
Hari sudah sore, Arya baru saja sampai rumah setelah menjemput Isyan. Begitu juga dengan Dion yang sudah pulang lebuh dahulu setelah menjemput Rara di restoran.
Mereka berempat kini sedang duduk bersantai di ruang tamu menikmati secangkir teh sembari bercengkrama.
"Syan, kamu tahu nggak Apsara ke mana? Kata Risko sejak pagi dia nggak ada di kantor?" tanya Dion.
"Aku juga nggak tahu. Udah berkali-kali aku telepon dia tapi tidak diangkat" ujar Isyan.
"Tapi tadi Bara sempat mendapat telepon dari Apsara. Dan dia pergi dari kantor. Mungkin dia ada urusan dengan Apsara yang mengaku sebagai kekasih Bara" sela Arya.
"Hah kekasih? Maksudnya?" tanya Rara.
"Jadi, saat Apsara datang ke kantor resepsionis sempat tidak mengizinkan dia masuk alhasil dia mengaku sebagai kekasihnya Bara" jelas Arya.
"Ada-ada saja anak gadis satu itu" kelakar Dion tertawa.
*****
Kedua mobil mewah itu berhenti di depan istana milik keluarga Wijaya. Asmara keluar dari mobil dan langsung terpana bahkan matanya membulat melihat sebuah istina berdiri di depan matanya. Bangunan yang begitu mewah, bernuansa klasik, dengan halaman yang sangat luas membuat dia terpaku beberapa saat.
"Kak ini rumah atau istana presiden?" tanya Almira penuh kekaguman.
"Kakak juga nggak tahu. Masa ada runah sebesar ini sih?" ujar Asmara.
"Ayo kita masuk. Aku akan mengenalkan kamu dengan keluargaku" ujar Bara merangkul Asmara.
Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah. Bara tahu betul kegiatan orang tuanya selepas dari kantor adalah menikmati teh di ruang keluarga. Dan dia langsung beranjak ke ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum" sapa Bara dan Apsara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" balas kedua pasang orang tua itu.
Bara dan Apsara menyalami mereka satu persatu. Lalu dilanjut oleh Asmara dan Almira. Kedua pasang orang tua itu saling menatap satu sama lain dengan rasa penasaran.
"Ini Papi Dion dan Mami Rara, orang tua kandungku," Bara mengatakan ini sambil menunjuk Dion dan Rara, "Lalu mereka adalah Papa Arya dan Mama Isyan orang tua kandung Apsara. Papi dan Mama adalah saudara sepupu," jelas Bara memperkenalkan orang tuanya.
"Kamu putra dari Dion Wijaya dan Apsara putri dari Arya Praditya?" tanya Asmara tidak menyangka.
Apsara dan Bara mengangguk secara bersamaan mengiyakan pertanyaan Asmara. Wanita itu tidak menyangka jika selama ini dia sangat dekat dengan anak-anak dari keluarga paling berpengaruh di negara ini.
"Bara, dia siapa?" tanya Rara menunjuk Asmara dan Almira.
"Dia," Bara mengatakan ini sambil merangkul Asmara sebelum melanjutkan kalimatnya, "Asmara, calon istri Bara," jelas Bara.
Dion langsung terbatuk karena baru saja menenggak teh dan Isyan langsung menepuk punggung Dion.
"Calon istri? Kok tiba-tiba? Jangan bilang kamu ngehamilin dia ya?" seru Arya.
"Pa, aku ngga sebejat itu sampai-sampai aku melakukan hal yang tidak benar" sela Bara.
__ADS_1
"Tapi hampir..." lirih Apsara sambil memutar bola matanya jengah karena mengingat aksi ciuman yang dilakukan Bara tadi.
"Asmara, duduk sini sebentar" pinta Dion menunjuk sofa yang ada di sampingnya.
Asmara sempat merasa takut dan ragu saat Dion memintanya duduk, namun dengan isyarat anggukan dari Bara akhirnya Asmaa duduk di samping Dion.
"Om mau tanya sama kamu. Kenapa kamu mau sih nikah sama Bara? Dia kan dingin, pendiam, dan nggak romantis. Bagaimana cara Bara melamar kamu? Jangan bilang ekspresinya lempeng aja kayak tembok rumah" ujar Dion dengan ekspresi polos tak berdosa.
"Papi..." desis Bara dengan mata melotot.
"Apaan sih? Papi ini serius. Sebagai orang tua kandung kamu itu merasa terkejut, ada perempuan yang mau dekat dengan kamu selain Apsara" tutur Dion.
"Di mana kedua orang tua kamu?" tanya Rara.
"Orang tua saya sudah lama meninggal. Dan saya tinggal bersama adik saya satu-satunya, Almira" jawab Asmara.
"Assalamu'alaikum wahai saudara-saudara." Tiba-tiba terdengar suara seruan yang tidak asing bagi mereka dan ternyata yang datang adalah Langga, Nendra, dan Nanda.
"Wa'alaikumsalam. Tumben kalian udah pulang" sahut Arya.
"Almira..." seru ketiganya menunjuk Almira bersamaan dengan ekspresi terkejut.
Almira tak kalah terkejut saat melihat keberadaan tiga orang itu. Terutama Langga yang menatapnya bulat-bulat.
"Kalian saling mengenal?" tanya Isyan.
"Almira itu adik tingkat kita di kampus dan Langga itu su..."
"Pengap Langga" teriak Nanda menepis kasar tangan Langga.
"Berisik ih mulut kamu. Belum pernah disuntik obat penenang ya?" gerutu Langga.
"Kak, kok ada Almira sih? Terus siapa mbak cantik itu? Kalau masih jomblo kenalin dong ke aku" ledek Nendra sambil menaikkan alisnya.
"Semprul kamu ya. Bocah ingusan kuliah yang bener dulu baru kenalan sama cewek" tegur Dion kepada Nendra.
"Yah papi, aku kan cuma becanda. Serius amat kayak anggota DPR" ledek Nendra.
"Asmara kenalkan, mereka adalah adik-adikku" ucap Bara melirik Asmara memperkenalkan adik-adiknya.
"Langga itu adik kandung Bara, sementara Nendra dan Nanda adalah adik kembarku" sambung Apsara.
Jadi, mereka bertiga bersaudara. Ya ampun, aku sudah berprasangka buruk terhadap Kak Nanda, batin Almira.
"Hubungannya kakak sama kakaknya Almira apa?" tanya Nanda.
"Asmara itu calon istri kakak" jawab Bara.
"APA CALON ISTRI???" teriak ketiganya dengan ekspresi terkejut super lebay dengan mata melotot.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Bara.
Nendra langsung melirik ke arah Langga lalu berkata, "Kakak nggak bohong kan? Maksud aku ini beneran kakak Kutub Utara kita mau nikah?" tanya Nendra meyakinkan.
"Sejak kapan kakak suka becanda kayak kamu" balas Bara.
Nendra langsung memeluk Nanda penuh kegirangan sampai lompat-lompat tidak jelas. Sementara Langga terlihat murung dan kesal. Ingkah mereka pun membuat semua orang terlihat bingung.
"Jangan lupa hadiah buat aku sama Nanda ya, Lang" bisik Nendra sambil cekikikan.
"Kak Apsa nggak mau nikah juga?" tanya Langga.
"Hah? Apa? Nikah? Sama siapa? Calon aja belum ada. Aneh kamu" balas Apsara.
"Udah kalian nggak usah ribut dulu. Lanjutin nanti aja" sela Isyan.
"Bara, apa kamu yakin akan menikahi Asmara? Menikah tidak hanya karena kamu mencintai dia. Tanggung jawab kamu sangat besar setelah menikah nanti. Dan kamu Asmara, nantinya kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami apa kamu siap untuk itu?" sambung Arya.
"Aku yakin, Pa. Dia adalah wanita pertama yang aku cintai. Dia adalah wanita yang baik, dan dia juga mencintai aku dengan tulus" kata Bara.
"Uuhh so sweet...." seru ketiga adik Bara sambil berpelukan layaknya teletubbis.
"Kapan kamu akan menikahi Asmara?" tanya Rara.
"Secepatnya" sergap Bara tak sabaran.
"Ngebet nikah banget apa, Kak?" sindir Langga.
"Kan kakak kalian ini nggak pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta auto bucin tingkat dewa" sela Apsara dengan tatapan mengejek.
"Bagaimana kalau minggu depan? Aku yakin Bara sudah tidak sabar untuk menikah" imbuh Isyan.
"Aku setuju" sambung Arya.
Bara tersenyum ke arah Asmara dan dibalas senyum oleh calon istrinya itu.
"Kalau gitu, boleh kan Asmara dan adiknya tinggal di sini? Mereka tidak memiliki tempat tinggal karena sebelumnya mereka tinggal di kontrakan kecil" pinta Bara.
"TIDAK BOLEH!!" tolak Dion dengan suara meninggi.
Semua orang terkejut dengan penolakan keras dari Dion. Karena selama ini dia tidak pernah berbicara dengan nada tinggi.
"Kenapa Mas? Bukannya kamu setuju dengan pernikahan ini?" tanya Rara.
"Ya tapi, tidak dengan mengizinkan mereka berdua tinggal di rumah ini. Kalau Baa dan Asmara tinggal satu rumah yang ada pernikahannya tidak diadakan minggu depan tapi besok" jelas Dion.
Arya tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Benar kata papi kamu. Sesuai wasiat terakhir Kakek Surya, jika diantara kamu atau Apsara yang menikah terlebih dahulu, maka setelah menikah harus tinggal di rumah Kakek Surya. Jadi, bawa Asmara dan adiknya tinggal di rumah Kakek Surya."
"Baik Pa" balas Bara.
__ADS_1
"Untuk menyambut kedatangan Asmara sebagai calon anggota keluarga yang baru, malam ini kita harus makan malam bersama. Mama akan suruh pelayan masak makanan yang spesial" ujar Isyan.