Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 40


__ADS_3

Seminggu berlalu. Panitia pemilihan campus princess sudah mengumumkan 20 besar, mahasiswi yang terpilih menjadi finalis pemilihan campus princess tahun ini. Setelah melakukan seleksi pada berkas persyaratan yang dikirim. Serta melakukan wawancara singkat terhadap para mahasiswi yang mendaftar. Akhirnya 20 nama perempuan yang menjadi finalis campus princess resmi diumumkan dan dipajang di mading kampus.


Mendengar adanya pengumuman 20 besar finalis, Zahra langsung mengajak Nanda untuk menuju ke mading kampus. Melihat apakah nama Nanda ikut masuk dalam daftar atau tidak. Dan saat mereka berdua melihat pengumuman di mading, nama Nanda masuk dalam 20 besar finalis yang lolos untuk tampil di acara final campus princess.


Nanda dan Zahra saling berpelukan karena bahagia. Final akan dilaksanakan minggu depan. Dan pada hari itu akan ditentukan siapakah campuss princess of the year dari Universitas Atma Jaya yang baru.


Yang mengetahui tentang keikutsertaan Nanda dalam pemilihan campus princess tidak hanya Zahra dan Almira, tapi juga Langga dan Nendra. Kedua saudaranya sangat mendukung Nanda. Karena untuk pertama kalinya Nanda mau mengikuti acara besar di kampus. Yang notabene acara ini akan mengangkat nama Nanda.


*****


Satu hari sebelum final pemilihan campus princess. Panitia mengadakan gladi bersih dan technical meeting untuk para peserta. Para peserta diberi arahan untuk blocking panggung. Mereka diajari untuk berpose, catwalk, dan publik speaking yang baik.


Saat technical meeting, para peserta diberitahu bagi mereka yang nantinya masuk ketujuh besar akan melakukan sebuah speech atau pidato dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia. Ada tiga tema speech yang ditentukan. Ketiga tema itu ditunjukan kepada para peserta saat tehnical meeting. Namun nanti saat di atas panggung mereka akan melakukan speech dengan tema yang diacak. Jadi jika mereka ingin lancar saat berbicara mereka harus mempelajari tiga tema itu.


Technical meeting pun selesai, para peserta keluar dari ruang aula. Sindi adalah satu-satunya dari Geng Miss yang lolos menjadi finalis. Dia tidak menyangka jika Nanda akan terpilih menjadi finalis juga. Awalnya Sindi memprotes karena Nanda adalah mahasiswa S2. Tapi dengan kepintaran Nanda, dia bisa mematahkan protes dari Sindi.


"Kenapa dia bisa ikutan campus princess sih?" tanya Ria saat Sindi keluar dari aula.


"Sin, dia lawan yang berat loh. Secara dia mahasiswi S2 kelihatan pinter" sambung Jeje.


"Kalian berdua bukannya dukung aku, malah tambah bikin pusing" bentak Sindi.


"Ya maksudnya bukan gitu. Tapi kita harus hati-hati aja" ujar Ria.


"Bener kata Ria, Sin" sambung Jeje.


"Pokoknya kita harus cari cara biar Nanda gagal saat acara final besok" tegas Sindi dengan tatapan licik.


Kedua temannya itu pun mengangguki perkataan Sindi dan sama-sama memperlihatkan senyum menyeringai.


Nanda mengajak Zahra dan Almira untuk ke butik mengambil gaun yang akan dia kenakan besok di acara final. Di tengah perjalanan menuju temat parkir mereka bertiga berpas-pasan dengan Dafa.


"Kalian mau ke mana?" tegur Dafa.


"Kita mau ke bu..."


"Mau beli buku!" sela Nanda menyenggol lengan Zahra dengan sikunya dan memberi lirikan tajam agar Zahra tidak mengatakan yang sebenarnya.


Dafa menatap Nanda yang terdengar judes saat mengatakan itu lalu dia berkata, "Buku apa?" lanjut Dafa.


"Novel Kak. Kebetulan kemarin Almira dapat rekomendasi novel bagus dari teman satu kelas. Jadi kita mau beli gitu" sela Almira dengan wajah polos. Padahal dia mendukung Nanda.

__ADS_1


"Zahra, jangan pulang terlalu malam!" kata Dafa memberi peringatan.


"Iya, Bapak Dafa Atma Jaya yang terhormat" balas Nanda dengan nada super ketus dan menyindir.


Dafa hanya melirik Nanda sekilas lalu pergi meninggalkan ketiga gadis itu.


"Kamu ada masalah apa sih sama kakakku? Kayaknya musuh bebuyutan banget" ujar Zahra bingung.


"Kakak kamu adalah manusia paling nyebelin sejagad raya perduniawian. Ngerti?" tegas Nanda.


"Jangan terlalu membenci. Nanti jadi cinta loh" goda Zahra sambil memainkan kedua alisnya.


"Ogah banget suka sama gunung es kayak gitu" ketus Nanda lalu melengos pergi mendahului kedua sahabatnya.


*****


Mereka bertiga sudah sampai butik. Ketiganya langsung diajak bertemu dengan pemilik butik itu.


"Hai Nanda" sapa Siska pemilik butik itu sekaligus salah satu teman Isyana.


"Hai tante" balas Nanda begitu ramah.


"Iya tante. Apa sudah jadi?" tanya Zahra.


"Udah dong" ujar Siska.


Siska memanggil salah satu pegawainya. Dia menyuruh pegawainya untuk membawakan gaun pesanan Nanda. Tak berapa lama pegawai itu membawa sebuah tas yang membungkus gaun berwarna hitam.


Pegawai itu membuka resleting tas pembungkus itu dan memperlihatkan gaun berwarna merah berbahan satin yang mengkilap.


"Wow bagus banget gaunnya, Tan" puji Zahra dengan mata tak berkedip.


"Yang bagus itu bukan baju yang tante buat. Tapi design kamu yang bagus" puji Siska membelai wajah Zahra.


Nanda tersenyum sambil melirik ke arah Zahra lalu berkata, "Dia memang berbakat tante," sambung Nanda.


"Kak Zahra memang yang terbaik" ujar Almira begitu semangat.


"Zahra, kalau kamu udah lulus, langsung masuk butik tante aja ya. Jangan mau ikut butik lain. Tante udah suka sama semua design kamu soalnya. Gimana?" bujuk Siska dengan tatapan memohon.


Zahra terkejut karena dia belum ulus kuliah sudah mendapat tawaran pekerjaan. Apalagi di salah satu butik ternama. Tanpa menunggu lama Zahra menyetujui permintaan Siska.

__ADS_1


Setelah semua selesai, mereka bertiga pergi meninggalkan butik dengan membawa gaun yang mereka pesan. Selain itu mereka juga sudah menyiapkan beberapa persiapan lain.


"Aku deg-degan deh" ujar Nanda sambil menyetir mobil.


"Kenapa Kak?" tanya Almira.


"Aku takut melakukan kesalahan saat acara final besok" ucap Nanda.


"Kamu jangan over thinking dulu dong. Hari ini saja belum berlalu. Kamu sudah mengkhawatirkan hari esok. Semangat Nanda" tandas Zahra.


"Uhh sahabat-sahabatku baik banget deh" kata Nanda terkekeh.


*****


Keluarga Atma Jaya sedang makan malam bersama. Zahra sudah pulang ke rumah sebelum magrib. Dia tidak ditanya apapun oleh Dafa.


"Daf, besok ada acara pemilihan campus princess kan?" tanya Herdian di sela-sela makannya.


"Iya, Yang" jawab Dafa.


"Yangkung mau nonton?" sela Zahra.


"Yangkung nonton? Nanti bisa-bisa yangkung klepek-klepek lihat mahasiswi yang cantik-cantik itu" kelakar Herdian dengan suara kekehan khas kakek-kakek.


Zahra ikut tertawa mendengar guyonan kakeknya. Semenjak kenal dengan Nanda, Herdian memang lebih banyak bergurau. Dan jiwa mudanya kembali tumbuh karena sering diracuni oleh hal-hal barbau modern oleh anak bungsu Isyana itu.


"Yangkung, inget umur!" sela Dafa.


"Kamu ini sekali-kali yangkung becanda memang nggak boleh? Kamu ini spaneng banget hidupnya" ejek Herdian sambil memonyongkan bibirnya.


"Kebetulan aku diminta oleh rektor untuk menjadi bagian dari dewan juri" sela Dafa.


Zahra yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak. Dia pun langsung menenggak air minum.


"Makan itu yang santai, Zah" ujar Dafa.


Zahra menelan salivanya susah payah. Kalau Dafa menjadi juri, otomatis dia akan tahu jika Nanda mengikuti pemilihan campus princess.


"Selamat menjalankan tugas kakak" ujar Zahra sambil tersenyum.


Nanda tunjukan pesonamu besok. Dan buatlah Kak Dafa menyukaimu, batin Zahra.

__ADS_1


__ADS_2