
Arya memperlihatkan wajah dingin, menakutkan, dan kejamnya. Isyan pun sudah memperlihatkan jati dirinya sebagai perempuan angkuh lagi. Dion hanya bisa terdiam melihat singa jantan dan singa betina berada di hadapannya.
Pasangan itu langsung menjadi marah ketika dua orang bodyguard mereka melaporkan tentang kejadian yang menimpa Nanda di pesta ulang tahun Rio. Orang tua mana yang tidak marah jika putri mereka diperlakukan seperti itu.
"Kenapa sih setiap laki-laki yang bernama Rio dan dia kenal dengan keluarga kita pasti kelakuannya berengsek. Heran aku. Emang nggak ada nama lain apa? Joko kek, Anto, atau Dudi" celetuk Dion sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalian sudah mencari tahu asal-usul ketiga anak laki-laki itu?" tanya Arya.
"Sudah Tuan" jawab kedua bodyguard itu.
"Hancurkan keluarga mereka sampai mereka merasa sangat malu dan tidak akan pernah menampakkan wajah mereka di kota ini" lanjut Arya.
"Jangan sampai Nanda tahu soal ini" sela Isyan.
"Baik Nyonya" ucap kedua bodyguard itu.
"Lalu di mana Nanda sekarang?" tanya Dion.
"Saat kami akan menolong Nona Nanda, tiba-tiba Tuan Dafa datang dan dialah yang menolong Nona Nanda. Tuan Dafa membawa Nona Nanda pergi meninggalkan hotel. Sepertinya Tuan Dafa membawa Nona Nanda menuju kediamannya" jelas bodyguard itu.
"Biarkan Dafa yang menangani Nanda. Kita cukup urus tiga tikus kecil tidak berguna itu saja" potong Arya.
"Kamu yakin, Ar?" balas Dion.
"Dafa pasti bisa menangani Nanda. Biarkan mereka berdua menjadi dekat. Tidak perlu mengkhawatirkan Nanda, jika Dafa sudah bersama anak itu" tandas Isyan meyakinkan.
Dion hanya manggut-manggut mendengar perkataan Isyan yang menurutnya memang benar dan perlu dilakukan. Memberi Nanda dan Dafa waktu untuk bersama adalah hal yang perlu dipertimbangkan saat ini.
*****
Dafa sudah sampai di rumahnya. Namun dia masih berada di dalam mobil. Memperhatikan Nanda sejenak di gelapnya interior mobil dan hanya mengandalkan lampu yang menyala di depan rumahnya. Wajah Nanda terlihat sangat imut dan mengemaskan saat terlelap.
__ADS_1
Dafa berinisiatif untuk membangunkan Nanda dan menyuruh perempuan ini untuk turun dari mobil. Dia pun menggerakkan tangannya untuk menyentuh lengan Nanda. Namun tiba-tiba Dafa merasa tubuh Nanda gemetaran. Dafa langsung menyentuh dahi dan leher Nanda. Perempuan ini terserang demam dan lama kelamaan tubuhnya menggigil cukup cepat.
"Nanda bangun. Buka mata kamu" ucap Dafa sambil menepuk-nepuk pipi Nanda.
Tak ada jawaban dari Nanda. Matanya terus terpejam dan itu membuat Dafa semakin khawatir. Dia turun dari mobil terlebih dahulu. Sebelum akhirnya dia mengeluarkan Nanda dan menggendongnya untuk membawa perempuan ini masuk ke dalam rumahnya.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, Dafa berteriak memanggil salah satu pembantunya.
"Bi Inem!!" teriak Dafa.
"Ya Allah Mas Dafa, ini Mba Nanda kenapa?" tanya Bi Inem kebingungan.
"Aduh jangan banyak tanyak dulu, tolong bukakan pintu kamar tamu" perintah Dafa.
Bi Inem mengangguk paham lalu berlari menuju salah satu kamar tamu dan membukakan pintu untuk Dafa. Setelah itu Dafa masuk ke dalam dan langsung menidurkan Nanda di atas tempat tidur. Dilepaskannya jas yang dipakai Nanda dan high heels milih Nanda.
Karena mendengar suara keributan, Herdian dan Zahra pun keluar dari kamar dan mencari dari mana asal sumber keributan. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Nanda tergeletak di temlat tidur.
"Apaan sih yangkung. Dafa itu menolong dia bukan mengapakan dia" sulut Dafa tak terima.
"Terus kenapa Nanda basah kuyup begini, Kak? Di luar kan nggak hujan" sela Zahra.
"Dari pada kamu banyak omong, mending kamu ambil baju kamu buat ganti Nanda. Dan gantikan Nanda baju. Bi Inem tolong siapkan makanan dan minuman hangat ya" jelas Dafa.
"Iya Mas" balas Bi Inem langsung keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur.
"Yangkung panggilin dokter ya" kata Herdian lalu mengajak Zahra keluar darin kamar tamu.
Setelah semua orang keluar dari kamar, Dafa mengambil sebuah handuk. Dengan perlahan dia menepuk-nepuk dan mengusapkan handuk itu ke bagian tubuh Nanda yang basah. Tak berapa lama Zaha kembali ke kamar itu dengan membawa baju.
"Kakak ngapain masih di sini?" tegur Zahra.
__ADS_1
"Memang kenapa?" tanya Dafa dengan polosnya.
Zahra menepuk jidatnya sambil mendesah berdecak kesal kemudian berkata, "Kakak mesum ya mau ngelihat Nanda nggak pakai baju?" protes Zahra dengan tatapan bak ibu tiri.
Tanpa memberi reaksi dan tanggapan apapun, Dafa langsung keluar dari kamar dan membiarkan Zahra mengganti baju Nanda yang basah. Setelah hampir 20 menit di dalam kamar, Zahra pun keluar. Disaat itu pula dokter sudah datang dan langsung memeriksa kondisi Nanda.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Herdian cemas.
"Sepertinya Nanda mengalami demam karena shock ketika tercebur ke dalam kolam renang. Selain itu dia mengalami keracunan akibat banyaknya kandungan klorin yang tertelan. Saya menemukan ada beberapa ruam karena alergi. Tapi tenang, saya sudah memberi dianobat penurun demam dan anti racun. Tolong oleskan salep ini ke kulitnya yang terdapat ruam" jelas dokter menyodorkan sebuah salep kepada Dafa yang jelas tepat di hadapannya.
Setelah selesai memeriksa Nanda, Zahra mengantarkan dokter itu ke depan rumah. Sementara Herdian mendekati Dafa.
"Ini kenapa Nanda bisa kecebur ke kolam renang sih? Apalagi dia pakai gaun bagus dan mahal?" tanya Herdian.
Dafa pun menceritakan kronologi yang terjadi di pesta ulang tahun Rio saat dia sampai di area private pool. Dan ketika Dafa melihat bodyguard Nanda hendak masuk ke area private pool. Tapi Dafa melarangnya dan mengajukan diri untuk menolong Nanda.
"Wah bocah-bocah kurang ajar. Untung kamu datang tepat waktu. Kalau tidak, Nanda pasti bakal merasa sangat malu" tandas Herdian.
"Dan sepertinya mereka bertiga akan menerima akibat karena mereka sudah macam-macam dengan anak Arya Praditya dan Isyana Wijaya" tutur Dafa dengan nada dingin.
"Wah pasti itu. Kita lihat besok, apa yang akan terjadi dengan mereka semua" balas Herdian.
Tiba-tiba Herdian mendekatkan mulutnya ke telinga Dafa lalu berbisik, "Apa kamu sudah mempertimbangkan rencana yangkung? Cobalah untuk dekat dengan Nanda. Setidaknya beri kesempatan diri kamu untuk membuka hati bagi orang lain," lirih Herdian.
"Yangkung menantang aku?" timpal Dafa dengan tatapan tajam.
"Yangkung pamit istirahat dulu" ucap Herdian tak membalas ucapan Dafa. Tapi, pria ini memilih kabur dan meninggalkan Dafa di kamar itu.
Dafa berjalan menuju tempat tidur. Duduk di samping tubuh Nanda yang sudah berbalut selimut. Dibukanya selimut dan Dafa langsung melihat beberapa ruam di leher, dada, lengan, dan kaki Nanda. Dafa berinisiatif mengoleskan salep itu ke tubuh Nanda.
Saat Dafa menyentuh dada Nanda bagian atas, dia merasakan getaran dari detak jantung Nanda. Ketika kulit tangannya menyentuh kulit dada Nanda, dia merasakan betapa lembutnya kulit wanita ini. Bahkan jika dilihat kulit tubuhnya nampak putih pucat. Sehingga ruam kemerahan begitu terlihat seperti bekas tamparan.
__ADS_1
Entah mendapat bisikan apa, tiba-tiba dada Dafa berdesir. Dia merasakan suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan. Dafa mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda. Tiba-tiba Dafa mencium kening Nanda begitu lembut. Setelah itu, dia kembali menyelimuti Nanda, mengelus seketika rambut hitam gadis itu. Sebelum akhirnya Dafa mematikan lampu tidur dan meninggalkan kamar itu.