
Keesokan harinya, Apsara benar-benar mengurus kepindahan Nanda. Dia sendiri pergi ke kampus Atma Jaya, bertemu dengan rektor untuk mengurus semua keperluan dokumen kepindahan Nanda. Dan tentu saja berita kepindahan Nanda langsung menyebar begitu cepat ke seluruh kampus.
Bagaimana bisa seorang campus princess yang baru terpilih hampir satu bulan, akan pindah ke Perancis. Bahkan tidak ada yang tahu alasan kuat yang membuat Nanda ingin pindah. Hal ini membuat Nanda menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Semua mahasiswa menanyakan soal ini kepada Langga dan Nendra selaku saudara Nanda.
Dan kedua laki-laki itu selalu menghindar jika ditanyai mengenai kepindahan Nanda. Bahkan Zahra dan Almira yang sudah dikenal sebagai sahabat dekat Nanda pun memilih bungkam. Karena mereka berdua juga sama-sama tidak mengetahui alasan Nanda ingin pergi.
Dan semua ini akhirnya terdengar sampai ke telinga Dafa. Saat Dafa akan mengajar di kelas Nanda, dia tidak mendapati gadis itu ada di dalam kelas. Dan semua teman-temannya mengatakan, bahwa keluarga Nanda datang ke kampus untuk mengurus kepindahan Nanda.
Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan bagi Dafa. Dia pergi meninggalkan kelas dan pergi menuju ke ruangan rektor. Dan di sanalah dia bertemu dengan Apsara.
"Pak Rektor, saya ingin berbicara empat mata dengan keluarga Nanda" ucap Dafa yang tak henti-hentinya menatap tajam ke arah Apsara.
Sementara orang yang ditatapnya hanya duduk santai menyilangkan kaki. Memasang ekspresi datar. Dan tidak menampakkan wajah takut sama sekali.
Mendengar perintah Dafa, si rektor langsung keluar dari ruangannya. Meninggalkan Dafa dan Apsara hanya berdua.
"Aku menyuruhmu untuk membatalkan kepindahan Nanda ke Perancis" tegas Dafa.
"Apa? Memang siapa kamu beraninya menyuruhku? Dan ya, sepertinya kamu sudah berubah Dafa, cara kamu berbicara kepadaku seperti sedang bertemu dengan musuh" sindir Apsara tak melupakan senyum menyeringai.
"A..aku..."
"Dafa, jujurlah pada dirimu sendiri. Kamu tinggal mengatakan kepada adik bungsuku yang sangat ku sayangi itu, bahwa kamu mencintai dia. Kamu tidak ingin dia pergi karena kamu takut kehilangan dia. Begitu saja susah" ejek Apsara kemudian menenggak segelas teh yang diberikannoleh rektor.
Dafa belum memberikan respon apapun. Karea dia masih diam.
"Aku itu sudah lelah mengatakan hal ini terus menerus kepadamu Dafa Atma Jaya. Kamu itu bukan mencintaiku, kamu hanya mengagumiku. Kamu itu tidak tahu arti cinta yang sebenarnya. Maka dari itu aku mengizinkan Nanda untuk dekat dengan kamu, agar kamu tahu Nandalah perempuan yang bisa mengajarkan kamu bagaimana cara tersenyum agar kamu menemukan arti kebahagiaan" ucap Apsara.
"Jadi kamu sengaja mendekatkan aku dengan Nanda?" sela Dafa.
"Iya. Setelah aku tahu bahwa yangkung ingin menjodohkanmu dengan Nanda, saat itu aku juga tahu Nanda menyukaimu. Bahkan dia berusaha membuat kamu menyukainya dan merasa cemburu terhadap dia. Tapi kamu terlalu naif untuk mengakui itu" tandas Apsara.
Wanita itu lalu berdiri, dan berjalan mendekati Dafa hingga dia sudah berhadapan dengan Dafa lalu berkata, "Aku tidak akan bertangung jawab jika suatu hari nanti kamu bunuh diri karena kehilangan Nanda. Dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu bertenu dengan adikku, karena kamu sudah menyakiti perasaan adikku," ancam Apsara.
__ADS_1
Apsara meninggalkan Dafa yang hanya bisa menatap kepergiannya dalam hening. Setelah keluar dari ruang rektor, senyum penuh kemenangan terbit dari wajah wanita dingin ini. Dia merasa senang bisa mempermainkan emosi sahabatnya ini. Tinggal dia menunggu eksekusinya esok hari saat Nanda akan berangkat ke Perancis.
*****
Dan hari keberangkatan Nanda pun tiba. Tepat hari ini, dia akan berangkat ke Perancis. Nanda sebenarnya merasa berat hati meninggalkan keluarganya. Tapi dia juga tidak bisa jika harus terbelenggu dalam keadaan seperti ini. Nanda tidak mau jika harus menjalankan hubungan dengan orang yang tidak bisa mencintai dia.
Nanda tidak benar-benar membenci Apsara, karena bagaimana pun selama ini, Apsara adalah orang yang akan berdiri di depannya untuk melindungi Nanda jika dia dalam kesulitan. Dan kadang Apsara tidak akan memikirkan dirinya sendiri. Semua pelayan membantu memasukkan koper-koper milik Nanda ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
Apsara sengaja tidak mengizinkan Nanda pergi ke Perancis menggunakan pesawat jet pribadi. Maka dari itu Nanda akan pergi dengan pesawat komersial. Dan kini Nanda sedang berpamitan dengan keluarganya, karena dia akan segera pergi ke bandara.
"Nan, kenapa sih kamu harus pergi? Nanti aku berantem sama siapa?" rengek Nendra.
"Sama Langga" ucap Nanda yang berusaha tersenyum.
"Nanda, kamu jangan lupa makan yang teratur, minum vitamin dengan rutin, dan jangan begadang, terus jangan pakai baju minim karena di sana banyak buaya jantan" seru Langga dengan posesifnya.
"Oke Pak Dokterku" jawab Nanda.
Setelah itu Nanda berpamitan kepada orang tuanya. Mereka memeluk dan mencium Nanda satu persatu. Tak lupa para orang tua memberi pesan kepada Nanda. Walaupun anak gadis mereka sudah pernah tinggal di luar negeri, tapi ini kali pertama Nanda akan tinggal sendiri.
Nanda menerima kartu itu dari Apsara. Sebenarnya dia ingin memeluk kakaknya. Tapi melihat ekspresi wajah Apsara membuat dia mengurungkan niatnya.
"Kak Bara nggak dateng ke sini?" ucap Nanda.
"Dia terlalu sibuk untuk mengurus adik yang kekanak-kanakan seperti kamu" sindir Apsara.
"Apsa jangan bicara seperti itu" tegur Isyan.
"Kalau gitu aku berangkat sekarang. Aku takut ketinggalan pesawat" ujar Nanda.
Langga dan Nendra hendak beranjak untuk mengantar Nanda. Tapi Apsara melarang mereka berdua dengan mengatakan, "Tidak ada yang boleh mengantarkan Nanda. Biar dia pergi sendiri. Katanya dia ingin mandiri," sela Apsara.
Dan akhirnya Langga dan Nendra pun terdiam membiarkan Nanda pergi sendiri. Nanda masuk ke dalam mobil dengan dikawal beberapa bodyguard. Beberapa saat dia menatap rumahnya dari dalam mobil. Dia tidak menyangka akan meninggalkan rumah ini. Kemudian mobil pun melaju meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
__ADS_1
*****
Zahra berlari ke kamar Dafa dari ruang makan secepat mungkin. Bahkan dia menaiki dua anak tangga sekaligus. Padahal ukuran panjang kakinya tidak bisa dikatakan cukup panjang untuk melompati dua anak tangga.
"Kakak...kakak" teriak Zahra menggedor pintu kamar Dafa.
Dafa pun membuka pintu kamar dan Zahra langsung melihat wajah lesu dari kakaknya itu.
"Kak, hari ini Nanda mau berangkat ke Perancis. Kakak yakin apa mau ngebiarin Nanda pergi gitu aja? Ayo dong Kak, mana jiwa gentleman kakak. Kakak udah siap buat kehilangan dia?" cerocos Zahra.
"Apa? Dia pergi hari ini? Kamu tahu dari mana? Dan kenapa dia pergi secepat ini?" teriak Dafa.
"Nendra telepon aku tadi. Katanya Kak Apsa yang mempercepat keberangkatan Nanda. Kakak cepet susulin Nanda sekarang juga" seru Zahra.
Dafa langsung menyerobot kunci mobilnya yang tergeletak di meja nakas. Dia pun langsung berlari secepat kilat keluar dari kamarnya. Dan setelah sampai di bagasi, Dafa langsung masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas meninggalkan rumah untuk segera pergi ke bandara.
*****
Dafa sudah sampai di bandara. Dia langsung berlari ke bagian informasi. Tak peduli banyaknya orang di bandara, Dafa berlari begitu saja bahkan tak peduli jika dia menabrak orang yang dilaluinya. Bahkan Dafa menjadi pusat perhatian seluruh isi bandara.
"Permisi" ucap Dafa dengan napas tersengal-sengal.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ucap petugas resepsionis.
"Apa pesawat yang akan pergi ke Perancis sudah berangkat?" tanya Dafa.
"Sebentar saya cek dulu" ucap petugas resepsionis.
Petugas resepsionis menekan tombol komputer dan membuat Dafa menunggu dengan harap-harap cemas kemudian dia berkata, "Maaf Pak, pesawat yang berangkat ke Perancis sudah lepas landas dua puluh menit yang lalu," ujar petugas resepsionis.
"APAAA???" teriak Dafa sambil menggebrak meja petugas resepsionis yang membuat semua orang disekitar terkejut karenanya.
"Dua puluh menit yang lalu? Apa kamu sudah memeriksa dengan baik?" bentak Dafa.
__ADS_1
Petugas resepsionis itu nampak ketakutan dengan suara keras dari Dafa. Tubuhnya gemetaran karena tatapan tajam yang ditujukan Dafa kepadanya.