PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 68 SELANGKAH LEBIH SERIUS


__ADS_3

"Aku juga sebenarnya tidak tau jika kau adalah sainganku untuk mendapatkan Larisa. Aku berusaha untuk melupakannya karena Larisa yang selalu menghindar dariku" Ucap Alex sambil menautkan kedua tangannya diatas meja kerja Ardian yang terus mendengarkan cerita darinya.


"Selama berbulan-bulan aku seperti orang gila karena mengetahui jika Larisa hamil. Namun dia mengatakan jika anak itu adalah anak orang lain. Tapi aku merasa yakin jika aku lah Ayah dari anak itu. Dan sekarang itu semua terbukti" Ucapnya lagi sambil tertawa mengingat kebodohannya dulu yang begitu sangat mencintai Larisa.


"Aku ikut senang mendengarnya" Ucap Ardian juga ikut tersenyum.


"Maaf waktu itu aku tidak sempat hadir keacara pernikahanmu dengan Rara. Aku ucapkan selamat, semoga kau juga segera bisa memiliki momongan"


"Terima kasih. Tapi apa yang membuatmu ingin mengajakku untuk bekerja sama kembali?"


"Aku pikir perusahaanmu masih baru, tentu saja jika aku mengajakmu bekerja sama itu akan membuat peluang yang besar untuk membuat perusahaanmu menjadi lebih maju lagi. Bukankah itu yang kau inginkan?" Tanya Alex membuat Ardian menganggukkan kepala mengiyakan apa yang Alex katakan.


"Sekali lagi terima kasih karena kemurahan hatimu" Ucap Ardian kini dengan tatapannya sendu.


"Jangan berterima kasih. Karena jika bukan karena istriku yang selalu mengingatkanku tentang kebaikan diriku, mungkin saja waktu itu aku sudah benar-benar menghancurkanmu. Untung saja aku memiliki istri yang baik dan juga pemaaf. Maafkan aku yang merebut Larisa darimu. Itu karena dia memang adalah jodohku" Ucap Alex yang dibalas hanya senyuman oleh Ardian.


"Ngomong-ngomong mengenai kerjasama kita, bagaimana jika kita membuka cabang di negara Korea?"


"Persaingan dinegara Korea sangat ketat, aku pikir akan sangat sulit jika kita membuka cabang baru kita dinegara tersebut" Balas Alex.


"Kalo kita berusaha, pasti kita bisa bersaing dengan perusahaan lain yang juga membangun bisnis mereka disana" Ucap Ardian membuat Alex mulai menimbang-menimbang apa yang Ardian katakan.


"Baiklah aku akan memikirkannya dulu. Aku akan mempersiapkan kerjasama dan apa saja yang akan kita perlukan untuk membuka cabang baru kita disana" Ucap Alex kemudian bangkit dari duduknya kemudian saling berjabat tangan.


*


*


*


*


*


Semua orang kini berkumpul diruang tamu untuk menyaksikan acara lamaran Tiana dan Azam.

__ADS_1


Terlihat Umi yang sedang menggendong Kenan yang terlelap sejak kedatangannya bersama Ayah dan Ibunya.


Hadir juga Ardian yang mewakili Pak Haji Somat yang berhalang datang karena kesehatannya yang sedang terganggu. Padahal sebenarnya Pak Haji Somat memang tak ingin datang karena merasa malu dengan Keluarga Tiana.


Sedangkan didalam kamar Tiana. Terlihat Larisa dan Fatimah yang terus saja menggoda tiana, yang membuat wajah tiana menjadi tersipu malu dan kini terlihat memerah karena merasa malu.


"Cie yang bakalan jadi pengantin baru. Aku doakan semoga Ustad Azam benar-benar adalah jodoh Kakak. Jodoh til jannah" Ucap Larisa memegang kedua pundak Tiana yang kini sedang berada di depan meja rias miliknya.


"Aamiin" Ucap Tiana sambil tersenyum kearah Larisa.


"Kakak cantik banget" Kini giliran Fatimah yang mulai bersuara.


"Terima kasih adik kesayangannya kakak" Ucap Tiana kemudian mereka saling berpelukan.


"Setelah semua yang kakak lewati, semoga ini adalah awal dari kebahagia kakak" Ucap Larisa kemudian tiba-tiba Tiana meraih tangannya untuk bergabung ikut berpelukan dengan mereka berdua.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya acara pun dimulai.


Kini Azam telah berada tepat dihadapan Abah untuk memgutarakan tujuannya untuk mempersunting Tiana menjadi istrinya.


Ardian memandang wajah Azam. Pria yang beruntung karena mendapatkan sosok Tiana yang awalnya akan menjadi istrinya. Namun takdir berkata lain, Ardian kini malah menikah dengan Rara. Orang yang bahkan sama sekali tidak pernah terlintas dipikirannya akan ia nikahi.


Umi kemudian bergegas kekamar Tiana kemudian segera keluar, setelah melihat Tiana sudah siap dengan penampilan yang bahkan lebih cantik dari pada saat lamarannya dengan Ardian dulu. Umi saja dibuat pangling karena penampilan Tiana hari ini.


Azam tersenyum melihat penampilan calon istrinya yang sangat berbeda dari penampilan sehari-harinya yang begitu sederhana.


"Aku membuat keputusan terbaik dengan menerima perjodohan ini. Maka dari itu dengan izin Allah dan izin dari kedua orang tuamu, aku ingin melamarmu. Maukah kau menikah dan hidup bersamaku sampai maut memisahkan kita?"


"Jika aku menikah denganmu, bisakah kau memberikanku surganya Allah?" Tanya Tiana balik.


"Aku akan berusaha membimbingmu serta membahagiakanmu untuk mendapatkan surganya Allah. Jika ada yang bisa membuatmu lebih bahagia melebihi keinginanmu untuk mendapatkan surgaNya. Maka aku akan berusaha agar bisa membuatmu lebih bahagia untuk membuktikan betapa besar cintaku kepadamu" Ucap Azam membuat semua yang ada diruangan itu ikut terharu mendengar jawaban dari Azam.


Dengan mata yang berkaca-kaca akhirnya Tiana membalas jawaban dari Azam. "Bismillahirrahmanirrahim. Dengan izin Allah, serta restu dari Abah dan Umi, insyaAllah aku menerima lamaranmu" Ucap Tiana membuat seluruh tubuhnya merinding setelah mengucapkan bahwa dia menerima menerima lamaran dari Azam.


Setelah Tiana menerima lamaran dari Azam. Semua yang hadir mengucapkan 'Alhamdulillah' terlihat Umi dan Larisa yang saling berpelukan sangking bahagianya melihat Tiana yang akan menikah.

__ADS_1


Tiana melihat Ardian yang juga hadir diacara lamarannya, terlihat Ardian yang melempar senyuman kearah Tiana yang sedang memandangnya.


"Setelah acara lamaran selesai. Minggu depan akan diadakan acara akad nikah kalian. Jaga kesehatan dan persiapkan diri kalian untuk menghadapi kehidupan baru" Ucap Abah yang dibalas anggukan kepala oleh Tiana dan juga Azam.


"Selamat ya kak" Ucap Larisa kemudian memegang tangan Tiana yang begitu dingin karena sangat gugup.


"Ya ampun kak, dingin banget tangan kakak. Ini baru lamaran loh. Belum malam pertama" Ucapnya lagi membuat Umi dan Fatimah ikut tertawa mendengar perkataan Larisa.


"Iya nih kak Tiana malu-maluin aja" Tambah Fatimah membuat Tiana menoleh kearahnya sambil memelototkan mata lalu mencubit tangan Fatimah.


"Auu sakit kak" Fatimah meringis karena cubitan dari kakaknya.


"Kamu kan belum merasakan apa yang kakak rasakan dek"


"Selamat ya Tiana atas lamaranmu dan Azam. Semoga acara kalian berjalan dengan lancar" Ucap Ardian tersenyum pada Tiana yang terlihat kaget karena Ardian yang kini berada tepat dihadapannya.


"Terima kasih" Ucap Tiana sedikit kaget. "Rara mana? Aku dengar dari Larisa jika kalian ternyata sudah menikah. Selamat juga untuk pernikahan kalian" Tanya Tiana balik membuat Ardian merasa canggung untuk membicarakan masalah pernikahannya dengan Rara.


"Rara dirumah, semenjak hamil dia sedikit kelelahan jadi aku menyuruhnya untuk tinggal saja dirumah" Ucap Ardian membuat Larisa yang juga berada disitu terkejut mengetahui ternyata Rara telah hamil lebih dulu sebelum mereka menikah.


"Selamat atas kehamilan Rara" Ucap Larisa membuat Ardian terlihat salah tingkah dibuat olehnya. Lalu dibalas senyuman yang dipaksakan oleh Ardian.


"Yang akan mendampingi nak Azam nanti sebagai keluarga mempelai pria siapa nak? Tidak mungkin kan jika kau hanya datang seorang diri?" Tanya Abah. Membuat yang ditanya kini menjadi bingung karena dirinya yang hidup sudah tak memiliki siapa-siapa.


"Keluarga kamu akan datang kan?" Tanya Alex yang belum mengetahui tentang keluarga Azam.


Azam menjawab pertanyaan Alex hanya dengan gelengan kepala, membuat Alex terlihat bingung dengan tingkah Azam.


"Nak Alex. Nak Azam ini sudah yatim piatu. Sebenarnya dia masih memiliki saudara tapi nak Azam tak tau sekarang dimana keberadaan saudaranya itu" Ucap Abah membuat Alex mengerti arti dari Azam yang tadi menggeleng-gelengkan


kepalanya. Itu tandanya jika ia akan datang seorang diri karena tak memiliki siapa-siapa lagi.


"Tenang saja, aku akan menjadi keluarga dari mempelai pria" Ucap Ardian membuat semua mata yang ada disitu menoleh kearahnya.


"Kau benar, aku juga akan menjadi keluarga dari mempelai pria. Iyakan sayang?" Ucap Alex kemudian merangkul bahu Larisa yang mengangguk tanda ia menyetujui apa yang Alex katakan.

__ADS_1


Seketika wajah Azam menjadi ceria lagi melihat jika Ardian dan Alex yang bersedia menjadi keluarga darinya.


"Terima kasih" Ucap Azam pada Ardian dan Alex kemudian dibalas senyuman dari keduanya.


__ADS_2