PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 32 TANAMAN BERBAHAYA


__ADS_3

Larisa terus menangis sambil tergugu melihat Rara yang seakan ingin memperlihatkan kebahagiaannya karena telah berhasil merebut Ardian darinya, ia tak memperdulikan lagi berapa banyak pasang mata yang melihatnya menangis sambil meremas bagian samping gamis miliknya karena menahan Amarah yang kini memenuhi dadanya.


Bibirnya tak berhenti mengucapkan istigfar, memanjatkan doa kepada Tuhan, memohon agar diberi kekuatan dan ketabahan, hati wanita mana yang tak sakit melihat orang yang ia cintai bersama wanita lain.


Terlebih akhir-akhir ini Ardian tak pernah sekalipun mengajaknya lagi jalan hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, sedangkan didepan matanya Ardian sedang bersama Rara dan membelikan wanita itu perhiasan yang bisa ditaksir harganya tidaklah murah.


Sekarang Larisa mengerti apa yang membuat Ardian sekarang jarang menemuinya, selain karena sibuk mengajar, dan mengurus perusahaan, ia juga sibuk mengurus tanaman barunya itu.


Sejak dulu ketika awal-awal hubungannya dengan Ardian, Larisa tak pernah melihat seperti apa wajah dari Rara, selama ini ia hanya megetahui tentang Rara dari Ardian, ia baru tau seperti apa Rara saat Larisa kekantor Ardian untuk pertama kalinya, dan saat itu juga ia tak suka dengan Rara, karena penampilannya sangat seksi, dan rasa tidak suka itu semakin bertambah sejak Larisa tau jika calon suaminya ada main dengannya membuat seluruh perhatian Ardian sekarang tertuju kepadanya.


Wajar saja jika Ardian merasa nyaman didekat Rara, dari dulu wanita itu sudah menjadi orang kepercayaan calon suaminya, ditambah lagi Rara sekarang memegang peranan penting untuk membantu Ardian mengurus perusahaannya, itu membuat keduanya menghabiskan waktu lebih banyak, ketimbang dirinya yang sekarang hanya berada diapartemen tanpa melakukan aktivitas yang berarti selain makan dan tidur.


Larisa menangis sesenggukan hingga cairan bening kental tak terasa keluar dari hidungnya, ia tak mempedulikan lagi disekelilingnya, matanya hanya tertuju pada Ardian yang sibuk memilih perhiasan untuk Rara.


Tak tega melihat Larisa yang menangis seorang diri seperti anak kecil yang kehilangan ibunya, Tiana beranjak dari tempat duduknya ingin menghampiri wanita itu.


"Kau ingin kemana?"


Tanya Siti melihat Tiana bangkit dari tempat duduknya.


Namun yang ditanya tak menjawab hanya berlalu tanpa memperdulikan perkataan dari Siti.


"Makanan kita tidak lama lagi akan datang?"


Tambah Siti.


"Larisa kemana?"


Tanya Siti pada Aisyah, yang melihat ternyata Larisa juga tidak ada ditempat duduknya.


"Mungkin ketoilet, aku juga tak terlalu memperhatikannya tadi, soalnya aku fokus membalas pesan dari suamiku"


Jawab Aisyah memberikan alasan yang sebenarnya.


"Pasti suamimu sekarang ingin kau cepat kembali dan berbaikan lagi karena hasrat terpendamnya tak bisa ia salurkan karena kau tak ada, huu.. dasar laki-laki, baik kalo ada maunya saja"


Ucap Siti sambil menaikkan satu sudut bibirnya, sekan mengerti maksud terselubung dari suami Aisyah.

__ADS_1


"Kamu juga baru dirayu dikit langsung mau, blokir saja nomornya biar tau rasa, seenaknya saja sudah memukulimu, dan sekarang meminta maaf karena pengen ***-***, jadi perempuan jangan terlalu bodoh Aisyah, ingat rencana awalmu yang akan melaporkan suamimu itu kepolisi, awas saja kalau kau sampai memaafkan laki-laki brengsek itu"


Tambah Siti yang merasa tak terima jika Aisyah memaafkan suaminya.


Aisyah hanya tertawa melihat sikap sahabatnya itu, ia sama sekali tak merasa jengkel dengan perkataan Siti, karena Aisyah tau bahwa Siti sangat menyayanginya seperti saudara sendiri, mengingat apa yang suaminya lakukan kepadanya, wajar saja jika Siti marah, karena ia tak ingin Aisyah diperlakukan seperti itu lagi.


"Awas ya kalo kau memaafkannya semudah itu, mulai detik itu juga aku tak akan menganggapmu sahabatku lagi"


Ancam Siti.


"Emm"


Jawab Aisyah singkat.


Sebenarnya Aisyah juga merasa apa yang Siti katakan benar, makanya ia sama sekali tak mempermasalahkan perkataan siti.


"Kalo kamu terlalu lembek kayak begini, dia pasti akan semakin menginjak harga dirimu Aisyah, memafaatkan ketidak berdayaanmu agar kau selalu memaafkan kesalahannya, hubungan macam apa itu"


Tiana berjalan sambil memapah Larisa, Siti yang melihat mereka berdua tak jadi melanjutkan lagi perkataannya, ia sekarang menjadi bingung karena Larisa yang datang dalam keadaan sedang menangis tersedu-sedu.


Siti dan Aisyah lalu bangkit dari duduk mereka kemudian membantu Larisa yang sedang hamil besar karena kesusahan untuk duduk, ditambah lagi tangisnya yang belum juga berhenti, membuatnya kesulitan untuk bernapas, sesekali Larisa terlihat menghapus cairan bening kental yang keluar dihidungnya seperti seorang anak kecil.


Setelah merasa puas dengan tangisnya, akhirnya tangis Larisa berhenti juga, Tiana yang duduk disamping Larisa mengambil tisu yang berada didalam tasnya lalu memberikannya pada Larisa, sedangkan Siti dan Aisyah hanya duduk sambil satu tangannya menopang dagu, tak menghiraukan lagi makanan yang ada dihadapan mereka yang sepertinya sudah dingin karena dibiarkan begitu saja.


"Ada apa dengan Larisa, kenapa dia bisa nangis seperti itu?"


Ucap Aisyah membuka pembicaraan lebih dulu, melihat Larisa yang sudah mulai tenang.


Tiana hanya menunjuk kearah Toko perhiasan dimana Ardian dan Rara berada.


Siti dan Aisyah lalu menoleh kearah Tiana menunjuk, namun tak mengerti apa penyebab Larisa bisa menangis.


"Kenapa dengan toko itu, kamu ingin membeli perhiasan, tapi uangmu tak cukup?"


Ucap Siti dengan polosnya.


Aisyah yang mendengar perkataan Siti memukul tangan sahabatnya itu, untuk menyuruhnya diam dan tak berbicara lagi.

__ADS_1


"Bukan tokonya tapi, orang yang disana yang sedang bersama wanita lain itu suami Larisa"


Jawab Tiana dengan sedikit kesal, sejujurnya walaupun bukan dirinya yang berada diposisi Larisa, tapi setidaknya ia bisa merasakan bagaimana perasaan Larisa sekarang.


Siti dan Aisyah berbalik melihat Ardian dan Rara yang akhirnya keluar dari toko perhiasan tersebut.


Rara yang melihat Larisa yang sedang berada dalam restoran yang terhalang oleh dinding kaca, melihat dengan tatapan merendahkan serta senyuman licik yang nampak dari sudut bibirnya.


"Astaga, aku heran kenapa didunia ini banyak sekali manusia jadi-jadian seperti itu, suka sekali bergentayangan menggoda suami-suami orang"


Ucap Siti mulai jengkel.


"Dia bukan suamiku"Jawab Larisa spontan.


Membuat mata Siti dan Aisyah melotot sangking kagetnya dengan apa yang Larisa katakan.


Yang membuat mereka lebih bingung lagi karena jika pria yang bersama wanita tadi bukan suaminya, kenapa Larisa bisa hamil.


Tiana memberikan kode kepada kedua sahabatnya agar berhenti untuk terus bertanya pada Larisa, dan menyuruh semuanya untuk makan lalu bergegas untuk pulang karena Tiana melihat kondisi Larisa yang masih sedih, jadi ia memutuskan untuk pulang saja setelah mereka menyelesaikan makannya.


***


Keesokan harinya, mereka berempat berencana mengantar Aisyah untuk melaporkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh suaminya kekantor polisi.


Tiana sebenarnya tak ingin jika Larisa ikut karena takut jika Larisa akan kelelahan karena sedang hamil, namun Larisa tetap berkeras ingin ikut bersama Tiana, setidaknya jika ia berada dikeramaian pikirannya tentang Ardian sedikit teralihkan.


Sepanjang perjalanan Larisa hanya diam, walaupun Siti yang sudah heboh-hebohnya dengan pembahasannya, tak lain untuk sedikit menghibur Larisa, namun sepertinya Larisa masih setia dengan diamnya.


Sesampainya mereka dikantor polisi, Aisyah lalu membuat laporan dibantu pak polisi yang sedang bertugas, sedangkan Tiana, Larisa, dan Siti hanya menunggu dikursi yang berada dalam ruangan tempat Aisyah sedang membuat laporannya.


Tak berselang lama, Aisyah berdiri dari duduknya menandakan jika ia telah selesai dengan laporannya, kemudian bergegas menghampiri mereka bertiga yang sedang menunggunya.


"Bagaimana sudah selesai?


Tanya Tiana melihat Aisyah yang berjalan kearah mereka bertiga.


"Iya sudah selesai, kita hanya menunggu saja telpon

__ADS_1


dari mas sidan, setelah ia menerima surat laporan itu pasti ia akan panas dingin, dia pikir ancamanku hanya main-main"


Ucap Aisyah dengan wajah yang merasa puas.


__ADS_2