Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 54


__ADS_3

Hingga hari keberangkatan Apsara ke Jogja pun telah tiba. Dia sudah mempersiapkan barang bawaannya. Selain keperluan pribadi, Apsara juga membawa beberapa bingkisan untuk keluarga Sanjaya yang ada di Jogja.


Kepergian Apsara dan Sanjaya tidak menggunakan salah satu kendaraan koleksi keluarga pebisnis ini, yaitu pesawat jet pribadi. Tapi pasangan ini memilih pergi ke Jogja dengan menggunakan penerbangan pesawat komersial tapi memakai kelas bisnis. Itu adalah perintah dari Isyan.


Pagi hari, Sanjaya sudah menjemput Apsara di rumahnya. Setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga dan ketika drama perpisahan adik-adik Apsara berakhir, pasangan itu pun meninggalkan rumah dan pergi menuju bandara.


Sesampainya di bandara mereka menunggu di ruang tunggu bandara. Apsara nampak tegang. Dan ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa tegang. Sanjaya langsung mengenggam tangan kekasihnya dan memberi senyum untuk memberi ketenangan kepada Apsara.


"Rilex. Everything will be fine" lirih Sanjaya.


Dan akhirnya mereka berdua harus melakukan check in karena keduanya akan segera boarding.


*****


Setelah menempuh penerbangan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka berdua sampai di Jogja. Saat keduanya keluar dari gate kedatangan domestik, terlihat Edi sedang mengangkat papan bertuliskan nama Sanjaya Yudhaningrat. Mereka berdua pun menghampiri Edi.


"Selamat datang Mas Sanjaya dan Non Apsara" sapa Edi.


"Terima kasih, Pak" balas Sanjaya.


"Kita mau langsung pulang saja atau bagaimana?" tanya Edi.


"Aku ingin mengajak Apsara untuk makan di warung gudeg legendaris di Jogja" kata Sanjaya.


"Baik kalau begitu" ucap Edi.


Barang-barang Apsara dan Sanjaya dimasukkan ke dalam mobil. Sementara mereka berdua pergi bersama Edi dengan menggunakan mobil lain.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit dengan melewati kemacetan kota Jogja, akhirnya mereka bertiga sampai di warung nasi gudeg yang di maksud Sanjaya.


"Pak Edi, bisa saya pinjam mobilnya? Saya mau pergi ke suatu tempat. Setelah itu saya akan langsung ke rumah" ucap Sanjaya.


"Tentu" balas Edi.


Apsara dan Sanjaya menyelesaikan makan terlebih dahulu. Kemudian mereka meninggalkan Edi. Apsara hanya diam dan tak bertanya ke mana Sanjaya membawanya pergi. Dan setelah beberapa lama, sampailah mereka di sebuah tempat yang terlihat seperti perkampungan lama.


Mereka berdua turun dari mobil dan betapa terkejutnya Apsara saat melihat tempat yang dia datangi adalah sebuah pemakaman. Sanjaya menggandeng tangannya menyusuri jalan setapak di pemakaman itu hingga, Sanjaya menghentikan langkah di pusara yang bernama Ningsih.

__ADS_1


"Ini makam ibumu?" tanya Apsara.


"Iya" jawab Sanjaya.


Lalu datanglah penjaga makam yang menghampiri mereka berdua membawakan bunga tabur dan beberapa buket bunga untuk mereka. Setelah selesai memanjatkan doa dan menabur bunga, tiba-tiba Sanjaya memegang tangan Apsara.


"Ibu, aku datang ke sini bersama wanita yang aku cinta. Namanya Apsara. Dia adalah wanita yang baik, cantik, dan sederhana seperti ibu. Aku sangat mencintai dia. Hari ini aku akan memperkenalkan dia kepada keluarga ayah. Dan aku sudah siap menerima apapun kemungkinan yang akan terjadi setelah ini" ujar Sanjaya dengan sedikit terisak.


Apsara sudah mengetahui masalah kehidupan keluarga Sanjaya, karena laki-laki ini sudah memberi tahu segalanya kepada Apsara.


Sanjaya mengalihkan pandangannya kepada Apsara lalu berkata, "Dari semua yang pernah datang, aku belajar bagaimana cara menggenggam tangan. Sedang dari semua yang memilih pergi,


Aku belajar untuk bisa mencintai lagi. Dan hari ini aku bersamamu,


Bolehkah aku mencintaimu dan menjagamu, hingga akhir sisa hidupku."


Sanjaya mengeluarkan cincin dari kantong jasnya dan menunjukkan kepada Apsara sambil berkata, "Maukah kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya?"


Apsara tersenyum begitu manis dengan mata berkaca-kaca, "Aku tidak memiliki alasan untuk menolak lamaran kamu," balas Apsara.


"Sebaiknya kita pergi sekarang. Pasti keluargamu sudah menunggu kedatangan kita" sela Apsara sambil melepas pelukan Sanjaya.


"Ah iya, aku sampai lupa. Mari aku akan perkenalkan kamu sebagai calon istriku kepada seluruh keluargaku" ucap Sanjaya terkekeh.


Mereka berdua pun meninggalkan makan dan pergi menuju kediaman keluarga Yudhaningrat.


*****


Kediaman keluarga Sanjaya berada di luar komplkes keraton. Rumah ini cukup besar dan luas dengan gaya arsitektur Jawa tradisional yang kental. Dengan gerbang berbentuk gapura. Apsara sempat terpana melihat bangunan yang ada di depannya.


Sanjaya tak pernah melepas genggaman tangan Apsara darinya. Dia terus menggandeng Apsara memasuki rumah. Ada beberapa pelayan rumah yang berdiri di teras rumah menyambut mereka berdua.


"Selamat datang Raden Mas Sanjaya dan Mba Apsara" sapa mereka dengan nada bicara yang halus dan sopan.


"Terima kasih" balas Apsara dengan begitu ramah.


Sanjaya sempat terkejut saat nada bicara Apsara terdengar begitu lembut layaknya wanita Jogja. Bukan hal yang sulit bagi Apsara untuk berbicara seperti ini, karena dia sudah mempelajari banyak hal sejak kecil.

__ADS_1


Dibawanya mereka berdua ke ruang utama untuk bertemu keluarga Sanjaya. Dan akhirnya mereka bertemu dengan Wisnu dan seorang wanita paruh baya berdiri di sampingnya.


"Akhirnya kamu sampai juga. Edi bilang kamu pergi dan tidak mengatakan mau ke mana" ujar Wisnu.


"Tadi aku mengajak Apsara berkeliling kota sebentar ayah" balas Sanjaya.


"Apsara perkenalkan, dia adalah ibu sambung Sanjaya, namanya Retno. Sementara adik-adik Sanjaya sudah menikah dan tinggal dengan keluarga mereka masing-masing" lanjut Wisnu memperkenalkan istri keduanya.


Apsara menyalami ibu tiri Sanjaya yang sejak tadi menatapnya cukup sinis.


"Omong-omong apa latar belakang keluarga kamu calon istri kamu ini? Apa dia memiliki garis keturunan bangsawan? Apa pekerjaan dia?" sela Retno.


Wisnu terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan Retno kepada Apsara. Dan inilah sifat Retno yang sombong dan suka merendahkan orang lain membuat Wisnu tidak menyukainya.


"Retno, jaga ucapanmu. Mereka baru saja sampai tapi kamu sudah menyerbu mereka dengan pertanyaan seperti itu" tegur Wisnu.


"Keluarga saya adalah keluarga yang sederhana dan bukan dari kalangan bangsawan. Saya bekerja di perusahaan yang sama dengan Sanjaya. Walaupun keluarga saya bukan dari kalangan bangsawan, bukan berarti saya tidak diajarkan tentang nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat" tegas Apsara dengan gaya bicara tenang namun terdengar tegas dan dingin.


Sanjaya tentu saja langsung tersenyum melihat reaksi Apsara yang memperlihatkan sisi gelapnya.


"Sudah-sudah, kita lanjut saja nanti ngobrolnya. Lebih baik kita makan siang bersama" ajak Wisnu antusias.


Mereka pun pergi menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Retno terus saja memperhatikan Apsara dengan seksama. Seperti penampilannya, gaya bicaranya, cara dia makan, dan apapun yang terlihat di matanya.


"Bagaimana rasa masakannya? Enak kan? Kamu terlihat sangat menikmati makanannya. Apa kamu tidak pernah makan makanan kalangan bangsawan?" sindir Retno.


"Saya terbiasa makan makanan rumahan yang sederhana" ujar Apsara.


"Pantas saja, namanya juga rakyat biasa" lanjut Retno.


"Retno, hentikan bicaramu" tegur Wisnu dengan tatapan memperingati.


"Ibu tolong jangan pernah singgung status sosial calon istriku" tegas Sanjaya.


"Kamu dan ayah kamu seleranya sama saja" sindir Retno.


Apsara tersenyum menyeringai melihat permainan emosi Retno saat menghinanya. Dan Apsara juga mengamati bagiamana raut kemarahan di wajah ayah Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2