud kamu melakukan semua ini?" teriak Asmara.

__ADS_1


"Untuk memperingatkan kamu kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku" ujar Toni.


"Maksud kamu apa, Ton?" tanya Asmara yang sudah kehabisan kesabaran.


"Aku sudah memberimu waktu sebulan untuk melunasi hutang-hutang orang tua kamu, dan hari ini adalah hari jatuh tempo. Aku tahu kamu pasti tidak memiliki uang, jadi aku memberikan kamu pilihan yang kedua, lalu aku anggap seluruh hutang orang tuamu lunas" jelas Toni.


Almira dan Asmara saling menatap. Keduanya tahu apa yang dimaksud oleh Toni.


"Kita akan menikah besok" ujar Toni dengan tatapan licik.


"Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu" tolak Asmara.


"Oh ya? Aku tidak peduli. Karena suka atau tidak suka, kamu tetap akan menikah denganku" bentak Toni dengan leher berurat.


"Lebih baik aku mati daripada harus menikah sama kamu" tegas Asmara.


"Dan aku tidak akan membiarkan kamu mati dengan mudah. Tenang saja Asmara, jika kamu menjadi istriku hidup kamu akan enak, sejahtera, dan aman. Aku ini kaya raya. Aku punya segalanya" ujar Toni sambil memegang dagu Asmara.


Asmara menepis tangan Toni dan mendorong tubuhnya agar menjauh. Perlakuan Asmara terhadap Toni, membuat dia naik pitam. Sorot matanya berubah menjadi kejam.


Anak buah Toni lalu menyeret Asmara dan Almira menuju mobil yang sudah disiapkan. Kedua wanita itu terus berteriak minta tolong. Namun akhirnya mereka berdua diikat dan dibekap, agar tidak kabur. Toni membawa mereka berdua ke rumahnya. Rumahnya bukanlah rumah mewah dan megah. Namun sebagai anak juragan tentu bagi orang-orang kalangan bawah seperti Asmara, rumah Toni cukup besar.


Sesampainya di rumah, kedua wanita itu dikeluarkan dari mobil dan dibawa masuk ke dalam rumah. Mereka didudukkan di kursi yang ada di ruang keluarga dan melepaskan bekapan di mulut keduanya. Tak berapa lama munculah Kirno, ayah dari Toni.


"Kamu sudah berhasil membawa dia, Ton?" ucap Kirno.


"Sudah, Pak" sahut Toni.


Kirno berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap kedua wanita muda yang ada di depannya.


"Asmara...kamu itu sama saja seperti ibu kamu, keras kepala. Andai saja ibu kamu mau menikah dengan saya setelah ayah kamu meninggal, pasti hidup kamu dan adik kamu tidak akan susah" ujar Kirno dengan angkuhnya.


"Dan saya tidak akan membiarkan ibu saya menikah dengan pria bejat seperti kamu" berontak Asmara.

__ADS_1


"Aku juga nggak sudi punya ayah tiri seperti anda" sambung Almira tak kalah benci.


"Lancang kalian?" ucap Kirno dengan tatapan berapi-api.


Kirno mengalihkan pandangannya ke arah anak buahnya lalu dia berkata, "Karena besok kamu akan menikah dengan putra saya, maka malam ini saya tidak akan marah-marah," ujar Kirno begitu lembut.


Lalu pandangan Kirno kembali ke arah Asmara, "Kurung Asmara di kamar atas dan adiknya di dalam gudang. Jangan sampai mereka berdua kabur," teriak Kirno.


"Jangan. Jangan pisahkan aku dengan adikku" jerit Asmara mulai menangis.


"Aku nggak mau pisah sama kakak" tolak Almira saat anak buah Kirno menyeretnya.


"Kakak tolong aku" jerit Almira sambil menangis.


Almira terus menolak untuk dibawa pergi namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan anak buah Kirno yang berbadan besar. Asmara hanya bisa menangisi kepergian adiknya yang harus terpisah darinya.


"Ini baru permulaan, Asmara" sela Toni.


Asmara beralih menatap Toni, "Apa maksud kamu?"


Senyum menyeringai terlihat di wajah Toni, "Aku hanya menyekap adik kamu di gudang. Belum membunuhnya," ancam Toni.


"Jangan macam-macam Toni. Jangan sakiti adikku" teriak Asmara dengan amarahnya.


"Uh santai-santai calon menantuku. Kalau kamu tidak mau adik kamu celaka. Maka turuti keinginan Toni. Menikahlah dengan dia besok. Kamu tidak perlu repot-repot. Saya sudah mempersiapkan segalanya. Kamu tinggal diam dan duduk manis di samping Toni saat ijab kabul saja" ujar Kirno dengan tatapan licik.


Asmara hanya bisa diam. Dia hanya bisa menangis dan tidak dapat melakukan apapun. Nyawa adiknya ada di tangannya. Mau tidak mau Asmara harus mengikuti semua perkataan Toni. Akhirnya Asmara menyerah.


Dia dibawa ke kamar atas oleh anak buah Kirno. Ikatan tali yang mengikat tubuhnya pun sudah dilepas. Sesampainya di kamar itu, Asmara mencoba memeriksa jendela. Namun tak disangka-sangka sepertinya Toni telah mempersiapkan segalanya. Jendela kamar pun dipasang kerangka besi.


Sementara fentilasi kamar pun juga. Tak ada celah bagi Asmara untuk kabur. Karena dia sudah terkurung di dalam kamar itu. Asmara ingin melawan, tapi dia tidak memiliki apapun. Dia hanya bisa berdoa dan pasrah. Apa mungkin ini jalan hidupnya yang harus berakhir di tangan Toni?


Tiba-tiba, Asmara merindukan sosok Bara. Pria yang beberapa bulan ini selalu dekat dengannya. Walaupun dia pria yang dingin dan cuek, namun dia selalu berusaha membantunya dalam kondisi apapun.

__ADS_1


"Bara, aku merindukanmu. Tolong aku" lirih Asmara di dalam tangisnya. Dia terduduk di lantai bersandar pada kasur sambil memeluk kedua kakinya.


"Aku mohon Tuhan. Bantu aku" lanjut Asmara.


__ADS_2