PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 29 HATI YANG TERSAKITI


__ADS_3

Pipi mulusnya telah basah karena air mata yang terus saja keluar tanpa bisa ia hentikan.


Larisa berjalan menjauh dari ruangan Ardian, langkahnya gontai menuju ke arah toilet.


Saat Larisa tiba ditoilet tangisnya akhirnya pecah, dengan berderai air mata ia memukuli dadanya yang makin sesak karena tangisannya, ia merasa seperti ada batu besar yang menimpa dadanya.


Memorinya kembali mengingat tentang pertemuannya dengan Alex dulu.


"Apakah ini karma karena aku telah menghianati mas Ardian dulu?"


"Mengapa seakan-akan takdir sedang mempermainkanku, saat orang yang aku cintai akan menikahiku, disaat itu juga aku tahu jika ia sedang berselingkuh dengan wanita lain dibelakangku"


Larisa menangis sambil terus memegang dadanya yang terasa sesak.


Larisa mulai menertawakan nasibnya yang menurutnya lucu, ia yang awalnya menghianati Ardian dengan berselingkuh dengan Alex, sekarang malah Ardian yang berbalik berselingkuh dengan asisten pribadinya.


Larisa tertawa memandang wajahnya didepan cermin, wajahnya yang awalnya cantik karena diberi sedikit polesan, kini mulai berantakan karena air matanya yang tak bisa berhenti membuat maskaranya jadi luntur.


Sejenak Larisa mulai menarik nafasnya pelan-pelan lalu ia hembuskannya.


Ia bertekad akan menjadi wanita yang kuat, tangguh serta penyabar seperti yang Tiana bilang kepadanya.


Larisa berpikir mungkin ini adalah cobaan yang akan membawa derajatnya lebih tinggi lagi jika dia mampu bersabar dan menghadapi masalah dengan kepala dingin, tanpa menggunakan emosi seperti pesan Abah kepadanya waktu itu.


"Aku harus kuat, aku pasti bisa melalui cobaan ini, baiklah aku akan membicarakan ini nanti dengan mas Ardian"


Ucap Larisa lalu menghapus sisa jejak air mata diwajahnya.


Larisa memoles kembali sedikit make up diwajahnya, untuk menyamarkan matanya yang mulai sembab karena terlalu banyak menangis.


Dalam hati Larisa, ia bertekad akan menjadi wanita yang kuat, ada ataupun tak ada mas Ardian disisinya.


***


Larisa kembali keruangan Ardian, ia masuk tapi melihat sudah tidak ada Rara didalam.


"Assalamualaikum, mas"


Ucap Larisa, sambil tersenyum kepada Ardian.


Berusaha tegar setelah mengetahui kebohongan calon suaminya itu, Larisa berusaha tampak biasa-biasa saja seakan tak terjadi apa-apa.


"Waalaikumsalam, sayang kau datang? Kenapa tidak menungguku, aku kan tadi sudah bilang akan menjemputmu dulu sebelum kita menjenguk abahnya Tiana"


Ucap Ardian menghentikan aktifitasnya didepan laptop melihat Larisa yang tiba-tiba saja datang.


"Aku sengaja kesini biar kita langsung kesana biar lebih cepat, kan apartemenku dari kantor mas juga tidak terlalu jauh kok"


"Tapi kan kamu lagi hamil, mas tidak mau kalo sampe terjadi apa-apa sama anak mas, karena kamu sering menyetir mobil sendirian, mulai besok kamu akan diantar sama supir"


Ardian mendekat kearah Larisa kemudian mencium keningnya.


Tangan Ardian lalu membelai wajah mulus milik Larisa, hatinya merasa bersalah karena telah menghianati wanita yang tidak lama lagi akan menjadi istrinya.


Namun disatu sisi, ia tak bisa membiarkan Rara pergi, jika Rara pergi akan sangat sulit menemukan orang yang bisa ia percayai menangani semua pekerjaannya, Ardian merasa seperti mulai bergantung pada Rara.


Menjadi seorang dosen dan seorang pengusaha bukanlah hal yang mudah, namun dengan adanya Rara yang membantunya, pekerjaannya jadi sedikit lebih ringan.


Selain itu Rara adalah salah satu mahasiswa kepercayaannya selama ini, sangat sulit menemukan orang yang bisa menggantikan posisi Rara, karena kepercayaan seseorang bisa kita lihat dengan seberapa lama kita sudah menjalin hubungan atau kerjasama dengan orang itu.


"Mas, sayang"


"Iy..iya"


Jawab Ardian tersadar dari lamunannya karena panggilan dari Larisa.


"Emm... pasti dia sedang memikirkan si ulat sagu"


Gumam Larisa dalam hatinya.


"Mas kok bengong"


"Tidak sayang, aku hanya sedang memikirkan pekerjaanku saja"


"Alasan, bilang aja kalo lagi mikirin si ulat sagu itu"

__ADS_1


Gumam Larisa.


"Ya udah ayok kita berangkat sekarang, Abah, Umi, dan kak Tiana sudah menungguku dari tadi"


"Emm... baiklah"


***


"Mas kok dari tadi bengong, emangnya pekerjaan mas tidak ada yang urus, kan udah ada Rara yang gantikan kamu, kalo gitu kita balik aja deh"


Ucap Larisa mulai jengkel melihat Ardian yang terus saja diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun semenjak mereka berangkat menuju rumah Tiana.


"Tidak sayang, mas cuma mau fokus menyetir, jangan marah lagi ya, nanti cantik kamu hilang"


Ucap Ardian sambil membelai wajah Larisa agar ia tak marah lagi.


"Halah, disana gombal, disini gombal, dasar kadal, cocok banget, yang satu ulat sagu yang satu kadal buntung"


Gumam Larisa dalam hati.


"Terserah mas aja deh"


"Perut kamu sekarang sudah tambah besar, mas gak sabar deh pengen lihat anak kita nanti"


Ucap Ardian mengalihkan pembicaraan.


Larisa tak memperdulikan perkataan dari Ardian, ia masih sangat jengkel karena mengetahui perselingkuhan Ardian dengan Rara.


Namun ia tak ingin mengatakan itu sekarang, karena saat ini mereka akan kerumah Tiana, Larisa tak ingin karena hal itu membuat moodnya jadi terganggu.


***


Tok tok tok


Fatimah yang seperti biasa sedang asyik menonton drama korea favoritnya tiba-tiba mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.


Dengan cepat Fatimah menuju kearah pintu lalu membukanya.


Fatimah kaget melihat Ardian datang bersama Larisa.


"Assalamualaikum dek, yang lain mana?"


Ucap Fatimah lalu mempersilahkan Ardian dan Larisa untuk masuk kedalam rumah.


Ardian dan Larisa masuk, Ardian kagum melihat nuansa rumah Tiana yang kental akan unsur islaminya.


"Wah rumahnya bagus ya, nuansa islaminya terasa sekali"


Ucap Ardian yang terus saja memperhatikan seluruh bagian ruang tamu rumah Tiana.


"Memangnya mas tidak pernah kesini?"


Tanya Larisa dengan kening yang berkerut.


"Iya ini pertama kali mas kesini"


Jawab Ardian memandangi tulisan kaligrafi yang terpajang didinding.


"Waktu mas dijodohkan dulu sama kak Tiana, bukankah waktu lamaran mas harusnya datang, jadi mana mungkin jika mas belum pernah kesini?"


Ucap Larisa tak percaya dengan yang Ardian katakan.


"Kau lupa, waktu itu kita sedang bertengkar, dan kau melarangku untuk pergi, makanya aku tidak bisa hadir dihari lamaran waktu itu"


"Sudahlah mas tidak usah dibahas lagi"


Ucap Larisa sambil mengangkat tangannya satu, menyuruh Ardian untuk menghentikan perkataannya.


"Mas perhatikan kamu dari tadi kayak marah terus sama mas, emangnya mas salah apa?"


Tanya Ardian memasang wajah bingungnya.


"Pake nanya lagi, dasar tukang drama"


Gumam Larisa dalam hati sambil memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Larisa hanya diam saja tak memperdulikan lagi perkataan Ardian.


Karena, jika ia meladeni terus perkataan dari Ardian, bisa-bisa amarahnya akan meledak, ia tak ingin hal itu terjadi mengingat mereka sedang berada dirumah Tiana.


Larisa tak ingin jika orang dirumah Tiana tau mengenai permasalahannya dengan Ardian, sebab Larisa merasa malu pada keluarga Tiana, terlebih pada Tiana sendiri, Larisa berpikir jika mereka tau, maka mereka akan menganggap perselingkuhan Ardian dan Rara adalah sebagai balasan karena dulu ia pernah menjadi penghalang sehingga Ardian dan Tiana batal menikah.


Memori Larisa kembali mengingat bagaimana dengan sombong dan angkuhnya dia datang menemui Tiana lalu menyuruhnya membatalkan pernikahannya dengan Ardian.


Pikiran itu terus saja berputar-putar dikepala Larisa, ia lalu mulai memijat kepalanya yang mulai pusing karena terlalu memikirkan banyak hal.


"Kenapa selama ini aku menjadi manusia yang tak tau malu, memalukan"


Gumam Larisa, yang tak ia sadari Ardian mendengar perkataannya.


Seketika Ardian merasa heran dengan tingkah Larisa.


"Siapa yang tidak tau malu?"


Tanya Ardian mengerutkan dahinya.


"Emm...itu, aku ingat tadi lihat berita di sosmed mengenai perselingkuhan bos sama asistennya, makanya aku pikir mereka itu sangat memalukan"


Ucap Larisa sambil tersenyum dengan sangat dipaksakan didepan Ardian.


Deg!


Ardian kaget dengan apa yang barusan Larisa katakan, seketika ia menjadi sangat gugup didepan Larisa, Ardian menjadi salah Tingkah.


"Ada apa mas, kok tiba-tiba mas keringatan, tangan mas juga dingin banget, mas sakit ya?"


Ucap Larisa sambil memegang tangan Ardian untuk memeriksa keadaannya.


"Ti... tidak, mas hanya kepanasan"


Ucap Ardian mengibas-ngibaskan tangannya kearah wajahnya.


"Kepanasan atau takut kalo bohongnya ketahuan?"


"Awas ya mas, setelah ini aku akan memberikanmu pelajaran sama si ulat sagu itu"


Ucap Larisa dalam hati sambil menaikkan sebelah alisnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hai para readers, dukung terus karya pertamaku ini dengan cara, like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya.


Ikuti terus kisah cinta yang sangat rumit dalam kisah "PERNIKAHAN DUA CINCIN"


Semoga kalian suka dan terhibur dengan karya author amatiran ini.


Happy Reading


Promo Novel terbaruku...


Aku kasi bocoran judul "STC"


Yang tau apa kepanjangan dari "STC" komen dikolom komentar ya...

__ADS_1


Komen yang pertama benar bakalan aku kasi hadiah...


Nantikan karya baru Author ya...


__ADS_2