
"Apa-apaan ini Larisa?" Teriak seseorang yang sedang berdiri di depan pintu, terlihat wajahnya kini mulai memerah dengan nafas yang naik turun sangking marahnya.
Semua yang hadir ditempat itu kemudian menoleh kearah sumber suara. Mata Larisa terbelalak melihat jika suara itu ternyata adalah Ardian, Larisa melihat ada Rara yang berdiri disampingnya, namun Larisa merasa biasa saja dengan hal itu. Lagipula kini dirinya telah menjadi istri Alex, orang yang kini sangat ia cintai.
Ardian kemudian melangkah menuju kearah Larisa yang duduk disamping Alex, yang kini juga mulai emosi karena tamu tak diundang, membuat mood Alex seketika itu juga menjadi berubah.
Dengan cepat Ardian kemudian memegang tangan Larisa lalu menariknya, namun dengan cepat Larisa menghempaskan pula tangan Ardian, membuatnya berbalik memandang kearah Larisa seperti tidak percaya dengan apa yang Larisa lakukan.
"Lepaskan aku Mas, aku tidak bisa ikut denganmu, sekarang aku adalah istri dari Alex" Ucap Larisa kemudian berjalan mendekat kearah Alex membuatnya tersenyum sinis karena melihat ekspresi kaget diwajah Ardian.
"Tidak mungkin Larisa, bukankah kita akan menikah setelah anak kita lahir, aku kesini ingin memberikanmu hadiah ini" Ardian berbicara sambil mengambil kotak perhiasan yang berada disaku jasnya, yang waktu itu ia beli sebagai hadiah untuk Larisa.
"Kau pikir dengan memberikan istriku perhiasan seperti itu, dia mau dengan mudah kembali kepadamu? Jangan harap Ardian, lebih baik sekarang kau pergi dari sini, dan berhentilah terus mengatakan jika anak ini adalah anakmu, karena Ayah sebenarnya dari anak ini adalah aku bukan dirimu" Jawab Alex berapi-api membuat yang ada diruangan itu sontak membelalakkan mata karena apa yang dikatakan oleh Alex. Namun tidak dengan Tiana.
"Astagfirullah, tapi Abah, Umi juga sebenarnya merasa heran waktu tadi kita akan kesini. Umi pikir bukankah Larisa hamil anak dari Ardian, tapi kenapa sekarang Larisa menikah dengan nak Alex. Ibu bingung sejujurnya" Ucap Umi yang berbisik ketelinga Abah yang sedang fokus memperhatikan perdebatan sengit antara Alex dan Ardian.
"Sudahlah bu, kita dengarkan saja apa yang akan mereka katakan. Lagipula Abah berpikir mugkin ada alasan lain, sehingga Larisa membatalkan pernikahannya dengan Ardian, dan lebih memilih menikah dengan nak Alex" Jawab Abah sambil menepuk tangan Ibu yang berada dipahanya. Kemudian dibalas dengan anggukan kepala oleh Umi.
Ardian benar-benar frustasi dengan apa yang dikatakan Alex, dia sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa, anak yang ada dalam kandungan Larisa adalah anak Alex. Seingat Ardian waktu itu ia melakukannya dengan Larisa sehingga ia bisa hamil.
Kini Ardian mulai menduga-duga banyak hal tentang Larisa. Tatapan matanya kini mulai menatap tajam kearah Larisa yang kini memeluk lengan Alex, membuat Ardian tertawa sinis karena pemandangan yang ada dihadapannya.
"Jadi selama ini kau menghianatiku dengan berselingkuh dengannya?" Tanya Ardian menunjuk kearah Larisa yang kini mulai menangis karena perkataan Ardian.
"Dan kau" Ucap Ardian kemudian menunjuk kearah Alex. "Dengan begitu mudahnya kau percaya jika anak itu adalah anakmu. Mungkin saja dia sering melakukannya dengan banyak pria lain"
Plakkkk
Sekuat tenaga Tiana menampar wajah Ardian karena tidak terima dengan apa yang dia katakan. Walaupun Larisa pernah melakukan kesalahan, namun Tiana percaya jika Larisa bukanlah wanita murahan seperti yang Ardian tuduhkan barusan.
__ADS_1
Umi yang melihat Tiana menampar wajah Ardian sontak saja menutup mulut dengan kedua tangannya, sangking tak percayanya dengan apa yang dilakukan oleh putri sulungnya itu.
Rara lalu mendekat kearah Ardian kemudian memegang pipi Ardian yang tadi sempat mendapat tamparan panas dari Tiana.
"Siapa kau, berani-beraninya menampar bos saya" Rara berbicara sambil menatap tajam kearah Tiana yang kini berdiri dihadapannya.
"Aku adalah salah satu wanita beruntung, karena tidak menikah dengan pria jahat seperti bosmu itu" Jawab Tiana sambil menunjuk kearah Ardian yang sedang memegangi pipinya. "Jika saja waktu itu aku tidak mendengarkan perkataan dari kedua orang tuaku, mungkin aku akan menghabiskan hari-hariku dengan air mata karena ternyata kau adalah pria yang tidak setia mas"
Kening Ardian berkerut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Tiana, Ardian bingung, sebenarnya apa maksud dari perkataan Tiana barusan.
"Jangan kau hina harga diri Larisa, sedangkan kau sendiri juga masih melakukan perbuatan yang hina mas"
"Maksudmu apa, aku tidak mengerti?" Jawab Ardian meminta penjelasan apa sebenarnya maksud dari perkataan Tiana.
Tiana lalu memandang wajah Rara yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya dari bawah sampai atas, karena merasa aneh dengan penampilan Tiana.
"Jaga mulutmu, memangnya kau punya bukti apa jika aku melakukan hal yang memalukan seperti itu?" Ardian kini mulai tersulut emosi dengan perkataan Tiana.
Sedangkan Rara sendiri merasa kesal karena Ardian tidak mengakui perbuatannya.
"Apa, Memalukan? padahal waktu itu dia juga sangat menikmati permainanku" Gumam Rara dalam hatinya. Lalu memutar bola matanya malas, karena melihat Larisa yang kini telah menjadi istri Alex.
"Cukup" Kini Abah mulai bersuara.
"Putriku mungkin tidak memiliki bukti, tapi aku percaya jika apa yang dia katakan itu bukanlah sebuah kebohongan" Ucap Abah kemudian berjalan kearah Tiana sambil memegang pundaknya.
"Jangan pernah menghina harga diri seorang wanita, apakah kau lupa jika kau lahir dari rahim seorang wanita yaitu Ibumu, Larisa sudah ku anggap seperti anakku sendiri, jika kau menghinanya itu sama halnya dengan kau menghinaku juga" Ucap Abah, membuat Larisa yang mendengar perkataan Abah kemudian berjalan kearahnya lalu memeluknya. Larisa merasa mendapatkan kasih sayang yang sebenarnya dari sosok Abah.
"Kenapa Abah malah menganggap wanita itu sebagai anak? padahal karena dia juga pernikahanku dengan Tiana harus dibatalkan"
__ADS_1
"Aku malah bersyukur pernikahanmu dengan anakku batal, dan aku sangat bersyukur karena waktu itu Larisa hadir sebagai penghalang diantara kamu dan Tiana, sehingga perjodohan antara kau dan Tiana akhirnya dibatalkan, karena hanya akan membuat anakku menderita dengan mendapatkan pria yang tidak setia seperti dirimu"Jawab Abah yang berhasil membungkam mulut Ardian.
Ardian mulai bingung dari mana Tiana bisa mengetahui perbuatannya dengan Rara, kini ia mulai mengingat kembali memori yang waktu itu ia dan Larisa akan pergi menjenguk Abah.
"Mungkin waktu itu Larisa mendengar pembicaraanku dengan Rara, ahhh sial" Gumam Ardian dalam hatinya.
"Pasti Larisa yang menceritakan itu semua kepadamu kan? Tanya balik Ardian sambil menunjuk kearah Larisa.
"Aku bahkan memergoki perselingkuhan mu karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan maaf, belajarlah untuk tidak berprasangka buruk pada orang lain. Larisa sama sekali tidak pernah mengatakan mengenai perbuatanmu itu kepadaku" Jawab Tiana dan berhasil membuat Ardian begitu kaget karena ternyata Tiana juga pernah melihatnya dengan Rara. Tetapi Ardian merasa bingung karena, ia tidak tau dimana Tiana bisa melihat dirinya bersama dengan Rara.
Umi mulai menangis didalam pelukan Fatimah, sedangkan Fatimah berusaha menenangkan Umi dengan membalas pelukannya.
Rara yang penasaran seperti apa wajah wanita yang pernah dijodohkan dengan bosnya itu mendekat kemudian menarik paksa kain yang menutupi wajah Tiana.
Tiana yang tidak menyadari perbuatan Rara tidak sempat lagi menahan serangannya, membuat kain cadar yang menutupi wajah Tiana berpindah ke tangan Rara. Tapi untung saja Abah dengan sigap lalu memeluk Tiana, sehingga wajah Tiana berada dalam pelukan Abah.
Karena merasa jengkel dengan perbuatan Rara, Larisa kemudian mendaratkan tangannya di pipi mulus milik Rara, Membuatnya sedikit terhuyung karena tamparan keras yang mengenai pipinya.
Untung saja ada Ardian yang menahan tubuh Rara sehingga tak sampai jatuh ke lantai, membuat Larisa berdecih melihat kemesraan diantara mantan calon suaminya dan wanita yang telah menghancurkan hubungannya.
Rara kemudian berjalan kearah Larisa ingin membalas tamparannya, namun tepat didepan Larisa kini berdiri Alex yang berhasil menghadang serangan dari Rara.
"Awas saja jika kau berani menyentuh istriku dengan tangan kotormu itu" Alex berbicara sambil menatap tajam kearah Rara yang kini mengangkat tangannya untuk membalas tamparan dari Larisa. "Lebih baik sekarang kalian pergi sebelum aku memanggil satpam dan menyuruh mereka menyeret kalian berdua keluar dari sini" Ucap Alex sambil menunjuk kearah pintu.
Ardian kemudian menarik tangan Rara untuk ikut keluar bersama dengannya. Lagipula tak ada gunanya lagi mereka berada diruangan itu. Sehingga Ardian memutuskan untuk pergi sebelum ancaman Alex benar-benar akan menjadi kenyataan.
Rara awalnya menolak ajakan dari Ardian untuk ikut meninggalkan ruangan itu karena dia belum sempat membalas perbuatan Larisa yang sudah berani menamparnya. Namun akhirnya ia menurut juga, karena Ardian terus menarik tangannya secara paksa.
Ardian berjalan lebih dulu dan disusul Rara yang berada dibelakangnya. Saat akan melangkah keluar dari pintu, tiba-tiba saja Rara merasa jika ada yang menarik bahunya. Ia lalu menoleh kearah orang yang menarik bahunya tersebut.
__ADS_1