PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 60 KELUARGA BARU


__ADS_3

Tiara hanya tersenyum melihat Alex yang tetap sabar mendampingi istrinya yang akan melahirkan. Tiara bisa melihat Alex yang mulai kelelahan karena Larisa yang terus saja memukul, menggigit, bahkan sampai menjambak rambut Alex karena sakit yang ia rasakan.


"Aaaakkkkkhhhhhhh" Larisa mulai berkuat setelah mendengar perintah dari dokter.


"Ayo sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan" Ucap Tiara memberi intruksi pada Larisa sebagai dokter yang bertanggung jawab menangani proses persalinannya.


"Ayo sayang kamu pasti bisa" Sambung Alex memberi semangat pada istrinya yang kini mulai terlihat kelelahan.


"Sakit, aku tidak kuat lagi, sakit" Rintih Larisa yang kini terdengar putus asa.


"Kamu pasti bisa, ayo sedikit lagi" Ucap Tiara terus memberikan suntikan semangat pada Larisa agar ia kembali kuat untuk melalui proses persalinannya.


"Huuuu, huuuuu, huuuu" Larisa mulai menarik nafasnya dalam-dalam karena harus kembali berkuat agar bayinya segera lahir.


"Akkkkhhhhhhhhhhh" Larisa kembali berkuat, sekuat tenaga Larisa mendorong agar bayinya segera keluar.


"Ayo Larisa, kamu bisa, kamu kuat, ayo ayo" Ucap Tiara terlihat begitu semangat.


"Aku tidak bisa, aku sudah tidak kuat" Ucap Larisa kini terdengar suaranya yang mulai melemah.


"Jangan berbicara seperti itu sayang, aku yakin kamu pasti bisa" Ucap Alex kini mulai menitikan air matanya karena takut jika harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


"Akkkkhhhhhhhhhh" dengan sekali tarikan nafas dan dengan sisa tenaga yang Larisa miliki akhirnya ia kembali berkuat.


Owek... owek...


Terdengar suara bayi yang menangis begitu keras, sangking kerasnya, suara bayi itu terdengar sampai keluar ruangan. Membuat Tiana yang sedang menunggu diluar ruangan merasa bahagia mengetahui jika bayi Larisa telah Lahir.


Tiana tersenyum kearah Umi yang juga ikut menunggu bersama dirinya. Terlihat raut wajah Umi yang juga ikut bahagia mendengar tangis dari bayi Larisa.


Terlihat Larisa yang kini menitikan air mata saat melihat Alex menggendong bayi merah yang baru saja ia lahirkan sambil membacakan adzan ditelinga bayi mungil itu.


Setelah mengadzani bayinya, Alex lalu membawa bayi kecil itu kedalam pelukan Larisa, membuat Larisa nampak takjub dengan wajah bayi yang ada dalam pelukannya, duplikat Alex wajah bayi mungil itu sangat mirip bahkan sama dengan wajah Ayahnya.

__ADS_1


Tiara kemudian berjalan menghampiri keluarga kecil itu sambil melempar senyuman yang juga dibalas senyuman oleh Larisa dan Alex. Sama sekali tak ada rasa benci ataupun dendam karena sekarang Tiara dan Larisa sudah berteman baik.


"Selamat ya, aku ikut bahagia dengan kelahiran bayi kalian" Ucap Tiara terlihat raut wajahnya yang tulus dengan apa yang ia katakan.


Larisa melempar senyuman kearah Tiara yang berbicara sambil memandang wajah bayinya yang berada dalam pelukan Larisa.


"Terima kasih karena kau telah menyelamatkan Istri dan anakku" Ucap Alex yang duduk disamping Larisa yang kini mulai menyusui bayi mungil mereka.


Walaupun sempat terjadi drama karena bayi yang tak ingin menghisap ****** susu Ibunya, namun setelah terus dipaksa akhirnya bayi mungil itu mau juga menghisap susu Ibunya untuk pertama kalinya.


"Jangan berterima kasih, bukankah memang ini sudah menjadi tugasku" Ucap Tiara sambil membantu Larisa memegangi punggung bayinya yang sedang menyusui.


"Kau benar Alex, wajah anak ini sangat mirip denganmu. Ternyata ikatan batin seorang Ayah dan anaknya tidak pernah salah" Ucap Tiara terus menatap wajah bayi mungil tampan yang kini sedang terlelap didalam box bayi setelah merasa puas meminum ASI ibunya.


"Tentu saja aku tak akan pernah salah, karena aku begitu yakin dan sangat mengenali bibit yang aku tanam dalam perut Larisa" Ucap Alex membuat Larisa dan juga Tiara tertawa pelan mendengar apa yang Alex katakan.


"Masih sempat-sempatnya dia bercanda, mungkin dia sudah lupa bagaimana tadi ekspresi wajahnya yang ketakutan karena melihatku kesakitan" Ucap Larisa pada Tiara yang sedang membicarakan lelucon Alex.


"Iya betul, aku ingat bahkan wajahnya sudah pucat karena begitu ketakutan" Balas Tiara kemudian disusul dengan tawanya yang membuat Larisa juga ikut tertawa mengingat ekspresi suaminya kala itu.


"Terima kasih sekali lagi" Kini Larisa yang berbicara, dan dibalas senyuman oleh Tiara kemudian keluar dari rungan Larisa.


Beberapa saat kemudian, tak lama setelah Tiara yang keluar dari rungan perawatan Larisa. Tiana dan Umi kemudian masuk lalu berjalan kearah Larisa yang sedang berbaring, diatas brangkar sambil menatap Alex yang terus memandang wajah bayinya.


"Selamat ya" Ucap Tiana sambil memeluk Larisa yang sedang duduk diatas brangkarnya.


"Terima kasih kak, kalian sudah lama datang?" Ucap Larisa lalu melepaskan pelukannya dari Tiana.


"Lumayan, tadi waktu aku datang Robi bilang jika kau sudah masuk keruangan persalinan karena kau akan segera melahirkan"


"Wajah cucu Umi sangat tampan" Ucap Umi yang sedang menggendong bayi Larisa dan Alex.


"Aku juga ingin melihat keponakanku itu Umi" Ucap Tiana sambil meraih tubuh mungil yang baru saja lahir dari gendongan Uminya.

__ADS_1


Tiana terpana melihat duplikat wajah dari suami Larisa namun ini versi bayinya.


"Benar Umi, hanya bibirnya saja yang mirip Larisa. Keseluruhan lebih dominan wajah Alex" Ucap Tiana yang sedang mengamati wajah bayi mungil itu.


Mendengar apa yang Tiana dan Umi katakan Larisa dan Alex hanya tertawa pelan.


"Makanya aunty cepat menikah biar bisa dapat dedek bayi juga" Ucap Larisa sambil menirukan suara bayi.


Tiana hanya tertawa mendengar perkataan dari Larisa. Namun sejujurnya ia masih merasa bimbang, dengan keputusannya sendiri mengenai kelanjutan hubungannya dengan Azam.


"Bagaimana Umi sudah ada kemajuan mengenai perjodohan kak Tiana dan Ustad Azam? Tanya Larisa pada Umi. Namun sepertinya yang ditanya juga bingung tak tau harus menjawab apa. Karena sebetulnya Umi melihat jika belum ada kemajuan yang berarti antara hubungan Tiana dan Azam.


"Bagaimana kak? Kenapa kalian hanya diam saja" Tanya Larisa lagi, kini ia mulai bingung dengan tingkah Tiana dan juga Umi yang tak juga menjawab pertanyaannya.


Tiana kemudian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Larisa mengerti maksud dari Tiana.


"Ada apa kak, kenapa sampai sekarang belum ada kepastian mengenai hubungan kalian. Padahal ini sudah sebulan lebih berlalu, sebulan itu bukan waktu yang singkat loh kak"


"Aku masih bimbang dengan perasaanku sendiri Larisa. Aku masih trauma mengingat diriku yang dulu begitu gegabah memutuskan untuk terus melanjutkan pernikahanku dengan mas Ardian" Ucap Tiana berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan. Terdengar diakhir kalimatnya Tiana yang kemudian menghela nafas pelan.


"Aku pun juga dulu merasakan apa yang kakak rasa sekarang, aku bahkan merasa sangat sangat bimbang waktu itu karena harus memutuskan antara aku harus memilih Alex atau Ardian" Ucap Larisa yang seketika itu juga membuat Alex menoleh kearahnya.


"Namun aku terus meyakinkan diriku jika Ardian bukanlah orang yang tepat untukku, buktinya Tuhan memperlihatkan sifat asli Mas Ardian sehingga aku kini lebih memilih suamiku" Sambung Larisa yang membuat Alex tersenyum bahagia mendengar perkataan istrinya itu.


"Cobalah untuk membuka hati untuk Ustad Azam kak, jangan terlalu lama berpikir. Jika sudah merasa cocok segera katakan, jika tidak kakak jangan hanya diam saja" Ucap Larisa lagi membuat Tiana kini mulai menimbang-nimbang perkataan yang keluar dari mulut Larisa.


"Kakak sendiri yang pernah bilang padaku, jika kita menikah adalah Ibadah. Bersabar dan tabah yang paling utama. Jika suami kita mencintai kita, maka rasa syukur itu yang akan membawa kita kesurga. Namun jika seorang suami menyakiti kita makan sabar itu yang akan membawa kita kesurgaNya" Ucap Larisa, membuat Tiana terpana mendengar perkataan yang pernah Tiana katakan.


"Kamu benar, baiklah aku akan segera memberikan keputusanku, aku juga harus sholat istikharah dlu untuk meminta petunjuk kepadaNya. Semoga saja ada jawaban dari sholatku ini"


"Semoga kalian berdua memang berjodoh kak, sudah waktunya kakak juga merasakan nikmatnya ibadah


dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

__ADS_1


"Aamiin" Jawab Tiana dan Umi hampir bersamaan.


__ADS_2