Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 46


__ADS_3

Semua orang langsung berdiri dari bangku mereka masing-masing. Suasana semakin tegang dan mencemaskan.


"Sindi, kamu ngapain sih? Nggak malu apa dilihatin orang sekampus" tegur Nanda.


"Harusnya aku yang menang bukannya kamu" tegas Sindi nyolot.


"Tapi nama Nanda yang tertulis di dalam kertas sebagai juara satu. Lihat ini" sela MC sambil menunjukkan kertas yang dia baca tadi.


MC itu tidak hanya menunjukkan kepada Sindi, tapi juga kepada seluruh penonton yang hadir. Membuktikan bahwa dia tidak salah menyebutkan nama pemenang.


"Nanda tidak bisa dinobatkan sebagai juara sedangkan dia naik ke atas panggung setelah MC selesai menghitung" ujar Sindi masih teguh dengan penolakannya.


Semua dewan juri saling menatap satu sama lain memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Sindi barusan. Tiba-tiba Ria dan Jeje ikut naik ke atas panggung untuk mendukung Sindi.


"Iya Sindi benar. Harusnya Nanda sudah didiskualifikasi karena terlambat naik ke atas panggung" sambung Jeje.


Ria berjalan menghampiri Nanda, lalu dia berdiri tepat di depan wajah Nanda kemudian berkata, "Kamu tidak pantas menjadi pemenang campus princess," tegas Ria menarik selempang yang dipakai Nanda secara paksa.


Karena tarikan Ria terlalu kuat, tubuh Nanda jadi terhuyung ke belakang dan membuat dia kehilangan keseimbangan dan dirinya akan jatuh. Namun tiba-tiba ada yang menahan tubuh Nanda dari belakang. Nanda menoleh ke belakang dan melihat Dafa yang sudah merengkuh tubuhnya dengan erat. Mata mereka berdua bertemu dan saling menatap beberapa saat. Sebelum akhirnya semua berakhir karena ocehan Sindi lagi.


"Pokoknya aku mau Nanda dibatalkan menjadi juara!" tegas Sindi.


Dafa membantu Nanda untuk berdiri sebelum berkata, "Apa alasan utama kamu yang bisa membuat juri membatalkan kemenangan Nanda?" tanya Dafa.


"Dia naik ke atas panggung setelah MC selesai menghitung. Itu artinya dia harus didiskualifikasi. Nanda memiliki waktu persiapan di belakang panggung lebih lama daripada aku dan Anisa. Itu curang namanya" tandas Sindi.

__ADS_1


Nanda tersenyum menyeringai, seakan-akan dia siap memancing amarah Sindi, "Ya kamu benar. Bahkan aku sudah tahu pertanyaan apa yang akan ditanyakan juri nanti saat di atas panggung," ucap Nanda begitu angkuh.


Dafa menoleh ke arah Nanda, menatap gadis itu dengan tatapan bingung. Dia tidak mengerti maksud perkataan Nanda itu apa. Karena pertanyaan final dari juri tidak pernah diberitahu siapapun. Dafa sendiri pun baru mengetahuinya tadi. Karena ketua dewan juri yang menyiapkan pertanyaan itu. Semua penonton juga nampak bingung dengan perkataan Nanda.


"Pantas saja gaun kamu rusak, ternyata kamu sudah curang dari awal" kata Jeje begitu menggebu-gebu.


"Sebentar. Bagaimana kamu bisa tahu kalau gaunku rusak?" sela Nanda tersenyum penuh kemenangan.


"Yang tahu gaun Nanda rusak hanya kami dan beberapa panitia saja" timpal Zahra yang sudah berdiri di depan panggung bersama Almira.


"Kalian cenayang ya" tukas Almira.


Sindi meremas lengan Jeje karena temannya satu ini hampir keceplosan, "Bukan, maksud Jeje bukan begitu," elak Sindi.


"Maksud aku, tadi aku mendengar kata panitia kalau gaun kamu rusak. Jadi aku bisa menyimpulkan kalau itu balasan karena kamu berbuat curang" tandas Jeje meyakinkan.


"Aku curang? Kalau aku curang terus kalian apa?" timpal Nanda.


"Biar aku beri tahu mereka, julukan apa yang pantas untuk mereka bertiga" seru Langga yang berdiri di sebelah Almira.


Langga memberi kode kepada Nendra yang sudah siap dengan HP barunya. Dia melakukan sesuatu selama beberapa detik sebelum akhirnya sesuatu muncul di layar LED yang besar itu. Ya, video pertemuan Ria dan Jeje dengan seorang mahasiswa di lorong kampus yang terputar di layar LED. Nendra menaikkan volume video agar percakapan mereka terdengar dengan jelas.


Semua orang yang hadir langsung saling berbisik hingga menimbulkan suara kegaduhan. Mereka tidak menyangka jika ada maling teriak maling.


"Kalian lupa ya kalau aku lebih pintar daripada sekutu kalian. Jangan kalian pikir dengan membayar anak IT itu, kalian bertiga bisa memuluskan rencana kalian" tegas Nendra.

__ADS_1


"Kalian fitnah. Kami nggak mungkin melakukan hal murahan seperti itu. Kalian semua jangan percaya sama orang-orang miskin seperti mereka. Semua orang miskin pasti kayak gitu. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan" bela Sindi mulai kelabakan.


"Siapa yang kamu bilang miskin?" Tiba-tiba terdengar suara berat teriakan seorang pria. Semua perhatian orang teralihkan pada sumber suara.


"Yangkung" desis Dafa saat melihat Herdian berjalan dari pintu utama auditorium menuju panggung bersama dua orang bodyguardnya.


Semua orang yang tahu siapa Herdian langsung memandangnya dengan pandangan penuh hormat. Rektor pun menyambut Herdian dan mendampingi laki-laki tua itu naik ke atas panggung.


"Jawab aku. Siapa yang kamu bilang miskin? Nanda dan teman-temannya begitu?" balas Herdian.


Herdian berjalan menghampiri Nanda lalu merangkul gadis cantik itu dan berkata, "Asal kamu tahu Nanda bukan gadis miskin seperti yang kamu katakan barusan. Dia adalah Syainanda Citra Praditya. Kamu pernah dengar nama Praditya? Iya, dia adalah putri dari Arya Praditya dan Isyana Wijaya."


"Dan ada dua anak laki-laki keluarga pebisnis itu yang berkuliah di kampus ini juga." Herdian menunjuk Langga dan Nendra saat mengatakan ini.


"Ya aku ingat. Kalian bertiga adalah geng yang sering membully Zahra kan? Baiklah, perkenalkan Zahra Atma Jaya adalah cucuku, adik dari Dafa Atma Jaya, dosen di kampus ini" lanjut Herdian.


Semua orang terkejut dan saling memandang. Mereka tidak menyangka jika tiga anak dari keluarga Praditya dan Wijaya berkuliah di kampus ini. Sindi dan kedua temannya merasa terpojokkan. Dan mereka bertiga pasti akan mendapat masalah setelah ini.


Sindi dan kedua temannya berlari menuruni panggung tapi ketiganya langsung dicegat oleh dua bodyguard Herdian dan pihak keamanan kampus.


"Kalian bertiga aku keluarkan dari kampus ini secara tidak hormat. Dan kalian berdoa saja, semoga bisnis keluarga kalian tidak hancur karena kalian bertiga sudah menghina salah satu pewaris dariWijaya Group" tandas Herdian dengan tatapan menyeramkan.


Sindi, Jeje, dan Ria diseret keluar dari ruangan itu. Mereka berteriak mohon ampun. Namun sayangnya mereka beriga diacuhkan. Herdian meminta selempang campus princess kepada mahasiswa yang bertugas dan memakaikannya kepada Nanda. Terakhir Herdian menyematkan mahkota kembali di atas kepala Nanda.


"Kita sambut, pemenang campus princess of the year yang baru. Syainanda Citra Praditya!!!" teriak Herdian menggunakan tangannya mempersembahkan Nanda yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


Nanda kembali melakukan first walk. Dan kali ini tepuk tangan tamu yang hadir jauh lebih meriah. Tatapan mereka begitu mengagumi Nanda. Antara mereka setuju dengan kemenangan dia atau karena mereka akhirnya bisa melihat sosok anak-anak keluarga sultan itu.


Dafa tersenyum sambil memandangi Nanda yang sedang melambaikan tangan kepada seluruh penonton. Herdian terus mengamati perubahan mimik wajah cucunya tersebut. Dan hal itu membuatnya tersenyum bahagia. Langga dan Nendra beserta pasangan mereka ikut naik ke atas panggung. Mereka berempat memeluk Herdian karena merasa bahagia atas kemenangan saudara mereka.


__ADS_2