
Di kamar ini, Asmara sedang dirias oleh seorang perias. Dia sudah memakai kebaya berwarna putih lengkap dengan rok jaritnya. Kalung emas putih yang melingkar di lehernya menjuntai hanya sampai setengah dada. Rambutnya ditata dengan model sanggul simple modern dengan setangkai bunga putih terselip disanggulan rambutnya.
Tak ada kebahagian terpancarkan dari wajah cantik Asmara. Bahkan matanya membengkak karena semalaman dia menangis. Bahkan sang perias harus berusaha lebih keras untuk menutupi kantug mata Asmara yang sangat mengganggu itu. Selama proses merias pun Asmara masih sesekali meneteskan air mata.
"Sudah selesai. Mbaknya cantik banget. Mas Toni beruntung banget punya calon istri secantik Mbak Asmara" puji perias.
Asmara hanya tersenyum kecut mendengar pujian dari perias itu. Mungkin orang berpikir, Asmara bernasib baik karena akan menikah dengan Toni yang kaya raya. Tapi semua itu bohong. Dia melakukan ini hanya demi adiknya. Sementara di gudang, Almira terus saja berteriak memanggil nama kakaknya. Dia terus memohon kepada Toni agar melepaskan Asmara.
Beberapa menit kemudian setelah perias itu keluar dari kamar Asmara, munculah seorang pembantu yang ditugaskan untuk menjemput Asmara dan membawa dia turun untuk melangsukan ijab kabul.
"Mbak Asmara, acara akan segera dimulai. Mari turun ke bawah" ajaknya dengan sopan.
Asmara tak menjawab. Dia justru memalingkan wajahnya dari pembantu itu. Pembantu itu merangkul lengan Asmara dan mengajaknya untuk keluar kamar.
Di ruang tamu, semua orang sudah berkumpul termasuk tamu undangan, dan penghulu. Tak berapa lama muculah Asmara. Toni menatap Asmara hingga matanya tak berkedip sama sekali. Asmara pun didudukkan di samping Toni. Dengan nakalnya, Toni menyentuh tangan Asmara yang tersembunyi di bawah meja. Namun dengan cepat Asmara menyingkirkan tangan Toni.
"Mari kita mulai ijab kabulnya" ucap penghulu membuat semua orang kembali fokus.
Wali hakim mengulurkan tangannya kepada Toni. Dan dia membalas uluran tangan dari wali hakim itu.
"Saudara Toni bin Kirno. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Asmara binti Ahmad dengan mas kawinnya berupa emas sepuluh gram, dibayar tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya..."
"Tunggu..." Terdengar suara seorang wanita yang berteriak hingga menggema ke seluruh ruangan dan membuat pandangan semua orang beralih kepadanya.
Dan wanita itu adalah Apsara. Dia berjalan dengan langkah tegas dan anggun dengan memakai kacamata hitam. Dia menghentikan langkahnya tepat di depan meja ijab kabul. Apsara melepas kacamatanya dan memasang ekspresi wajah yang angkuh. Asmara terkejut melihat kedatangan Apsara.
"Siapa kamu? Kenapa kamu menghentikan pernikahan anakku?" teriak Kirno marah.
"Hah? Pernikahan? Siapa yang menikah?" tanya Apsara dengan ekspresi datar.
"Aku tidak mengenalmu dan tidak punya urusan denganmu. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini sebelum anak buahku menyeretmu" ancam Toni yang sudah berdiri dari kursi.
__ADS_1
"Silahkan. Aku tidak takut. Jika kamu mengerahkan seluruh anak buah yang kamu miliki, maka aku akan mengerahkan semua malaikat pencabut nyawa untuk mengambil nyawamu" kata Apsara dengan nada dingin dan mencekam.
Toni dan Kirno saling menatap kebingungan.
"Ah baiklah, aku tidak akan basa-basi. Karena aku tahu kalian semua merasa bingung" ucap Apsara.
Apsara melipat kedua tangannya di dada, "Aku datang ke sini, ingin memberikan hadiah kepada kamu, Toni. Untuk kehancuranmu yang akan segera dimulai," lanjutnya.
Apsara menoleh ke belakang dan setelah itu masuklah Bara bersama seorang wanita yang menggendong seorang anak kecil. Toni langsung ternganga melihat kedatangan wanita itu. Kedua orang itu berdiri di sebelah Apsara.
"Bara..." lirih Asmara sambil meneteskan air mata.
"Lilis..." desis Toni dengan bibir gemetar.
Alis kanan Apsara terangkat dan senyum licik tersirat di wajahnya, "Bagaimana hadiahku? Bagus kan?"
"Toni. Kamu pikir, kamu bisa lari dari kesalahan yang kamu perbuat" ucap Lilis akhirnya.
"Sebaiknya kamu ceritakan asal usul kekayaan mereka berdua yang katanya sangat legendaris itu" sindir Bara dengan tatapan tajam.
Semua orang yang datang langsung berbisik dan membicarakan Toni dan Kirno.
"Yang dikatakan wanita ini fitnah. Aku tidak pernah membunuh ayahnya" elak Kirno.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan kesaksian seorang pembantu yang melihat kamu dengan sengaja mendorong manjikanmu dari atas tangga? Setelah itu kamu mengancamnya agar dia tidak buka mulut" sela Apsara.
Seketika keadaan menjadi hening. Bara melangkah menghampiri Asmara. Saat dia akan meraih lengan wanitanya, Toni mendorong Bara agar menjauh. Tapi Bara justru mengembalikan keadaan dengan memukul wajah Toni dan Bara mencengkeram kerah kemejanya.
"Berani kamu menyakiti wanitaku? Ini balasan untukmu" geram Bara lalu memukul perut Toni.
"Hei, Bara. Stop! Jangan buang tenagamu untuk hal yang tidak berguna" kata Apsara menghentikan aksi Bara.
Bara pun melepaskan Toni. Dan masuklah para polisi dan mereka langsung menangkap dan membawa Toni beserta Kirno ke kantor polisi. Semua tamu dan rombongan penghulu pun pergi dari rumah Toni.
__ADS_1
Bara melirik Asmara, dan wanita itu langsung berlari menghamburkan pelukan kepada Bara dan menangis dipelukannya.
"Bara..." lirih Asmara dengan suara teredam di balik dada bidang Bara.
"Tenanglah, aku ada di sini untukmu. Maaf jika aku terlambat mengetahui ini. Jika aku mengetahui ini sebelumnya maka kamu tidak akan mengalami ini" ucap Bara dengan penuh penyesalan.
"Aku takut..." desis Asmara.
"Aku akan selalu melindungimu" balas Bara sambil mencium puncak kepala Asmara.
Apsara tersenyum melihat kebersamaan Bara dengan wanita yang dia cintai, "Lilis, aku berterima kasih karena kamu bersedia memberi kesaksian" ucap Asmara dengan tulus.
"Justru aku yang berterima kasih, karena kamu akhirnya aku mendapatkan keadilan untuk ayahku" balas Lilis yang sudah terharu.
"Aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus pemindahan kuasa kekayaan dari nama Kirno untuk dialihkan atas nama kamu. Besok pengacaraku akan datang menemuimu dan menyelesaikan semuanya. Dan ini ada sejumlah uang untukmu dan anakmu" kata Apsara sambil menyodorkan selembar cek.
Lilis menerima cek itu dan melotot saat melihat nominal 500 juta tertulis di kertas itu, "Ini sangat banyak," tukas Lilis.
"Ini tidak sebanding dengan kebahagiaan yang didapatkan oleh saudaraku" ucap Apsara sambil melirik Bara yang tersenyum ke arahnya.
"Astaga, Almira masih disekap di gudang. Kita harus selamatkan dia" sela Asmara melepaskan diri dari pelukan Bara.
Apsara hanya membulatkan matanya, "Biar aku yang menemui adikmu. Bara, kamu bawa Asmara kembali ke rumahnya. Aku akan membebaskan Almira," kata Apsara.
"Baik. Terima kasih untuk segalanya" balas Bara.
Bara lalu menggandeng tangan Asmara dan membawanya untuk pulang ke rumah Asmara. Sementara Apsara pergi menuju gudang bersama para bodyguardnya. Karena pintu terkunci, akhirnya para bodyguard mendobrak pintu gudang itu.
Almira sedang terduduk menangis sambil memeluk kedua kakinya. Apsara menghampirinya dan tiba-tiba Almira langsung memeluknya dengan tubuh yang gemetaran.
"Kak aku takut" kata Almira yang masih mengingat Apsara saat tempo hari satang ke warung mie ayamnya.
"Tenang, kakakmu sudah selamat. Dia tidak jadi menikah dengan si berengsek itu. Ayo kita pulang sekarang" ucap Apsara.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun keluar dari rumah Toni dan pergi menuju rumah Asmara.