
Malam ini, di ruang perpustakaan, Langga, Almira, Nendra, dan Nanda sedang belajar bersama. Mereka berempat nampak sangat kompak. Langga tentu saja mengajari Almira karena mereka berasal dari fakultas yang sama. Sementara Si Kembar sesekali bertengkar, karena Nendra terus menjahili Nanda.
"Ih Nendra, minggir sana! Aku lagi bikin paper nih. Ganggu banget nih bocah satu!!" teriak Nanda mendorong-dorong tubuh Nendra.
"Jahat kamu, ngusir saudara sendiri. Kualat nanti kamu" balas Nendra.
Langga menggelengkan kepala karena jengah dengan sikap mereka berdua kemudian berkata, "Kalian berdua kalau mau berantem mending di stadion aja sana. Luas tahu," ujar Langga.
Akhirnya mereka berdua pun diam. Apalagi melihat ekspresi kesal dari wajah Langga.
*****
Di luar rumah, ada sebuah mobil berwarna hitam yang baru masuk ke halaman rumah keluarg Wijaya. Dan setelah pintu mobil terbuka, ternyata Herdian dan Zahra yang datang. Mereka berdua langsung disambut oleh pelayan rumah ini. Diajaknya mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang Tuan Herdian Atma Jaya" sapa Dion sambil merentangkan tangan lalu berpelukan dengan Herdian.
"Kamu ini, aku itu sudah seperti ayah kamu. Nggak usah panggil tuan" balas Herdian terkekeh.
"Hahaha...iya yangkung selalu benar" ujar Dion.
"Mana istri kamu dan yang lainnya? Rumah ini sepi sekali" kata Herdian.
"Anak-anak belajar di perpustakaan. Kalau Apsara pastinya pergi dengan Sanjaya. Kalau istriku dan kedua saudaraku ada di ruang santai" jawab Dion.
"Zahra, kamu ke perpusatakaan saja ketemu sama pacar kamu dan saudaranya. Yangkung punya urusan orang tua ini" perintah Herdian.
"Oke, Yang" sahut Zahra lalu berlari menuju tangga untuk menuju ke perpustakaan.
"Mari yangkung. Kita temui yang lain" ajak Dion dengan sopan.
"Ayo" seru Herdian begitu semangat.
*****
Tok...Tok...Tok
Terdengar suara pintu perpustakaan diketuk. Nendra inisiatif untuk berdiri dan membuka pintu. Dia berjalan mendekati pintu lalu membuka pintunya dengan perlahan.
"ZAHRA!!!!" teriak Nendra super girang hingga menggelegar ke seluruh penjuru perpustakaan yang teramat luas.
__ADS_1
Langga, Almira, dan Nanda bersumpah bahwa mereka merasakan lantai yang mereka pijak bergetar karena suara teriakan dari Nendra.
Nendra yang terkejut dengan kehadiran Zahra, langsung memeluk pacar kecilnya itu.
"Lebay banget sumpah" desis Nanda memutar bola matanya jengah.
"Ayo masuk" ajak Nendra super excited dan Zahra mendudukkan tepat di sebelahnya.
"Eh Kak Zahra tumben ke sini?" tanya Almira.
"Aku diajak yangkung ke sini. Terus kata Om Dion kalian semua ada di perpustakaan ya udah yangkung nyuruh aku nemuin kalian" jawab Zahra.
"Memang yangkung kamu ke sini ngapain?" sela Nanda.
"Nggak tahu" balas Zahra sambil mengangkat kedua bahunya.
"Terus sekarang yangkung kamu di mana?" sambung Nendra.
"Ketemu sama kedua pasang orang tua kalian" jelas Zahra.
"Kayaknya ada hal serius deh guys" ujar Langga.
*****
"Jadi, maksud kedatanganku kemari adalah, aku ingin menjodohkan Dafa dengan anak kalian Nanda" ujar Herdian.
"APAA??" teriak mereka berempat serempak dengan mata melotot dan mulut menganga.
"Kalian kenapa kaget begitu? Kayak lihat setan aja" celetuk Herdian keheranan.
"Maksud kami bukan begitu yangkung. Kami cuma merasa terkejut karena tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba yangkung ingin menjodohkan Nanda dengan Dafa" balas Arya.
"Iya yangkung. Karena mengingat sifat mereka berdua sangatlah bertolak belakang. Dafa yang pendiam, dewasa dan dingin, sementara Nanda yang manja, cerewet, dan banyak ulah" sela Isyan.
Herdian tersenyum setelah mendengar penjelasan Isyan. Semua yang dikatakan Isyan sangatlah benar. Justru sifat-sifat Nanda itulah yang membuat dia merasa bahwa Nanda cocok dengan Dafa.
"Justru itu Isyan. Semanjak kehadiran anak kalian itu, untuk pertama kalinya, aku melihat seorang Dafa yang sangat cuek dan dingin mau direpotkan oleh urusan wanita. Padahal selama ini dia hanya peduli kepada sahabatnya, Apsara" tandas Herdian.
"Maksudnya bagaimana, Yang?" sela Rara.
__ADS_1
Herdian pun menceritakaan saat Dafa dengan suka rela membantu Nanda untuk memegangi ekor gaunnya. Agar gadis itu bisa berjalan dengan leluasa. Lalu mengambilkan sebotol air minum untuk gadis itu. Herdian saat itu belum benar-benar meninggalkan kampus. Dan tentu saja dia terkejut melihat pemandangan ini.
Karena Dafa tidak pernah seperhatian itu kepada perempuan lain selain mendiang ibunya, Apsara, dan adiknya Zahra.
"Pantas saja Dafa bisa bersahabat dengan Bara dan Apsara. Ternyata mereka bertiga sama-sama manusia kutub" ujar Dion terkekeh.
"Aku merasa sangat senang saat Dafa mulai menunjukkan sikap pedulinya yang selama ini dia simpan. Dia itu sudah cukup umur dan sudah waktunya dia untuk menikah. Tapi dia masih enggan untuk memiliki kekasih atau bahkan calon istri. Maka dari itu aku ingin menjodohkan dia dengan Nanda. Apalagi keluarga kita saling mengenal satu sama lain" ucap Herdian begitu yakin.
"Tapi yangkung, apa Dafa mau dijodohkan? Dia kan laki-laki yang tegas dan berpendirian kuat. Takutnya dia menolak rencana ini" potong Arya.
"Mungkin dia tidak akan langsung menyetujui rencana ini. Tapi setidaknya dia mau mempertimbangkan permintaan kakeknya yang sudah tua renta ini" tandas Herdian.
"Yangkung, aku tidak bisa langsung menyetujui rencana ini. Karena aku harus memikirkan perasaan anakku terlebih dahulu. Apakah dia mau dijodohkan atau tidak" timpal Isyan.
"Setidaknya, kita bisa membuat mereka berdua selalu dekat. Sehingga rasa suka akan muncul dengan sendirinya, seiring intensnya pertemuan mereka berdua" sela Dion.
"Apa kamu punya rencana, Mas?" tanya Rara.
"Ya rencana sih belum ada. Tapi aku yakin, suatu hari nanti Dafa akan membutuhkan Nanda. Walaupun hanya untuk urusan kampus" ucap Dion dengan wajah yang sumringah.
Setelah perundingan mereka selesai, Herdian diantar oleh mereka berempat hingga ke depan rumah.
"Yangkung nggak mau ngajak Zahra pulang?" tegur Rara.
"Biarin dia menginap di sini saja. Besok kan libur" jawab Herdian.
"Kalau besok libur, terus ngapain anak-anak pada belajar coba?" celetuk Dion keheranan.
"Kamu lupa ya, anak-anak kita kan terlalu rajin makanya belajar terus" sela Isyan sambil menahan tawa.
"Ya sudah. Aku titip Zahra ya. Sampai bertemu lagi" ucap Herdian masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
"Menurut kamu gimana, Ar?" tanya Dion.
"Dafa orang yang baik, berasal dari keluarga baik, mapan, dan bertanggung jawab. Tapi, apa dia masih mau dijodohin di zaman modern kayak gini?" tutur Arya.
"Yang aku takutkan adalah, ketika Dafa dan Nanda sudah dekat lalu tiba-tiba Dafa menolak untuk dijodohkan oleh kakeknya, perasaan Nanda akan terluka" sela Isyan.
"Mungkin, alangkah lebih baik kita tanya pendapat Bara dan Apsara. Mereka berdua kan sahabat dekat Dafa. Pasti mereka memahami sifat Dafa" ujar Rara.
__ADS_1
"Nah itu baru benar" kata Dion.
"Ya udah, lebih baik kita masuk. Dan suruh anak-anak tidur. Ini kan udah malam" seru Arya.