
"Kalian tunggu disini, aku akan bertanya pada resepsionis dulu"
Ucap Larisa yang dijawab anggukan oleh Tiana, sedangkan Sidan hanya diam saja memandang wajah pucat istrinya.
"Maafkan aku Aisyah, maafkan aku, ini semua salahku, maafkan aku"
Suara Sidan terdengar serak karena menangis mengetahui kenyataan jika ia kehilangan bayi yang ada dalam perut Aisyah dan itu semua adalah salahnya.
Tiana mendekat ketempat dimana sahabatnya sedang berbaring dengan wajah yang begitu pucat karena kehilangan banyak darah.
"Kau sudah sadar sekarang? Syukurlah jika memang kau sudah sadar, walaupun terlambat tapi setidaknya kau mau menyadari kesalahanmu"
Ucap Tiana dengan sedikit kesal.
"Sejak berada dirumahku, Aisyah setiap hari selalu menangis meratapi rumah tangganya, mungkin karena itu juga sehingga ia bisa jadi seperti ini, ditambah lagi kedatanganmu menjemputnya membawa berita yang sangat tidak baik yaitu ingin menceraikannya, karena itulah Aisyah merasa kaget dan berakhir seperti ini"
"Seharusnya kau jangan terlalu memaksakan kehendakmu itu pada sahabatku, jika saja kau ingin sedikit lebih bersabar mungkin hal ini tidak akan terjadi, sekarang penyesalanmu tidak ada gunanya, bayi yang ada dalam perut Aisyah telah tiada"
Air mata Sidan mengalir begitu deras, ia terus saja menciumi tangan Aisyah yang dingin, lalu mencium kening Aisyah karena merasa bersalah dengan keputusannya telah menceraikan Aisyah hingga ia harus kehilangan bayinya.
***
Larisa keluar dari ruangan berjalan menuju kearah resepsionis untuk menanyakan mengenai siapa yang memindahkan ruangan Aisyah.
Sedangkan seingat Larisa saat ia tadi melakukan pendaftaran administrasi sama sekali ia tidak memesan ruangan yang sekarang Aisyah tempati.
"Maaf mbak, saya mau tanya, ruangan atas nama Aisyah kenapa bisa pindah? seingat saya tidak pernah memesan ruangan seperti itu mbak?"
Tanya Larisa pada resepsionis yang tengah sibuk menjawab telfon, lalu memberikan kode pada Larisa dengan mengangkat satu tangannya agar ia mau menunggu sejenak.
"Maaf bu tadi saya sedang menerima telfon dulu, ada yang bisa saya bantu?"
"Ruangan atas nama Aisyah kenapa bisa pindah? saya merasa tidak pernah memesannya"
"Tunggu sebentar biar saya periksa dulu"
"Kamar atas nama Aisyah dipindahkan karena permintaan dari Tuan Alex dan seluruh biaya sudah diselesaikan"
Ucap petugas resepsionis sambil tersenyum kearah Larisa.
"Tuan Alex?"
Tanya Larisa dengan ekspresi bingung diwajahnya.
"Iya bu, Tuan Alex Giovano Putra, pemilik rumah sakit ini"
__ADS_1
Sontak saja Larisa terkejut mendengar jika rumah sakit yang biasa ia tempati untuk memeriksakan kandungannya adalah milik Alex.
Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi Alex ternyata tau jika ia berada disini, dan Alex juga yang telah memindahkan ruangan Aisyah, tapi Larisa tak tau maksud Alex memindahkan Aisyah ketempat lain, tapi Larisa tidak terlalu memikirkan tentang hal itu, lagipula dirinya sama sekali merasa tak dirugikan dengan apa yang telah Alex lakukan.
Larisa berniat untuk mengucapkan terima kasih kepada Alex, namun niatnya itu ia urungkan mengingat waktu itu Alex sangat marah kepadanya.
Akan tetapi jika Alex masih marah, kenapa malah sebaliknya Alex justru berbuat baik dengan memindahkan ruang perawatan Aisyah ke tempat yang lebih bagus.
"Sebenarnya mau orang ini apa? Sebentar marah, sebentar baik, aku jadi heran, mungkin dia memiliki kepribadian ganda makanya seperti itu"
Gumam Larisa dalam hatinya.
"Larisa"
Terdengar seseorang memanggil namanya sambil memegang pundak Larisa dari arah belakang.
Larisa yang tengah berdiri membelakangi orang tersebut berbalik dan melihat jika Alex yang berada dibelakangnya sambil memegangi pundaknya.
Jantung Larisa berpacu dengan cepatnya, melihat wajah yang telah lama tak ia temui, sosok yang sangat ia rindukan.
Perlahan-lahan Larisa melepeskan pegangan dari Alex dan sedikit menjauh darinya.
"Larisa aku ingin minta maaf karena waktu itu..."
"Aku sudah memaafkanmu"
Apalagi dengan penampilan Larisa yang telah berubah, bahkan ia tak berani memandang wajah Alex.
"Ayo ikut denganku"
Ucap Alex sambil menarik satu tangan Larisa.
Membuat Tiara yang berada di kejauhan melihat kedekatan Alex dan Larisa hatinya menjadi seperti terbakar api cemburu, sambil mengepalkan kedua tangannya, dengan wajah yang mulai memerah.
Nafas Tiara memburu, ia tak bisa menerima jika harus merelakan Alex bersama dengan Larisa.
"Aku tak akan diam saja, aku akan menyingkirkanmu dari hidup Alex, lihat saja Larisa"
Gumam Tiara dalam hati kemudian berjalan menuju keruangannya.
***
Alex membawa Larisa keruangannya, ia tak ingin jika ada yang melihat dirinya tadi dengan Larisa, itu akan menjadi perbincangan panas dirumah sakit.
Larisa yang tak mengerti apa yang diinginkan oleh Alex, ia hanya menuruti saja kemana pria itu membawanya.
__ADS_1
Dengan menuruti keinginan Alex, Larisa berharap jika Alex tak marah lagi kepadanya.
"Masuklah"
Pinta Alex sambil membuka pintu ruangan miliknya.
Namun Larisa seperti enggan untuk masuk keruangan Alex, pikirannya mulai menduga-duga.
"Tenang saja, aku tak akan memaksamu melakukannya lagi denganku, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu"
Ucap Alex menarik tangan Larisa yang seperti enggan untuk mengikutinya, terlihat raut wajah cemas diwajah cantik Larisa.
Akhirnya dengan langkah yang ragu-ragu Larisa tetap melangkah masuk, ia takut jika Alex akan marah jika ia tak menurutinya.
"Duduklah"
Ucap Alex sambil menyuruh Larisa duduk disofa yang ada didalam ruangannya, namun Larisa hanya diam mematung tak berani bergerak sedikitpun, pikirannya selalu terbayang wajah Alex yang ketika marah sangat menakutkan.
"Kenapa diam saja?"
Tanya Alex yang melihat Larisa tak bergeming sedikitpun.
Akhirnya Alex memutuskan menggendong Larisa lalu mendudukannya disofa, sedangkan Larisa hanya menutup kedua matanya, tak percaya dengan apa yang Alex lakukan kepadanya.
"Kau ini kenapa? Aku bahkan pernah melakukan yang lebih daripada itu, kenapa sekarang kau malah takut, kau bahkan selalu menginginkannya"
Alex berbicara tepat didepan wajah Larisa yang membuat keduanya sangat dekat.
Jantung Larisa tiba-tiba saja berdetak begitu cepat, matanya tak bisa lepas dari wajah Alex, keduanya saling bertatapan beberapa lama, hingga Larisa akhirnya menyadari dirinya yang tak seharusnya seperti ini, kemudian memutuskan pandangannya dengan mengalihkan pandangannya.
Melihat tingkah Larisa Alex hanya tersenyum, sambil mencubit pipi gembul milik Larisa yang semakin montok karena ia sedang hamil, membuat wajah Larisa semakin cantik, dan itulah yang membuat Alex menjadi gemas melihatnya.
Larisa mendorong dada bidang milik Alex, lalu berusaha untuk bangkit namun lengannya dipegang oleh Alex membuat langkahnya tertahan.
Larisa berusaha melepaskan pegangan tangan dari Alex, ia mulai memberontak namun Alex kemudian membawa Larisa kedalam pelukannya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Larisa mulai memberontak, namun tenaganya kalah jauh dengan Alex, pelukannya semakin erat membuat Larisa akhirnya mengalah dan membiarkan Alex terus memeluknya.
Sejujurnya, Larisa juga senang dengan perlakuan Alex kepadanya, hanya ia berusaha menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak-tidak, jika ia terus membiarkan Alex melakukan apa yang ia inginkan.
Keduanya berpelukan bagaikan sepasang kekasih yang baru saja bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa.
Pelukan Alex semakin erat, mencium puncak kepala Larisa dengan penuh rasa cinta, seakan tak ingin berpisah dengan wanitanya.
Larisa kemudian membalas pelukan dari alex, memeluknya begitu erat hingga Alex yang tadinya menyangka jika Larisa masih marah karena waktu itu ia sempat mengusirnya, namun ternyata Larisa juga membalas pelukannya.
__ADS_1
Air mata tak disadari meluncur begitu saja dikedua kelopak mata Larisa, ia berusaha memejamkan mata, ia mengira ini hanya mimpi yang jika ia membuka kedua matanya, mimpinya akan berakhir.
Namun beberapa saat mereka berpelukan, Larisa lalu membuka matanya dan menyadari ternyata ia tidak sedang bermimpi, apa yang ia rasakan nyata.