
BAB 21 PERUBAHAN LARISA
Sinar mentari pagi yang menghangatkan bumi, mulai membangunkan Larisa dari tidur lelapnya, pelan-pelan ia mulai membuka kedua matanya, melihat pantulan dirinya dalam cermin yang berada tepat dihadapannya.
"Apakah mungkin hidayah itu memang ada, Kenapa aku merasa selama ini hidupku terasa hampa?" Pikir Larisa dalam benaknya yang terus saja memandangi dirinya pada cermin.
Larisa lalu bangkit menuju lemari tempat pakaian, ia sedang mencari-cari sesuatu, setelah lama mencari, ia akhirnya menemukannya.
Larisa mencari sebuah kain segi empat dan baju gamis yang biasa kaum wanita pakai untuk menutupi bagian kepala, rambut dan seluruh tubuh mereka.
Kemudian Larisa berdiri didepan cermin sambil memakainya, setelah itu Larisa mulai memandangi perubahan yang terlihat saat ia menggunakan pakaian gamis dibadannya dan hijab yang menutupi kepalanya.
Awalnya ia merasa aneh dengan penampilannya itu, karena selama ini Larisa bekerja sebagai seorang model yang mengharuskannya tampil cantik dan seksi.
Namun lama-lama rasanya Larisa mulai nyaman, ia senang dengan penampilannya yang tertutup.
Ia berpikir hijab dan baju gamis ini sangat bermanfaat, selain menjauhkan kita dari pandangan jahat orang lain, Larisa berpikir dengan memakai pakaian seperti ini akan membuat tubuhnya jadi tidak masuk angin lagi, karena selama ini, dirinya terlalu sering menggunakan pakaian yang kekurangan bahan.
"Kenapa aku baru menyadarinya?" Gumam Larisa dalam hatinya.
"Apakah ini saatnya aku harus berubah?" Larisa merasa bingung bagaimana ia harus memulai perubahan dirinya.
Ia tak tau harus mulai dari mana, selama ini memang dirinya termasuk orang yang tidak terlalu taat pada ajaran agama.
Larisa selama ini akan acuh tak acuh, jika orang lain sedang membicarakan atau berdebat tentang masalah agama.
Ia berpikir pembahasan tentang itu sangat membosankan dan tidak akan ada habisnya, sebab ia berpikir agama hanya membahas tentang Tuhan, sedangkan ia tak pernah melihat bagaimana wujud dari Tuhannya.
"Apakah sebaiknya aku minta bantuan pada Tiana? Aku tau dia orang yang baik, ia pasti akan membantuku" tiba-tiba Larisa teringat pada Tiana, dan akan meminta bantuan kepadanya.
"Baiklah, aku akan meminta bantuannya saja, Tiana pasti akan mengajariku" setelah lama berpikir, akhirnya Larisa memutuskan untuk meminta bantuan pada Tiana.
***
Fatimah berjalan menuju kamar Tiana yang sedang beribadah, ia ingin memberitahu kepadanya bahwa ada seseorang yang mencarinya.
Fatimah lalu mengetuk pintu kamar Tiana, Lalu masuk sambil mengucapkan salam.
Fatimah melakukannya karena takut jika Tiana akan marah karena ia selalu masuk kamar kakaknya itu tanpa permisi dulu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, ada apa dek"
"Kak ada yang nyariin kakak dibawah tu"
Ucap Fatimah sambil memonyongkan bibirnya mengarah kebawah.
"Siapa dek"
"Udah deh, Kakak liat aja sendiri"
__ADS_1
Jawab Fatimah yang membuat Tiana bingung kenapa adiknya itu tak mau memberi tahu kepadanya siapa yang datang mencari dirinya.
Mendengar perkataan dari adiknya, Tiana lalu bergegas memakai niqabnya, lalu turun menuju keruang tamu untuk melihat siapa tamu yang Fatimah maksud itu.
Alangkah terkejutnya Tiana melihat siapa yang ada dihadapannya, ia tak menyangka Larisa akan menemuinya kembali, setelah ia berhasil membatalkan pernikahannya dengan Ardian.
Pantas saja tadi adiknya seperti enggan memberitahu kepada dirinya perihal orang yang ingin bertemu dengannya.
Lama Tiana diam mematung karena kaget dengan kehadiran Larisa dirumahnya.
kemudian Ia melangkah perlahan-lahan mulai mendekat pada Larisa yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Assalamualaikum, kak Tiana?"
Larisa lalu berdiri sambil mengucapkan salam pada Tiana yang sepertinya sangat terkejut dengan kehadirannya.
Tiana seperti tak percaya dengan apa yang ia lihat, ia terpana melihat penampilan baru Larisa yang mulai tertutup, sangat berbeda dengan penampilannya saat pertama kali mereka bertemu.
"Waalaikumsalam, Larisa?"
"Iya kak, saya Larisa"
Jawab Larisa meyakinkan pada Tiana bahwa yang dihadapannya memang benar adalah dirinya.
"MasyaAllah, aku sampai tak bisa mengenalimu, ada apa kau datang kemari mencariku?"
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu kak"
"Kenapa kau meminta maaf, aku merasa kau tak punya salah padaku"
"Maafkan aku, karena aku pernikahan kakak dan mas Ardian harus batal"
Tiana tersenyum mendengar permintaan maaf dari Larisa, ia merasa sepertinya, Larisa memang sedang bersungguh-sungguh ingin meminta maaf kepadanya, terbukti dari tatapan mata Larisa yang menunjukkan jika tak ada kebohongan sama sekali dengan apa yang ia ucapkan.
"Aku sudah memaafkan mu, tentang pernikahanku dan mas Ardian sepertinya kami memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh"
"Tapi kak, mungkin jika tak ada aku pernikahan kakak dan mas Ardian akan tetap terjadi, jadi aku mohon maafkan aku, ini semua salahku"
"Ada atau tak ada kamu, semuanya tetap akan seperti ini Larisa, aku yakin ini terjadi karena mas Ardian belum ditakdirkan menjadi jodohku, jadi berhenti menyalahkan dirimu"
"Dan satu lagi, aku ikut senang melihat perubahanmu ini, semoga kau tetap istiqomah menjalankannya"
"Iya kak, semua ini berkat kakak juga, semenjak bertemu dengan kakak waktu itu, aku seakan-akan mendapat hidayah dari Tuhan, kata-kata kakak terus saja terngiang-ngiang dikepalaku, kakak bilang, 'semoga Allah memberikan rahmat dan hidayahnya kepadamu' semenjak itu aku terus saja mengingat kata-kata yang kakak katakan, dan apakah benar hidayah itu ada?"
"Selama ini aku tak pernah mendalami tentang ilmu agama kak, hidupku selama ini tentang bagaimana aku bisa menjadi model terkenal seperti impianku, hidupku ku habiskan hanya mencari kesenangan dunia saja, hingga aku melupakan kesenangan yang sesungguhnya"
"Namun saat aku bertemu kakak waktu itu, aku merasa damai dan tenang dengan apa yang kak Tiana katakan, sehingga aku berpikir untuk datang kesini dan meminta bantuan pada kakak untuk mengajariku tentang ilmu agama"
"Aku malu dengan diriku sendiri kak, aku malu dengan perbuatanku, dan aku malu karena telah membuat pernikahan kak Tiana batal, maafkan aku kak, maafkan aku"
Panjang lebar dan dengan berurai air mata, Larisa mengungkapkan maksud kedatangannya pada Tiana, dan meminta maaf untuk semua kesalahan yang telah ia lakukan kepadanya.
__ADS_1
Larisa merasa sangat menyesal dengan perbuatannya, dan berharap Tiana mau membantunya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Sudahlah, kan aku sudah bilang jika aku telah memaafkan mu, jadi berhentilah untuk terus menyalahkan dirimu sendiri"
"Apakah aku boleh tinggal disini? Aku ingin belajar tentang agama lebih giat lagi, jadi aku berniat untuk tinggal disini beberapa hari, jika memang kakak mengizinkan aku untuk tinggal dipondok pesantren kakak, agar aku bisa lebih fokus dalam belajar"
"MasyaAllah, niatmu sangat mulia, semoga Allah memudahkan jalanmu untuk belajar ditempat ini, jika kau memang benar ingin belajar dan tinggal disini, jangankan beberapa hari, jika kau ingin selamanya tinggal disini, aku pun juga akan mengizinkanmu"
"Dan dengan senang hati aku akan membantumu, tapi apakah benar kau akan melepaskan impianmu menjadi model yang terkenal untuk belajar disini?"
Tanya Tiana pada Larisa yang berhasil membungkam dirinya, namun setelah lama diam dan berpikir, dengan pasti Larisa menjawab pertanyaan Tiana dengan berkata bahwa dia sangat bersungguh-sungguh dengan keputusannya.
Larisa berpikir sudah saatnya meninggalkan dunianya yang penuh dengan kemaksiatan, dan mulai kembali menata kehidupan barunya agar ia menjadi pribadi yang lebih baik.
"Mas Ardian bilang walaupun aku memakai hijab aku tetap bisa melanjutkan impianku menjadi model, karena tak selamanya model itu identik dengan baju yang seksi, walaupun aku memakai hijab aku tetap bisa mewujudkan impianku dengan menjadi model muslimah"
Mendengar nama Ardian disebut Tiana merasa sedih dengan pernikahannya, namun ia juga tak mau menjadi anak durhaka dengan menentang apa yang abah katakan, selama ini abah sangat sayang kepadanya.
"Kak, kak,"
"Ehh iya"
"Kakak kenapa diam? Apakah karena aku menyebut nama mas Ardian jadi kakak merasa sedih"
"Tidak, aku tidak papa, jangan bahas masalah itu lagi aku ingin melupakannya, biarlah yang lalu menjadi masa lalu yang tak perlu kita ingat, kita hanya perlu fokus sama masa depan, masih banyak hal yang harus kita pikirkan daripada terus berfokus pada masa lalu"
"Sudah, jangan menangis terus, nanti anak yang ada diperut kamu juga akan sedih jika ibunya bersedih, kamu taukan ikatan antara anak dan ibunya, walaupun ia masih berada dalam perut ibunya, namun mereka juga bisa merasakan apa yang ibunya rasakan, maka dari itu kamu jangan menangis lagi, aku percaya ini takdir yang telah Allah
gariskan kepadaku, ini yang terbaik untuk aku dan mas ardian"
"Kak kau adalah wanita yang sholeha, aku berdoa semoga kau mendapatkan lelaki yang baik pula sama seperti dirimu"
"Aamiin, terima kasih untuk doamu"
"Jadi kau sudah menikah dengan mas Ardian?"
"Belum kak, orang tua mas Ardian ingin menikahkan aku dan anaknya nanti setelah aku melahirkan, mereka melakukan itu karena mereka ingin menjaga nama baik keluarga, akan sangat tak enak jika aku menikah sedangkan perutku sudah mulai membesar, orang-orang akan terus memperhatikan aku nantinya"
"Orang tua mas Ardian juga bilang bahwa laki-laki tidak bisa menikahi wanita yang sedang hamil, maka dari itu mereka baru akan menikahkan kami berdua setelah aku melahirkan nanti"
"Semoga kalian menjadi keluarga yang samawa ya
Larisa hanya diam mendengar apa yang Tiana katakan, ia bingung kenapa dirinya merasa tidak bahagia dengan apa yang Tiana katakan
"Kenapa diam saja, apa ada yang salah dengan kata-kataku tadi?"
"Ti...tidak kak, hanya saja"
"Kamu kenapa"
"Tidak apa-apa kak"
__ADS_1
Jawab Larisa berbohong karena sebenarnya ia merasa tidak bahagia dengan rencana pernikahannya dengan Ardian.