
Bara dan Apsara juga sudah resmi menjadi karyawan di perusahaan orang tua mereka masing-masing. Bara masuk divisi design arsitektur sesuai apa yang dia kuasai dan ingin dia selidiki. Lalu Apsara masuk divisi promosi sesuai dengan jurusannya saat kuliah dan dia juga ingin menyelidiki divisi ini sesuai laporan dari Nendra.
Di kantor PT. Surya tepatnya di ruangan Arya, dia sedang berbicara dengan dua orang kepercayaannya yaitu Aldo dan anaknya Aldi.
"Aldi, hari ini Bara akan mulai bekerja di perusahaan ini. Pastikan tidak ada yang tahu kalau dia anak dari Dion Wijaya. Tapi tetap awasi sikap karyawan lain dan laporkan semua kepada saya"perintah Arya.
"Baik Pak"sahut Aldi.
"Dan kamu Do, lakukan penyelidikan kenapa divisi design memberikan design yang sesimple itu padahal klien kita sudah membayar harga tinggi. Aku tidak mau kalau sampai klien kita kecewa dan membatalkan kontrak kerja sama"lanjut Arya.
"Saya akan selidiki itu Pak"jelas Aldo.
*****
Apsara baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran kantor Wijaya Group. Dia kembali mengingat kapan terakhir kali dia ke kantor ini. Yaps, mungkin sepuluh tahun yang lalu sebelum dia ke Amerika bersama opa dan omanya, yang memutuskan tinggal di Amerika.
Dia masuk ke dalam gedung dengan langkah mantap, tatapan dingin, dan pesona yang tersebar ke seluruh ruangan, persis seperti Isyan.
"Permisi Mbak." Apsara menghampiri resepsionis terlebih dahulu.
"Ya." Resepsionis itu menjawab begitu ketus dan tidak ramah.
Daftar pertama pemecatan karyawan, batin Apsara.
"Saya mau bertemu dengan Pak Dimas." Apsara masih mencoba bersikap ramah kepada resepsionis judes ini.
"Sudah buat janji?"
"Saya pegawai baru dari divisi promosi"jawab Apsara.
"Tunggu."
Resepsionis itu menelpon untuk memberitahu keberadaan Apsara. Dan lima menit kemudian Dimas keluar dari lift dan menghampiri Apsara yang duduk di sofa yang ada di lobi.
"No..."
"Apsara." Apsara memotong perkataan Dimas saat dia akan menyebut kata 'nona'.
Dimas pun mengangguk dan memberi tatapan meminta maaf pada Apsara. Setelah itu dia membawa Apsara menuku lift. Setelah pintu lift tertutup ekspresi Apsara yang tadinya santai berubah jadi super dingin.
"Pecat respsionis tadi. Dia sangat ketus dan tidak ramah"jelas Apsara tanpa menoleh.
"Baik Nona"jawab Dimas.
Dan sampailah mereka di lantai di mana kantor divisi promosi berada. Dimas mengantarkan Apsara sampai ke ruangan manajer promosi yang bernama Pak Utomo.
"Pak Utomo, dia Apsara, anak buah baru anda untuk bagian promosi. Dia lulusan S3 dari Amerika. Saya harap kehadiran dia bisa memberi sesuatu yang baru dari divisi ini"kata Dimas tenang.
"Tentu Pak Dimas"balas Utomo hormat.
Dimas memberi anggukan pelan sebelum meninggalkan Apsara di ruangan Utomo. Melihat kecantikan dan fisik sempurna Apsara, jiwa pria hidung belang Utomo langsung meronta-ronta.
Tiba-tiba pria tua itu mengulurkan tangannya kepada Apsara dan berkata, "Saya Utomo manajer divisi promosi." Utomo mengatakan itu sambil memberi tatapan genit pada Apsara.
Tentu saja Apsara merasa jijik dan ingin mematahkan leher pria tua itu. Tapi dia harus sabar karena ini bagian dsri rencananya.
"Saya Apsara Pak"jawab Apsara dingin membalas uluran tangan Utomo tapi dengan cepat dia melepas tangannya sebelum pria tua itu mengelus-elus tangannya.
Melihat sikap Apsara yang sok jual mahal membuat Utomo semakin tertarik dan penasaran. Kemudian, dia mengantarkan Apsara pada meja kerjanya dan memperkenalkan dia kepada timnya.
"Baik semuanya, perkenalkan nama dia Apsara. Dia akan menjadi bagian dari tim kalian. Bekerja sama dengan baik dan jadilah tim yang solid"kata Utomo.
Apsara memberi senyum tipis kepada teman-temanya. Setelah Utomi pergi teman-temannya langsung menghampiri dia.
"Hai, namaku Lia"ujar perempuan yang mengecat rambutnya dengan warna coklat dan penampilannya menunjukkan bahwa dia penguasa di divisi ini.
"Namaku Eta"lanjut seorang perempuan yang menyepol rambutnya sederhana.
"Dan dia Sanjaya, satu-satunya pria di tim utama divisi promosi. Dia itu ahli dalam fotografi dan editing"kata Lia yang menggunakan kedua tangannya mempersembahkan seorang pria dengan senyum manis dan begitu ramah.
"Ayo, kita harus mulai bekerja. Karena perusahaan ini akan melaunching produk baru"teriak Eta yang mengembalikan suasana seperti semula.
*****
Dafa sudah resmi mengajar di kampus. Yang tahu kalau dia cucu Herdian Atma Jaya hanya rektor, dan dekan fakultas FISIP. Dia akan mengajar pada mata kuliah hukum internasional di kelas S2. Pasti akan menyenangkan bertemu dengan mahasiswa yang seusia dia dibandingkan bertemu mahasiswa yang masih muda seperti mahasiswa S1.
Nanda berlari dari parkiran menuju kampusnya. Sebenarnya dia tidak telat hanya saja hari ini adalah hari pertama dosen baru itu masuk. Dan dia harus mempersiapkan diri.
Tiba-tiba saat Nanda berlari tak sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.
BUGH
Buku yang dibawa Nanda sampai jatuh ke tanah. Merasa kesal Nanda langsung mengomel-ngomel.
"Kalau jalan jangan lupa lihat jalan dong"teriak Nanda dengan segala rasa kesal.
"Kamu juga jalan sambil lari"balas orang itu yang tak lain adalah Dafa.
"Heh, malah nyalahin orang lagi. Kamu yang salah juga"ucap Nanda tak kalah sengit.
"Kamu nggak punya sopan santun sama orang yang lebih tua?" Dafa menatap tajam ke arah Nanda, tapi bukan Nanda namanya kalau dia menyerah begitu saja.
Tiba-tiba Nanda menginjak kaki Dafa dengan keras lalu mengejeknya.
"Syukurin! Nggak usah sok ganteng" Nanda pun berlari meninggalkan Dafa yang sednag mengaduh kesakitan.
"Sial! Pasti dia anak S1 yang sok di kampus ini, pasti IPK dia dibawah 2,50"tutur Dafa yang mencoba menerka-nerka gadis yang baru memberi kesialan terhadapnya.
Kelas S2 hukum selalu ribut ketika belum ada dosen masuk. Apalagi setelah pensiunnya Pak Joko, mereka merasa terbebas dari kadang singa. Sementara Nanda cuek dan masa bodo dengan teman-temannya. Bahkan dia lebih fokus menggambar karakter nobita di kertas HVSnya. Nanda adalah penggemar berat serial kartun doraemon sejak kecil, apalagi saat Apsara membelikan dia boneka doraemon berukuran besar.
Dan masuklah sosok dosen baru yang langsung membuat kelas menjadi tenang. Pria tampan, gagah, dan muda membuat mahasiswi melongo bahkan menganga melihat kedatangannya.
"Nan...dosennya ganteng tuh." Aster menyenggol lengan Nanda agar dia tahu kehadiran dosen barunya.
Nanda pun langsung melarikan matanya ke depan kelas dan tentunya dia langsung melotot tapi dengan alasan yang berbeda dari teman-temannya.
Itu kan, cowok yang tadi. Oh my God, tamat riwayatku, batin Nanda ketakutan.
Ya, dosen baru itu adalah Dafa sendiri. Dia mengajar di kelas Nanda. Dafa sendiri pun tidak tahu menahu rupa adik-adik dari Bara dan Apsara bahkan dia tidak tahu mereka berkuliah di sini. Karena selama bersahabat dengan keduanya, dia tidak pernah bertemu dengan adik-adik sahabatnya. Begitu juga dengan Bara dan Apsara yang tidak pernah bertemu dengan Zahra.
"Selamat pagi semua."
"Pagi Pak."
Para mahasiswi tidak henti-hentinya tersenyum memandangi pria tampan di depan mereka. Bahkan mereka sampai tak berkedip sekalipun.
"Nan ganteng banget dosennya"bisik Aster pada Nanda.
__ADS_1
Nanda yang mendengar itu hanya bergidik geli mengingat kejadian menyebalkan tadi pagi bersama Dafa.
"Perkenalkan nama saya Dafa. Dan saya yang menggantikan Pak Joko mulai hari ini. Ada yang mau ditanyakan?"kata Dafa dengan tegas.
"Bapak umurnya berapa?"
"Sudah punya pacar belum?"
"Apa bapak sudah menikah?"
"Mau dong saya jadi pacar bapak"
Semua mahasiswi terus saja melemparkan pertanyaan mengggoda kepada Dafa. Dan rasanya Nanda ingin muntah mendengarnya.
"DIAM!" Dafa membentak agar semuanya diam, dan Nanda tertawa dalam hati karena merasa puas.
"Ini kelas, bukan lapangan. Hari ini saya akan mengulang mata kuliah yang sudah diajarkan oleh Pak Joko. Apakah kalian masih ingat atau tidak."
Dafa mulai memberi pertanyaan seputar mata kuliah jurusan ini, dan anehnya semua mahasiswi berebut untuk menjawab padahal mereka bukannya menjawab tapi malah menggoda dosen mereka. Sementara Nanda memilih kembali menggambar, karena menurut dia ini bukan suasana kelas yang dia sukai.
Dafa terdiam sejenak, saat semua mahasiswa berebut ingin menjawab, ada satu orang yang terlihat menunduk dan diam. Dafa yang merasa penasaran pun menghampiri mejanya. Dia langsung terkejut bahwa dia adalah gadis yang tadi menabraknya. Astaga Dafa bersumpah, dia tidak menyangka ada gadis belia duduk di dalam kelas S2 hukum. Yang lebih mengagetkan lagi, dia lebih memilih menggambar karakter nobita dibandingkan fokus dengan pelajarannya.
Dafa langsung merebut kertas itu dan merobek kertas itu. Nanda langsung menganga saat hasil karyanya dihancurkan.
"Kamu ini mahasiswa paling kurang ajar. Dosen sedang mengajar malah kamu asik menggambar. Ini jurusan hukum bukan seni lukis!"bentak Dafa dengan emosi diubun-ubun.
Astaga, ini dosen pengin aku kutuk jadi batu deh.
"Sekarang kamu maju ke depan, jelaskan tentang subjek dan objek tentang hukum internasional secara lengkap!"perintah Dafa dengan tatapan mata tajam.
Nanda tak terkejut atau merasa takut, karena di keluarganya dia sudah terbiasa menghadapi sikap ketus dan dingin dari Mamanya, Apsara, dan Bara. Tanpa rasa takut Nanda berjalan maju ke depan kelas dan menjelaskan semuanya dengan lancar, jaya, aman, dan sentosa. Dafa sampai terkejut melihat Nanda lebih pintar dari perkiraannya. Dia pikir gadia itu siswa S1 ternyata dia berada di kelas S2.
"Sudah Pak." Nanda berkata dengan nada tak kalah ketus.
"Kamu ke ruangan saya setelah pelajaran berakhir"balas Dafa dengan tatapan dingin.
Nanda hanya acuh tak acuh menanggapinya dan kembali ke kursinya. Setelah pelajaran berakhir, Nanda langsung ke ruangan Dafa.
"Bapak kenapa memanggil saya ke kantor?"tanya Nanda.
"Tentu saja menegur sikap kamu."
"Hah? Sikap yang mana Pak?"tanya Nanda bingung. Dia berpikir sikap yang tadi pagi saat menabrak atau saat pelajaran.
"Saya tidak suka jika ada mahasiswa yang asik sendiri saat saya mengajar"tukas Dafa.
"Saya nggak asik sendiri kok Pak. Saya mendengarkan bapak berbicara dengan jelas"ucap Nanda.
"Masih bisa jawab kamu ya!" Dafa berbicara dengan nada meninggi dan membuat Nanda memundurkan posisi duduknya hingga punggungnya menempel pada sandaran kursi.
Hih, nyebelin banget sih. Ini orang kalau ketemu Kak Bara sama Kak Apsara pasti bakal bikin club daratan Kutub.
"Maaf Pak."
"Saya belum melupakan kejadian tadi pagi dengan kamu. Sekarang keluar dari ruangan saya"perintah Dafa menunjuk pintu.
"Dari tadi kek Pak!"lirih Nanda.
"Saya masih dengar kamu ngomong apa!"teriak Dafa.
Nanda hanya membalas dengan cengengesan. Lalu dia keluar dari ruangan Dafa dengan rasa kesal. Seperti biasa, Nanda akan bertemu dengan Zahra di kantin. Melihat temannya datang dengan wajah murung, Zahra pun bertanya-tanya.
"Kamu kenapa?"tanya Zahra.
Zahra hanya terkekeh menanggapi perkataan temannya.
"Terus kenapa kamu harus menggambar pas pelajaran sih?"tanya Zahra penasaran.
"Aku itu tipe orang yang gampang bosan dengan suasana yang monoton. Makanya aku menggambar disaat pelajaran tapi kuping aku kepasang kok buat dengerin ocehan dosen"jelas Nanda.
"Iya iya...aku percaya karena kamu pintar"ucap Zahra mencoba mengakhiri sesi persambatan Nanda.
*****
Almira sudah mengikuti ujian di sekolahnya dan tinggal menunggu hasilnya. Dan hari ini dia akan ke kampus untuk mengikuti tes masuk kedokteran. Hampir sebulan dia mempersiapkan segalanya dengan dibantu Bara. Laki-laki ini selalu menyemlatkan diri datang ke rumah Asmara hanya untuk sekedar membantu Almira sekaligus dia merindukan wanitanya.
"Ayo Kak!" Almira sudah rapi dan menggendong tasnya begitu bersemangat.
"Kamu tunggu di mobil"perintah Bara.
Almira langsung berjalan meninggalkan rumahnya menuju mobil Bara yang ada di depan gang.
"Terima kasih karena kamu sudah membantu adikku"ucap Asmara tersenyum manis.
Bara sangat menyukai senyum itu, hingga tanpa sadar wajah datarnya membalas senyum dari Asmara.
"Aku pergi!" Bara pun berpamitan untuk mengantar Almira ke kampus. Asmara menjadi semakin kagum dengan sosok Bara yang begitu baik dan perhatian walaupun sikapnya dingin.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di kampus.
"Kakak nggak bisa jemput kamu karena harus kerja. Kamu pulang sendiri naik taksi." Bara menyodorkan uang kepada Almira.
"Nggak usah Kak." Almira berusaha menolak tapi Bara tetap memaksanya.
Akhirnya Almira turun dari mobil Bara, dan masuk ke dalam kampus untuk segera mengikuti tes.
*****
Zahra duduk di gazebo sendiri, karena Nanda ada kelas jadi mereka tidak bertemu. Dia menggambar design baju yang terinspirasi dari sosok Nanda. Tak sengaja Nendra melihat sosok gadis yang beberapa waktu lalu dia tolong. Nendra pun menghampirinya.
"Hai." Nendra menyapa Zahra dengan ramah.
"Oh kamu."
"Boleh aku duduk?"tanys Nendra yang dibalas angggukan dari Zahra.
"Wah gambar kamu bagus"puji Nendra.
"Makasih." Zahra jadi gugup saat Nendra memujinya.
"Oh iya siapa nama kamu?"tanya Nendra.
"Aku Zahra. Kamu?"
"Syainendra. Panggil aja Nendra." Nendra terus mengamati ganbar milik Zahra, rasanya dia gatal ingin ikut menggambar juga.
"Boleh aku pinjam gambar kamu?"tanya Nendra ragu.
__ADS_1
"Boleh kok." Zahra menyerahkan kertasnya dan betapa terkejutnya dia saat Nendra menggoreskan pensil di atas kertasnya begitu lihai.
"Kamu suka fashion design?"tanya Zahra yang takjub dengan finishing gambar yang dibuat oleh Nendra.
"Aku hanya suka menggambar. Dan kebetulan aku sering melihat kakakku menonton acara fashion show"jawab Nendra.
Zahra begitu terpana dengan keramahan Nendra, bahkan laki-laki itu membantu dia menyelesaikan beberapa gambar design. Mereka pun berbicara panjang lebar dan semakin akrab.
"Oh ya, aku harus balik ke kelas. Aku masih ada mata kuliah lagi"kata Nendra.
"Oh ya hati-hati." Zahra melambaikan tangan saat Nendra pergi meninggalkan dia.
"Hai Nendra."
Nendra terkejut dan menghentikan langkahnya saat Geng Miss menyapanya saat dia hendak pergi.
"Mau ngapain?"ketus Nendra.
"Kita mau kenalan sama kamu dong"kata Sindi dengan manja.
Kalau Nanda ngelihat makhluk gatel kayak gini pasti langsung ditonjok, batin Nendra.
"Kenalin nama aku Jeje"kata Jeje mengulurkan tangan.
Nendra sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Dia langsung melengos pergi begitu saja tapi malah dihadang oleh geng itu.
"Kamu jutek banget sih. Tapi tambah ganteng deh"goda Ria.
"Kalian kalau mau cari ATM berjalan mending cari di gedung DPR. Banyak om-om yang mau sama kalian"tandas Nendra dengan tatapan tajam lalu mendorong mereka agar menyingkir dari jalan.
Zahra menahan tawa saat melihat kekesalan para gadis itu.
"Lihat aja kamu, kita bakal rebut cowok itu dari kamu"tegas Sindi lalu pergi bersama teman-temannya.
Mereka bertiga merasa kesal dengan perlakuan Nendra. Karena siapa sih cowok yang berani menolak pesona para model kampus seperti mereka. Bahkan mereka semakin kesal saat tahu pria tampan yang bersembunyi di jurusan teknik. Dan mereka tidak mau kalah dari Zahra karena mereka tahu Nendra dekat dengan Zahra.
Beberapa lama setelah kepergian Geng Miss, Nanda datang sambil merenggut dengan wajah ditekuk dan terlihat begitu kesal. Nanda duduk di sebelah Zahra lalu membanting bukunya ke meja gazebo.
"Kamu kenapa?"tanya Zahra.
"Astaga, dosen baru itu nyebelin pakai banget. Pengin aku unyel-unyel mukanya. Enak aja dia kasih aku tugas lebih banyak dari mahasiswa yang lain. Punya dendam kesumat banget itu dosen"omel Nanda.
"Sabar Nan." Zahra mengelus punggung temannya itu.
Nanda merasa sangat kesal pada Dafa ada saja yang membuat mereka bertengkar. Beberapa kali mereka bertemu di koridor kampus pasti bertabrakan lalu adu mulut. Saat di kelas pun sama, Nanda masih nekat menggambar saat pelajaran dan itu membuat Dafa marah dan merobek kertas milik Nanda sehingga dia diberi hukuman tugas yang amat banyak.
*****
Bara sedang menggambar sketsa gedung yang akan dibangun oleh perusahaan Arya. Dan proyek pembangunanya mencapai angka 500 milyar. Tiba-tiba manajer divisi design menghampiri Bara.
"Bara, tolong kamu ganti designnya"kata Eko.
"Kenapa Pak?"tanya Bara singkat.
"Klien meminta gambar yang lebih sederhana karena dia mengurangi biaya pengerjaan proyek ini"jelas Eko.
Bara mengernyitkan keningnya karena setahu dia klien yang satu ini tidak pernah mengurangi biaya pembangunan. Tapi Bara hanya menurut saja, toh dia sedang mulai melakukan penyelidikan. Dengan cepar Bara menggambar ulang designnya. Bukan hal sulit bagi dia menggambar design yang sederhana seperti yang diminta manajernya.
Bara pergi ke ruangan manajernya untuk menyerahkan design terbarunya. Tapi dia tidak menemukan bosnya itu. Dan inilah kesempatan bagi Bara untuk mencari bukti. Dia menemukan sebuah dokumen yang isinya laporan pembiayaan design dan manajernya memanipulasi angkanya. Lalu sebuah laporan transfer ke rekening pribadinya. Bara langsung memfoto itu semua.
"Bara!" Tiba-tiba Eko masuk ke ruangannya. Untung saja Bara sudah menyelesaikan semuanya.
"Iya Pak." Bara nampak begitu tenang seperti biasa.
"Sedang apa kamu?"tanya Eko menuduh.
"Saya ingin memberikan revisi designnya Pak"ucap Bara menyerahkan kertas kepada Eko lalu keluar dari ruangan bosnya.
Bara berjalan santai dengan tatapan dingin menuju ruangan Arya. Dia disambut oleh Aldo seperti biasa.
"Pa." Bara langsung duduk di hadapan Arya.
"Bagaimana? Kamu sudah menemukannya?" Arya yakin anaknya sudah mendapatkan apa yang selama ini dia cari.
"Tentu." Bara menunjukkan HPnya kepada Arya.
Dan seketika tangan Arya mengepal dan raut wajahnya dipenuhi amarah.
"Aldo!" Arya berteriak memanggil nama Aldo, dan yang dipanggil langsung masuk ke dalam.
"Iya Pak."
"Panggil Eko sekarang!"perintah Arya.
"Jangan!"cegah Bara.
"Kenapa?"tanya Arya bingung.
"Biarkan dia menikmati apa yang dia miliki sekarang sebelum kita menjatuhkan dia ke dasar jurang terdalam"ucap Bara dengan tatapan sinis yang menakutkan.
*****
Apsara baru saja keluar dari ruangan Utomo sambil mencengkeram berkas yang ada di tangannya. Ini kelima kalinya dia harus merevisi ulang laporan. Dan anehnya semua itu sudah benar tapi Utomo selalu saja mencari-cari kesalahannya.
"Kamu kenapa Sa?"tanya Sanjaya menepuk bahu Apsara dan membuat dia tersentak.
"Huft...Pak Utomo meminta aku merevisi ulang laporannya. Padahal apa yang aku buat sudah sesuai"jelas Apsara.
"Oh ya? Coba aku lihat?" Sanjaya menerima berkas pemberian dari Apsara.
"Semua udah bener kok? Terus apa yang salah?"tanya Sanjaya bingung.
Apsara hanya mengedikkan bahunya tak tahu dengan kesalahannya. Sanjaya tersenyum melihat Apsara. Wanita yang acuh, pendiam, dan jarang berbicara tapi menurutnya dia sangat cantik.
"Biar aku bantu. Kamu pasti capek"kata Sanjaya.
"Sedikit"balas Apsara.
"Ini aku belikan kamu makan siang. Aku tahu sejak tadi kamu belum makan karena sibuk mengerjakan laporan itu." Sanjaya menyodorkan wadah sterofoam kepada Apsara.
Apsara terdiam beberapa saat menatap wadah dan Sanjaya secara bergantian. Hantinya berdesir ketika mendapat perhatian dari Sanjaya. Pria dengan wajah manis, senyum ramah, dan suara lembut sering memberikan perhatian kecil kepadanya.
Apsara menerima pemberian Sanjaya, "Terima kasih San."
Apsara pun memakan makanan pemberian Sanjaya. Secepat mungkin dia menghabiskannya hingga tak sadar beberapa helai rambutnya keluar dari selipan daun telinganya. Hal itu membuat Sanjaya gemas dan tiba-tiba dia menyelipkan rambut Apsara ke belakang telinganya. Apsara membeku beberapa saat ketika diperlakukan seperti itu.
"Makan dengan pelan. Biar aku yang mengerjakan laporannya"tanda Sanjaya.
__ADS_1
Apsara yakin wajahnya sudah memerah kontras dengan warna kulitnya dan dia harus segera memalingkan wajahnya jika dia tidak ingin Sanjaya melihat wajahnya yang memalukan itu.