
Deg.
Sidan yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut Aisyah merasa sangat kaget, ia akhirnya menyesal karena telah menceraikannya.
"Maafkan aku Aisyah, aku khilaf, aku sebenarnya tidak bersungguh-sungguh akan menceraikanmu, aku hanya mengancammu, karena kau telah melaporkanku kepolisi. Kumohon maafkan aku, aku tak tau jika semuanya akan seperti ini"
Ucap Sidan berusaha memegang kedua tangan Aisyah, namun Aisyah sendiri menolak jika disentuh olehnya.
"Memangnya jika aku mengatakan kalau aku hamil kau akan berhenti untuk tidak menyakitiku, dan membuat hati dan perasaanku tidak merasakan sakit karena kau ingin menikah lagi. Aku berpikir aku mengatakannya padamu atau tidak, juga tidak akan merubah sikapmu kepadaku"
"Hari ini kau telah kehilangan gelar sebagai seorang suami beserta seluruh hakmu kepadaku. Aku ingin kau mengembalikanku kepada kedua orang tuaku, mari kita selesaikan saja pernikahan yang penuh dengan penderitaan dan air mata ini, aku sudah lelah, aku telah kehilangan harapanku satu-satunya, dan itu karena kamu"
Ucap Aisyah mulai berontak, ia berbicara dengan penuh amarah yang meledak-ledak.
Setelah lama Aisyah memendam semua suka duka yang ia rasakan selama ini ketika berumah tangga bersama Sidan,
akhirnya amarah itu keluar juga, bersama dengan kenyataan pahit yang harus ia terima jika bayinya kini telah tiada.
"Aku bukan istrimu lagi, jadi lebih baik sekarang kau pergi, tunggulah sampai aku benar-benar pulih, aku akan mewujudkan impianmu yang ingin menikah dengan wanita lain, tapi maaf saja, aku yang akan lebih dulu menceraikanmu"
Ucap Aisyah dengan amarah yang kini mulai membuncah.
Melihat sahabatnya yang begitu marah, Tiana tak berusaha untuk menghentikan Aisyah sedikitpun, Karena ia tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu setelah kehilangan bayi dalam perutnya. Membuat amarah yang selama ini ia pendam akhirnya meledak juga. Tiana membiarkan Aisyah mengeluarkan segala sakit hatinya selama ini, agar ia bisa merasa lebih baik setelah mengeluarkan semua apa yang telah lama ia pendam.
Tiana mengerti bagaimana perasaan sahabatnya yang selama ini diperlakukan dengan tidak baik oleh suaminya sendiri. Selain itu, Tiana juga mengerti bagaimana perasaan seorang ibu jika harus kehilangan anaknya.
"Kau masih istriku Aisyah, kau masih istri sahku, aku belum benar-benar menceraikanmu, perkataanku tadi hanya sebuah ancaman"
Ucap Sidan dengan ekspresi memohon kepada Aisyah terlihat raut wajahnya kini yang mulai cemas.
Sekarang giliran Sidan yang merasakan sakitnya mendengar apa yang Aisyah katakan jika ia juga sangat ingin bercerai dengan dirinya.
Sidan tak menyangka jika ia yang awalnya ingin memberi pelajaran pada Aisyah, malah dia yang kini mendapat batunya.
"Aku memang masih istrimu secara hukum, tapi secara agama kau sudah menceraikanku dan itu artinya aku bukan istrimu lagi. Dan lebih kejamnya lagi, didepan sahabatku kau tega menjatuhkan talak kepadaku, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku"
"sadar atau tidak, sekarang kau bukan suamiku lagi, kau mengatakan akan menceraikanku didepan sahabatku, itu jatuhnya sah, karena ada Tiana dan Larisa yang menjadi saksi"
Aisyah berbicara menunjuk kearah Tiana, namun tiba-tiba ia heran karena tak ada Larisa disana.
Sejenak Aisyah menghentikan perkataannya dan berusaha mencari keberadaan Larisa.
__ADS_1
"Kau kenapa, apa ada yang kau butuhkan?"
Ucap Sidan melihat Aisyah yang sedang mencari sesuatu.
"Diamlah, jangan berusaha mencari simpatiku dengan memberiku perhatian, maaf sebaiknya kau pergi saja, keberadaanmu disini hanya membawa luka dihatiku"
Aisyah berbicara sambil memejamkan kedua matanya, tak sanggup menatap wajah suaminya yang telah membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Tenanglah Aisyah, jangan berbicara seperti itu, ingat sekarang ini kau sedang dalam emosi"
Ucap Tiana sambil memegang kedua pundak Aisyah.
"Dan kau sendiri mas, benar kata Aisyah lebih baik jika kau jangan disini dulu, jika Aisyah telah sembuh total baru kalian bisa membicarakan bagaimana kelanjutan dari hubungan kalian berdua"
Pinta Tiana sambil menoleh kearah Sidan dan menyuruhnya untuk pergi. Karena keberadaannya hanya akan membuat kondisi sahabatnya malah akan semakin buruk.
Mendengar perkataan dari Tiana, Sidan hanya menundukkan wajahnya, karena dirinya mulai menyadari apa yang sejak tadi Tiana katakan adalah benar.
Terlihat Sidan yang bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Melihat Sidan yang pergi meninggalkan dirinya, Aisyah kembali terisak. Isak tangisnya terdengar begitu pilu, membuat Tiana kasihan melihat keadaan sahabatnya.
Aisyah menangisi kebodohannya, kenapa dirinya tak meminta cerai dengan Sidan lebih cepat, agar bayi yang ada dalam perutnya masih ada sampai sekarang.
Aisyah menoleh kearah Tiana, seperti tak menyukai perkataan dari sahabatnya itu.
"Tidak ada seorang ibu yang ingin kehilangan anaknya, namun Tuhan sepertinya memiliki rencana lain, Tuhan mengambil anakmu agar suamimu mungkin bisa sadar dengan kesalahannya, apakah kau tidak melihat penyesalan yang tampak diwajah suamimu? Ia sangat merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi kepadamu Aisyah"
Ucap Tiana dengan ekspresi serius diwajahnya.
"Yakinlah, Allah akan menggantikan kesedihanmu dengan sebuah kebahagian, asalkan kau mau bersabar menjalani dan menerima apa yang telah terjadi kepadamu"
Aisyan hanya diam mendengar nasehat yang diberikan oleh sahabatnya itu.
Hatinya tak bisa menyangkal jika ia masih sangat mencintai suaminya itu, namun kekecewaan dirinya pun tak kalah besar karena harus kehilangan bayi yang ada dalam perutnya.
Tiana mendekat dan memegang pundak Aisyah dengan lembut, berusaha untuk memenangkan sahabatnya itu dengan membelai punggungnya.
Tangis Aisyah masih belum berhenti, matanya kini mulai bengkak karena sejak kedatangan Sidan tadi pagi yang akan menjemputnya, sampai sekarang ia tak henti-hentinya terus mengeluarkan air mata.
"Sudah jangan menangis terus, sekarang kau istirahatlah agar kesehatanmu cepat pulih. Baru setelah itu kau bisa membicarakan masalah rumah tanggamu dengan suamimu"
__ADS_1
"Tapi dia telah menceraikanku, karena dia juga aku harus kehilangan bayiku"
Ucap Aisyah sesenggukan.
"Aku mengerti perasaanmu, perceraian memang tidak dilarang dalam agama kita, tapi itu sangat dibenci oleh Allah. Aku harap kau mau membicarakan masalah ini dengan baik-baik bersama suamimu, ingatlah Aisyah, cukup dia saja yang kini menyesal karena telah menyakitimu, dan kehilangan bayi yang ada dalam perutmu, jangan sampai nanti kamu juga yang akan menyesal karena terlalu terburu-buru mengambil keputusan"
Ucap Tiana sambil memeluk Aisyah dan membelai lembut puncak kepala sahabatnya itu.
Aisyah hanya diam menimbang-nimbang apa yang Tiana katakan.
Berusaha berpikir dengan kepala jernih agar dirinya bisa menemukan solusi, dan mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya.
Apakah harus bercerai, atau memaafkan Sidan dan kembali memperbaiki rumah tangganya.
"Larisa mana? Kenapa aku tak melihatnya sejak tadi?"
Tanya Aisyah sambil menelusuri seluruh bagian ruangan.
"Larisa tadi pingsan dan sekarang berada diruangan perawatan tepat disamping ruanganmu ini"
Jawab Tiana memberitahu keberadaan Larisa.
"Kenapa Larisa bisa pingsan? tapi dia baik-baik saja kan, aku tak ingin dia merasakan apa yang aku rasakan, harus kehilangan seorang bayi yang sangat aku inginkan kehadirannya"
Tanya Aisyah dengan ekspresi kaget serta khawatir diwajahnya yang terlihat sangat pucat.
"Dia baik-baik saja, tadi dokter sudah memeriksa keadaanya. Sekarang kau istirahat dulu, aku akan kesebelah dulu melihat keadaan Larisa"
Tiana lalu mengambil selimut yang sempat jatuh kemudian menutup kembali tubuh Aisyah.
Tiana keluar dari ruangan perawatan Aisyah dan menuju karuangan Larisa.
Sesampainya disana Tiana melihat Larisa sudah sadar dan ada Alex yang duduk disampingnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik"
Tanya Tiana mendekat kearah Larisa sambil memegang tangannya disisi lainnya.
Larisa menjawab pertanyaan Tiana hanya dengan menganggukan kepalanya.
Disampingnya ada Alex yang setia menemani dengan terus menggenggam tangan Larisa tak ingin melepaskan genggaman tangan itu.
__ADS_1
Larisa yang baru sadar dengan apa yang Alex lakukan, kemudian berusaha melepaskan genggaman tangan Alex, karena Larisa merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu saat ada orang lain didekatnya.