
( Dikantor Ardian AAGroup )
Ardian yang sedang sibuk memainkan laptopnya tak bisa fokus karena Rara terus saja mengganggunya, Ardian merasa sangat kesal karena tingkah Rara yang tak tau aturan, ia takut jika karyawan lain akan memergoki mereka.
Ardian takut jika ada karyawan yang melihat mereka, lalu melaporkannya kepada bapak, itu akan menjadi masalah besar buat Ardian.
"Rara jangan seperti ini, ini dikantor jadi aku minta jaga sikapmu"
"Jika kau masih tetap ingin bekerja disini, sekarang sebaiknya kau keluar dari ruanganku, aku banyak kerjaan, kalo kau terus menggangguku aku tak bisa fokus dengan pekerjaanku"
"Bapak marah? Saya kan tidak melakukan apa-apa, saya cuma ingin menghibur bapak"
"Rara kamu jangan sampai membuat saya bertambah marah ya, sekarang juga keluar dari ruanganku"
Suara teriakan Ardian menggema memenuhi ruangan membuat Rara kaget, Rara menjadi kesal karena Ardian yang marah kepadanya sedangkan ia merasa tak melakukan kesalahan apapun"
Rara lalu melangkah keluar dari ruangan Ardian dengan menghentak-hentakkan kakinya karena mendapat amarah dari Ardian.
"Awas saja kau, aku tidak akan melepaskanmu, kau akan bertekuk lutut dihadapanku memohon agar aku mau menjadi istrimu"
Gumam Rara dalam hati sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan Ardian.
Tak lama kemudian Larisa tiba-tiba datang kekantor untuk menemui Ardian.
Ia sempat berpapasan dengan Rara saat akan masuk keruangan Ardian, namun Larisa seakan tak menyukai Rara, ia tak menyukai penampilan Rara yang sangat seksi.
Larisa kemudian membuka pintu ruangan Ardian dan mendekat kearahnya.
Ardian masih tak menyadari jika yang masuk adalah Larisa, ia mengira yang masuk keruangannya itu adalah Rara lagi.
"Rara aku mohon jangan ganggu aku, jangan karena aku mengizinkanmu waktu itu bersamaku, sehingga kau bisa berbuat seenaknya"
Ucap Ardian datar, merasa tak ada jawaban dari Rara akhirnya ia menoleh dan menemukan bahwa yang ada didekatnya adalah Larisa bukanlah Rara.
Seketika wajah Ardian menjadi pucat, ia mulai berkeringat dingin, ia takut jika Larisa mendengar apa yang ia katakan dan mengetahui apa yang ia lakukan dengan Rara.
"Apa lihat-lihat? Maksud omogan mas itu apa? Haaaa"
Ardian nampak kaget dengan penampilan baru Larisa, ia terkejut melihat Larisa yang dulu sangat seksi berubah menjadi wanita muslimah.
"Sejak kapan kamu berada disini?"
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan ya mas, aku tanya maksud dari omongan mas tadi itu apa dan Rara itu siapa? jawab aku mas"
Ardian mulai bingung, ia tak tau harus menjawab apa pada Larisa.
"Kenapa diam saja mas, Rara itu siapa?"
"Di..dia itu asisten pribadiku"
"Yang tadi keluar dari ruangan mas itu, yang bajunya kekurangan bahan, itu kan?"
"Iy..iya"
"Terus apa maksud mas bilang waktu itu bersama Rara, memangnya mas kemana sama Rara?"
Sejenak Ardian diam dan mulai berpikir, ia harus menemukan alasan yang tepat agar Larisa tak curiga kepadanya.
Tak lama kemudian, akhirnya ia menemukan alasan apa yang akan ia berika kepada Larisa.
"Waktu itu aku ada undangan dengan rekan kerja bisnisku, aku sengaja mengajaknya, tapi sepertinya ia salah paham, ia mengira aku menyukainya, padahal aku mengizinkannya untuk ikut bersamaku agar ada yang membantu menghandle urusan pekerjaan saat aku sedang berbicara dengan rekan bisnisku, tidak ada maksud lain, kamu jangan salah paham dulu"
"Mas gak bohongkan?"
__ADS_1
"Untuk apa mas bohong, kamu tau sendirikan aku ini sekarang seorang pengusaha, semua perempuan pasti akan senang kalo dekat dengan aku"
Jawab Ardian berusaha meyakinkan Larisa jika benar ia tak ada apa-apa sama Rara.
"Tapi aku gak suka ya mas sama asistenmu itu, aku gak suka karena penampilannya itu terlalu seksi, dia itu mau pergi kerja atau pergi jual diri sih mas?"
"Kenapa tidak suka? dulu kamu juga berpakaian sama seperti dia, kenapa sekarang kamu malah tidak suka lihat penampilan Rara? kamu lupa, atau kamu sudah hilang ingatan, makanya sekarang penampilan kamu berubah seratus delapan puluh derajat, kamu bilang gak suka lihat Rara berpakaian seksi, kamu sadar, dulu kamu juga sama seperti dia"
Perkataan Ardian berhasil membungkam Larisa, bagaimanapun apa yang Ardian katakan adalah benar, dulu ia juga sangat suka berpakaian seksi.
"Mas kok malah belain Rara sih?"
"Aku bukannya belain Rara, tapi apa yang aku katakan memang benar, sekarang aja kamu baru sadar, dulu-dulu kamu kemana?"
"Awas aja ya kalo mas ada main dibelakang aku sama si Rara itu"
"Apaan sih kamu, ya gak mungkinlah"
Ardian akhirnya merasa lega, untung saja Larisa mempercayai apa yang ia katakan.
"Ya sudah ini, aku bawain kamu bekal makan siang, kamu pasti belum makan kan?"
"Kok tumben, sekian lama kita sama-sama baru kali ini kamu bawain makan siang untukku, pasti ada maunya ya?"
"Apaan sih mas, udah nih makan dulu"
Larisa mulai menyiapkan makanan yang ia bawa untuk Ardian.
"Kamu tidak masukin apa-apa lagi kan kemakanan ini?"
Tanya Ardian, ia takut jika Larisa menjebaknya kembali.
"Apaan sih mas, ya udah kalo kamu gak percaya sini aku bawa pulang lagi makanannya.
"Eh, eh, ya jangan, kan aku cuma nanya, kali aja penyakit mesummu itu kambuh lagi.. hehehehe"
"Massss"
Panggil Larisa dengan nada suara yang dibuat lembut.
"Emmm"
"Maafkan aku mas"
Ardian lalu menoleh kearah Larisa yang duduk tepat disampingnya, ia bingung kenapa Larisa tiba-tiba meminta maaf kepadanya.
Ardian menatap wajah Larisa sambil menaikkan kedua alisnya, menuntut jawaban dari apa yang Larisa katakan.
"Maafkan aku, karena aku pernikahan mas dan kak Tiana harus batal"
Larisa berbicara sambil memandang kebawah dan menaut-nautkan kedua tangannya, ia tak berani memandang wajah Ardian.
"Bukankah ini yang kamu inginkan?"
Jawab Ardian sambil kembali menyuapi makanan kemulutnya.
"Dan sejak kapan kau memanggil Tiana dengan sebutan kakak, sejak kapan kamu jadi adiknya?"
"Sekarang aku dan kak Tiana bersahabat"
Ardian terbatuk mendengar apa yang Larisa katakan
"Serius?"
__ADS_1
"Iya mas, aku minta tolong sama dia buat ajarin aku tentang ilmu agama, aku pikir awalnya ia pasti menolak karena aku..."
Larisa menggantungkan perkataannya.
"Karena aku makanya pernikahan kalian batal"
Ardian menghentikan makannya, lalu menatap kearah Larisa sambil tersenyum.
"Sudah, jangan bahas itu lagi, kau membuat nafsu makanku jadi hilang"
"Maafkan aku mas, mas gak marahkan sama aku?"
Namun Ardian tidak mempedulikan pertanyaan dari Larisa, ia hanya sibuk memasukkan makanan kedalam mulutnya tanpa mempedulikan ocehan dari Larisa.
Dalam hati, Ardian sebenarnya sangat marah dan kesal kepada Larisa, ia seakan ingin membencinya namun ia tak ingin melakukan itu.
Walaupun pernikahannya dan Tiana batal karena Larisa, ia tak bisa untuk berbuat kasar kepadanya, apalagi ia sedang dalam keadaan hamil.
Dia dan Larisa akan segera menikah, orang tuanya akan sangat marah jika mereka tau kalau ia menyakiti Larisa.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Ardian kembali sibuk dengan laptopnya, sedangkan Larisa mulai membersihkan kotak bekal makan siang yang telah Ardian habiskan isinya.
"Larisa"
"Ada apa mas"
"Aku senang melihat kamu yang sekarang, kamu mau berusaha untuk menjadi wanita yang lebih baik, semoga kedepannya sampai seterusnya kamu bisa konsisten dengan apa yang telah kamu pilih.
"Iya mas, semua ini karena kak Tiana"
"Mungkin kalo aku tidak ketemu sama kak Tiana, hidupku pasti masih berada dalam kegelapan, sibuk mencari kesenangan duniawi mas"
"Sudah, kayaknya nanti kamu bakalan jadi fans Tiana, dari tadi bahasnya dia terus"
Jawab Ardian yang mulai merasa terganggu karena Larisa tak berhenti membahas tentang Tiana.
"Mas aku mau nanya"
"Apa itu"
"Ibu kamu bilang kak Tiana mau menerimaku menjadi adik madunya, dan menyuruhmu untuk menikahi kami berdua, apakah itu betul mas?"
Sejenak Ardian terdiam, lalu mulai mengingat kata-kata yang dulu Tiana sempat katakan jika ia menyuruhnya untuk menikahinya dan Larisa.
"Iya benar, ia memberiku solusi agar menikahi kalian berdua?
"Apa? Serius mas, beneran kak Tiana ngomong kayak gitu?
Tanya Larisa yang sangat penasaran dengan yang dikatakan Ardian.
"Iya beneran, bawel banget sih, kalo kamu tidak percaya, tanyakan saja sama Tiana langsung"
"Bukan begitu mas, kok ada ya wanita seperti kak Tiana, yang rela dirinya dipoligami, setauku malah, wanita akan sangat menolak jika suaminya ingin menikah lagi, tapi ini kak tiana sendiri yang memberi solusi seperti itu, aku heran hatinya itu terbuat dari apa ya mas?"
"Waktu aku datang dan ketemu dia untuk menyuruhnya membatalkan pernikahan kalian, kupikir ia akan marah lalu akan berbuat kasar kepadaku, tapi kenyataannya tidak mas, begitu juga saat aku datang lagi kerumahnya, meminta bantuannya untuk membantuku belajar ilmu agama, dan dengan senang hati ia mau membantuku"
"Aku jadi malu sama diriku yang dulu mas, kak Tiana itu manusia atau malaikat sih?"
Ardian yang mendengarkan kata-kata Larisa tak sedikitpun mempedulikannya, ia hanya sibuk dengan pekerjaannya.
***
Setelah kepergian Larisa, Ardian masih saja berada dalam ruangannya, ia duduk termenung sambil mengingat apa yang Tiana pernah katakan kepadanya.
__ADS_1
Ia terus saja mengingat kata-kata Tiana, Pernikahan Dua Cincin? apakah memang bisa seseorang hidup berumah tangga dengan memiliki istri lebih dari satu orang? Ardian mulai berandai-andai jika saja pernikahannya dengan Tiana dan Larisa tetap terjadi.
"Tiana, apa kabarmu bidadari surga"