Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 14


__ADS_3

Keesokan paginya, Arya berangkat bersama dengan Bara. Seperti bisa semua pegawai menyapa mereka berdua dengan hormat, karena semua sudah tahu bahwa Bara adalah putra Dion Wijaya dan itu sama saja dia adalah putra Arya Praditya.


Mereka berjalan berdampingan tidak selayaknya ayah dan anak. Justru lebih mirip seperti kakak dan adik. Walaupun usia Arya sudah kepala lima, tapi ketampanannya justru menjadi-jadi, dan tidak kalah saing dengan Bara yang masih muda.


Keduanya kini memasuki ruang meeting, di mana di sana sudah berkumpul petinggi perusajaan jajaran komisari dan direktur pelaksana. Arya sudah duduk di kursi utama, sementara Bara berada di 90 derajat dari kursi yang Arya duduki.


"Terima kasih kalian sudah hadir tepat waktu. Selama ini, saya selalu memegang kendali perusahaan ini seorang diri. Karena saya merasa sudah cukup tua..."


Perkataan Arya ini membuat peserta rapat terkekeh. Bagaimana bisa dia mengatai dirinya tua. Apa Arya tidak tahu bahwa masih ada karyawan perempuan muda yang tergila-gila dengannya.


"Ya mau tidak mau saya harus membagi tugas mengurus perusahaan ini dengan putra saya. Dan pilihan saya jatuh kepada Bara Ranggana Wijaya putra dari Dion Wijaya. Dia lulusan S3 Arsitektur dari Amerika. Dan tentu saja dia tahu tentang seluk beluk dunia bisnis. Itu mengapa dia memilih bekerja di PT. Surya daripada Wijaya Group"jelas Arya.


Semua peserta rapat akhirnya setuju dengan posisi dan keberadaan Bara di perusahaan ini. Selain itu, Bara juga meminta agar posisi dia di perusahaan ini cukup diketahui oleh karyawan perusahaan saja. Karena Bara belum siap untuk diperkenalkan kepada publik.


*****


Apsara berjalan menelusuri koridor menuju ruangan divisi promosi. Sepanjang jalan semua karyawan menatapnya dengan tatapan hina, jijik, dan tidak suka. Seakan-akan Apsara adalah sampah di sana.


Apsara duduk di kursi kerjanya, memilih fokus dengan pekerjaannya untuk menyiapkan acara launch produk baru besok. Samar-samar Apsara mendengar bisik-bisik teman-temannya yang mulai mengatai dia dengan sebutan wanita penggoda.


"Hai Apsa!"sapa Lia begitu genit.


Apsara hanya melirik sedetik dan kembali menatap komputer, enggan untuk berbicaa dengan Lia. Karena Apsara tahu Lia adalah wanita simpanan Utomo yang juga mendapatkan aliran dana dari Utomo yang diambil dari dana untuk keperluan promosi.


"Wah, sepertinya kamu terlihat semakin cantik saja. Berapa juta yang kamu dapatkan dalam semalam?"tanya Lia.


"Lia, kamu kalau bicara yang sopan dong. Jangan menuduh orang sembarangan"sela Eta.


"Nggak usah naif kamu, Ta. Udah diam aja sana. Dasar kampungan"ejek Lia dengan wajah sombongnya.


"Aku nggak nyangka ya, ternyata perempuan kayak kamu yang katanya pendiam, cuek, dan pintar ternyata suka menggoda pria-pria kaya untuk memenuhi semua kebutuhan kamu"kata Lia dengan penuh hinaan.


Apsara menarik napas panjang, lalu bangkit dari duduknya, dan berdiri dengan tegap menatap Lia dengan tatapan dingin dan tajam.


"Sebaiknya kamu berkaca pada diri sendiri. Siapakah yang mendekati pria kaya untuk memenuhi kebutuhan hidup"ucap Apsara datar tapi suaranya terdengar menyindir.


Lia mulai emosi hingga dia mengepalkan tangannya. Dia tidak terima jika anak baru seperti Apsara menghina dia di depan seluruh pegawai. Lia mengangkat tangannya dan hendak menampar Apsara tapi tangan Lia ditahan oleh seseorang yang tak lain adalah Sanjaya. Pria itu sudah berdiri tegak di belakang Lia dan mencengekeram kuat pergelangan tangan Lia.


"San, lepasin. Sakit gila!"protes Lia meminta tangannya dilepas oleh Sanjaya.


"Sekali lagi, aku melihat kamu melukai Apsara, maka kamu akan berhadapan dengan aku"tegas Sanjaya yang melepas tangan Lia kasar dan memberi tatapan mengancam pada wanita itu.


"Kamu nggak papa kan, Sa?"tanya Sanjaya meraba kedua lengan Apsara seperti mencari kalau ada yang terluka.


Apsara tersenyum saat melihat Sanjaya dengan tegas membela dia dan begitu perhatian denganya.


"Sa, kamu nggak usah dengerin omongannya Lia. Dia memang biang kompor gosip di kantor"sela Eta.


"Aku percaya kalau kamu tidak melakukan apa yang digosipkan oleh para karyawan. Kepada aku saja kamu cuek apalagi sama om-om"celetuk Sanjaya.


Mendengar perkataan Sanjaya, Eta langsung menepuk lengannya hingga Sanjaya terperanjat kaget.


"Ngapain juga Apsara ramah sama kamu. Memang kamu siapanya? Ngaca dong"geram Eta sambil menyodorkan telapak tangannya seakan-akan itu adalah kaca.


Hingga akhirnya jam makan siang pun tiba. Apsara seperti biasa lebih memilih membawa bekal dari rumah. Saat dia berada di kantin, semua pegawai yang ada di sana seperti tidak mengizinkannya untuk duduk satu meja dengan mereka. Apsara mengabaikan sikap buruk mereka, hingga Akhirnya Apsara memilih pergi ke rooftop yang berada di lantai tertinggi gedung Wijaya Group. Pelataran beton yang beratapkan kanopi dengan berhias tanaman bunga Flame of Irian.


Apsara duduk di salah satu kursi, lalu dia menikmati bekal makan siangnya. Hingga akhirnya dia dikejutkan kedatangan seseorang yang langsung duduk di sebelahnya.


"Sanjaya, kamu ngapain ke sini?"tanya Apsara.


"Nemenin kamu lah. Tadi aku lihat kamu keluar dari kantin gara-gara semua karyawan menolak keberadaan kamu. Makanya aku mengikuti kamu"jawab Sanjaya.


"Oohhh." Apsara hanya ber-oh ria tanpa suara. Keduanya pun menikmati makan siang bersama. Hingga akhirnya makanan mereka habis tak tersisa.


"Menyenangkan berada di sini"ujar Sanjaya.


"Kamu sering ke sini?"tanya Apsara.


"Lumayan. Kalau aku merasa bosan dan penat, aku akan duduk di sini bahkan sampai tertidur"jelas Sanjaya terkekeh.


"Apa jam istirahat masih lama?"kata Apsara melirik jam tangannya.

__ADS_1


"Masih ada 45 menit lagi"tutur Sanjaya yang sudah menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.


Apsara menatap Sanjaya yang sudah mulai memejamkan matanya. Wajahnya bukan tipe laki-laki ganteng tapi lebih kepada gagah, berkarisma, dan berwibawa. Astaga Apsara baru sadar kalau dia mulai mengagumi Sanjaya.


*****


Zahra mulai dekat dengan Nendra dan sekarang mereka berdua sedang makan siang di kantin. Sekaligus menunggu kedatangan Nanda.


"Zah, maaf ya aku lama. Soalnya tadi ada kuis dadakan dari dosen"ujar Nanda sambil duduk di kursi yang berada di hadapan Zahra.


Nanda langsung melongo saat melihat kembarannya duduk di samping Zahra. Nanda langsung melirik ke arah Zahra.


"Oh iya Nan, kamu masih ingatkan beberapa waktu lalu ada cowok yang nolongin aku. Nah dia orangnya, namanya Nendra"kata Zahra menunjuk Nendra dengan dagunya.


"Oohh dia..."


"Kamu kayaknya kenal sama dia Nan?"tanya Zahra penuh selidik.


"Ya kenal dong, dia kan kem..."


Nanda langsung menghentikan perkataannya saat Nendra memberi pelototan kepadanya. Dia hampir menyebut kalau Nendra adalah kembarannya, padahal di kampus tidak ada yang tahu hubungan persaudaraan mereka.


"Maksud aku, siapa sih yang nggak kenal Nendra. Dia kan mahasiswa paling ganteng di fakultas teknik"jelas Nanda dengan wajah datar namun tatapannya mampu membolongi kepala Nendra.


Serem banget kembaran aku, batin Nendra.


"Oh ya? Aku kira kalian sudah saling mengenal sebelumnya. Kalian kelihatan akrab soalnya"ucap Zahra.


"Hahaha...nggak juga kok"kekeh Nanda.


Setelah makan siang mereka selesai, ketiganya pun kembali ke kelas masing-masing.


*****


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam para MABA sedang berkumpul di lapangan depan untuk memulai pentas seni perkelompok. Sindi sudah menyiapkan rencana jahil untuk mengerjai Almira. Karena dia masih tidak terima jika Almira tempo hari berani melawannya.


"Hei anak kampung"tegur Sindi menepuk bahu Almira.


"Kamu nggak ada kerjaan kan?"sambung Ria.


"Nggak ada Kak"jawab Almira.


"Kamu ke ruang teknisi dan ambilin speaker buat acara pensi. Cepetan"ujar Sindi begitu ketus.


"Ruangannya di mana kak?"tanya Almira.


"Ya ampun, gitu doang nggak tahu. Dari koridor, kamu belok kiri terus ruangannya ada di paling ujung"jelas Ria.


Almira mengangguk paham lalu pergi meninggalkan lapangan dan melangkah menuju ruang teknisi. Sindi dan Ria tertawa tanpa suara saat berhasil mengerjai Almira.


Almira sudah sampai di depan ruang teknisi. Dia masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap dan hawa dingin menyeruak hingga tulang rusuknya. Tiba-tiba pintu ruangan itu tertutup sendiri. Almira berlari kearah pintu dan memggedor-gedor pintu itu.


"Tolong...buka...tolong!!" Almira berteriak minta tolong agar dibukan pintu. Dan ternyata Jeje yang mengunci pintu ruangan itu dari luar. Karena dia sudah bersiap sejak tadi. Jeje pun meninggalkan tempat itu.


Almira sudah kelelahan karena terus berteriak. Dia langsung terduduk di belakang pintu. Rasanya ruangan ini sangat dingin, dan Almira melihat empat AC ruangan itu menyala. Almira tidak terbiasa beraa di ruangan ber-AC hingga sekarang dia menggigil kedinginan.


Langga baru saja keluar dari ruang praktek pembedahan, karena hari ini dia baru saja melakukan praktek pembedahan mayat hingga dia harus pulang malam. Untung saja dia sudah memberi tahu keluarganya jika dia akan pulang malam.


Nendra segera meninggalkan ruang praktek untuk mengambil tas yang berada di kelas. Saat dia melewati perempatan koridor, Langga seperti mendengar suara minta tolong.


"To...to..long..."


"Hah? Suara siapa itu? Masa di kampus ada kuntilanak kuliah sih? Apa jangan-jangan ini arwah jenazah yang tadi aku bedah lagi?"kata Langga bergidik ngeri.


"Airlangga, kamu itu dokter masa sama kayak gitu aja takut. Malu-maluin keluarga aja kamu"ucap Langga pada dirinya sendiri.


Langga pun berjalan mengikuti sumber suara dan sampailah Langga di depan ruang teknisi.


"To...tolong..."


Terdengar suara wanita minta tolong sambil mengetuk pintu dengan pelan. Langga kaget bukan main saat suaa wanita yang dia dengar. Dan bulu kuduknya langsung merinding

__ADS_1


"Siapa di dalam?"teriak Langga hati-hati.


"Tolong aku...aku terkunci di dalam"balas Almira yang mendengar suara orang yang berada di luar.


"Apa terkunci?"teriak Langga.


"Kalau aku nyari penjaga kampus terus minta kunci kelamaan dong. Masa aku dobrak? Kasian pintunya? Mana pintu mahal lagi"ujar Langga.


"Kamu minggir dari pintu, aku mau dobrak pintunya"teriak Langga mendekatkan mulutnya pada pintu.


Almira menggeserkan tubuhnya dari pintu dengan cara mengesot karena dia sudah menggigil kedinginan dan tidak mampu untuk berdiri.


Langga bersiap-siap mengeluarkan jurus bela diri yang dia pelajari sejak kecil.


BRAKK


Pintu terbuka oleh tendangan Langga. Dia langsung melarikan matanya mencari wanita yang meminta tolong. Dan dia melihat seorang wanita yang dia kenal sedang duduk dengan tubuh menggigil.


"Ya ampun, bagaimana kamu bisa berada di sini?"tanya Langga menghampiri Almira dan langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Di..dingin..."


Shit, siapa yang nyalain AC di ruangan yang tidak digunakan? Ini pasti disengaja, batin Langga.


Langga melepaskan jas dokternya dan memakaikan pada Almira. Langga langsung menggendong Almira dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Dan di lapangan teman-teman kelompok Almira mencari keberadaannya yang menghilang tiba-tiba.


"Tadi dia ada Kak."


"Terus ke mana dia?"tanya ketua BEM.


Dan salah satu anggota kelompok Almira melihat Almira berada digendongan seorang pria.


"Kak itu Almira"teriaknya menunjuk ke arah gedung di mana Langga sedang berjalan cepat menggendong Almira.


Semua mahasiswa terkejut tak terkecuaoi Geng Miss yang sampai melongo saat melihat Langga menggendong Almira. Ketua BEM dan rekan seorganisasinya mengikuti Langga.


Langga membawa Almira ke UKS dan langsung memeriksanya. Dan Almira mengalami hipotermia ringan. Langga langsung menggosokkan telapak tangannya lalu menempelkan pada pipi Almira.


"Permisi!"seru ketua BEM memasuki UKS.


"Kamu siapa?"tanya Langga terkejut.


"Saya ketua BEM, dan dia adalah peserta acara makrab Kak"kata ketua BEM yang menabak kalau Langga adalah mahasiswa S2.


"Cepat bawakan dia teh hangat, sebotol air panas, dan carikan dia pakaian tebal!"perintah Langga dengan tatapan tegas.


Ketua BEM itu langsung pergi sementara Langga terus melakukan penolongan pertama kepada Almira. Di luar UKS Geng Miss memerhatikan bagaimana Langga begitu perhatian kepada Almira. Tak berapa lama ketua BEM datang dan memberikan teh hangat itu.


Langga mengapitkan sebotol air panas pada ketiak Almira agar suhu badannya naik, lalu dia mengganti jas dokternya dengan jaket yang diberikan kepadanya. Tak berapa lama Almira membuka matanya.


"Aku di mana?"


"Kamu di ruang UKS. Ini minun teh hangatnya"ujar Langga memberikan teh hangat itu.


"Kak bagaimana dia bisa seperti ini?"tanya ketua BEM.


"Harusnya aku yang bertanya, bagaimana bisa dia terkunci di dalam ruang teknisi dengan seluruh AC menyala padahal dia seharusnya bersama kalian dalam acara makrab?"tandas Langga.


Ketua BEM terdiam dan menunduk saat Langga memarahinya.


"Kamu itu ketua BEM harusnya kamu bisa memastikan bahwa junior kamu tidak mengalami hal seperti ini. Ini sudah termasuk kasus bullying, dan ini pasti ulah teman-teman kamu yang berlagak sok berkuasa"tegas Langga.


"Maaf Kak."


"Lain kali jangan lalai. Ini sudah termasuk dalam kasus bullying. Kamu sebagai ketua BEM harus tegas. Jangan bertele-tele"tegas Langga.


Langga menatap tajak ke arah ketua BEM itu, dan Almira bisa melihat betapa berwibawanya sosok Langga yang ada di depannya. Langga pun menoleh ke arah Almira yang sedang mentapnya.


"Terima kasih Kak"ucap Almira sambil tersenyum dan Langga membalasnya dengan senyum kecil.

__ADS_1


Langga pun meninggalkan UKS, dan saat dia keluar, Langga melirik ke arah Geng Miss yang berdiri di depan UKS dengan mata tajamnya.


__ADS_2