
"Assalamu'alaikum" Ucap Alex yang kini berada dikamar setelah pulang kerja.
"Waalaikumsalam" Jawab Larisa kemudian menghampiri suaminya lalu mencium tangannya.
Alex kemudian mencium bibir Larisa membuatnya tersenyum dengan apa yang suaminya lakukan.
Larisa lalu mengambil tas kerja suaminya, kemudian membantu Alex melepaskan jas kerjanya.
"Terima kasih istriku" Ucap Alex namun Larisa hanya tersenyum kearah suaminya.
Alex yang melihat wajah istrinya yang kurang ceria tak seperti biasanya menjadi bingung apa yang sebenarnya membuat istrinya menjadi seperti itu.
"Sayang" Ucap Alex kini berdiri tepat dihadapan Larisa sambil memeluk pinggang istrinya.
"Ada apa, kenapa kau terlihat murung sejak tadi pagi?" Kini Alex merapatkan keningnya dan kening Larisa. Membuat mereka kini begiti dekat. Bahkan Larisa bisa merasakan nafas suaminya yang tepat mengenai wajahnya.
"Tidak papa" Ucap Larisa singkat membuat Alex kecewa karena istrinya yang belum mau jujur mengatakan apa yang sebenarnya membuat dirinya seperti terlihat sedih.
Larisa lalu melepaskan pelukan dari suaminya kemudian menuju kearah box bayi Kenan, menatap wajah anaknya itu yang bisa membuat perasaanya menjadi sedikit lebih baik.
"Apakah aku sudah menyakiti perasaanmu?" Tanya Alex yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Larisa.
"Atau aku sudah berbuat kesalahan yang tidak aku sadari?" Tanya Alex lagi namun lagi lagi Larisa menjawab pertanyaan darinya hanya dengan gelengan kepala.
"Katakanlah sayang. Aku janji akan membuatmu bahagia. Aku tidak suka melihat wajah istriku yang tidak tersenyum. Membuat hatiku jadi khawatir, karena aku lebih suka melihat wajah istriku yang cantik ini tersenyum" Ucap Alex namun Larisa tetap setia pada ekspresi datar diwajahnya. Membuat Alex terlihat seperti orang bodoh karena tidak mendapat reapon dari istrinya.
Kini Alex mulai frustasi karena tak tau harus berbuat apa sehingga Larisa ingin mengatakan apa yang membuatnya seperti itu, sangking frustasinya kini ia mulai menjambak rambutnya sendiri.
*
*
__ADS_1
*
*
*
Ardian kini mulai merasa khawatir karena mendapat kabar dari asisten barunya jika perusahaan Alex ingin mengadakan pertemuan namun belum jelas apakah maksud dari pertemuan itu.
Sejak tadi Ardian mondar mandir karena sangat takut akan berhadapan langsung dengan Alex setelah kejadian tempo hari yang membuat mereka berdua hilang komunikasi. Walaupun kerjasama diantara perusahaan tetap terjalin tapi Ardian merasa sungkan dengan Alex yang masih berbaik hati tidak memutuskan kerjasama diantara perusahaan mereka.
"Tuan Alex sudah tiba pak" Ucap Andi asisten baru Ardian. Yang tak lain adalah teman dosennya dikampus.
Awalnya Ardian kembali mengangkat seorang asisten pribadi dari mahasiswa kepercayaannya dikampus. Namun Rara menolak jika Ardian mengangkat asisten lagi, jika asisten itu adalah seorang wanita. Sehingga dengan terpaksa Ardian menggantinya dengan asistennya yang sekarang yaitu Andi.
Hal itu Rara lakukan tak lain karena tak ingin jika suaminya digoda oleh wanita lain. Mengingat dirinya dulu yang bekerja sebagai asisten pribadi suaminya, yang membuat mereka menghabiskan waktu lebih banyak bersama dan akhirnya membuat mereka berdua terjerat cinta terlarang. Karena status Ardiannyang waktu itu adalah calon suami Larisa.
Karena hal itulah yang sangat Rara takutkan. Jika Ardian akan kembali melakukan kesalahan dengan kembali terjerat cinta terlarang dengan asisten barunya. Sehingga Rara terus saja mewanti-wanti Ardian untuk segera mengganti asisten barunya itu. Sehingga sekarang yang menjadi asisten pribadi Ardian adalah Andi yang merupakan salah satu dosen dikampus tempat Ardian mengajar.
Itulah sebabnya mengapa sekarang Andi malah beralih profesi dari seorang pengajar menjadi asisten pribadi. Karena tak bisa Andi pungkiri jika ia menerima pekerjaan yang Ardian berikan tak lain dan tak bukan karena gaji yang cukup besar yang Ardian tawarkan kepadanya.
Walaupun mungkin asisten pribadi itu kata lain dari seorang pembantu yang terlihat lebih keren. Padahal pembantu atau asisten pribadi hampir tak ada bedanya.
"Persilahkan dia untuk masuk keruanganku. Dan usahakan untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuknya. Karena dia rekan bisnis sekaligus seorang teman bagiku" Ucap Ardian memberikan perintah pada Andi.
Ardian merasa heran dengan apa yang ia katakan. Teman? Benarkah jika Alex masih menganggapnya seorang teman setelah apa yang terjadi?.
Ardian menghentikan pemikiran itu tatkala melihat Alex yang kini masuk kedalam ruangannya.
Alex melangkah menuju kearah Ardian yang menatap kedatangannya dengan sedikit terkejut, kemudian mereka berdua berjabat tangan seperti tak pernah terjadi sesuatu diantara mereka.
"Apa kabar?" Ucap Alex kemudian duduk tepat dihadapan Ardian. Terlihat jika Ardian yang sepertinya masih canggung untuk bertegur sapa dengan Alex.
__ADS_1
"Aku baik. Anda sendiri bagaimana?" Tanya Ardian balik membuat Alex mengerutkan dahinya.
"Tidak usah berbicara terlalu formal seperti itu denganku. Bukankah kita adalah teman" Ucap Alex membuat Ardian senang karena Alex yang ternyata masih berbaik hati menganggapnya seorang teman.
"Aku kesini ingin mengajakmu bekerja sama membesarkan bisnis kita sampai keluar negeri. Aku ingin membuka setiap cabang dinegara-negara yang ada dikawasan Asia"
"Tapi sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu. Apa sebenarnya yang membuatmu tidak memutuskan kerjasama diantara kita setelah apa yang aku lakukan?" Tanya Ardian, sebenarnya tak enak jika harus membahas masalah pribadi saat mereka sedang membicarakan tentang pekerjaan. Namun Ardian tetap ingin menanyakan hal itu. Agar ia tahu apa alasan sebenarnya sehingga Ardian tak perlu menebak-nebak lagi mengapa Alex tidak memutuskan kerjasama diantara mereka.
Alex tersenyum kearah Ardian yang terlihat menunggu jawaban darinya.
"Alasannya karena Larisa" Ucap Alex singkat namun berhasil membuat Ardian kini bingung. Memangnya apa hubungannya Larisa dengan kerjasama mereka? Gumam Ardian dalam hatinya.
"Kenapa Larisa?" Tanya Ardian lagi jelas terlihat diwajahnya ia yang kini begitu antusias mengetahui apa hubungannya Larisa dengan kerjasama mereka.
"Larisa istriku. Maaf jika ini menyakiti perasaanmu tapi memang sekarang Larisa adalah istriku. Dia milikku" Ucap Alex membuat Ardian menganggukkan kepala membenarkan apa yang Alex katakan jika benar Larisa memang kini adalah sepenuhnya miliknya.
"Karena Larisa lah yang melarangku untuk memutuskan kerjasama kita. Padahal aku yang waktu itu begitu bersemangat ingin menghancurkan perusahaanmu. Namun Larisa melarangku melakukan itu karena tak ingin jika suaminya melakukan hal yang akan merugikan diriku sendiri" Ucap Alex yang berhasil membuat Ardian kaget mengetahui alasan sebenarnya mengapa Alex tak memutuskan kerjasama mereka.
"Terus Larisa bilang apalagi?" Tanya Ardian lagi.
"Larisa sudah menceritakan semuanya kepadaku. Jika waktu itu bukanlah salahmu. Tapi memang murni kesalahan darinya yang menjebakmu, dengan memasukkan obat perangsang sehingga kau ingin melakukan hal itu dengannya. Itupun karena Larisa yang terus saja memaksamu"
"Tapi kenapa waktu itu Larisa memilih ingin menikah denganku, padahal ia sedang mengandung anak darimu?"
"Karena dia ingin menjalankan wasiat dari Papahnya yang ingin jika Larisa menikah denganmu. Karena Papah Larisa merasa berhutang budi padamu yang selalu membantunya ketika Papah Larisa sakit" Ucap Alex membuat perlahan-kahan teka teki yang ada dikepala Ardian mulai menemukan jawaban.
"Namun karena kau yang melakukan kesalahan waktu itu sehingga akhirnya Larisa lebih memilihku. Maaf jika perkataanku menyakitkan namun itulah kenyataannya" Ucap Alex sambil tersenyum kearah Ardian yang menatap tak enak pada dirinya setelah
mengetahui apa yang sebenarnya.
"Jika kau tak keberatan aku ingin meminta tolong kepadamu untuk menyampaikan permintaan maafku kepada Larisa" Ucap Ardian bersungguh-sungguh. Membuat Alex menganggukkan kepala mendengar perkataan darinya.
__ADS_1