
( Di kampus )
"Pagi pak"
"Selamat pagi pak"
"Pagi pak"
"Pagi pak Ardian"
Ardian berjalan dikoridor kampus sambil membalas ucapan salam dari para mahasiswanya saat berjalan menuju keruangannya.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat dari kejauhan seseorang yang ia kenal berjalan masuk keruangan rektor.
Andi yang sedang berjalan melewati Ardian terpaksa harus menghentikan langkahnya karena Ardian tiba-tiba saja menahannya.
Andi adalah seorang dosen, sama seperti Ardian, namun bedanya mereka berbeda jurusan hanya satu fakultas, tetapi ruangan Ardian dan Andi sama.
"Yang baru-baru masuk ruangan pak rektor itu siapa?"
Tanya Ardian sambil memonyongkan bibirnya kearah ruangan rektor.
Ia melihat Alex masuk kedalam ruangan rektor, ia ingin menanyakan apa yang sedang Alex lakukan disini.
"Ohh, yang baru masuk itu? dia itu penyumbang dana terbesar dikampus kita, orangnya masih single, dan pengusaha kaya raya"
"Maksud kamu bilang dia single terus tatapanmu mengarah kepadaku itu apa?"
"Ya kali aja kamu ingin berubah haluan, lagian kamu barusan kepo banget sama orang, biasanya juga cuek bebek"
"Enak aja, aku masih normal ya"
"Ciye yang pengantin baru, pasti lagi hot hotnya, pasti minta jatahnya kayak jadwal minum obat sehari tiga kali"
Ucap Andi yang meledek Ardian, ia belum tau jika pernikahan Ardian dibatalkan.
"Pernikahanku dibatalkan di"
Andi sangat kaget mengetahui jika pernikahan Ardian ternyata dibatalkan.
"Haaa serius? Gak lucu ah bercandaanmu itu"
"Serius, aku tidak bohong"
"Kok bisa dibatalkan, memangnya ada apa? Kirain udah belah duren"
"Ceritanya panjang, nanti aku ceritain ke kamu, aku mau kekelas dulu, sebentar lagi kelasku akan dimulai"
"Ok baiklah"
Ardian lalu meninggalkan Andi yang mulai masuk keruangannya, namun tepat didepan ruangan rektor, Alex keluar dan langsung melihat Ardian yang akan melewatinya.
Seketika langkah Ardian terhenti begitu pun juga dengan Alex.
"Wah kita ketemu lagi patner, ternyata kamu mengajar dikampus ini?"
"Iya aku mengajar disini"
"Aku baru ingat, kita pernah ketemu sekali sebelum pertemuan kita dikantorku, pantas saja waktu itu aku merasa tidak asing dengan wajahmu, ternyata kita pernah ketemu sebelumnya"
"Kamu tidak ingat?"
"Aku yang waktu itu tidak sengaja menabrak kamu"
Alex berusaha mengingatkan kembali pada Ardian tentang pertemuan mereka sebelumnya.
"Tunggu aku ingat-ingat dulu, emm yang waktu itu aku lagi main hp kan? Terus kamu yang nabrak aku?"
"Iya... iya... betul, emm... sebelumnya aku mau minta maaf soal malam itu, gara-gara aku memaksamu untuk minum denganku, kau jadi mabuk, Robi bilang kau tidak terbiasa dengan minuman keras.
"Tidak usah minta maaf, aku sudah melupakannya"
__ADS_1
Dalam hati sebenarnya Ardian sangat kesal, karena Alex yang terus saja memaksanya untuk minum malam itu, akhirnya ia menjadi sangat mabuk, sehingga tak sadar melakukan hal yang tidak semestinya ia lakukan dengan Rara.
"Kalo begitu aku permisi dulu, aku ada kelas mengajar sekarang, sepertinya mahasiswaku sudah menungguku dari tadi"
"Baiklah, kapan-kapan kita bisa melanjutkan lagi pembicaraan kita"
"Tentu saja"
***
( Dikantor Ardian AAGroup )
Setelah Ardian selesai mengisi mata kuliah dikampusnya, seperti biasa ia akan segera kekantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Rara yang melihat kedatangan Ardian bersikap layaknya karyawan lain, ia tidak mau terkena amarah dari Ardian karena ia terus saja menggodanya.
"Rara jadwalku hari ini bagaimana?"
"Untuk hari ini kita akan meeting dengan pimpinan perusahaan Aditamagroup untuk membahas proyek kerja sama kita diluar kota pak"
"Baiklah aku ingin kamu yang menggantikan aku untuk proyek ini, aku hari ini ada urusan, kamu urus semuanya sampai selesai, aku harap kau jangan mengecewakanku"
"Baiklah pak"
"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?"
"Tidak, kau boleh pergi"
Rara kemudian berbalik meninggalkan Ardian sendiri diruangan kebesarannya.
"Tumben dia tidak seperti ulat bulu? tapi bagus juga kalo dia sudah sadar"
Ucap Ardian dalam hati, mengetahui jika sikap Rara yang sudah mulai berubah.
***
Setiap malam Alex akan menghabiskan waktunya untuk minum-minum sampai ia benar-benar mabuk dan tak sadarkan diri.
Dan seperti biasa hanya Robi yang selalu ada menemaninya, dan membuat bingung dirinya karena tak tau bagaimana cara, agar tuannya itu berhenti untuk tidak minum-minum lagi.
"Robi"
Robi kemudian berpaling menghadap kearah Alex yang tiba-tiba saja memanggilnya
Alex sedang duduk disofa sambil memegangi gelas favoritnya itu, terus menuang cairan kebanggaannya yang membuat Alex lama-kelamaan jadi tak sadarkan diri.
"Iya tuan, apakah ada yang anda inginkan?"
"Robi apakah kau menyayangiku?"
Robi terheran dengan perkataan dari tuannya itu.
"Tentu saja tuan, aku menyayangi tuan sama seperti saudaraku sendiri"
"Hanya kau yang selalu ada di sampingku, yang setia kepadaku walaupun aku selalu memarahi mu, tapi aku tidak membutuhkan saudara Robi, aku membutuhkan seseorang yang bisa jadi istriku, apakah kau ingin menjadi istriku Robi?"
"Bagaimana kalau kau berubah saja menjadi seorang wanita, bukankah selama ini kau yang selalu mendampingiku"
Robi yang mendengar perkataan Alex mulai tertawa karena kelakuan dari tuannya yang sudah mulai meracau.
"Memangnya aku ini power rangers yang bisa berubah begitu saja, tuan ini ada-ada saja, aku ini masih normal"
Ucap Robi dalam hatinya.
"Tuan apakah sebaiknya kita pulang sekarang saja, jika anda tak berhenti untuk terus minum, kesehatan tuan nanti akan terganggu"
"Terima kasih atas perhatianmu Robi, tapi aku tak ingin pulang, biarkan aku minum sampai aku benar-benar mati, biarkan aku mati Robi, aku sudah kehilangan cintaku"
"Tuan, maafkan aku jika lancang berbicara seperti ini kepada tuan, hanya saja terlalu berlebihan jika tuan menyakiti diri sendiri hanya karena cinta"
"Hidup tidak akan berhenti walaupun kita telah kehilangan orang yang kita cintai tuan, hidup tuan tetap akan terus berjalan walaupun tuan menginginkannya untuk berhenti, apakah tuan tidak berpikir, masih banyak orang yang menyayangi tuan, masih banyak orang yang ingin tuan bahagia termasuk aku tuan"
__ADS_1
"Jangan sakiti diri tuan hanya karena seorang wanita, untuk apa menginginkan seseorang yang yang tidak menginginkan tuan, masih banyak wanita diluar sana yang bisa menjadi pendamping tuan, buktikan kalo tuan baik-baik saja agar ia menyesal telah menyia-nyiakan tuan"
Ucap Robi panjang lebar, namun yang diberi nasehat sepertinya tak mendengarkan apa yang Robi katakan.
"Diamlah Robi, pidatomu malam ini sangat panjang, aku merasa sepeti dinyanyikan lagu tidur, aku jadi mengantuk"
"Dan satu lagi, sepertinya kau bisa menjadi seorang presiden, kau sangat berbakat dalam berpidato, dan apa yang kau sampaikan sangat mengesankan buatku"
Robi mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa lucu dengan apa yang Alex katakan mengenai dirinya.
Alex lalu tertidur, namun tak lama kemudian ia terbangun lagi, ia lalu bangkit dan berjalan dengan langkah yang tak jelas arahnya.
Robi hanya mengikuti kemana tuannya itu akan pergi, namun kemudian Alex jatuh dan tiba-tiba ia mulai kejang-kejang.
Robi yang panik akhirnya menghubungi Tiara agar membantunya mengurus Alex, dalam keadaan seperti ini hanya Tiara orang yang terlintas dipikirannya, karena selama ini Tiara merupakan orang yang pernah dekat dengan tuannya, sekaligus ia seorang dokter.
Robi berpikir jika ia menghubungi Tiara ia pasti tau apa yang sebenarnya terjadi kepada tuannya
Robi kemudian mengambil hp miliknya, dan mulai menghubungi Tiara, setelah beberapa saat panggilan masuk akhirnya Tiara mengangkat telfon dari Robi.
"Nona tuan Alex pingsan, ia kejang-kejang"
Ucap Robi pada Tiara tanpa basa basi.
"Apa?"
Seketika Tiara kaget dengan apa yang Robi katakan.
"Kamu telfon ambulance, segera bawa Alex kerumah sakit aku akan segera kesana"
"Baiklah nona"
***
Pagi itu Larisa akan kerumah sakit untuk membeli vitaminnya yang sudah hampir habis. Semenjak ia tahu jika bayi didalam perutnya adalah laki-laki Larisa menjadi semakin perhatian dengan kehamilannya.
Setelah bersiap-bersiap ia bergegas menuju kemobilnya dan segera menuju kerumah sakit.
Larisa duduk menunggu sampai antriannya dipanggil, saat akan mengambil obatnya di apotek, tiba-tiba Larisa bertemu dengan Robi yang duduk disampingnya juga sedang menunggu antrian.
"Robi"
Namun yang dipanggil hanya diam.
"Kamu Robikan Asistennya Alex?"
"Nona siapa?"
Tanya Robi yang tidak mengenali siapa wanita yang mengajaknya berbicara.
"Saya Larisa"
"Larisa? Maaf nona, Larisa yang saya kenal tidak berpenampilan seperti nona"
Larisa kemudian membuka masker yang menutupi wajahnya, wajar saja jika Robi tidak mengenalinya.
Setelah membuka masker yang ada diwajahnya, akhirnya Robi mengenali siapa wanita yang mengajaknya berbicara.
Namun ia nampak kaget dengan perubahan Larisa, karena Larisa yang ia kenal dulu berbeda jauh dengan yang ia lihat sekarang.
"Nona Larisa? Maaf saya tidak bisa mengenali nona, apalagi tadi nona sedang memakai masker"
"Iya tidak papa, kamu sedang apa disini?"
"Saya ingin mengambil obat nona"
"Memangnya kamu sakit apa?"
"Bukan aku yang sakit, tapi tuan Alex nona"
Deg deg deg
__ADS_1
Jantung Larisa tiba-tiba saja berdetak sangat kencang, ia sangat kaget mengetahui jika yang sakit adalah Alex.
Ia merasa sedih mendengar Ayah dari bayi yang ia kandung jatuh sakit.