
Bara sudah sampai di rumah Asmara, keduanya langsung duduk di ruang tamu. Bara sudah tidak bisa memendam perasaan ini lagi. Dia harus mengatakannya kepada Asmara. Dan Bara ingin mrnikahi Asmara karena dia tidak bisa membiarkan hidup wanitanya kesulitan seperti ini.
"Mara, aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu" jelas Bara sambil meraih tangan Asmara dan menggenggamnya.
Asmara menatap Bara penuh arti, "Mengatakan apa?" tanya Asmara.
"Aku mencintaimu, dan aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama kamu dan juga anak-anak kita nanti. Meyakinkan kamu memang bukan tugasku, tapi tugasku mulai hari ini adalah untuk melindungi kamu" jelas Bara dengan penuh wibawa.
Mata Asmara sudah berkaca-kaca mendengar kalimat yang Bara ucapkan terhadap dia. Asmara tidak menyangka jika ternyata perasaannya terbalaskan. Dan dia akan hidup bersama pria yang dia cintai.
"Tapi Bara, aku hanya anak yatim piatu yang miskin dan..."
"Ssstt..." Bara meletakkan jari telunjuknya di bibir Asmaa agar dia berhenti berbicara.
"Aku tidak pernah memikirkan status kamu. Karena aku mencintai kamu dengan tulus. Tidak peduli dunia akan menentang hubungan kita, aku akan tetap memperjuangkan kamu" tegas Bara.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Asmara.
"Aku sangat yakin. Asmara, maukah kamu menikah denganku?" balas Baa dengan tatapan begitu dalam.
Beberapa detik Asmara terdiam memikirkan setiap kalimat yang Bara ucapkan. Dan akhirnya Asmara pun mengangguk mengiyakan ajakan Bara untuk menikah. Saking senangnya Bara saat Asmara setuju untuk menikah dengannya, tiba-tiba Bara menyerang Asmara dengan sebuah ciuman mendadak. Asmara sempat terkejut namun dia juga tidak menolak saat Bara mengecup lembut bibirnya bahkan Asmara menikmati itu hingga dia pun terbuai dibuatnya.
Sementara di luar rumah Asmara, ada sosok Apsara yang berdiri agak jauh dari depan pintu rumah. Sebenarnya dia sudah hendak masuk ke dalam rumah namun melihat Bara akan mencium Asmara, buru-buru dia menarik Almira untuk menjauh dari rumah.
"Kak, kenapa kita nggak jadi masuk ke rumah?" tanya Almira dengan polosnya.
"Aku masih merasa gerah. Jadi sebentar saja ya kita di luar. Aku perlu menghirup udara segar. Aku masih terbawa emosi sama Si Toni Kutukupret" ucap Apsara datar.
Almira hanya mengangguk mengerti mengikuti perkataan Apsara. Sementara Si Kutub Selatan merasa sangat kesal dengan ulah saudaranya itu.
Bara kurang ajar, cium anak orang nggak lihat kondisi dan tempat. Awas aja, aku hancurin perusahaannya nanti, gerutu Apsara dalam hati.
*****
__ADS_1
Bara melepaskan tautan bibirnya dari bibir Asmara. Kalau dia tidak melakukan itu mungkin dia akan melakukan lebih dari itu.
"Sepertinya kita harus segera menikah. Karena aku takut tidak bisa mengontrol napsuku" ucap Bara dengan ekspresi datar.
"Bara..." jerit Asmara kesal dengan ucapan Bara.
"Aku akan mengajak kamu dan Almira bertemu dengan keluargaku. Dan kalian tidak akan tinggal di sini lagi. Aku akan mencarikan tempat tinggal yang lebih layak" kata Bara.
"Tapi..."
"Aku tidak menerima penolakan. Aku tidak mau jauh dari kamu. Dan semua kebutuhan kamu menjadi tanggung jawabku sekarang" sela Bara.
"Permisi..." ucap Apsara datang dan menghentikan perdebatan Bara dan Asmara.
"Kamu dari mana saja? Kenapa baru datang?" tanya Bara.
"Lebih baik aku terlambat daripada aku menodai mataku yang masih suci ini" sindir Apsara dengan tatapan tajam.
"Almira sekarang kamu bantu kakak kamu untuk berkemas. Karena kalian berdua akan tinggal bersama kami" perintah Bara.
"Hah??" Almira terlihat bingung.
"Jangan banyak berpikir. Cepat" titah Apsara.
Almira dan Asmara pun masuk ke dalam rumah untuk mengemasi barang-barang mereka. Apsara duduk menyebelahi Bara dan langsung memberi tatapan tajam kepada saudaranya.
"Kamu kalau mau cium Asmara itu jangan lupa tutup pintu. Untung yang mempergoki kalian itu aku. Coba kalau warga, langsung dinikahin kalian berdua" gerutu Apsara.
"Baguslah kalau aku langsung dinikahin sama dia" balas Bara judes.
"Gila" kata Apsara dengan sengit.
Setelah menunggu beberapa lama, Asmara dan Almira keluar dengan membawa beberapa tas.
__ADS_1
"Bara aku masih merasa ragu untuk bertemu dengan keluargamu" ucap Asmara.
"Apa yang membuat kamu masih merasa ragu?" tanya Bara.
"Aku takut jika keluarga kamu menentang hubungan kita" jawab Asmara.
"Keluargaku tidak pernah memandang seseorang dari status mereka. Mereka selalu mendukung pilihanku" balas Bara begitu yakin.
"Lalu bagaimana dengan usaha mie ayam kakak?" tanya Almira.
"Jangan pikirkan itu. Aku sudah mengurus usaha kalian. Kemungkinan kalian tidak akan berjualan lagi di pinggir jalan. Karena aku sudah menyiapkan tempat yang cocok untuk mie ayam kalian yang super enak" sela Apsara.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang" ajak Bara.
Tak berapa lama munculah beberapa bosyguard yang membawa tas-tas milik Asmara dan Almira. mereka pun meninggalkan rumah Asmara. Sebenarnya Asmara merasa berat hati untuk meninggalkan rumah yang audah bertahun-tahun dia tinggali bersama ayah dan ibunya dulu. Tapi mengingat dia akan menikah dengan Bara, maka dia harus ikut ke mana pun Bara mengajaknya pergi.
Di depan gang menuju rumah Asmara sudah terparkir dua mobil mewah berwarna hitam. Kemunculan Bara membuat bodyguard membukakan pintu masing-masing mobil dan mempersilahkan mereka masuk. Bara satu mobil dengan Asmara, sedangkan Apsara satu mobil dengan Almira dan mobil itu sudah dipersiapkan sopir masing-masing.
Asmara sempat tertegun melihat begitu mewahnya mobil itu, dan keberadaan para bodyguard. Dia berpikir sebenarnya siapa Bara itu sebenanrnya? Apa dia hanya asisten biasa? Tapi kenapa fasilitas yang dia lihat sejak pagi terlihat begitu mewah dan eksklusif. Sepanjang perjalanan deretan pertanyaan berputar di otak Asmara. Dia masih menebak-nebak siapakah sosok Bara dan apa latar belakangnya.
Apa yang kamu pikirkan? Kenapa melamun?" tanya Bara memandangi Asmara.
"Aku hanya terkejut. Sejak pagi aku melihat banyak sekali pengawal yang mengikuti kamu dan Apsara. Lalu kemunculan mobil-mobil mewah ini iti dari mana" kata Asmara dengan polosnya.
Bara tersenyum lalu mengelus puncak kepala calon istrinya, "Apa kamu ingin memiliki ini semua?" tanya Bara.
Asmara menggeleng dengan cepat. Dia bukanlah tipe wanita gila harta. Apalagi ini pertama kali baginya berada di dalam mobil yag mewah.
"Jangan ingin memilikinya, bermimpi berada di dalam mobil ini saja aku tidak berani. Yang au pikirkan adalah jika ini semua adalah milik kamu, itu artinya kamu berasal dari keluarga berada. Dan aku takut jika keluarga kamu tidak menyetujui pernikahan kita karena aku berasal dari keuarga miskin, mungkin mereka malu denganku" ucap Asmara sendu.
Bara menangkup wajah Asmara dengan kedua tangannya dan menatapnya begitu dalam, "Kalau keluargaku menentang hubungan kita maka aku memperjuangkan hubungan kita apapun halangannya. Jika memang aku harus melepas semua yang aku miliki, maka dengan senang hati aku akan melakukannya demi kamu. Satu-satunya wanita yang aku cintai," jelas Bara tanpa keraguan.
Asmara tersenyum bahagia lalu memeluk Bara dengan erat sambil menitikan air mata bahagia.
__ADS_1