
Disebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit, Tiara janjian akan bertemu sahabatnya yaitu Rara.
Mereka janjian akan bertemu hanya sekedar minum-minum kopi, sampai membahas hal yang menurut mereka menarik untuk mereka perbincangkan.
Mereka bersahabat sejak bersekolah di sekolah menengah atas, setelah tamat sekolah, mereka melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi yang sama namun berbeda jurusan, Tiara mengambil jurusan kedokteran sedangkan Rara mengambil jurusan Ekonomi.
Walaupun berbeda jurusan, namun persahabatan diantara mereka tetap terjalin sampai sekarang.
Rara datang lebih dulu dari Tiara, seperti biasa ia akan duduk dimeja pojok kanan ruangan yang terletak dibagian dalam cafe yang disediakan hanya untuk 2 orang saja.
Rara sengaja memilih tempat duduk itu selain karena hanya dia dan Tiara, ia juga menghindari agar orang lain tidak terganggu dengan tawa mereka jika membahas tentang hal yang akan membuat tawa mereka pecah.
Dari kejauhan Tiara berjalan dengan sedikit tak bersemangat, ia lalu duduk dan meminum segelas air putih dengan sekali tegukan hingga tandas tak bersisa.
Rara yang melihat kelakuan sahabatnya itu menjadi sangat heran, sampai terlihat bibir Rara yang sedikit terbuka karena kaget.
"Ka... kamu kenapa, tidak biasanya kamu seperti ini?"
Tanya Rara nampak masih kaget.
"Aku sebel, jengkel, dan marah Ra"
Ucap Tiara sambil menyilangkan kedua tangannya lalu menyandarkan dirinya dikursi.
"Maksudku alasannya kenapa?"
"Aku sebel sama Alex Ra"
"Aku beneran gak nyangka ternyata tuan Alex mantan pacarmu Ti, kalo bukan karena kejadian waktu itu di club malam yang dia sempat nabrak kamu, terus Robi asistennya bilang kamu mantan pacarnya Alex, mungkin aku tak akan tau jika Alex yang yang kamu maksud dulu adalah tuan Alex, pengusaha muda yang kaya raya itu"
"Padahal awalnya aku ingin menggodanya tapi tidak jadi, karena dia orang yang---"
Rara menghentikan perkataannya melihat Tiara yang menoleh kearahnya dengan tatapan yang sangat menakutkan.
"Kan kamu dengar sendiri tadi aku bilang tidak jadi, lihatnya jangan begitu dong, aku kan jadi takut"
Ucap Rara yang bergidik ngeri melihat ekspresi Tiara yang menakutkan.
"Awas ya sampe kamu gangguin Alex, aku tidak segan-segan untuk suntik mati kamu sekalian, mau?"
Ancam Tiara, menakut-nakuti Rara.
"Tuh kan, tadi kan aku bilang tidak jadi Ti, lagian kamu selama ini tidak pernah bilang kalo Alex yang jadi pacarmu itu adalah Tuan Alex, dulu aja kalo aku tanya kamu selalu bilang Alex doang, kan yang namanya Alex banyak, mungkin saja Alex yang kamu maksud tukang parkir dipasar, jadi aku malas untuk tanya kamu lagi, soalnya pasti kamu jawabnya itu itu terus, kan aku bosan"
Ucap Rara berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya.
Tiara melototkan matanya kearah Rara, mendengar sahabatnya berkata jika Alex yang ia maksud adalah seorag tukang pakir dipasar.
"Canda, kan mungkin saja Ti"
Ucap Rara sambil melebarkan senyumnya kearah Tiara.
__ADS_1
"Aku bete Ra"
Sambung Tiara sambil melipat kedua tangannya diatas meja.
"Bete kenapa lagi sih Ti?"
"Ternyata setelah putus dari aku, Alex menjalin hubungan dengan wanita lain, dan wanita itu sekarang sedang mengandung anak Alex"
"Kok cerita kita bisa sama sih Ti, bedanya disini aku yang menjadi penghalang diantara mereka"
"Maksud kamu bagaimana aku tidak mengerti"
Tanya Tiara dengan ekspresi bingung dengan apa yang Rara katakan.
"Kamu masih ingatkan sama pak Ardian? dosen muda dan ganteng dikampus tempat kita kuliah dulu, yang selalu aku ceritain kekamu"
"Emm, terus"
"Sekarang dia mengambil alih perusahaan milik orang tuanya, dan aku diangkat jadi asisten pribadinya"
"Emm, terus"
"Sekarang aku lagi deket sama dia Ti, gara-gara kita pernah tidur bersama"
Tiara membulatkan bibirnya sangking kagetnya dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Tapi dia akan menikah Ti, pacarnya sekarang sedang hamil, tapi aku gak perduli, aku harus mendapatkan pak Ardian"
"Ra, kayak didunia ini cuma Ardian saja laki-laki, orang udah mau nikah ngapain kamu kejar, lagian ya, kamu itu cantik, siapapun pasti mau sama kamu"
"Iya sih banyak, cuma dari dulu aku sukanya sama pak Ardian Ti, giliran aku deketin dia malah jadian sama si Larisa itu"
"Apa?"
"Apanya kenapa, kok kamu kaget sih Ti, biasa aja dong"
"Coba ulangi lagi perkataan kamu yang terakhir tadi"
"Yang mana? Yang jadian sama si Larisa?"
"Kok nama dia sama dengan nama wanita yang sedang mengandung anak Alex sih"
Tanya Tiara balik sedikit heran dengan perkataan Rara.
"Mungkin kebetulan aja Ti nama mereka sama, mungkin saja yang namanya Larisa banyak didunia ini, iya kan?"
Ucap Rara sambil memasukkan makanan kemulutnya.
"Tidak mungkin Ra, tunggu, tunggu"
Tiara lalu mengambil hp yang ada didalam tasnya, kemudian memperlihatkan foto Larisa kepada Rara.
__ADS_1
"Coba lihat, Larisa yang aku maksud orangnya seperti ini"
Tiara berbicara sambil memperlihatkan hp miliknya tepat didepan mata Rara.
Rara kaget sampai tersedak makanan yang ia makan sangking kagetnya mengetahui jika ternyata orang yang membuat sahabatnya kesal itu tak lain adalah rivalnya sendiri.
"Iya bener Ti, ini orangnya, tapi kamu dapat foto dia dari mana?"
"Aku dapat fotonya dari profil wa, dia sering konsultasi seputar kehamilannya ke aku"
"Tapi emang sih, Larisa yang aku maksud juga hamil, tapi kalo itu anaknya tuan Alex, kenapa dia malah ingin menikah dengan pak Ardian, wah ada yang tidak beres sama perempuan ini Ti"
"Kita harus cari tau Ra"
Ucap Tiara sambil memegang tangan Rara.
"Iya benar Ti, kita harus cari tau, tapi thank you ya Ti, karena informasi dari kamu setidaknya aku punya alasan untuk memisahkan pak Ardian dengan dia"
Ucap Rara dengan senyuman yang berkembang sangking bahagianya dengan informasi yang dia dapatkan dari Tiara.
"Benar, dengan informasi ini kamu bisa memisahkan mereka berdua, dan aku bisa membuat Alex untuk kembali kepadaku karena Larisa ternyata berhubungan dengan pria lain dan akan segera menikah"
"Aku akan berusaha memisahkan Ardian dari Larisa, dan kamu berusaha agar bisa mendapatkan kembali Alex dengan menyingkirkan wanita yang bernama Larisa ini"
"Tapi Ti, wanita ini sepertinya bukan orang sembarangan, buktinya dia bisa menaklukan 2 pria kaya raya sekaligus, huhh tidak bisa dibiarkan, aku iri sama dia"
Ucap Rara menghembuskan nafas kasar.
"Sudahlah itu tidak penting lagi, sekarang kita harus cari cara agar rencana kita menghancurkan Larisa bisa cepat terlaksana, aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantiknya menangis, kalo perlu sampai menangis darah karena tidak berhasil mendapatkan salah satu dari pria incarannya"
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat pagi, siang, sore, malam untuk kalian para readers sejati😄😄😄
Jangan lupa dukung terus karya author amatiran ini dengan cara like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya biar author makin semangat buat ceritanya.
Kalo belum bisa sedekah uang, mungkin para readers berkenan memberi sedekah dengan memberikan like, komen, dan votenya ya, karena semua itu GRATIS...!!!
__ADS_1
Nantikan terus cerita cinta "PERNIKAHAN DUA CINCIN"
Happy reading❤❤❤