
"Mas beneran udah move on dari kak Tiana?"
Mendengar pertanyaan dari Larisa, Ardian menghentikan aktivitasnya.
Keningnya berkerut memandang Larisa dengan wajah yang bingung karena pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal dia?"
Ardian melepaskan kedua tangannya dari pinggang Larisa.
"Bukannya dulu mas menyukainya?"
"Kau ini aku bertanya kau malah balik bertanya lagi kepadaku"
"Ya jawab dulu mas"
Larisa duduk kembali disofa, begitu juga dengan Ardian yang duduk tepat disampingnya.
"Memangnya apa yang ingin kau tau?"
Jawab Ardian sambil satu tangannya bertumpu pada sofa untuk menahan kepalanya.
"Mas, beneran sudah move on dari kak Tiana?"
"Aku sudah merelakannya, menerima kenyataan bahwa memang kami tak berjodoh, aku sudah mengikhlaskannya, karena aku sendiri berpikir tidak pantas mendampingi wanita seperti dia, aku hanya mencoba untuk berdamai dengan hati dan perasaanku, karena sekuat apapun aku ingin menggapainya, jika dia tak ditakdirkan untukku, maka itu hanya akan menambah luka, tersiksa karena tak bisa memilikinya"
"Sudah, jangan bahas dia lagi, sekarang ada kamu, dan aku bersyukur walaupun awalnya aku ingin mengakhiri hubungan kita, karena perjodohan dari orang tuaku, dan jujur aku sempat menyukai Tiana, namun sepertinya kau memang ditakdirkan untukku Larisa"
"Seandainya saja aku tak berubah pasti mas tidak akan berbicara seperti ini kan, mas juga tak akan mau menikahiku, apalagi kita nanti menikah karena desakan dari orang tua mas"
"Kau berubah atau tidak kita akan tetap menikah, apalagi sekarang ada anak kita diperutmu"
"Kau tidak marah kan karena aku pernah menyukai Tiana?"
"Untuk apa aku marah, wajar saja jika mas menyukainya, tak ada yang kurang dari kak Tiana, dia wanita yang baik, soleha, wanita yang cerdas, siapapun laki-laki akan menyukainya, jadi wajar saja jika mas pernah suka sama kak Tiana, jika saja aku terlahir menjadi laki-laki tentu saja aku pun mungkin akan suka kepadanya"
"Kecuali mas sukanya sama Rara baru aku akan marah"
Lanjut Larisa sambil menaikkan kedua alisnya.
Ardian menelan salivanya, ia tak menyangka Larisa akan menyebut nama Rara.
Tubuhnya mulai membeku, tangannya mulai dingin, Ardian takut jika Larisa mengetahui apa yang pernah ia lakukan bersama Rara malam itu.
***
Tiana sedang membawakan materi untuk para santri wati, dari luar kelas Tiana melihat dua orang wanita berjalan menuju kearah rumahnya, namun ia tak dapat mengenali siapa wanita itu.
Tak berselang lama nampak sifa yang berjalan kearah ruangan tempat Tiana sedang mengajar, kemudian masuk kedalam kelas lalu menghampiri dirinya.
"Assalamualaikum ustadzah"
"Walaikumsalam, ada apa sifa"
__ADS_1
"Ada kak Siti dan kak Aisyah mencari ustadzah, mereka menunggu dirumah ustadzah sekarang"
Siti dan Aisyah adalah teman satu kampus Tiana waktu mereka kuliah dulu.
Setelah menyelelesaikan pendidikan mereka, akhirnya Aisyah memutuskan menikah dengan Hafidz Al-Quran dan mengikuti suaminya tinggal di Qairo Mesir.
Sedangkan Siti memilih kembali kekampung halamannya setelah kuliahnya selesai dan mencoba mengabdi disana.
Tiana sendiri meneruskan keinginan abahnya untuk membantunya mengurus pondok pesantren.
Walaupun terpisah jarak dan waktu, namun mereka masih sering berkomunikasi lewat telepon.
Akan tetapi, Tiana heran ada apa gerangan kedua sahabatnya tiba-tiba saja datang menemuinya.
***
Setelah selesai membawakan materi dikelas, Tiana segera menuju kerumahnya untuk menemui kedua sahabatnya.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Jawab Aisyah dan Siti secara bersamaan.
Tiana kemudian mendekat lalu memeluk kedua sahabatnya, melepaskan rindu karena telah lama tak berjumpa.
Perlahan-lahan mereka bertiga akhirnya melepaskan pelukan mereka.
Tiana memandang wajah sahabatnya satu persatu, merasa senang karena akhirnya bisa bertemu lagi.
Melihat wajah sahabatnya yang lebam, Tiana mencoba untuk menyentuh wajah Aisyah, namun Aisyah meringis kesakitan karena sentuhan dari Tiana.
Tiana kemudian mengajak para sahabatnya untuk masuk kedalam kamarnya.
Ia sengaja mengajak Siti dan Aisyah berbicara dikamar agar tak ada yang mendengar pembicaraan dari mereka.
Tiana kemudian menutup pintu lalu menguncinya, ia tak ingin adik kesayagannya Fatimah tiba-tiba masuk, mengingat kelakuan adiknya yang selalu saja masuk kamarnya tanpa permisi terlebih dahulu.
"Aisyah, kenapa wajahmu bisa seperti ini?"
Yang ditanya hanya diam sambil terus menangis.
"Aisyah dipukuli oleh suaminya"
Jawab Siti karena yang ditanya hanya diam saja.
"Astagfirullah, apa betul itu Aisyah?"
Tanya Tiana sambil memegang tangan Aisyah.
"I...iya Tiana"
Jawab Aisyah sambil sesenggukan menahan tangisnya yang tak bisa lagi ia bendung.
__ADS_1
"Aisyah kabur, makanya aku membawanya kesini, aku tak tau harus membawanya kemana, yang aku ingat hanya kamu Tiana"
Ungkap Siti sambil memeluk Aisyah.
"Kenapa suamimu bisa memukulimu, apakah kau melakukan kesalahan, apakah kau tak bisa menjalankan tugasmu sebagai seorang istri?"
Tanya Tiana pada Aisyah.
"Suamiku ingin menikah lagi, aku tak terima jika harus dipoligami, makanya dia marah dan memukuliku"
Aisyah lalu membuka pakaiannya dan terlihat banyak jejak tanda bekas pukulan dari suaminya.
Tiana kaget melihat tubuh sahabatnya yang dipenuhi dengan luka bekas pukulan.
Melihat keadaan Aisyah yang sangat tragis Tiana dan Siti ikut menangis.
Mereka tak menyangka jika Aisyah akan mengalami kekerasan dalam rumah tangganya.
"Kenapa suamimu ingin menikah lagi, apakah ia tidak cukup dengan memiliki satu istri?"
Tanya Tiana yang mulai jengkel melihat keadaan sahabatnya.
"Dikeluarga suamiku poligami adalah hal yang sudah menjadi tradisi, poligami sudah mereka anggap sesuatu yang lumrah, menurut mereka memiliki istri lebih dari 1 itu hal yang diperbolehkan dalam agama, sebab jika dibandingkan dengan laki-laki, jumlah wanita jauh lebih banyak sehingga, jika suami ingin memiliki istri lebih dari satu maka istri-istri dari keluarga suamiku akan mengijinkan suaminya untuk menikah lagi"
Aisyah berusaha menceritakan semuanya pada Tiana.
"Suamiku bilang jika istri mengizinkan suaminya untuk berpoligami, maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia inginkan, tapi bukan ibadah yang seperti ini yang aku harapkan untuk membawaku kesurga, aku tak sanggup jika harus membagi suamiku dengan orang lain"
Jawab Aisyah sambil terus menyeka air mata yang terus jatuh dikedua pipinya.
"Kenapa kau tak melaporkan perbuatan suamimu ini kepolisi, ini sudah masuk tindakan kekerasan dalam rumah tangga, aku tidak menentang adanya poligami karena memang ada dalam syariat agama selama itu memenuhi syarat dan terpenting adalah keikhlasan dari istri pertama, jadi jangalah kita membencinya, memang banyak yang mudharat tapi itu salah manusianya, namun suami yang memukul istrinya itu sangat tidak manusiawi"
Ucap Tiana sambil menghapus air mata dipipi Aisyah.
"Bukankah fitrah seorang perempuan adalah bersama suaminya, namun jika suami memukul istrinya, bagaimana istri akan merasa dilindungi jika suami sendirilah yang berbuat kasar kepada istrinya"
Aisyah menangis dipelukan Tiana begitu juga sebaliknya.
"Jadi apakah kau akan menerima jika suamimu benar akan menikah lagi?"
Tanya Tiana sambil berdiri menatap wajah Aisyah.
"Aku ingin melanjutkan rumah tangga bersama suamiku, semua wanita pasti menginginkan pernikahannya hanya sekali seumur hidup tapi jika seperti ini terus, aku pun juga pada akhirnya tak akan sanggup, karena tabiatnya yang ketika marah akan selalu memukul, dan amarahnya yang meledak-ledak membuatku sangat kewalahan untuk menghadapinya, aku rasa lebih baik jika aku mengakhiri saja pernikahan ini"
Ucap Aisyah sambil menghapus air mata dipipinya.
"Menurutku poligami itu adalah sebuah kemampuan, kesanggupan, keikhlasan seorang istri menerima kenyataan harus berbagi bersama wanita lain, karena poligami tidaklah dilarang didalam agama kita, mengapa setiap kali laki-laki yang ingin menikah harus terlebih dahulu meminta izin istrinya, karena itu kembali lagi apakah istri akan sanggup, namun jika istri pertama merasa sanggup tidak ada salahnya jika istri memang mengizinkan suaminya untuk menikah lagi, karena akan banyak mendatangkan hikmah didalamnya"
"Dan benar apa yang suamimu katakan, karena istri yang mengizinkan suaminya untuk menikah lagi maka ganjarannya adalah surga"
Ucap Tiana sambil memgusap pundak Aisyah lembut untuk menyemangatinya.
"Namun jika kau tak menerima suamimu untuk menikah lagi kau bisa berbicara kepadanya, kau harus memberi tahunya jika kau belum siap untuk dipoligami"
__ADS_1
"Tapi suami Aisyah sudah memukulinya, jika ia tetap mempertahankan rumah tangganya, mungkin saja sekarang ia hanya dipukuli, besok-besok mungkin ia akan menghilangkan nyawa Aisyah, kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya"
Ungkap Siti sambil memperbaiki hijab Aisyah yang mulai berantakan.