
Sedangkan di situasi yang sama namun ditempat yang berbeda juga sedang terjadi pergumulan antara 2 insan yang menginginkan kenikmatan duniawi.
Terdengar erangan yang begitu kuat karena akhirnya ia mendapatkan pelepasannya. 2 orang itu akhirnya berbaring ditempat tidur dengan nafas yang naik turun setelah pertempuran panjang yang sejak tadi mereka lakukan. Keduanya saling bertatapan sambil melempar senyuman.
"Apakah setelah ini, Bapak masih tetap tidak menganggap ku?" Ucap Rara berbaring di lengan kekar milik Ardian.
Nafas Ardian masih naik-turun karena sangking lelahnya dengan permainannya beberapa saat tadi. "Berhentilah memanggilku Pak, karena aku bukan Ayahmu" Jawab Ardian sambil menatap wajah cantik Rara.
Rara tersenyum mendengar perkataan dari Ardian, dia berpikir sepertinya Ardian telah menerima cintanya, dan akan melupakan calon istrinya karena telah menikah dengan Tuan Alex.
"Aku mencintaimu" Ucap Rara sambil memeluk tubuh Ardian. "Apakah kau juga mencintaiku?" Tanya Rara lagi kemudian menatap wajah Ardian.
"Kau ingin jawaban yang jujur?" Tanya Ardian sambil membelai rambut Rara dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
"Jawabannya belum" Ucap Ardian, terlihat ekspresi Rara yang biasa saja mendengar perkataan Ardian. "Tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu" Ucap Ardian lagi, membuat senyum diwajah Rara berkembang, kemudian Rara memeluk kembali tubuh Ardian dan dibalas juga olehnya.
"Apakah sudah ada informasi dari perusahaan Alex?" Ucap Ardian yang kini sedang memakai kembali pakaiannya setelah puas bermain dengan Rara.
"Tunggu sebentar biar kucek dulu, apakah sudah ada informasi terbaru yang dikirimkan oleh asistennya itu" Jawab Rara kemudian menggambil ponsel pintar miliknya.
"Belum ada informasi terbaru yang dikirimkan oleh asisten Tuan Alex, jika memang benar perusahaan Tuan Alex akan memutuskan kerjasama antara perusahaan kita, seharusnya sekarang sudah ada pemberitahuan ataupun surat yang dikirim oleh asistennya itu, tapi ini sama sekali belum ada" Ucap Rara memberi tahu Ardian yang sebenarnya.
"Baiklah kita tunggu saja sampai besok" Ucap Ardian sambil mengambil kunci mobil miliknya yang berada diatas nakas.
"Kau mau kemana?" Tanya Rara sambil memegang tangan Ardian berusaha untuk menahannya agar tidak pergi.
Ardian kemudian memegang wajah cantik Rara. "Aku ingin pulang ke rumah, aku butuh istirahat, besok ada ujian final untuk mahasiswa di kampus" Ucap Ardian sambil tersenyum.
"Kalo begitu aku juga ingin ikut pulang bersama" Jawab Rara bergegas mengambil tasnya yang ia taruh diatas nakas untuk ikut bersama dengan Ardian.
Melihat Rara yang ingin ikut dengannya, Ardian justru malah melarangnya, Ardian kemudian memegang kedua pundak Rara. "Tidak usah kau pulang saja aku akan mengantarmu, lagi pula jika kau ada malah aku tidak bisa beristirahat dengan tenang" Ucapnya sambil mengedipkan satu mata kearah Rara.
"Beritahu aku jika sudah ada perkembangan atau ada informasi penting mengenai kerjasama kita dengan perusahaan Alex" Ucap Ardian lagi sambil menepuk-nepuk bahu Rara, kemudian berlalu meninggalkan Rara yang diam mematung tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, terlihat Abah tengah asyik bercengkrama dengan Fatimah di pendopo yang berada dalam area pesantren. Keduanya begitu serius membicarakan tentang banyak hal, namun Abah sepertinya lebih fokus bertanya mengenai bagaimana perkembangan sekolah Fatimah, mengingat Fatimah tak lama lagi akan menyelesaikan sekolahnya disekolah Menengah Atas, dan berlanjut ke perguruan tinggi sama seperti kakaknya Tiana.
"Abah" Ucap Fatimah sambil memakan gorengan yang tadi Umi buat.
"Iya, ada apa?" Jawab Abah menghentikan aktivitas menulisnya lalu menoleh kearah Fatimah yang tengah asyik memasukkan gorengan kedalam mulutnya.
Fatimah kemudian menghentikan aktivitasnya. "Abah, apakah aku juga nanti akan menikah? Tanya Fatimah dengan ekspresi serius diwajahnya.
Abah terkejut dengan pertanyaan dari putri bungsunya itu. Terlihat dari keningnya yang berkerut karena tak menyangka jika hal itu yang akan Fatimah tanyakan kepadanya.
"Memangnya ada apa kau bertanya masalah itu?
"Tidak papa Abah, Fatimah hanya takut jika Fatimah nanti akan merasakan hal yang sama seperti kak Larisa, Fatimah takut jika suami Fatimah nanti mengkhianati pernikahan kami" Ucap Fatimah membuat Abah tersenyum mengetahui ketakutan yang Fatimah rasakan karena kemarin dia melihat pertengkaran antara Larisa dan Ardian.
"Kau tak perlu takut atau pun khawatir anakku, pernikahan adalah ibadah, didalamnya juga ada cobaan maupun ujian, orang bilang jika tidak ada masalah dalam rumah tangga maka hidup seperti makan sayur tanpa garam, rasanya hambar, ujian hadir agar orang tersebut bisa meningkatkan kualitas imannya. Siapa yang berhasil melaluinya, bersabar dan tabah menghadapi cobaan hidup, maka orang itu akan ditinggikan derajatnya, dan dibalas dengan balasan yang setimpal yaitu surga"
"Tapi Fatimah takut Abah"
"Sudah Abah bilang kau tak tak usah takut, perbanyak ibadah dan senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, jalankan perintahnya dan jauhi larangannya"
"Huss, tidak usah bahas lagi masalah itu, fokus belajar dan segera menyelesaikan pendidikanmu biar Abah segera mencarikan calon suami untukmu"
"Tapi, apakah setelah Fatimah menikah, Fatimah akan tinggal dirumah mertua Bah?" Tanya Fatimah lagi membuat Abah ingin tertawa karena merasa lucu dengan pertanyaan Fatimah.
"Kenapa memangnya?" Tanya Abah balik.
"Fatimah takut, jika nanti mertua Fatimah jahat terus menyiksa Fatimah Abah"
"Kau ini,terlalu banyak nonton sinetron dan drama korea, makanya pikiranmu itu selalu terbayang seperti apa yang kau nonton setiap hari"
Umi lalu datang membawa secangkir kopi pesanan Abah tadi.
"Bicaranya serius benar, Umi sampai dilupakan" Ucap Umi sambil meletakkan secangkir kopi yang dia bawa tepat dihadapan Abah.
"Ini Umi Fatimah minta di nikahkan" Ucap Abah meledek Fatimah.
__ADS_1
"Haaaa, yang bener Bah?" Tanya Umi lalu menoleh kearah Fatimah yang kembali memasukkan gorengan kedalam mulutnya.
"Ihh apaan sih Bah, kan Fatimah gak pernah ngomong kayak gitu, Abah nih ada-ada aja" Ucap Fatimah belepotan karena mulutnya penuh dengan gorengan.
"Makannya pelan-pelan nak" Ucap Umi memberikan segelas air putih pada Fatimah.
"Umi, Abah nih, Fatimah gak pernah ngomong kayak gitu"
"Iya Umi tau, Abah juga cuma main-main kok"
"Kapan Tiana pulang?" Tanya Abah menoleh kearah Umi yang juga sedang asyik makan gorengan.
"Tadi Umi telfon dia bilang kalo keadaan Aisyah sudah lebih baik, mungkin besok mereka sudah boleh pulang"
Abah termenung beberapa saat, membuat Umi yang melihat tingkahnya penasaran apa yang sebenarnya sedang Abah pikirkan.
"Ada apa Bah, kok diam aja?
"Aku ingin menikahkan Tiana dengan Ustad Azam" Ucap Abah membuat Umi dan Fatimah kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Tapi Bah, Ustad Azam kan seorang duda" Ucap Fatimah ikut bersuara, sepertinya dia kurang setuju dengan ide Abah yang akan menikahkan kakaknya dengan Ustad Azam.
"Hus jangan bicara seperti itu" Ucap Umi lalu memukul tangan Fatimah karena tak suka mendengar perkataan putrinya itu.
"Abah berpikir jika Tiana akan lebih baik kita nikahkan dengan Ustad Azam, selain karena dia juga merupakan pengajar di pesantren ini, dia juga termasuk lulusan terbaik di Mesir tempat dia belajar dulu. Dan kualitas agamanya pun sudah tidak diragukan lagi. Abah berpikir jika Tiana dan Ustad Azam menikah, mereka berdua bisa melanjutkan pesantren ini"
"Apakah sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Tiana, Umi takut jika kita langsung menikahkan mereka berdua, nanti malah akan kejadian seperti Larisa. Umi takut Bah, apalagi Ustad Azam itu seorang duda, dan kita belum tau apa sebabnya dia bisa berpisah dengan istrinya yang dulu" Ucap Umi berusaha memberi tahu kepada apa yang yang menjadi kekhawatirannya.
"Benar Bah, Fatimah setuju dengan apa yang Umi katakan" Ucap Fatimah sambil menaikkan jempol
tangannya.
"Fatimahhhh" Ucap Umi mengisyaratkan kepada Fatimah untuk tidak ikut bicara jika orang tua sedang berbicara.
"Iya Umi" Jawab Fatimah sambil menundukkan pandangannya kearah bawah, karena Fatimah tau jika Umi akan sangat marah jika dirinya ikut berbicara saat orang tua sedang membicarakan hal yang serius.
__ADS_1