
Untuk babak top 7, para finalis yang lolos harus berganti pakaian menggunakan jumpsuit. Panitia hanya menentukan jenis bajunya tapi mereka membebaskan model dan warnanya apa yang akan dikenakan finalis.
Nanda sedang melepas dressnya. Almira sudah memegang sebuah jumpsuit formal berbahan berwarna light blue dengan potongan badan asimetris yang memperlihatkan bahu dan dada mulusnya dengan belahan di kedua celana yang hanya setinggi setengah betis. Jumpsuit ini adalah pakaian keluaran brand ternama dari Prancis. Nanda mendapatkan ini saat berlibur ke Paris bersama keluarganya.
Kini rambut Nanda digerai ke belakang dan diberi jepit berbentuk mutiara agar rambutnya tetap rapi dan tidak bergeser ke mana-mana. Zahra mengganti lipstik Nanda dengan warna yang lebih soft. Agar penampilannya nampak lebih segar. Kedua gadis itu membawa Nanda keluar dari ruang ganti.
Ada seorang panitia yang sudah menunggu bersama finalis yang lain. Panitia itu akan menjelaskan beberapa hal yang harus mereka lakukan di atas panggung nanti.
"Saat kalian naik ke atas panggung, kalian bertujuh terlebih dahulu melakukan catwalk seperti biasa. Lalu kalian berbaris di sayap panggung. Nanti secara bergantian kalian akan melakukan speech. Tapi sebelum itu di layar LED akan terpampang tiga tema yang sudah kalian tahu tapi nanti kami akan acak tiga tema itu. Dan kalian akan speech sesuai dengan tema yang terpilih. Sudah jelas?" jelas panitia itu.
"Jelas" balas ketujuh finalis berbarengan.
Mereka bertujuh dibawa kembali menuju panggung. Sindi menghampiri Ria dan Jeje terlebih dahulu sebelum menuju belakang panggung. Dia menemui kedua temannya di ujung koridor gedung itu.
"Kalian tahu harus melakukan apa kan?" ujar Sindi.
"Pasti" sahut Ria dan Jeje bersamaan.
"Buat Nanda tidak bisa berkata-kata di atas panggung. Kalau perlu buat dia malu setengah mati" kata Sindi begitu sengit.
"Tenang aja Sin. Kita udah suruh salah satu anak ahli IT buat bikin tema speech yang Nanda pilih adalah tema yang bukan dari panitia. Aku jamin dia pasti akan kesusahan" tandas Ria.
"Dan dia bakal malu banget. Karena dia nggak punya persiapan apapun buat ngomong dengan tema speech yang berbeda sendiri" lanjut Jeje.
"Oke. Aku percaya sama kalian" seru Sindi lalu meninggalkam kedua dayang-dayangnya itu.
Sindi bergegas menuju back stage. Sesampainya di back stage, Sindi memandangi Nanda dengan tatapan liciknya. Nanda membalas tatapan Sindi dengan sorot mata yang tajam.
"Ngapain lihat-lihat" ketus Nanda.
Sindi mengerutkan keningnya lalu berkata, "Pasti baju kamu harganya nggak sampai dua ratus ribu kan? Cih, pasti murah banget," ejek Sindi.
"Lah, cuma mau ngomong gitu doang? Nggak penting" balas Nanda cuek.
Dia nggak tahu aja jumpsuit ini harganya 50 juta. Ginjal dia aja nggak cukup buat beli baju ini, geram Nanda dalam hati.
Satu persatu finalis baik ke atas panggung. Mereka melakukan catwalk dengan bloxking yang sudah ditentukan. Saat setiap finalis sedang melakukan catwalk, layar LED akan menayangkan video profil masing-masing finalis yang membicarakan visi dan misi mereka jika terpilih menjadi duta kampus.
__ADS_1
Dan giliran Nanda yang terakhir naik ke atas pamggung. Dengan senyum manis dan wajah cantik, Nanda berjalan begitu anggun. Video profil milik Nanda diputar di layar LED. Saat Nanda mengatakan bahwa dia adalah mahasiswa S2 hampir semua penonton menampakkan ekspresi tak percaya.
"Jadi dia mahasiswa S2?" ucap salah satu juri wanita.
"Saya tidak tahu loh."
"Saya pikir dia sama dengan finalis lain yang mahasiswa S1."
"Luar biasa. Masih muda sudah sangat berprestasi."
Begitulah kalimat yang terucap dari mulut para juri. Dafa pun mendengarnya. Dia tak bisa lagi mengelak kalau Nanda memanglah gadis yang luar biasa. Tidak pernah memperlihatkan apa yang dia miliki hanya demi untuk mendapatkan sebuah pengakuan.
Nanda sudah menyelesaikan catwalknya. Dia berada di sayap kiri panggung. Seperti yang sudah direncanakan, satu persatu finalis maju ke centre panggung untuk melakukan speech dengan tema yang sudah diacak terlebih dahulu di layar LED. Semua finalis melakukan speech dengan lancar dan mengesankan. Auditorium dipenuhi dengan suara riuh dari tempuk tangan dan sorakan para penonton.
Terakhir, giliran Nanda yang maju. Dia melangkahkan kaki menuju centre panggung. MC memberi aba-aba untuk memulai mengacak tema di layar LED lalu beberapa detik kemudian mengatakan stop. Dan terpampanglah tema speech yang harus dilakukan oleh Nanda.
Mata Nanda terbelalak dengan kening yang berkerut. Dia terkejut ketika mendapat tema yang berbeda sendiri dari keenam finalis sebelumnya. Bahkan tema ini tidak pernah diberitahu oleh panitia sebelumnya. Nanda terdiam beberapa saat dalam kebingungannya.
Sementara Zahra dan Almira nampak terkejut ketika menonton melalui layar TV saat Nanda mendapatkan tema yang berbeda.
"Kok Nanda dapat tema speech yang berbeda sendiri sih?" celetuk Zahra dengan nada kesal.
Tidak hanya mereka berdua, teman-teman yang ikut menonton pun merasa bingung juga. Tapi berbeda dengan Ria dan Jeje. Mereka berdua nampak senang saat melihat ekspresi bingung yang terlihat dari wajah mereka.
Di atas panggung, Sindi tersenyum puas. Saat keheningan menyelimuti ruanan itu ketika Nanda terdiam seribu bahasa.
"Syainanda, jika dalam hitungan kelima kamu tidak melakukan speech maka kamu dianggap langsung tidak lolos ke tahap tiga besar" ucap MC.
Nanda menoleh ke arah MC setelah pria itu mengucapkan perkataannya.
"Kenapa Nanda terlihat bingung?" tanya Dafa yang sudah sejak tadi memperhatikan Nanda.
Rasain kamu Nanda. Kamu pikir kamu itu siapa bisa menantang mau mengalahkan aku? Aku nggak akan biarin kamu lolos dengan mudah, batin Sindi.
"Satu."
"Dua."
__ADS_1
"Tiga."
"Empat."
"Li..."
"Feminisme..." Nanda menyela saat MC akan melakukan hitungan terakhir. Ya itulah tema yang didapatkan Nanda. Tema yang tidak pernah diberi tahu oleh panitia sebelumnya.
Nanda kembali menghadap ke depan dan menampakkan ekspresi yang begitu yakin dan mantap dan mulai mengeluarkan kalimat dari mulutnya.
"Feminisme tidak dapat dipisahkan dari dua hal, yaitu budaya patriarki dan kesetaraan gender. Budaya patriarki adalah hasil daripada kontruksi sosial yang dibangun bukan dalam semalam, betapa sulitnya menghilangkan budaya itu. Semenjak dari kecil pola pikir kita dibentuk bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, hanya boleh berdiam diri dirumah. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika ujung-ujungnya kasur, sumur, dapur. Gerakan feminisme lahir untuk mengoreksi jalan pikiran itu, upaya yang ditempuh adalah dengan cara menyuarakan konsep kesetaraan gender. Orang-orang sering berpikir jika kamu feminis dan melawan budaya patriarki, maka kamu melawan laki-laki, itu keliru. Patriarki itu tidak terletak pada gendernya, dia bisa muncul dari laki-laki dan juga perempuan. Melawan patriarki itu artinya melawan ketimpangan atas pandangan-pandangan yang membuat perempuan dan laki-laki tidak setara."
Nanda menjauhkan mic dari mulutnya sebagai tanda akhir dari speechnya. Semua orang bertepuk tangan begitu kerasa mendengan speechnya yang begitu lantang dan mengagumkan. Sindi menganga tak percaya jika Nanda bisa dengan begitu sangat lancar berbicara dalam situasi mendesak sekalipun.
Nanda kembali ke tempat semula. Dia melihat sekilas ekspresi terkejut dari Sindi. Nanda membalas dengan tatapan angkuh dan senyum sinis.
Juri langsung berunding siapa saja finalis yang maju ke tiga besar. Butuh waktu lima menit hingga akhirnya ketua panitia naik ke atas panggung membawa sebuah amplop dan memberikannya kepada MC.
"Di tangan saya sudah ada tiga nama finalis yang maju ketiga besar. Juri sudah menilai mereka ketika melihat video profil para finalis. Memahami visi misi mereka jika terpilih menjadi pemenang. Dan ditambah persembahan speech para finalis yang sungguh luar biasa" kata MC.
"Finalis pertama yang lolos ketiga besar adalah..." MC menggantungkan kalimatnya dan diikuti dengan suara instrumen yang mendukung suasana tegang di ruangan itu.
"Anisa" kata MC langsung disambut suara riuh tepuk tangan penonton.
Anisa maju ke depan dan memberi hormat kepada dewan juri lalu dia berdiri di sisi kanan dari centre panggung.
"Finalis kedua adalah...Sindi" teriak MC yang dihebohkan suara teriakan pendukung Sindi.
Sindi berjalan begitu centil saat dia berhasil maju ketiga besar. Dengan lagak yang sombong dia melambaikan tangan. Seakan-akan dia sudah yakin kalau dia akan menang. Sindi pun berdiri di samping Anisa.
"Finalis terakhir adalah..."
Langga dan Nendra mengatupkan kedua tangannya sambil komat-kamit begitu lucu berharap nama Nanda yang disebut.
"Syainanda!" seru MC akhirnya.
"HOREEE!!!!" teriak Langga dan Nendra berbarengan sambil berdiri dan menjunjung tinggi poster Nanda.
__ADS_1
Nanda maju ke depan melakukan hal yang sama seperti Anisa. Lalu berdiri di sebelah Sindi lagi. Finalis yang tidak lolos langsung turun dari panggung. Sementara mereka bertiga bergiliran melakukan catwalk sebelum akhirnya turun dari panggung. Dan kembali ke ruang ganti untuk berganti kostum mengenakan gaun.