
Setelah selesai mengisi lambung, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Umi dan juga Azam sudah masuk kedalam mobil yang tadi ia pesan melalui aplikasi miliknya. Sedangkan Larisa sendiri segera menuju keparkiran Mall setelah kepergian Azam dan Umi karena mobilnya yang berada disana.
Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, Larisa melihat jalanan yang padat merayap karena pada jam seperti ini para pekerja kantor mulai kembali kerumah mereka.
Larisa mulai merasa kedua bukitnya yang sudah mengeras meminta untuk segera dipompa, agar mengurangi rasa sakit karena cairan yang meminta untuk segera keluar.
Untung saja sebelum pergi, Larisa berinisiatif untuk membawa pompa ASI saat ia tadi kerumah Tiana.
Benda itu memompa secara otomatis, sehingga Larisa bisa tetap fokus menyetir dengan pompa yang terus menekan kedua bukitnya untuk mengeluarkan cairan berwarna putih yang menjadi sumber kehidupan bagi Kenan.
Tepat pukul 06.00 menjelang waktu magrib, akhirnya Larisa tiba juga dirumahnya.
Ia lalu segera berjalan masuk kedalam rumah untuk menemui Ibu mertuanya yang sejak tadi terus menghubunginya. Karena saat akan pergi Larisa menitipkan Kenan kepadanya.
Larisa ingin menitipkan Kenan kepada Mamanya, namun ditolak olehnya karena Mama Larisa yang beralasan akan pergi arisan bersama teman-teman sosialitanya.
"Kok perginya lama nak?" Tanya Bu Ayu yang sedang duduk disofa depan tv.
"Maaf Bu, Larisa pulangnya lama. Tadi banyak banget yang harus dibeli. Pas aku pulang jalanan ternyata macet banget, makanya sampe rumah baru jam segini" Ucap Larisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Loh Bu, Kenan mana?" Tanya Larisa kini mencari keberadaan Kenan yang tak terlihat olehnya.
"It's okay sayang" Jawab Bu Ayu singkat.
"Kenan dikamar sama Ayah. Tadi Ibu lihat mereka lagi asyik main-main" Ucap Bu Ayu lagi sambil fokus kelayar handphone miliknya.
"Bu, Alex mana?" Kini Larisa beralih mencari keberadaan suami tercintanya.
"Ada dikamar mungkin. Tadi Ibu lihat dia sudah pulang kerja" Jawab Bu Ayu namun masih tetap fokus pada layar handphonenya, yang memperlihatkan orang-orang yang sedang bergoyang-goyang dengan lantunan musik yang banyak diputar dimana-mana sangking bumingnya. Bahkan tadi Larisa sempat mendengar musik yang mertuanya dengar saat ia tadi berada di Mall.
"Emm" Larisa lalu meletakkan paperbag hadiah dari Azam diatas meja makan. Kemudian menuju kedapur untuk mengambil segelas air karena tenggorokannya yang terasa kering.
__ADS_1
Tiba-tiba muncul Mama Larisa yang juga baru sampai karena ia yang baru saja pulang dari acara arisan dengan geng sosialitanya.
Mata Mama tertuju pada paperbag dengan brand yang sangat ia kenal berada diatas meja. Ia lalu berjalan menghampiri paperbag milik Larisa dengan mata yang berbinar-binar.
Sangking terpesonanya dengan paperbag itu, Mama Larisa sampai tak menyadari jika ada besannya yang sedang memperhatikan gerak geriknya itu.
Mama Larisa tak menyadari kehadiran Bu Ayu karena memang tubuh Bu Ayu yang terhalang oleh sofa yang membelakangi meja makan. Namun sebaliknya, justru Bu Ayu menyadari kehadiran besannya itu karena suara selop Mama Larisa yang terdengar begitu nyaring ditelingannya.
Terlintas dipikiran jahat Mama Larisa untuk mengambil paper bag itu, setelah ia melihat jika ternyata isi dari paperbag itu adalah tas yang bisa Mama Larisa tebak harganya tidaklah murah.
Kepala Mama Larisa mulai celingak celinguk ingin memastikan jika tidak ada orang yang melihat aksinya. Bu Ayu yang melihat gerak gerik besannya itu semakin menundukkan tubuhnya agar Mama Larisa tidak bisa melihat keberadaannya.
Setelah yakin jika tidak ada siapa pun yang memperhatikan dirinya. Mama Larisa dengan cepat melangkah menuju kekamar sambil membawa paperbag berisi tas mahal milik Larisa yang baru saja ia dapatkan dari Azam.
Tak lama setelah kepergian Mama Larisa. Larisa akhirnya menuju kemeja makan untuk mengambil paperbagnya yang tadi ia taruh diatas meja makan.
Namun Larisa terkejut mendapati paperbag itu tak lagi berada diatas meja makan. Tapi, seingat Larisa ia tadi meletakkan paperbag miliknya itu diatas meja makan.
"Kemana perginya tasku?" Ucap Larisa risau sambil melihat kebagian bawah meja makan. Mungkin saja paperbagnya terjatuh, namun nihil karena paperbag miliknya ternyata benar-benar hilang. Tak tau siapa yang berani mengambil tas baru miliknya.
"Bu, Ibu lihat paperbag Larisa gak? Tadi Larisa taruh diatas meja makan. Kok bisa ilang ya" Ucap Larisa frustasi. Raut wajahnya kini berubah menjadi sangat cemas bercampur kesal dengan orang yang sudah mengambil tas miliknya.
"Tanyakan saja pada Mamamu" Jawab Bu Ayu singkat membuat sejenak tubuh Larisa terpaku ditempat mendengar kata yang Ibu mertuanya ucapkan.
"Kok Mama Bu, bukanya Mama lagi diluar?" Tanya Larisa kini dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi penasaran.
"Mama kamu baru pulang, lebih baik kamu segera menyusulnya kekamar agar tas kamu bisa kembali" Larisa seperti kurang percaya dengan apa yang Ibu mertuanya ucapkan. Tidak mungkin jika Mamanya yang telah mengambil tasnya.
"Kalo kamu tidak percaya lihat ini" Ucap Bu Ayu lagi sambil memperlihatkan rekaman video yang tadi sempat ia rekam, saat Mama Larisa yang sedang celingak celinguk sambil memegang paperbag miliknya.
Mata Larisa membola seakan mau keluar dari tempatnya saat ia melihat sendiri Mamanya yang ternyata mengambil tas miliknya.
__ADS_1
"Larisa pinjam handphone Ibu dulu ya" Ucap Larisa dan tanpa pikir panjang dan menunggu jawaban dari mertuanya, ia lalu bergegas menuju kekamar Mamanya.
Tanpa mengetuk atau memberi salam terlebih dahulu Larisa menerobos masuk kedalam kamar Mamanya yang memang tidak ia kunci.
Larisa terperangah memandang Mamanya yang sedang berpose sambil menenteng tas baru miliknya.
Cepat-cepat Larisa menghampiri Mamanya kemudian menarik paksa tas miliknya dari tangan Mamanya yang sudah ketahuan mengambil tas miliknya.
"Kenapa tas Larisa ada sama Mama?" Tanya Larisa begitu emosi mengetahui sikap Mamanya yang tak tau malu karena sudah mencuri tas miliknya.
"Mama curi tas aku ya?" Ucap Larisa lagi membuat Mamanya kini menatap dengan tatapan tajam, kearah anaknya yang telah mengatainya pencuri.
"Kamu nuduh Mama?" Mama kini balik bertanya.
"Mama gak tau kalo itu tas punya kamu. Tadi Mama lihat tas itu ada diatas meja makan, makanya Mama bawa kesini biar gak dicuri sama pelayan dirumah ini. Lagian kamu tas mahal begini ditaruh sembarangan. Nanti kalo dicuri beneran gimana" Elak Mama mulai beralasan. Namun Larisa tidak percaya dengan apa yang Mamanya katakan barusan.
"Mama gak usah bohong deh" Balas Larisa lagi Tak mau kalah. Kini ia benar-benar marah dengan sikap Mamanya yang tak tau malu sudah ketahuan mencuri dirumah anaknya sendiri.
"Kurang ajar ya kamu Larisa ngatain Mama bohong. Memangnya kamu punya bukti kalo Mama yang nyuri tas kamu?" Mama Larisa membalas sambil bertolak pinggang. Tak terima jika ia dianggap berbohong oleh anaknya sendiri.
"Aku punya buktinya. Jadi sebelum aku bertambah marah lebih baik Mama mengaku sekarang juga" Mendengar ancaman dari anaknya Mama Larisa mulai merasa cemas.
"Kenapa diam saja? Mama takutkan karena aku punya bukti atas kejahatan Mama" Ucap Larisa lagi sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Dan jika aku mau, Mama bisa saja mendekam dipenjara karena tas yang Mama curi bukanlah tas yang harganya murah. Kalo Mama mau tau harga tas ini 75 juta" Ancam Larisa lagi membuat Mamanya kini mulai merasa panas dingin karena benar-benar takut jika ia akan masuk penjara.
"Alah kamu cuma mau ngancam Mama doang kan" Balas Mama Larisa begitu pongahnya.
"Apa, ngancam?" Larisa tertawa karena tak habis pikir dengan Mamanya yang merasa jika apa yang ia katakan adalah sebuah ancaman.
"Ini kan buktinya, kalo Mama yang udah nyuri tas Larisa" Larisa lalu memperlihatkan bukti rekaman video yang memperlihatkan Mamanya yang membawa pergi tas miliknya.
__ADS_1
"Bagaimana, sudah cukup puas Mama lihat bukti yang Larisa punya?" Tanya Larisa sambil menaikkan kedua alisnya.
Kini Mama tak bisa lagi mengelak jika benar dirinya lah yang telah mencuri tas Larisa. Wajah Mama kini terlihat pucat dan mulai berkeringat dingin karena takut jika ia akan dimasukkan kedalam penjara.