
"Maafkan aku Tiana" Ucap Siti lirih kini mulai terisak karena air mata yang kini telah berhasil meluncur bebas dikedua pipinya.
Tiana bangkit lalu meninggalkan para sahabatnya karena tak tahan lagi dengan sikap Siti dimasa lalu yang telah memfitnah suaminya.
Bahkan Tiana tak mempedulikan lagi charger hpnya yang awalnya ingin ia ambil. Namun Tiana kembali lupa untuk mengambil charger hpnya itu sangking emosinya pada Siti.
Aisyah ingin menahan Tiana, namun Larisa memberinya kode dengan gelengan kepalanya agar Aisyah tidak perlu melakukan hal itu. Karena Larisa tau jika suasana hati Tiana saat ini sedang tidak baik.
Kini tinggallah mereka bertiga yang hanya diam sambil menatap Siti yang terus terisak.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi" Ucap Aisyah sambil memegang bahu Siti yang bergetar karena sesenggukan menahan tangisnya.
"Aku melakukan itu karena aku sangat mencintai Azam Aisyah. Azam adalah suamiku namun sekali pun tak pernah menyentuhku. Hatiku sakit Aisyah, ia tidak bisa mencintaiku dan malah memilih menceraikanku" Suara tangis Siti terdengar semakin keras, membuat beberapa pengunjung yang sedang berada didekat mereka bertiga menoleh memandang kearah Siti.
"Tapi tetap aja kakak salah kalo harus memfitnah orang lain, apalagi fitnah yang kakak buat beh, kejam banget kak. Beneran deh" Larisa memberanikan diri untuk menasehati Siti, karena Larisa mengerti bagaimana perasaan Tiana saat ini. Mungkin jika dirinya yang berada diposisi Tiana dan Alex yang difitnah seperti itu ia pun juga akan marah tentunya.
"Emangnya kamu tau apa itu impoten?" Aisyah malah bertanya pada Larisa karena seingatnya tadi Larisa sempat bertanya karena larisa tidak tau mengenai hal itu.
"Awalnya aku gak tau kak. Tapi ada ini" Jawab Larisa sambil memperlihatkan hp yang ada ditangannya. "Kan tinggal tanya eyangnya. Pasti semua pertanyaan bakalan dijawab. Makanya aku bisa tau apa itu impoten kak. Gitu" Ucapnya Larisa lagi.
"Tapi kamu jahat banget deh Siti. Aku gak nyangka kamu setega itu. Padahal kata kamu cinta sama Ustad Azam, tapi kok kamu malah tega sih sama dia" Ucapan Aisyah yang menohok berhasil menyadarkan Siti dari lamunannya.
"Aku seperti itu karena aku tidak ingin ada yang memiliki Azam" Ucap Siti dengan ekspresi datar dan tatapan kosongnya.
"Aku tau jika aku sangat egois waktu itu, karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan aku sampai menyakiti orang yang kucintai" Ucapnya lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang kini kembali mengeluarkan air mata.
Larisa mulai kasihan melihat Siti yang terlihat begitu menyesali perbuatannya. Ia lalu mengusap pundak Siti yang kini kembali menangis.
"Kenapa tidak minta maaf?" Tanya Aisyah.
"Waktu itu aku ingin meminta maaf kepada Azam tapi aku tidak bisa bertemu dengannya" Jawab Siti.
"Menurut tetangga yang bertetangga dengan rumah orang tua Azam, kata mereka Azam waktu itu pergi merantau ke kota. Dan rumah orang tua Azam sudah ia jual sebagai bekalnya merantau disana" Ucap Siti lagi memberi tahu kepada Aisyah jika selama ini ia pun sebenarnya juga mencari keberadaan mantan suaminya itu karena ingin meminta maaf atas kesalahannya.
"Ustad Azam kan pasti punya saudara kak, kenapa tidak mencari tahu lewat saudaranya?" Tanya Larisa.
"Azam memiliki satu saudara laki-laki, tapi aku tidak tau saudaranya itu dimana. Menurut tetangga yang waktu itu aku tanya, saudara Azam juga pergi meninggalkan kampung halamannya setelah kepergian Azam untuk merantau kekota" Jawab Siti sambil menghapus air matanya.
"Aku bisa minta tolong gak sama kalian?" Tanya Siti dengan matanya yang mulai sembab karena terlalu banyak menangis. Mendengar perkataan dari Siti dengan ekspresi serius diwajahnya, kedua wanita hamil itu kini memfokuskan pandangan mereka pada Siti.
"Kamu mau minta tolong apa?" Tanya Aisyah lebih dulu.
"InsyaAllah kalo kita bisa. Pasti kita akan bantu Kakak" Tambah Larisa.
__ADS_1
Terlihat Siti yang mulai menyunggingkan senyum karena mendengar ucapan dari kedua sahabatnya
"Aku ingin minta tolong untuk sampaikan permintaan maafku ini pada Tiana dan juga Azam" Ucap Siti bersungguh-sungguh. Baik Larisa maupun Aisyah bisa melihat kesungguhan dari permintaan maaf Siti barusan. Mereka berdua bisa melihat kesungguhan dari sorot mata Siti yang sama sekali tidak sedang berpura-pura.
"Kenapa tidak meminta maaf langsung saja pada Tiana dan Ustad Azam?" Tanya Aisyah.
"Aku sangat malu harus menampakkan wajahku didepan mereka berdua. Setelah ini aku berjanji tidak akan pernah lagi muncul dihadapan kalian. Terutama dihadapan Tiana dan juga Azam" Wajah Siti terlihat begitu sedih karena akan pergi dari kehidupan para sahabatnya.
"Tapi kakak tidak perlu pergi, kita masih bisa menjalin silaturahmi. Selama ini kalian bertiga sudah lama bersahabat, dan kalian saling menyayangi satu sama lain. Tentu saja Kak Tiana dan Ustad Azam akan memaafkan Kakak, apalagi selama ini ternyata Kakak juga mencari Ustad Azam untuk meminta maaf. Iya kan kak?" Balas Larisa yang berusaha memberi nasehat kepada Siti, lalu beralih pada Aisyah untuk mencari dukungan darinya, jika apa yang ia katakan adalah benar.
"Aku malu sama perbuatanku pada Azam" Ucap Siti tetap kekeh pada pendiriannya yang akan menjauh dari kehidupan Tiana.
"Jangan seperti ini kak, kesalahanku bahkan lebih besar karena aku sehingga pernikahan Kak Tiana dulu batal" Ucap Larisa lagi.
"Kak Tiana pasti memaafkan Kakak. Aku akan berusaha bicara sama dia, jika Kakak selama ini sebenarnya mencari keberadaan Ustad Azam untuk meminta maaf. Namun terhalang karena Kakak yang tidak bisa lagi menemukan dimana keberadaannya waktu itu" Tambah Larisa panjang lebar.
"Iya Siti. Kamu kan sudah menyadari kesalahanmu. Tiana pasti pelan-pelan akan memaafkanmu, kamu kan tau sendiri sifat Tiana yang kalo lagi marah tidak bisa lama-lama" Aisyah juga kini mulai menasehati sahabatnya itu. Walaupun awalnya ia sangat kesal pada Siti namun, ia tidak bisa membiarkan jika sahabatnya itu pergi dan menjauh dari hidupnya, karena Aisyah sudah menganggap Siti seperti saudara sendiri.
"Biarkan aku pergi. Jika hatiku sudah pulih, aku akan kembali. Percaya lah, aku hanya pergi untuk menata kembali hatiku yang rapuh. Secepatnya aku akan kembali" Wajah Larisa dan Aisyah nampak semakin sedih mendengar ucapan Siti yang benar-benar akan pergi.
Siti menggenggam kedua tangan sahabatnya, ia sedih akan berpisah dengan orang yang sangat ia sayangi. Apalagi Siti dan Aisyah yang sudah bersahabat sejak mereka mengenyam pendidikan dibangku perkuliahan. Tentu saja waktu yang tidak sebentar yang telah mereka lalui bersama. Dan tentunya sudah banyak momen dan cerita yang tidak akan mudah bagi mereka untuk dilupakan begitu saja.
Air mata yang berusaha untuk Siti tahan, akhirnya kembali keluar karena tak sanggup melihat wajah sedih kedua sahabatnya. Bahkan Siti melihat Aisyah yang mengusap pipinya karena air mata yang juga sudah mulai tak bisa diajak berkompromi lagi.
"Aku jan..." Belum sempat Siti memyelesaikan ucapannya, Aisyah yang sudah tak bisa lagi menahan dirinya lalu memeluk tubuh Siti yang kini terisak dalam pelukannya.
Larisa memandang kedua sahabatnya yang terlihat begitu sedih karena akan segera berpisah. Sampai-sampai Larisa juga menitikkan air matanya. Lantas mengusap lembut pundak Siti dan juga Aisyah secara bersamaan.
"Aku janji. Aku akan kembali" Balas Siti sesenggukan.
"Dan kau harus berjanji, harus menghubungiku terus. Awas saja jika kau memblokir nomorku, aku akan mencarimu sampai keujung dunia" Ucap Aisyah membuat Siti terkekeh mendengar ancaman dari sahabatnya itu.
"Aku janji" Balas Siti pelan lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Aisyah dan begitu juga sebaliknya.
***
Setelah pertemuan mereka berempat dengan Siti dicafe waktu itu. Beberapa hari kemudian, Larisa dan juga Aisyah menemui Tiana untuk menyampaikan pesan permintaan maaf dari Siti untuk dirinya dan juga Azam.
Mereka berdua menceritakan mengenai Siti yang selama ini mencari keberadaan Azam untuk meminta maaf kepadanya atas kesalahannya.
Azam yang kala itu juga mengetahui mengenai Siti yang ternyata adalah sahabat dari istrinya begitu kaget karena tidak menyangka ternyata Siti selama ini berada diantara orang-orang yang berinteraksi dengan dirinya. Dan tak kalah membuat Azam kaget ternyata saat akad nikah Tiana dan juga dirinya, Siti bahkan hadir diacara pernikahannya waktu itu.
Pantas saja Azam yang waktu itu melihat Siti yang berada diantara para sahabatnya merasa tidak asing dengan wajahnya Siti.
__ADS_1
Namum, Azam tak memperdulikan lagi tentang orang yang wajahnya begitu tidak asing baginya karena Azam yang kala itu terpana dengan penampilan istrinya yang terlihat begitu menawan walaupun wajahnya tertutup oleh cadarnya.
Aisyah menyampaikan permintaan maaf Siti kepada Azam. Aisyah memberitahu Azam jika selama ini Siti mencari keberadaannya untuk meminta maaf atas kesalahannya.
Azam yang mendengar apa yang Aisyah katakan hanya bisa tersenyum tanpa arti. Namun, sebelum Aisyah yang menyampaikan permintaan maaf dari Siti, jauh sebelum siti meminta maaf Azam sudah memaafkan dan berusaha untuk mengubur masa lalunya itu.
Waktu itu, Azam yang memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya untuk merantau kekota. Dalam benak Azam kala itu ia hanya ingin bisa merubah nasibnya diperantauan. Dengan berbekal uang hasil penjualan rumah kedua orang tuannya, Azam mulai mengembangkan usahanya dibidang kuliner. Dan berkat kerja kerasnya dan semangat pantang menyerah yang Azam miliki ia mampu mengembangkan usahanya perlahan-lahan dan bahkan kini sampai kemanca negara.
Azam sedikit pun tak pernah memikirkan lagi tentang masa lalu pernikahannya yang pernah kandas bersama Siti.
Apalagi waktu itu, Azam yang merasa ingin lebih dekat dengan Tuhannya memutuskan untuk belajar agama dipondok pesantren Abah Ahmad yang kini menjadi Ayah mertuanya.
Karena kesungguhannya dan latar belakang pendidikan Azam yang merupakan lulusan dari universitas ternama di Mesir. Sehingga Abah Ahmad menjadikannya sebagai salah satu pengajar dipondok pesantren Abah Ahmad dengan jurusan Bahasa Arab.
Semenjak Abah menjadikannya salah satu pengajar dipondok pesantrennya. Azam yang kala itu sedang berada dirumah Abah Ahmad tak sengaja melihat putri sulung dari Abah Ahmad yang tak lain adalah Tiana. Azam merasa jatuh hati dengan penampilan dan kepribadian Tiana saat itu. Namun karena ia yang berstatus duda membuatnya tak percaya diri untuk mendekati anak dari ulama besar yang merupakan pimpinan sekaligus pemilik dari pondok pesantren ia mengajar serta belajar tentang ilmu agama.
***
Tiana begitu kesusahan saat berjalan karena usia kandungannya yang kini memasuki trimester ke tiga. Membuatnya mulai susah untuk beraktivitas karena perutnya yang kini terlihat sudah sangat membesar karena tak lama lagi ia akan segera melahirkan.
Walaupun merasa sedikit kewalahan dengan kehamilan pertamanya. Namun Tiana tetap bersyukur karena ia memilik suami yang selalu siap siaga 24 jam mendampinginya.
Tiana, Larisa, dan juga Aisyah melahirkan diwaktu yang tak begitu jauh jaraknya.
Aisyah yang lebih dulu melahirkan, kemudian Larisa, lalu disusul dengan Tiana yang akhirnya juga melahirkan bayinya.
Mereka bertiga masih sering mengobrol digroup wa untuk sekedar melepas rasa rindu mereka pada Siti yang kini sedang berada dikota lain.
Tiana sudah memaafkan Siti, dan semenjak saat itu mereka kembali bersahabat seperti dulu lagi dan berusaha untuk menerima kenyataan jika Siti adalah mantan istri suaminya. Namun sedikit pun Tiana tidak memiliki rasa dendam atau pun benci kepada Siti, karena bagi Tiana memaafkan lebih penting dari pada menyimpan amarah dalam hati yang hanya akan mengotori hati dan juga pikirannya.
Mereka bertiga hidup bahagia dengan kehidupan rumah tangga mereka masing-masing.
Disaat orang yang pernah menjadi pesaingnya dalam persaingannya memperebutkan cinta wanita yang kini menjadi istrinya. Malah kini Ardian menjadi partner Alex
dalam melebarkan usaha dan juga bisnisnya.
Dengan dibantu oleh Azam yang lebih dulu sukses dibandingkan mereka berdua. Dengan bimbingan dari Azam sehingga Ardian dan juga Alex bisa mengikuti jejak Azam untuk melebarkan bisnisnya sampai ke benua Asia.
Mereka hidup bahagia dan tanpa memandang ataupun mengungkit kesalahan yang orang lain perbuat dimasa lalunya. Karena yang terpenting bagi mereka adalah apa yang bisa mereka jalani dimasa depan.
Sehingga berusaha untuk memaafkan dan tak mengingat kesalahan dimasa lalu yang hanya akan memperlambat proses perjalanan mereka menuju kemasa depan.
"TAMAT"
__ADS_1