
Saat ini Almira sedang melakukan pendaftaran ulang di Universitas Atma Jaya. Dia sudah dinyatakan lulus SMA dengan nilai tertinggi sekaligus lulus tes masuk kedokteran di kampus mahal tersebut. Asmara sangat bahagia dengan keberhasilan adik satu-satunya itu. Berkali-kali Asmara mengucapkan terima kasih kepada Bara yang sudah memberi banyak bantuan kepadanya.
Hubungan Bara dan Asmara pun semakin dekat, walaupun terkadang Asmara belum bisa memahami sikap Bara yang kadang baik lalu tiba-tiba berubah menjadi dingin. Tapi hati kecilnya sudah terlanjur memiliki rasa suka terhadap Bara.
Saat ini Bara sedang mengajak Asmara pergi ke Wijaya Mall untuk membeli keperluan kuliah Almira mulai dsri baju, sepatu, tas, dan yang lainnya. Asmara sampai terpana melihal maal sebesar ini. Dia pernah dengan nama keluarga Wijaya dan Praditya, nama keluarga pebisnis. Dan sekarang dia berada di salah satu mall yang dimiliki Wijaya Group.
"Bar, kalau belanja di mall harganya mahal-mahal, nggak bisa nawar. Beli di pasar aja ya, kan bisa nawar"kata Asmara yang terus saja mengoceh meminta meninggalkan mall.
"Kamu bisa diam tidak sih?"balas Bara dengan tatapan dingin yang langsung membekukan Asmara.
Astaga, bisa tidak sih jangan menatapku seperti itu, kan jantungku jadi lari-lari, batin Asmara.
Bara menggeret Asmara ke salah satu store baju yang sering Nanda kunjungi. Melihat harga pakaiannya mata Asmara langsung melotot keluar dari tempatnya.
"Satu juta? Uang segini banyaknya bisa buat bayar listrik, modal usaha, dan nyicil hutang"lirih Asmara.
"Kamu sudah pilih baju untuk Almira belum?"tanya Bara.
Asmara hanya menggelengkan kepala lalu memperlihatkan harga baju itu. Bara hanya menyunggingkan bibirnya. Satu juta bukan masalah untuknya karena mall ini saja milik keluarganya.
"Ambil jika itu cocok untuk adikmu. Dan pilih sebanyak yang kamu mau"ujar Bara singkat.
"Tapi Ba..."
Asmara tidak menyelesaikan perkataannya karena Bara sudah terlanjut meninggalkannya. Lalu datanglah seorang pelayan wanita membantu Asmara memilih baju untuk Almira. Setelah selesai membeli baju, kini giliran membeli sepatu dan tas. Asmara langsung megap-megap saat pegawai toko itu menunjukkan sepatu dengan harga 100 juta. Asmara rasanya ingin menjual sepatu itu dan uangnya digunakan untuk membuat rumah saja.
Setelah selesai berbelanja, Bara mengajak Asmara untuk makan di salah satu restoran kesukaan dia dan Apsara. Mereka pun duduk berhadapan.
"Mas, Mbak, mau pesan apa?"
"Ayam betutu dan es kuwut"kata Bara.
"Saya...ayam bakar dan jus mangga"sambung Asmara.
"Baik. Tunggu sebentar." Pelayan restoran itu pun pergi meninggalkan keduanya.
"Bara, aku saja belum ganti rugi kerusakan mobil bos kamu, masa kamu membelanjakan barang-barang mahal ini. Aku tidak punya uang, rumah saja aku mengontrak"kata Asmara.
"Memangnya aku menganggap ini hutang?"tanya Bara datar.
Asmara menjawab dengan gelengan kepala. Dia tahu ini salah satu bentuk kepedulian Bara terhadap adiknya, dan dia merasa senang akan hal itu. Tapi dia takut kalau Bara hanya peduli terhadapnya, jadi sekali lagi Asmara mencoba menepis perasaannya terhadap Bara.
Di tempat yang sama, ada Apsara bersama Sanjaya yang ditugaskan oleh Pak Utomo untuk mengecek mall yang akan digunakan untuk acara peluncuran produk sabun terbaru dari Wijaya Group. Setelah selesai memeriksa persiapan mereka memutuskan untuk makan di restoran terlebih dahulu, karena jam sudah menunjukkan jam makan siang. Apsara mengajak Sanjaya ke restoran yang biasa dia kunjungi dengan Bara.
Itu kan Si Kutub Utara, dia sama siapa?
Apsara melongo saat melihat Bara dengan seorang wanita. Dan ini adalah jam kerja, bagaimana bisa Si Kutub Utara bolos kerja dari kantor papanya. Apsara ingin sekali mengacaukan acara Bara dengan kejahilannya.
"San, kita ke restoran itu ya"kata Apsara menunjuk restoran yang sama dengan Bara kunjungi.
Sanjaya pun mengangguk dan mengikuti langkah Apsara.
Satu...Dua...Tiga
"BARA!!!"
Apsara berteriak sambil menggebrak meja dan memberi tatapan tajam serta ekspresi marah. Asmara terkejut saat mendnegar suara gebrakan meja ditambah kagi ada seorang wanita cantik di depannya.
"Apsara!"ucap Bara terkejut melihat kehadiran Apsara.
Kini dia tidak bisa lagi menyembunyikan apa pun dari saudaranya ini. Kalau Apsara sudah mempergokinya bersama wanita maka mau tidak mau dia harus jujur pada Apsara.
"Siapa dia?"tanya Apsara seperti sedang menangkap basah kekasihnya bersama selingkuhannya.
Siapa laki-laki itu, apa dia pacarnya Apsara?, batin Sanjaya.
Asmara langsung ketakutan, dia merasa seperti seorang selingkuhan yang dipergoki istri sah lelakinya.
"Oh..perkenalkan dia Asmara"jawab Bara tenang melirik ke arah Asmara.
Asmara tersenyum kaku dan mencoba mengulurkan tangan menyalami Apsara walaupun ada perasaan takut.
"Asmara, perkenalkan dia adik sepupuku namanya Apsara"lanjut Bara.
Sanjaya langsung menghela napas lega saat tahu ternyata laki-laki itu adalah saudara sepupu Apsara. Apsara akhirnya membalas uluran tangan Asmara dan memberi tatapan ramah.
"Bara apa kamu amnesia? Ibuku adalah kakak dari ayahmu, itu artinya aku adalah kakak sepupumu walaupun kamu lebih tua satu tahun dariku"tukas Apsara tak terima.
Bara menghela napas karena dia melupakan fakta itu. Dia pun akhirnya merevisi ulang kalimatnya tadi.
__ADS_1
"Kamu ngapain di mall saat jam kerja?"tanya Bara melirik Sanjaya dengan tatapan tajam.
"Hahaha...apa kamu lupa aku bekerja di Wijaya Group dan sekarang aku sedang bekerja"kata Apsara.
"Pekerjaan macam apa yang membuatmu berkeliaran di mall?"tanya Bara lagi.
"Astaga, aku harus memeriksa persiapan acara peluncuran produk sabun terbaru yang akan diadakan di mall ini. Dan kalau tidak salah kamu juga seharusnya bekerja kan?"ujar Apsara dengan nada menyindir di kalimat terakhir.
"Terserah aku"ketus Bara.
Apsara berjalan mendekati Bara, lalu mendekatkan kepalanya untuk membisikkan sesuatu kepada Bara.
"Ternyata kamu sudah berani main kucing-kucingan sama aku ya?"bisik Apsara dengan nada menyeramkan.
Setelah dia berbisik pada Bara, Apsara mengajak Sanjaya untuk meninggalkan restoran dan mencari tempat makan lain. Bara hanya bisa menghela napas sifat dingin Apsara muncul.
Dan saat ini Apsara mengajak Sanjaya untuk makan ketoprak yang ada di seberang mall. Sanjaya awalnya kaget saat wanita secantik Apsara mau makan di tempat seperti ini.
"Enak kan?"tanya Apsara sambil menyuapkan sendok ke mulutnya sendiri.
"Enak banget sih ini"ucap Sanjaya sambil geleng-geleng kepala.
Akhirnya mereka selesai makan dan hendak kembali ke mall untuk memgambil mobil di parkiran. Tanpa sengaja Apsara melihat Lia dan Utomo keluar dari mall dengan bergandengan tangan begitu mesra menuju mobil mereka.
"San...itu Pak Utomo kan?" Apsara menunjuk ke arah yang dia maksud sambil menepuk bahu Sanjaya agar melihat apa yang dia tunjuk.
"Iya itu mereka. Kok mesra sih?" Sanjaya juga tidak percaya, karena selama ini kecurigaannya benar. Lia punya hubungan spesial dengan Pak Utomo bahkan di dalam pekerjaan Lia selalu diistimewakan.
Tanpa basa-basi Apsara menyeberang jalan agar bisa mengikuti Lia dan Utomo. Tapi Apsara tidak memperhatikan jalan hingga dia tidak tahu akan ada mobil yang lewat.
"Apsa awas!!" Sanjaya berlari lalu menarik tangan Apsara dengan cepat dan mendekap tubuhnya.
Apsara terdiam di dalam dekap Sanjaya, napasnya tersengal-sengal karena dia baru sadar ketika suara mesin mobil lewat dan ternyata dia masih selamat. Jantung Apsara berdegup begitu kencang ketika dia merasa dekapan Sanjaya begitu kuat di tubuhnya. Apsara belum pernah merasakan dekapan seperti ini selain oleh laki-laki yang ada di keluarganya.
"Kamu nggak papa kan?"tanya Sanjaya yang kini sudah menangkup wajah Apsara masih bisa memperlihatkan ekspresi datar namun tatapan matanya menunjukkan ketakutan.
"Hhmmm..." Apsara hanya menjawab dengan dehaman saja akrena dia masih berusaha mengontrol dirinya.
"Kamu hati-hati, kalau sampai kamu tertabrak bagaimana?"gerutu Sanjaya yang sudah melepaskan wajah Apsara dari tangannya.
"Kenapa?"
"Aku pasti akan se..." Sanjaya tak bisa melanjutkan perkataannya saat Apsara memberi tatapan penasaran.
*****
"Dengar ya kalau sampai bulan depan kalian tidak membayar hutang, maka mau tidak mau kakakmu harus menikah denganku!"teriak Toni penuh ancaman kepada Almira.
Almira tidak terima jika kakaknya harus menikah dengan pria brengsek seperti Toni, dan emosinya tersulut hingga dia mendorong Toni secara kasar keluar dari rumah.
"Pergi!!!"teriak Almira mengangkat tangannya pertanda agar Toni pergi dari rumahnya.
Dan di saat yang bersamaan Asmara dan Bara sedang berjalan bersama menuju rumah Asmara, dan betapa terkejutnya dia melihat Toni ada di depan rumahnya. Toni menyadari kedatangan Asmara hingga dia menoleh dan tersenyum licik kepada Asmara yang sudah nampak gugup. Melihat ada Bara di samping Asmara yang memberi tatapan dingin, buru-buru Toni pergi dari rumah Asmara.
"Dia siapa?"tanya Bara yang sudah berada di hadapan Almira.
"Al, bantuin bawain barang-barangnya"sela Asmara agar Almira bisa terhindar dari pertanyaan Bara.
Almira langsung mengambil alih barang di tangan Bara, lalu masuk ke dalam rumah disusul Asmara. Bara yakin jika keduanya sedang menghindar dari pertanyaannya.
*****
Malam pun tiba, keluarga sultan ini sedang makan malam bersama. Apsara merasa kesal karena Bara sudah berani menyembunyikan sesuatu dari dia. Dan sedari tadi Apsara memberi tatapan dingin kepada Bara.
"Nan, kamu ngerasa dingin nggak sih?"tanya Nendra yang menyadari akan perang dingin kedua kakak kutubnya.
"Hah? Dingin matamu? Ini hawanya tuh panas Nen, lihat nih walaupun malam tapi suhunya 30 derajat"jawab Nanda sambil menunjukkan ramalan cuaca dari HPnya.
"Aku sudah selesai makan. Aku mau ke kamar dulu"pamit Apsara meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan keluarganya yang sudah menatap kepergiannya dengan keheranan.
"Itu anak kerasukan apa sih, Syan?"tanya Dion.
"Nggak tahu. Tadi waktu pulang kantor masih sehat"jawab Isyan.
Bara tahu Apsara pasti sedang marah dengannya, maka dari itu sikapnya dingin kepada dia. Dan Bara paling tidak bisa didiamkan oleh Apsara, karena jika Apsara mendiamkannya maka Apsara bisa tidak berbicara dengannya sampai seminggu.
Makan malam pun usai, Bara langsung menuju ke kamar Apsara. Oke. Bara harus jujur dengan saudaranya satu ini, kalau dia tidak mau ada perang dingin. Perlahan Bara membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Dia melihat Apsara sedang berkutat dengan laptopnya.
"Sa..." Bara memanggil tapi Apsara tak menjawan. Memang sengaja dia melakukan itu.
__ADS_1
Bara duduk di sofa bersebelahan dengan Apsara. Dia kesal karena Apsara mendiaminya, hingga akhirnya Bara menutup laptop Apsara dengan paksa.
"Bara, get out! Jangan ganggu aku!"teriak Apsara marah.
"Kenapa kamu marah sih?"
"Terus aku harus gimana? Kamu berani-beraninya main rahasia-rahasiaan ya?"bentak Apsara dengan sinis.
Bara mengendus, "Oke, I'm sorry. Aku bakal cerita ke kamu. Aku nggak suka ya didiemin sama kamu."
Akhirnya Bara menceritakan soal Asmara dengan detail, terutama tentang perasaannya.
"Kamu suka sama perempuan itu?"tanya Apsara lalu diangguki oleh Bara.
"Kamu udah ungkapin perasaan kamu ke dia?"tanyanya lagi dan Bara hanya menggeleng.
Apsara menepuk jidatnya cukup keras, "Bloon, ya kamu ungkapin perasaan kamu dong. Emang kamu mau keduluan sama cowok lain?"
Bara menggeleng dengan cepat, "Aku nggak tahu gimana cara buat mengungkapkan perasaanku ke dia. Kamu tahu kan aku nggak bisa berkata romantis."
Apsara tertawa terbahak-bahak mendengr jawaban polos saudaranya itu, "Mana ada manusia kutub ngomong romantis. Bisa-bisa semua gunung es mencair."
Karena kesal Bara pun menjitak kepala Apsara, "Heh diam! Sepertinya kamu juga sedang menyukai seseorang."
"Hah? Siapa?"tandas Apsara dengan mata melotot.
"Pria yang tadi pergi bersama kamu ke mall"balas Bara.
"Mana ada? Aku dan dia hanya rekan kerja tidak lebih"bela Apsara dengan nada dingin.
Bara memicingkan matanya menatap Apsara, "Tapi dari cara dia melihat kamu, sepertinya dia suka sama kamu. Dan saat aku membicarakan dia kenapa wajah kamu memerah, Sa!"
Bara menggoda Apsara dengan menoel-noel pipinya yang sudah memerah, tapi Apsara menepis tangan Bara dan kembali memilih fokus pada laptopnya. Bara tersenyum puas berhasil menggoda saudara perempuannya yang sampai saat ini belum pernah jatuh cinta.
Di luar kamar, tiga saudara yaitu Langga, Nendra, dan Nanda ternyata menguping pembicaraan kedua kakak kutub mereka. Ketiganya saling memandang dengan tatapan terkejut. Setelah itu mereka berlari menuju kamar Langga, takut jika Bara keluar dari kamar Apsara akan memergoki mereka yang sedang menguping.
"Kalian dengar kan? Mereka berdua sedang dekat dengan seseorang. Ini sebuah keajaiban dunia, guys!!"seru Nanda penuh antusias.
"Harus masuk ke Genius World of Record sebagai salah satu keajaiban dunia"sambung Nendra.
"Hahaha...aku jadi penasaran kira-kira seperti apa sosok calon pacar mereka berdua"pikir Langga sambil mengetuk jari telunjuk ke pelipisnya.
"Iya nih aku penasaran pakai banget"sela Nanda.
"Gimana kalau kita taruhan?"celetuk Nenda yang membuat kedua saudaranya menatap ke arahnya secara bersamaan.
"Taruhan apaan?"tanya Langga.
"Kita taruhan, di antara Kak Bara dan Kak Apsara, siapakah yang akan punya pacar duluan?"jelas Nendra.
"Terus gimana caranya supaya kita tahu, bahwa mereka udah punya pacar?"tanya Nanda.
"Aku yakin sepintar-pintarnya mereka, kalau untuk masalah percintaan pasti mereka akan kasih tahu orang tua kita. Percaya deh"lanjut Nendra.
"Kenapa kamu yakin banget?"tanya Nanda.
"Hey...jangan pernah meremehkan seorang Syainendra Wira Praditya ya..."ujar nendra sombong.
"Bahan taruhannya apa?"tanya Langga.
"Iphone 11 Pro Max. Jadi yang kalah taruhan membelikan hadiah kepada yang menang, gimana?"tawar Nendra.
Walaupun mereka anak orang kaya, tapi untuk keperluan pribadi mereka bukan tipe yang suka bergonta-ganti. Jika barang itu belum rusak maka mereka akan terus memakainya sampai barang itu tidak layak digunakan lagi.
"Oke, aku yakin kalau Kak Apsara dulu yang punya pacar. Secara dia kan cewek gampanglah dibikin baper"tandas Langga penuh keyakinan.
"No. Menurutku Kak Bara yang bakal punya pacar duluan. Walaupun dia manusia Kutub, tapi kalau dia udah bucin beuh jangan salah"balas Nendra tak kalah yakin.
"Oke guys stop. Terus aku masuk tim siapa ini?"kata Nanda bingung.
"Kamu netral aja alias jadi wasit. Kalau salah satu di antara aku atau Nendra yang menang, kamu juga dapat bisa minta hadiah sama yang kalah juga"ucap Langga.
"Really? Oh guys, I love you all"teriak Nanda kegirangan lalu memeluk kedua saudaranya.
"Tapi mintanya jangan yang aneh-aneh"ujar Nendra melepas pelukan Nanda.
"Aneh kayak apa?"tanya Nanda.
"Kayak satu mobil mewah, saham, atau rumah. Kita nggak punya uang sebanyak itu, Nan"ucap Langga.
__ADS_1
"Ya ampun, kalian itu punya uang banyak, tapi belum cair. Tenang aja, aku nggak minta aneh-aneh kok. Aku cuma minta jodoh aja"kata Nanda cengengesan.
"NANDA JANGAN GILA!!!" teriak Langga dan Nendra bersamaan yang membuat Nanda terkikik geli.