
Hari ini adalah hari terakhir Apsara dan Sanjaya berada di Jogja. Karena nanti siang mereka akan kembali ke Jakarta. Setelah kemarin berkunjung ke kompleks keraton Jogja, Apsara sudah berhasil mengambil hati anggota keluarga Sanjaya yang lain. Apalagi mereka semua memuji kecantikan Apsara. Dengan mata coklat, kulit putih bersih, dan wajah beningnya.
Saat ini Apsara sedang sarapan bersama dengan Sanjaya dan kedua orang tuanya. Retno nampak tidak menyukai Apsara. Dia terus saja menyindir status sosial Apsara dan menyamakannya dengan mendiang ibu kandung Sanjaya.
"Sanjaya, bagaimana kalau dua minggu lagi kita adakan acara lamaran kamu dengan Apsara. Kita semua datang ke Jakarta" ucap Sanjaya.
"Untuk apa kita datang ke sana? Kenapa tidak keluarga gadis ini yang datang ke sini" timpal Retno.
"Tapi kan kita pihak laki-laki. Ya sudah tradisinya yang datang ke keluarga pihak perempuan" jelas Wisnu.
"Kenapa kamu yakin sekali mau menerima gadis ini sebagai menantu kita? Kita belum tahu latar belakang keluarganya" tandas Retno.
"Yang mau menikah itu aku. Kenapa ibu yang repot" timpal Sanjaya dengan santai namun terdengar pedas.
"Kenapa kamu masih saja menyinggung soal itu? Apalagi di depan Apsara? Apapun pilihan putraku, aku akan selalu mendukungnya. Ada ataupun tidak adanya dukungan dari kamu" tegas Wisnu tak mau kalah.
Retno meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang begitu kasar hingga bunyi dentingan piringan terdengar menggema di ruang makan. Retno pun bangkit dari kursi yang dia duduki dan meninggalkan meja makan begitu saja. Apsara hanya tersenyum sinis melihat permainan emosi calon ibu mertua tirinya itu.
"Maafkan calon ibu mertuamu itu Apsara. Dia memang keras kepala" ujar Wisnu.
"Tidak masalah Om Wisnu. Aku memaklumi itu dan aku cukup sadar diri dengan status sosialku" balas Apsara sambil tersenyum.
"Ayah, siang ini aku dan Apsara akan kembali ke Jakarta. Kami sudah izin terlalu lama dari kantor. Pasti banyak pekerjaan yang menumpuk" sela Sanjaya.
"Ya tidak masalah. Ayah akan mengantar kalian berdua ke bandara nanti" kata Wisnu begitu senang.
*****
Setelah sarapan bersama keluarga Dafa, Nanda diantarkan Dafa pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Nanda terus memikirkan ucapan dari Herdian tentang masalah perjodohan. Ini artinya orang tua Nanda sudah menyetujui ini tapi tidak mengkonfirmasikannya kepada dia. Antara rasa bahagia atau bingung, kini Nanda rasakan.
"Kamu berhutang budi kepadaku" ucap Dafa tiba-tiba dengan pandangan tetap fokus ke jalan.
"Hah? Hutang budi apaan coba?" tanya Nanda terkejut.
"Aku sudah menyelamatkanmu semalam. Dan harus ada bayaran atas batuanku" lanjut Dafa.
"Bayaran? Kak Dafa udah kaya raya masih juga butuh uang? Kak Dafa butuh uang berapa?" seru Nanda mulai ngegas.
"Aku sudah memiliki cukup banyak uang" tegas Dafa.
"Terus?"
"Aku ingin kamu melakukan sesuatu sesuai keinginanku" ucap Dafa.
__ADS_1
"Wait a minute. Kak Dafa kalau nggak ikhlas nolongin aku, ya nggak usah nolongin aku. Sampai pamrih kayak gini. Nggak dapet pahala jadinya" timpal Nanda.
"Aku nggak butuh ceramahmu Syainanda. Au hanya butuh kamu menuruti perintahku" tandas Dafa.
Kalau nada bicara Kak Dafa udah kayak gini, artinya dia udah serius tingkat dewa nih, pikir Nanda.
"Emangnya aku harus apa?" tanya Nanda akhirnya mengalah juga.
"Mulai besok kamu harus menjadi asisten dosenku untuk mengajar kelas S1 Hukum" tutur Dafa.
"Hah? Apa? Aku nggak salah denger? Jadi asisten dosen?" teriak Nanda tak percaya.
"Kamu tuli atau bodoh sih?" seru Dafa menutup telinganya karena suara teriakan Nanda.
"Nggak. Aku nggak mau. Kak Dafa cari alternatif lain aja. Kenapa harus aku" protes Nanda.
Dafa tiba-tiba menepikan mobil dan menghentikan mobilmya di pinggir jalan. Kemudian laki-laki ini mendekati Nanda dengan menghimpit tubuh Nanda dengan kedua tangannya. Hingga membuat Nanda terpojok di kursi yang dia dudukinya. Ditatapnya mata Nanda begitu tajam sehingga membuat jantung Nanda maraton saat itu juga.
"Aku tidak minta persetujuanmu. Ini perintah. Atau nilai kamu semester ini aku beri nilai D" ancam Dafa dengan ekspresi datr namun nada bicaranya terdengar dingin.
Akhirnya Dafa menjauhkan dirinya dari Nanda dan kembali ke posisi semula. Sementara Nanda masih diam terpaku memegangi dadanya yang berdetak begitu cepat. Otaknya belum bisa mencerna apapun. Karena pikirannya sudah terhipnotis oleh tatapan Dafa.
Dafa pun melanjutkan perjalanan lagi untuk mengantar Nanda. Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara kedua manusia ini. Hingga sampailah mereka berdua di kediaman keluarga Wijaya. Nanda buru-buru turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Dafa masih saja mengikuti dia hingga masuk ke rumah.
"Eh Nanda kok kamu pulang?" tegur Isyan.
"Ya siapa tahu kamu lebih betah di rumah Dafa ya kan?" timpal Isyan.
"Nanda mau ke kamar dulu" ucap Nanda lalu ngacir pergi meninggalkan Dafa bersama ibunya di ruang keluarga.
"Dafa duduk, Nak" ajak Isyan.
Dafa pun duduk di sebelah Isyan kemudian dia berkata, "Maaf tante, kalau aku telat mengantar Nanda. Tadi aku ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," ujar Dafa.
"Kamu mau pulangin dia tahun depan juga nggak masalah. Tante sudah mengenal kamu dan keluarga kamu dengan baik. Pasti kalian bisa menjaga Nanda dengan baik. Dan terima kasih karena kamu sudah menolong Nanda semalam. Mungkin jika tidak, para bodyguard akan menghajar anak laki-laki itu habis-habisan" jelas Isyan.
"Itu bukan masalah buat aku, Tan" balas Dafa.
"Dafa, Nanda dia itu tidak setegas dan seambisius Apsara. Tapi dia adalah jenis perempuan yang selalu tahu apa yang dia inginkan. Hanya saja dia masih ragu dalam bertindak. Tante harap kamu bisa membimbing dia dengan baik" tutur Isyan kepada Dafa dengan tatapan penuh harap.
"Aku akan lakukan sebisaku" kata Dafa.
Setelah percakapan ini, Dafa pamit untuk pulang. Kemudian, Isyan naik ke lantai dua untuk menemui Nanda di kamarnya. Saat Isyan membuka pintu kamar, dia melihat anak bungsunya sedang duduk di single chair yang dihadapkan ke arah jendela.
__ADS_1
"Kamu udah makan sayang?" tanya Isyan.
Nanda menoleh saat mendengar suara Isyan dan menjawab, "Udah tadi di rumah Kak Dafa, Ma," ucap Nanda.
Isyan menarik satu kursi lagi agar dia bisa duduk di sebelah Nanda.
"Ma, aku boleh tanya nggak?" ujar Nanda setelah Isyan sudah menempatkan diposisi duduknya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Emang bener kalau papa sama mama setuju rencana yangkung buat jodohin aku sama Kak Dafa?" lanjut Nanda.
Isyan memberi senyum keibuannya lalu mengelus kepala putrinya dengan lembut, "Apa kamu suka sama Dafa," timpal Isyan.
"Hhmm...ya siapa sih yang nggak suka sama Kak Dafa. Tapi Nanda takut Kak Dafa nggak suka sama Nanda, Ma" seru Nanda.
"Loh kok kamu pesimis sih? Kalian kan lagi dalam masa pendekatan. Memang agak susah karena kalian memiliki kepribadian yang berbeda. Tapi, mama yakin dengan sifat Dafa yang dewasa dan sifat ceria kamu, lama-kelamaan Dafa akan suka sama kamu" tukas Isyan.
*****
Wisnu bersama Retno mengantarkan Apsara dan Sanjaya ke Bandara Adisucipto. Keduanya mengantarkan hingga ke depan gate keberangkatan komersial khusus kelas ekonomi. Retno merasa heran bagaimana bisa anak tirinya ini memilih gadis yang naik pesawat saja hanya bisa membeli tiket kelas ekonomi.
"Haduh, pasti kursi pesawat kelas ekonomi itu keras. Kenapa tidak naik kelas bisnis saja?" omel Retno.
"Uang saya tidak cukup untuk membeli tiket kelas bisnis, Bu" jawab Apsara dengan suara serendah mungkin.
"Dasar rakyat jelata" lirih Retno.
Walaupun dia berbicara dnegan suara lirih, namun Apsara masih mendengar kalimat yang dia ucapkan. Bukannya kesal, Apsara justru merasa terhibur dengan calon ibu mertuanya yang angkuh ini.
"Kalian berdua hati-hati ya. Apsara sampaikan salam dan pesan dari saya ya. Dua minggu lagi kami akan datang menemui keluargamu untuk melamar kamu" ucap Wisnu.
"Baik, saya akan sampaikan pesan dari om jawab Apsara.
"Ayah, kami berangkat" tandas Sanjaya berpamitan dengan kedua oeang tuanya.
Kemudian Sanjaya menggeret koper miliknya dan milik Apsara. Lalu mereka berdua melakukan check in terlebih dahulu.
"Kenapa kamu bilang kepada ibu kalau kamu tidak mampu membeli tiket kelas bisnis?" tanya Sanjaya disela-sela antrian check in.
"Ya karena aku memang tidak mampu membeli tiket kelas bisnis. Aku hanya mampu membeli sebuah pesawat jet pribadi" ucap Apsara dengan datar, santai, dan tampang tak berdosa.
Sanjaya tak terkejut dengan jawaban calon istrinya. Dia sudah paham betul sifat wanita Kutub Selatan ini. Tidak pernah memamerkan kekayaan. Tapi sekalinya terlihat mungkin orang lain akan jatuh pingsan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau keluarga kamu lihat, kamu naik pesawat kelas ekonomi?" lanjut Sanjaya lagi.
"Yang penting ibu tiri kamu sudah lihat kita naik pesawat kelas ekonomi. Aku ingin lihat sampai sejauh apa dia menilai seseorang dari status sosial dan penampilan luar orang itu" tandas Apsara dengan sorot mata tajam.