Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 48


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Isyan dan Arya terkejut melihat penampilan Nanda yang menggunakan gaun milik Isyan dahulu. Terlebih lagi dia memakai selempang dan mahkota.


Langga pun bercerita jika Nanda mengikuti pemilihan campus princess of the year dan telah memenangkan kompetisi itu dengan sangat baik. Bahkan banyak orang yang terpukau dengan penampilannya.


Selain itu, Nendra juga menceritakan soal kecurangan yang dilakulan oleh Sindi dan teman-temannya. Yang akhirnya hal itu membuka identitas mereka semua di depan semua orang.


Isyan mengungkapkan kebanggaannya kepada anak-anaknya yang selalu kompak, saling mendukung, dan saling melindungi. Dia juga berpesan bahwa setelah semua orang tahu siapa mereka, maka akan ada banyak orang yang akan mendekati mereka. Oleh karena itu, Isyan selalu mengingatkan anak-anaknya agar selalu berhati-hati.


Rara pun mengusulkan untuk mengadakan makan malam bersama untuk merayakan kemenangan Nanda. Dia menyuruh para pelayan untuk menyiapkan banyak makanan. Tak lupa Dafa dan Zahra pun ikut serta dalam acara makan malam bersama keluarga itu.


*****


Keesokan paginya. Ini adalah hari pertama setelah Nanda dinobatkan sebagai campus princess. Sekarang mau tidak mau Nanda harus memperhatikan penampilannya. Bukan hal sulit bagi Nanda untuk berpenampilan modis. Karena apa yang dia butuhkan sudah tersedia.


Tidak banyak yang berubah dari Nanda. Dia masih memakai mobil lama seperti kedua saudaranya untuk berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, dia memakirkan mobil di tempat biasa. Dan Nanda dibuat sedikit terkejut karena saat dia hendak meninggalkan tempat parkir, ada segerombolan pria yang duduk menunggunya.


"Pagi Nanda."


"Hai, Nan. Kamu cantik banget pagi ini."


"Ya ampun bidadariku akhirnya sampai kampus juga."


"Makin cantik aja sih our queen."


"Udah sarapan belum? Kalau belum aku traktir yuk!"


"Pulang dari kampus kita jalan ke mall yuk!"


Pria-pria itu mengeluarkan celotehan-celotehan yang membuat Nanda bergidik dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak merasa risih, justru merasa lucu. Karena ini pertama kalinya dia menjadi pusat perhatian.


Gerombolan pria itu terus mengikuti langkah Nanda sambil terus berbicara. Nanda sama sekali tak memberi respon. Dia hanya tersenyum ramah. Apalagi ada beberapa mahasiswa yang menyapa saat berpapasan dengannya.

__ADS_1


Dafa yang baru saja keluar dari ruangannya dan hendak menuju kelas Nanda, melihat peristiwa ini. Ketika Nanda diikuti para mahasiswa pria. Ini membuat Dafa merasa geram. Karena respon Nanda biasa saja. Terlihat santai dan terbiasa.


"Gadis ini memang harus diajari bagaimana cara menjaga diri dan martabat sebagai perempuan" gumam Dafa dengan sorot mata tajam.


Dia melangkahkan kaki menghampiri mereka dan langsung menghentikan langkahnya menghadang mereka. Nanda terkejut saat Dafa berdiri di hadapannya. Dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa laki-laki itu siap mrmakannya hidup-hidup saat itu juga.


"Kalian tidak ada kelas pertama pagi ini?" tanya Dafa dingin.


"Ada Pak" sahut para mahasiswa itu serentak.


"Masuk ke kelas kalian masing-masing!" usir Dafa.


"Tapi Pak, kita mau nganterin Nanda ke kelasnya."


Dafa terkejut mendengar jawaban dari salah satu mahasiswanya. Sementara Nanda menahan tawa mendengar jawaban yang amat polos. Apalagi ekspresi Dafa yang terlihat sangat jengkel.


"Nanda berusia 23 tahun, mahasiswi S2 Hukum. Itu artinya dia sudah dewasa dan tahu bagaimana cara berjalan, membuka pintu kelas, dan duduk di bangku. Jadi kalian semua tidak perlu mengantarkan dia. Kalian kuliah agar kalian semua mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Bukannya jadi buaya jantan" tegas Dafa memelototi mereka satu persatu.


"Baik Pak" ucap mereka akhirnya dan meninggalkan Nanda bersama Dafa.


Nanda menoleh ke belekang dan melihat kepergian para laki-laki itu lalu berkata, "Yah, mereka pergi," kata Nanda sedikit merasa kecewa.


Tiba-tiba Dafa menarik tangan Nanda dan menyeretnya. Nanda terkejut dan sempat memberontak. Tapi genggaman tangan Dafa terlalu kuat. Hingga akhirnya Dafa membawa Nanda masuk ke dalam ruangannya dan mendudukkan dia di sofa cukup kasar.


"Sakit tahu, Kak. Gila kasar banget, kayak amplas kayu" celetuk Nanda sambil mengelus pergelangan tangannya.


Dafa membungkukkan badannya kemudian mencondongkan tubuhnya mendekati Nanda. Bahkan kedua tangannya mengapit tubuh perempuan itu di sofa. Nanda reflek memundurkan tubuhnya. Jantungnya sudah berdegub kencang sepertu sedang menghadapi perampok.


"Seharusnya kamu bisa jaga attitude kamu. Bagaimana bisa kamu dengan santai menerima segala rayuan dan godaan para laki-laki itu? Apa kamu nggak mikir, kalau mereka bisa bersikap kurang ajar sama kamu!" tandas Dafa dengan tatapan mata yang tajam.


Nanda menelan salivanya susah payah saat dia tidak bisa mengontrol dirinya. Hingga membuat dia hanya diam membeku tak berdaya.

__ADS_1


"Me...memang kenapa?" tanya Nanda terbata-bata.


"Karena...." Dafa menggantungkan ucapannya. Lalu dia menjauhkan tubuhnya dari Nanda dan kembali berdiri tegak sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Dafa mencoba mengontrol dirinya yang merasa gugup saat ini.


"Jawab Kak!" pinta Nanda.


"Karena...karena kamu itu campus princess. Apalagi semua orang sudah tahu kalau kamu putri Isyana Wijaya dan Arya Praditya. Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu?" lanjut Dafa.


Nanda bangkit dari kursi yang dia duduki lalu berjalan menghampiri Dafa. Berdiri menghadap laki-laki itu dan menatap matanya.


"Cuma itu doang? Kakak nggak merasa cemburu gitu?" celetuk Nanda santai.


Dafa langsung nyureng saat Nanda mengatakan hal ini. Lalu dia menoyor kepala Nanda sambil mendengus kesal.


"Aku nggak akan cemburu sama kamu. Aku mengatakan ini karena aku peduli sama kamu sebagai adik dari sahabatku. Mengerti?" tegas Dafa.


"Hhhmmm...iyain aja deh" tutur Nanda cuek sambil mengedikkan bahunya acuh.


"Lebih baik kamu masuk ke kelas. Jam pertama mata kuliahku" perintah Dafa.


"Baik Bapak Dafa Atma Jaya yang terhormat" gerutu Nanda berbicara sambil mengeratkan gigi lalu pergi meninggalkan ruangan Dafa.


Setelah kepergian Nanda, Dafa menarik napas panjang. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tapi entah, Dafa pun tidak tahu. Atau mungkin dia belum menyadarinya.


Nanda berjalan begitu malas menuju kelasnya. Kejadian di ruangan Dafa tadi berhasil membuatnya ingin pingsan.


"Kalau dilihat dari dekat, Kak Dafa emang ganteng sih. Nggak kalah sama Kak Bara. Tapi...astaga nyebelinnya minta ampun. Nggak bisa bersikap manis dikit apa. Kesel banget sumpah" omel Nanda dengan wajah dongkolnya.


"Tapi masa sih Kak Dafa nggak cemburu sama aku? Aku lihat tadi dia kayak marah banget aku dideketin cowok tadi. Aahh bodo amat lah. Pusing aku" ujar Nanda dibuat kesal sendiri karena memikirkan Dafa.


Dia pun sampai di ruang kelasnya dan langsung menuju bangku yang biasa duduki. Semua teman-teman kelasnya mengucapkan selamat atas keberhasilan Nanda setelah memenangkan pemilihan campus princess.

__ADS_1


__ADS_2