
Keesokan paginya, Apsara sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Mulai hari ini dia akan mengontrol proyek pembangunan resort di kawasan Candi Borobudur. Tidak ada karyawan satu divisinya yang mengetahui hal itu. Karena, semenjak Utomo dipecat, Apsara sudah naik jabatan sebagai kepala divisi bagian promosi.
Apsara melihat Bara melangkah menuju mobilnya dengan wajah muram. Dia pun menyapa saudaranya itu, "Hello Bara. What happen to you?"
Bara menoleh ke arah Apsara, "Entahlah. Sejak semalam aku terus memikirkan Asmara."
Apsara tersenyum dengan tatapan terkejut, "Mungkin kamu merindukannya," ledek Apsara.
"Sialan" gerutu Bara lalu membuang muka dari Apsara dan masuk ke dalam mobil. Kemudian meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor.
*****
Apsara sudah sampai di kantor. Dia sedang berjalan menyusuri koridor menuju ruangannya. Tiba-tiba HP-nya berdering dan dia mendapat telpon dari seseorang.
"Halo" kata Apsara menjawab telpon itu.
Beberapa detik kemudian, ekspresi Apsara yang awalnya biasa saja berubah menjadi ekspresi terkejut sekaligus marah saat mendengar si penelpon berbicara.
"Aku segera datang ke sana" tukas Apsara menutup telponnya.
Apsara berbalik badan dan hendak berjalan, namun dia justru menabrak Sanjaya yang berjalan ke arahnya. Karena Apsara juga tidak mengetahui kedatangan Sanjaya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sanjaya.
"Aku ada urusan penting" tandas Apsara lalu berlari meninggalkan Sanjaya yang terlihat kebingungan.
Apsara dengan cepat keluar dari kantor dan menuju mobilnya. Dia langsung menancapkan gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan sampailah Apsara di kantor PT. Surya Kontraktor dalam waktu 25 menit saja. Sebenarnya dia membutuhkan waktu 45 menit perjalanan untuk sampai di kantor papahnya itu.
Apsara turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor. Dia pun menuju resepsionis.
"Maaf Mba, apa Pak Bara ada?" tanya Apsara.
Resepsionis itu memandang penampilan Apsara yang menurutnya biasa-biasa saja sebelum berkata, "Dia sedang ada meeting," ketusnya.
Apsara langsung merasa jengkel dengan resepsionis itu.
"Saya harus bertemu dengan dia. Karena ada hal yang mendesak" ujar Apsara.
"Apa anda sudah membuat janji?" balas resepsionis itu dengan juteknya.
Mata Apsara langsung melotot dibuatnya, "Katakan saja, kalau kekasihnya ingin menemui dia," ucap Apsara akhirnya.
Dia terpaksa mengatakan ini, berharap resepsionis ini langsung memberitahu keberadaan Bara.
__ADS_1
"Tidak mungkin seorang wakil direktur memiliki kekasih perempuan kampungan seperti kamu" tukasnya.
Apsara menghela napas namun tatapannya berubah menjadi dingin. Dia pun akhirnya mengambil HP dan hendak menelpon Bara. Beberapa detik menunggu pangilan tersambung dan akhirnya dijawab juga.
"Halo, Apsa."
"Bara, dalam waktu dua menit kamu tidak menemui aku dilobi kantor kamu, aku pastikan hidup kamu akan dipenuhi rasa penyesalan selama-lamanya" tandas Apsara.
Mendengar nama Bara disebut oleh Apsara, air muka resepsionis itu langsung berubah ketakutan.
"Maksud kamu apa?"
"Kekasih kamu ini ingin bertemu dengan kamu. Cepat temui aku sekarang juga atau kamu akan tahu akibatnya" ucap Apsara dengan penuh penekanan lalu mematikan telepon itu.
*****
"Hah kekasih?" kata Bara saat mendengar Apsara menyebut kata kekasih sebelum dia mematikan teleponnya begitu saja.
"Ada apa Bara?" tanya Arya.
Saat ini Bara sedang ada di ruangan Arya.
"Apsara telepon aku, Pa" jawab Bara.
"Tapi kenapa kamu menyebutkan kata kekasih tadi? Kamu punya pacar?" lanjut Arya.
"Astaga. Papah aku harus pergi sekarang" kata Bara setelah sadar dari pikirannya.
Dia pun beranjak dari kursi yang dia duduki sejak tadi.
"Mau ke mana?" teriak Arya.
"Ada urusan" balas Bara sebelum menutup pintu.
Tinggal satu menit dua puluh detik. Bara menjadi pusat perhatian karena dia berlari menuju lift. Dan untungnya lift sedang kosong jadi tidak memerlukan waktu lama untuk memasuki lift. Pintu lift pun terbuka dan dia sudah berada di lobi.
Bara melihat Apsara sedang berdiri bersedekap dengan tatapan Si Kutub Utara. Bara pun menghampiri Apsara.
"Tega sekali kamu membuat kekasihmu ini harus menunggumu begitu lama" kata Apsara dengan nada menyindir dan melirik tajam ke arah resepsionis tadi.
"Maaf" balas Bara dengan nada merendah.
Betapa terkejutnya resepsionis itu saat melihat perubahan sikap Bara yang biasanya dingin dan cuek menjadi lembut dan rama kepada wanita itu. Resepsionis itu terlihat langsung ketakutan. Apsara langsung menyeret Bara keluar dari kantor dan mendorongnya masuk ke dalam mobilnya. Apsara langsung menancapkan gas meninggalkan kantor Arya.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba datang ke kantor, dan kenapa kamu berbicara seperti itu tadi?" ucap Bara akhirnya.
"Asmara akan menikah hari ini" jawab Apsara masih fokus menyetir.
Beberapa detik Bara terdiam kemudian dia berteriak, "APAA??? WHAT THE HELL IS THAT?? ARE YOU KIDDING ME???"
"NO, OF COURSE NOT" bentak Apsara tak mau kalah.
"Menikah dengan siapa?" tanya Bara.
"Toni" balas Apsara.
"Siapa Toni?"
"Tukang cilok yang jualan depan SD kita dulu" ketus Apsara.
"Aku serius Apsara Arsya Praditya."
"Ya Tuhan. Bara, kamu itu kan menyukai Asmara masa kamu tidak mengetahui seluk beluk kehidupannya sih? Toni itu anak juragan yang dihutangi oleh orang tua Asmara. Karena dia tidak bisa membayar hutang orang tuanya maka..."
"Stop. Aku sudah tahu akhir ceritanya" sela Bara yang mulai emosi.
"Ihhh kesel deh. Persetanan dengan kamu Bara, harusnya kamu itu tahu masalah Asmara jadi kamu bisa bantu dia. Supaya dia tidak menikah dengan tukang cilok itu" amuk Apsara memukul setirnya dengan kuat padahal dia menyetir dengan kecepatan tinggi.
"Sorry. Aku tidak ingat dengan hal itu. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan" ujar Bara setenang mungkin karena dia sedang menghadapi Apsara yang emosi.
"Pecat resepsionis tadi" cetus Apsara.
"Iya aku akan memecatnya. Tanpa kamu bicara, aku sudah tahu apa kesalahan yang dia perbuat. Tidak ada yang berani melawan putri dari Isyana Wijaya" kata Bara.
Apsara semakin mempercepat kecepatan mobilnya hingga kecepatan 90 km/jam. Hanya butuh 15 menit akhirnya Apsara sampai di rumah Toni. Dia menghentikan mobilnya disebuah pekarangan samping rumah Toni. Disana sudah ada lima orang bodyguard Apsara.
Apsara dan Bara keluar dari mobil dan menghampiri bodyguard mereka.
"Semua sudah siap?" tanya Apsara dengan nada tajam pada ketua bodyguard itu hingga membuat dia tertunduk.
"Saya sudah mempersiapkan yang diperintahkan anda, Nona Apsara" jawabnya dengan suara tegas.
"Ya baiklah" balas Apsara ketus.
"Kenapa kita berkumpul di sini? Bagaimana kalau Asmara sudah menikah dengan pria itu?" bentak Bara.
"Sabar Bara. Apa kamu tidak melihat para tamu baru berdatangan. Penghulu pun belum juga datang" kata Apsara santai.
__ADS_1
"Tapi aku khawatir dengan keadaan Asmara" ujar Bara dengan wajah cemasnya.
"Iya bucin. Lebih baik kamu menenangkan diri. Ikuti saja semua rencanaku" jelas Apsara dengan senyum menyeringai.