
Setelah acara selesai, Nanda menjadi rebutan untuk berfoto. Mulai detik ini Nanda akan menjdi mahasiswa populer. Ya tentu saja. Anak dari Arya Praditya dan Isyana Wijaya, ditambah lagi dia adalah seorang campus princess.
Langga dan Nendra tak luput dari incaran para mahasiswi yang meminta foto dengan mereka berdua. Apalagi para tampan dan bening keduanya membuat siapapun terpikat. Tapi, sifat pria sejati mereka begitu dijunjung tinggi. Keduanya tak melepaskan genggaman tangan keduanya dari pasangan mereka.
Almira dan Zahra yang awalnya merasa jengkel pun, akhirnya dibuat meleleh. Karena kedua pria itu memperlakukan mereka begitu manis.
Setelah sesi foto selesai mereka semua keluar dari ruang auditorium. Herdian berjalan paling depan bersama Dafa.
"Yangkung kok bisa ke sini?" tanya Dafa.
"Kan yangkung udah bilang, kalau yangkung mau nonton pemilihan campus princess. Tapi karena ada sedikit masalah di kantor yayasan, jadi yangkung ke sana dulu. Jadinya telat deh. Eh sampainya di sini malah ada huru hara kayak perang melawan Belanda" kikik Herdian dengan ekspresi lucu.
Herdian menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Diraihnya bahu Nanda lalu berkata, "Sekali lagi selamat Nanda. Kamu pantas jadi juara. Sudah cantik, baik, pintar lagi. Mau nggak jadi mantu yangkung?" ujar Herdian.
Nanda mengerutkan keningnya dan menganga, "Mantu? Kan orang tuanya Zahra udah meninggal, Yang" ujar Nanda dengan wajah polos.
Herdian menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala, "Yangkung salah ngomong. Yangkung ralat nih. Kamu mau nggak jadi cucu mantunya yangkung?" kata Herdian lagi dengan senyum dan tatapan penuh harap.
Nanda tidak perlu menjadi Albert Einstein untuk mengetahui maksud perkataan pria paruh baya satu ini. Apalagi dia melirik ke arah Dafa. Langga menenggol lengan Nendra, dan kembaran Nanda itu hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
"Hahaha, yangkung becanda ya. Lucu banget ya ampun" balas Nanda pura-pura tertawa lucu padahal dia sedang menahan rasa gugup karena dia tidak tahu harus menjawab apa.
Herdian terkekeh melihat respon gadis muda bergaun merah maroon di hadapannya itu. Nanda memang berbeda. Karakternya yang cerewet, lucu, dan terbuka membuat Herdian yakin kalau gadis itu pantas untuk Dafa.
"Ya sudah, yangkung pulang dulu ya. Maklum orang sibuk" canda Herdian.
"Hati-hati yangkung" sela Zahra.
"Kamu juga. Nendra kalau nyetir mobil jangan ngebut ya. Tapi yang cepet" ujar Herdian dengan nada konyol.
"Itu sama aja yangkung" kata Nendra ikut tertawa.
Herdian pun meninggalkan mereka semua bersama dua bodyguardnya yang sudah kembali.
__ADS_1
"Kalian berdua," Zahra menunjuk Langga dan Nendra bergantian, "Bantuin aku sama Almira beres-beresin barang di ruang ganti," ucap Zahra.
"Siap" jawab Langga dan Nendra bersamaan.
"Kak Dafa temenin Nanda aja. Soalnya nggak mungkin Kak Nanda ikut bantuin kita. Dia kan pakai gaun. Nanti yang ada gaunnya rusak keinjek Kak Nendra" celetuk Almira.
"Lah nih bocah kalau ngomong suka bener" kelakar Nendra.
Mereka berempat langsung bergegas masuk lagi ke ruang auditorium untuk menuju ke ruang ganti Nanda dan membereskan barang-barang yang ada di sana.
Kecanggungan langsung terasa di antara Dafa dan Nanda. Nanda memilih diam karena dia bingung harus berkata apa.
"Mau duduk di sana?" ajak Dafa menunjuk sebuah bangku panjang di depan gedung kampus.
Nanda mengangguk. Lalu mengikuti langkah Dafa. Karena dia kesulitan berjalan akibat ekor gaunnya, Dafa menyentuh ekor gaun itu dan memeganginya agar Nanda bisa berjalan dengan leluasa.
Mereka berdua sudah sampai di bangku itu. Entah kenapa tiba-tiba Dafa beranjak pergi. Nanda membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau. Tak berapa lama, Dafa kembali dengan dua botol minuman dingin. Dan satu boto diberikan kepada Nanda.
"Makasih Kak" seru Nanda menerima botol minuman itu dari Dafa.
"Ya aku memang hebat. Apa kakak baru tahu? Dengar, jangan pernah meremehkan anak manja..." ujar Nanda dengan tatapan mengintimidasi.
Dafa menatap Nanda dengan tatapan datar. Dan tak memberi respon apapun.
"Apa kakak tahu, aku melakukan ini karena aku ingin menunjukkan kepada kakak bahwa aku bisa melakukan suatu hal yang belum pernah aku lakukan. Aku memang anak manja, tapi mama selalu mengajarkanku untuk menjadi anak yang pemberani" jelas Nanda.
"Oh ya?" balas Dafa.
"Huum. Dan mulai hari ini aku akan menjadi populer. Pasti banyak pria-pria yang akan mendekatiku. Wow sungguh mengagumkan" celotek Nanda sambil tersenyum girang.
"Jadi kamu mengikuti campus princess hanya agar kamu bisa populer? Kalau begitu, aku akan cabut gelarmu itu" ancam Dafa dengan tatapan yang menakut-nakuti.
Tak disangka-sangka, Nanda justru tertawa terbahak-bahak, "Silahkan saja. Tapi Kak Dafa harus siap menghadapi Yangkung Herdian," tandas Nanda.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri kalau pria-pria di kampus ini akan mengejar-ngejar kamu" balas Dafa.
"Kak Dafa nantang aku? Oke, kita lihat aja" tegas Nanda.
Nanda mendekatkan wajahnya ke telinga Dafa lalu membisikkan sesuatu, "Aku pasti akan membuat Kak Dafa cemburu," bisik Nanda kemudian menjauhkan wajahnya setelah selesai mengatakan itu.
Hingga akhirnya Zahra kembali bersama Almira, Langga, dan Nendra. Mereka pergi meninggalkan kampus dengan mobil masing-masig dan tentu dengan pasangan masing-masing.
Di mobil, Nanda sesekali melirik ke arah Dafa. Dia jadi teringat dengan perkataan Herdian yang memintanya menjadi cucu menantu. Nanda masih berpikir kalau itu hanya candaan. Tapi, memang wanita mana yang akan menolak menjadi istri dari Dafa yang tampan, mapan, cerdas, dan sempurna ini.
"Seberapa Kak Dafa mengagumi Kak Apsara?" tanya Nanda tiba-tiba.
Dafa terperanjat mendengar pertanyaan Nanda. Terkejut bukan main. Karena dia tidak hanya kagum tapi juga mencintai wanita itu.
"Sangat kagum."
"Apa yang membuat kakak kagum dengan Kak Apsara?"
"Dia wanita yang hebat, cerdas, tegas, dan punya ambisi."
"Menurut Kak Dafa, apa aku tidak bisa seperti Kak Apsara?" tanya Nanda dengan nada sedih dan tatapan sendu.
Dafa menatap Nanda sekilas sebelum akhirnya dia kembali fokus ke depan. Dia tak mengatakan apapun sebagai jawaban akan dari pertanyaan Nanda.
Nanda merasa kecewa karena Dafa saa sekali tak menghiraukannya. Sifatnya terlalu dingin dan sangat sulit ditebak.
"Ya ya baiklah. Aku tahu jawabannya" ucap Nanda kembali ke mode ceria.
"Apa?" tanya Dafa.
"Tentu saja aku tidak bisa jadi seperti Kak Apsara. Dia itu Kutub Selatan yang dingin, pendiam, dan cuek. Hanya Kak Sanjaya yang berhasil mencairkan hati Kak Apsara. Aku kadang berpikir usaha apa dan sebesar apa usaha Kak Sanjaya dalam meluluhkan hati Kak Apsara" celoteh Nanda.
"Hhmm" gumam Dafa begitu dingin.
__ADS_1
Nanda terheran-heran, kenapa respon Dafa sedatar itu. Padahal dia sedang membahas kakak perempuannya. Nanda tidak sadar bahwa celotehannya sudah melukai bagian dari hati Dafa yang terdalam. Dafa tidak sampai kapan dan bagaimana dia akan menyimpan rasa cinta ini untuk Apsara. Padahal wanita itu kini sudah mendapatkan kebahagiannya dengan bertemu dengan lelaki impiannya.