Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 66


__ADS_3

Sekembalinya Nanda ke rumah, dia terus dibujuk oleh kedua saudara laki-lakinya untuk membatalkan rencana kepindahannya ke Perancis. Bahkan mereka bertiga sampai ribut karena sifat keras kepala dari Nanda. Apsara yang baru kembali dari kantor melihat adik-adiknya sedang bertengkar. Dan amarahnya pun tersulut saat melihat Nanda mendorong Nendra agar menjauh.


"NANDA!!" teriak Apsara yang membuat ketiga adiknya terdiam.


Apsara pun berjalan menghampiri ketiga adiknya dengan wajah penuh amarah. Dan setelah teriakan keras Apsara terdengar di seluruh penjuru rumah, para orang tua turun dari kamar masing-masing untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi.


"Kakak nggak tahu apa isi jalan pikiran kamu sampai kamu bersikap begitu kasar dan keras kepala. Nendra itu kembaran kamu sekaligus kakak kamu. Bersikaplah dengan baik" tegur Apsara.


"Kakak jangan berbicara seolah-olah aku yang salah dalam hal ini. Kakak juga turut andil dalam hal ini" balas Nanda tak mau kalah.


Isyan melirik ke arah Arya saat mendengar perkataan Nanda yang seolah-olah menyalahkan Apsara. Mereka dibuat bingung dan memiliki spekulasi kalau Apsara dan Nanda memiliki masalah bersama.


"Oke. Kalau itu mau kamu, lusa kakak akan memberangkatkan kamu ke Perancis sesuai keinginan kamu. Semua akan kakak urus dan kamu tinggal berangkat. Kalau perlu tidak usah kembali ke rumah ini lagi" tandas Apsara.


Semua orang ternganga mendengar perkataan Apsara yang menyetujui permintaan Nanda bahkan Apsara cenderung mengusir Nanda.


"Apsara kamu ini apa-apaan?" tegur Arya.


"Keputusanku sudah bulat. Kalau ada yang berani melawan maka kalian harus tanggung resikonya" seru Apsara lalu berlalu pergi meninggalkan semua orang.


"Papa, Mama, tolong bujuk Kak Apsara buat ngebatalin keberangkatan Nanda dong, please" rengek Nendra yang sudah tidak bisa menahan air matanya.


"Papi sama Mami bantu juga ya. Kita nggak mau Nanda pergi" sambung Langga.


Tak terasa air mata Nanda pun menetes saat secara terang-terangan Apsara menyuruhnya pergi bahkan untuk tidak kembali. Dia tidak menyangka kalau semua akan jadi seperti ini. Nanda pun pergi menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Langga dan Nendra pun menyusul Nanda. Sementara para orang tua pergi menemui Apsara untuk meminta penjelasan.


"Apsara, apa maksud kamu?" teriak Arya saat memasuki kamar Apsara.


Apsara yang sedang berdiri menatap keluar jendela langsung berbalik badan dan terkejut melihat kedatangan orang tuanya.


"Kamu mau mengusir adik kamu sendiri?" sela Dion.

__ADS_1


"Kita aja masih mengulur waktu dan berusaha membujuk agar Nanda tidak jadi pergi, kamu malah menyuruh dia pergi" seru Isyan.


"Kalian berdua ada masalah apa sih?" tanya Rara.


Apsara mempersilahkan para orang tua untuk duduk terlebih dahulu sebelum akhirnya Apsara menceritakan awal permasalahan yang menjadi alasan keinginan Nanda untuk pergi ke Perancis. Tentu saja orang tua Apsara terkejut. Karena mereka sama sekali tidak pernah mengetahui tentang rasa suka Dafa terhadap Apsara. Tidak hanya itu, Isyan dan Arya merasa bersalah karena telah mengiyakan perjodohan yang ditawarkan oleh Herdian.


"Tapi, alasan aku mendekatkan Nanda dengan Dafa bukan karena agar Dafa melupakan aku. Tapi aku tahu yang dibutuhkan Dafa adalah seseorang seperti Nanda yang bisa memahami sifatnya. Dafa bukan mencintai aku, dia hanya merasa kagum. Dan dia belum paham arti cinta yang sebenarnya. Kalau aku menikah dengan Dafa, kalian bisa bayangkan akan seperti apa rumah tangga kami. Karena kami bukan pasangan yang saling melengkapi" jelas Apsara panjang lebar.


"Mungkin rumah tangga kamu keadaannya akan seperti Atlantik yang beriklim dingin. Karena kalian berdua sama-sama manusia dingin" sela Dion.


"Lalu kenapa kamu membiarkan Nanda pergi?" tanya Rara.


"Aku punya alasan untuk itu" ujar Apsara dengan tatapan mengisyaratkan sedang merencanakan sesuatu.


*****


Nanda langsung menyuruh beberapa pelayan untuk membantunya mengemasi barang-barangnya. Langga dan Nendra terus membujuk Nanda untuk tidak pergi. Namun Nanda tidak mendengarkan mereka sama sekali.


"Nan, kalau kamu mau, aku bakal bujuk Kak Apsa buat nggak kirim kamu ke Perancis. Masalah ini pasti bisa diselesaikan" ucap Langga.


"Justru itu, orang yang menjadi akar dari permasalahan ini menginginkan kepergianku. Jadi untuk apa aku tetap di sini" tegas Nanda.


Nendra merebur koper yang baru diambil Nanda dari lemari dan melemparnya ke lantai begitu keras.


"Aku bilang jangan pergi ya jangan pergi. Kamu denger nggak sih!" bentak Nendra.


"Biarkan dia Nendra." Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing dan suara itu adalah milik Apsara yang sedang memasuki kamar Nanda.


"Bukankah itu kemauan kembaran kamu untuk pergi? Jadi sebaiknya kamu membantu dia berkemas agar meringankan pekerjaan dia" ujar Apsara dengan wajah datar.


"Kakak ini kenapa sih? Seharusnya kakak melarang Nanda pergi bukannya menyuruh dia pergi" teriak Nendra.

__ADS_1


Apsara berjalan menghampiri Nanda lalu setelah dia sudah berdiri di hadapan adik bungsunya itu, Apsara memberi tatapan dinginnya.


"Kamu adalah orang yang paling bodoh. Bagaimana bisa kamu menyerah ketika kamu baru akan mulai untuk berjuang. Kamu tahu apa kesalahan terbesar dari seseorang yang gagal? Kesalahan dia adalah ketika orang itu tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Dan alangkah menyedihkannya orang itu harus merasakan penyesalan seumur hidupnya. Dan aku harap orang itu bukan kamu" tegas Apsara dengan nada bicara menohok.


Nanda hanya diam menatap Apsara saat dia mengatakan semua perkataannya. Entah kenapa perasaan Nanda timbul rasa ragu. Dia merasa bahwa Nanda begitu mencintai Dafa dan ingin memperjuangkan cintanya namun ada rasa takut karena masa lalu yang dimiliki Dafa. Apalagi Dafa belum pernah menyatakan perasaannya terhadap Nanda. Atau bahkan berkata kalau dia setuju akan perjodohan ini.


Setelah selesai mengatakan itu, Apsara pun keluar dari kamar Nanda dengan langkah yang santai seperti tidak ada beban sama sekali. Meninggalkan beribu pertanyaan dipikiran Langga dan Nendra.


*****


Dafa tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya memikirkan alasan Nanda memilih pergi. Dan Dafa tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Pertama, Dafa takut jika harus kehilangan Nanda. Tapi bodohnya, dia belum menyadari alasan kenapa dia takut kehilangan Nanda.


Di dalam lamunannya, Herdian datang menghampiri Dafa yang duduk merenung di dalam perpustakaannya. Terlihat di meja kerja Dafa terbuka buku diary miliknya. Buku itu hanya tergeletak. Tak disentuh atau dilihat.


"Dafa, yangkung dengar dari Zahra kalau Nanda akan pergi ke Perancis. Apa itu benar?" ucap Herdian.


Dafa tak memberi respon apapun. Dia hanya terdiam.


"Apa kamu masih mencintai Apsara?" lanjut Herdian.


"Aku tidak tahu, Yang" lirih Dafa.


"Apa kamu mulai memiliki perasaan dengan Nanda?" ujar Herdian.


Terdengar Dafa menghela napas panjang. Menegakkan tubuhnya, kemudian menutup buku diary miliknya.


"Aku belum tahu apa arti perasaanku kepada Nanda. Tapi entah kenapa aku tidak mau dia pergi. Dan kenapa dia harus pergi?" balas Dafa.


Terlihat senyum terukir di wajah Herdian. Dia tahu cucunya ini mulai mencintai gadis kuda itu. Sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Nanda di dalam hidupnya. Namun rasa gengsi dan kebodohan membuat Dafa belum bisa menyadari arti perasaannya.


Herdian menepuk bahu Dafa dan berkata, "Nak, kamu itu sama seperti mendiang ayahmu. Kalian terlalu lama untuk menyadari arti sebuah perasaan. Kalian bukannya tidak berani, tapi kalian sama-sama tidak mau ambil resiko. Memang kenapa kalau Nanda sudah tahu kamu pernah menyukai kakaknya? Perasaan manusia terus berubah setiap saatnya. Dan sekarang kamu tidak lagi memiliki perasaan kepada Apsara. Saat ini perasaanmu hanya untuk Nanda. Sadari itu," tandas Herdian.

__ADS_1


"Aku perlu meyakinkan itu, Yang. Aku tidak mau salah dalam ambil keputusan. Apalagi ini menyangkut masa depan" jelas Dafa.


"Terserah sama kamu. Yang penting, yangkung sudah mengatakan apa yang perlu kamu tahu" tutur Herdian kemudian pergi meninggalkan Dafa.


__ADS_2