
"Aku tidak tau Aisyah" Ucap Tiana sekedarnya. Sejujurnya ia pun tak tau apa yang harus ia katakan.
"Kenapa tidak tau kak, bukankah kakak sudah mengenal ustad Azam sejak lama? Tanya Larisa mulai bersuara ingin mengetahui pasti alasan mengapa Tiana yang sepertinya masih ragu untuk menerima perjodohan antara dirinya dan Ustad Azam.
"Apa yang Larisa katakan itu benar Tiana, bukankah jauh lebih baik jika kau menikah dengan Ustad Azam karena kau sudah mengenal bagaimana sifat dan kepribadian calonmu itu" Ucap Aisyah membuat Larisa ikut menganggukkan kepala karena setuju dengan apa yang Aisyah katakan.
"Memangnya kau tidak belajar dari yang sudah-sudah" Sambung Aisyah lagi, namun sepertinya Tiana tidak mengerti dengan maksud yang Aisyah katakan.
"Maksudmu, aku tidak mengerti" Ucap Tiana kini terlihat ekspresi wajahnya yang berubah bingung.
"Maksud kak Aisyah memangnya kakak tidak belajar dari perjodohan kakak dengan Mas Ardian dulu, begitukan kak? Tanya Larisa yang menoleh kearah Aisyah dan dijawab anggukan olehnya membenarkan apa yang Larisa katakan.
Tiana semakin terlihat bingung. "Memangnya kenapa dengan perjodohanku dengan Mas Ardian?" Tanya Tiana semakin penasaran.
"Hadeh" Aisyah menghela nafas kasar karena Tiana yang tak juga mengerti maksud dari perkataannya. "Maksudku waktu kau dijodohkan dengan Ardian kau dengan mudah menerimanya begitu saja padahal kau belum mengenal baik tentang dia. Tapi kenapa Sekarang ketika kau di jodohkan dengan Ustad Azam yang sudah kau ketahui seluk beluknya malah masih merasa ragu?"
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi" Ucap Tiana kemudian mengangkat 1 tangannya mengisyaratkan agar Aisyah tidak membahas masalah perjodohannya lagi.
Aisyah hanya mengangkat bahunya, tak peduli lagi dengan masalah Tiana yang akan di jodohkan dan fokus memandang keluar jendela.
"Tiana, Larisa lihat itu" Ucap Aisyah menunjuk keluar jendela. Membuat mereka berdua mengarahkan pandangan pada telunjuk Aisyah yang menunjuk kearah mobil yang berhenti tepat disamping mobil mereka karena lampu merah sedang menyala.
Terlihat oleh Larisa orang yang hampir menjadi suaminya itu, sedang berada didalam mobil bersama wanita yang telah menghancurkan hubungan antara mereka berdua sedang memeluk posesif pada laki-laki yang hampir saja menikahinya.
Aisyah menggeleng-gelengkan kepala melihat kemesraan diantara 2 orang manusia yang kini sedang kasmaran.
Namun berbeda halnya dengan Tiana yang terlihat biasa saja melihat kemesraan antara Ardian dan Rara. Tiana tak kaget karena ini bukan kali pertama ia mendapati Ardian sedang bermesraan dengan wanita itu, yang ia ketahui menjadi perusak hubungan antara Larisa dan juga laki-laki yang hampir menyandang gelar sebagai suaminya itu.
"Kenapa wajahmu terlihat sedih melihat kemesraan manusia itu?" Tanya Aisyah yang melihat wajah sedih Larisa.
"Aku sedih karena terlambat menyadari jika aku ternyata mati-matian berjuang untuk orang yang salah kak" Ucap Larisa terus memandang Ardian yang hanya diam dalam mobilnya.
"Tapi lebih baik seperti ini kan, ketimbang jika kau taunya nanti. Apalagi jika kalian sudah menikah pasti sakitnya double. Iya kan?" Ucap Aisyah menoleh kearah Tiana berusaha mencari dukungan jika apa yang dia katakan itu memang benar.
__ADS_1
Tiana menganggukkan kepala membenarkan apa yang Aisyah katakan.
"Benar, Umi bilang jika sakitnya tak terlalu dalam maka seiring berjalannya waktu, sakit itu akan segera sembuh" Ucap Tiana menambahkan.
"Setuju, lagipula kita bertiga sepertinya sama-sama pernah merasakan namanya di hiana..." Ucap Aisyah namun segera menghentikan perkataannya. Karena takut jika Larisa akan tersinggung dengan perkataannya.
"Iya aku mengerti, maksud kakak aku kan yang jadi penghalang kak Tiana" Ucap Larisa membuat Aisyah tersenyum dipaksakan kearahnya.
"Tapi aku sama sekali tidak menyesal pernah menjadi penghalang diantara kak Tiana, bukankah karena aku juga jadi kak Tiana tak merasakan sakit yang terlalu dalam seperti yang tadi kakak bilang. Iya kan kak?" Tanya Balik Larisa pada Tiana berusaha mencari dukungannya.
Lampu kembali terlihat berwarna hijau, mobil yang mereka kendarai akhirnya melaju kembali meninggalkan mobil Ardian yang belum juga bergerak.
"Semua sudah ada yang atur, ini bukan masalah siapa yang menjadi penghalang karena aku percaya memang aku belum berjodoh dengan dia" Ucap Tiana membuat senyum diwajah Larisa berkembang, karena Tiana yang memang sedari dulu tak pernah menyalahkan dirinya, atas apa yang terjadi dengan perjodohannya dengan Ardian.
Tiana selalu percaya jika apa yang terjadi sudah direncanakan oleh Tuhan, kita hanya perlu mengikuti skenario yang Tuhan buat. Bukankah seperti itu?
Sidan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar mulai mengerti tentang pembahasan para wanita yang berada di belakangnya. Walaupun hanya diam tapi Sidan tetap mendengarkan apa yang Istri dan para sahabatnya bicarakan.
Kebiasaan wanita jika sedang berkumpul maka akan selalu membahas segala macam topik. Membuat Sidan terus saja menghela nafas karena hal itu.
Mendengar Pak Kosim yang berbicara sontak membuat ketiga wanita yang duduk dibelakangnya memandang kearah Sidan dan Pak Kosim.
"Tidak papa Pak" Jawab Sidan sambil tersenyum kearah Pak Kosim.
"Ada apa pak?" Tanya Larisa pada Pak Kosim.
"Tidak papa Nyonya"
"Oh kirain ada apa. Ya sudah kamu nyetirnya fokus aja jangan ngebut-ngebut loh. Ingat pesan suami saya" Ucap Larisa pada Pak Kosim yang sedang menyetir.
"Siap Nyonya"
Akhirnya mereka sampai juga dibandara setelah berkendara selama hampir 1 jam karena jalanan yang setiap hari macet membuat perjalanan mereka sedikit terhambat. Untung saja mereka berangkat lebih awal sehingga Aisyah dan Sidan tidak ketinggalan pesawat.
__ADS_1
Pak Kosim kemudian dengan sigap membantu Sidan menurunkan barang-barang dari atas mobil, kemudian masuk kedalam untuk check in di counter terlebih dahulu.
"Kamu jaga diri baik-baik ya" Ucap Tiana pada Aisyah yang sedang memperbaiki hijab Larisa yang sedikit berantakan.
Aisyah menoleh kearah Tiana yang berbicara padanya. "Iya aku pasti jaga diri baik-baik, kalian juga jaga diri"
"Apalagi nih bumil" Ucap Aisyah lagi sambil menatap wajah Larisa. "Jadi pengen cepat-cepat punya bayi" Sambung Aisyah sambil mengelus perut Larisa.
"Yah bikin dong kak biar cepat isi lagi" Ucap Larisa spontan.
"Tenang aja, kita lihat siapa yang bakal duluan hamil aku atau Tiana"
"Enak aja, gimana mau hamil, bapaknya aja gak ada" Balas Tiana tak mau kalah.
"Ya makanya kamu terima aja perjodohanmu sama Ustad Azam, biar bisa *** *** terus punya bayi deh" Ucap Aisyah mengundang gelak tawa diantara mereka.
"Apaan sih, aku dan ustad Azam juga baru ta'aruf. Doakan saja yang terbaik"
"Jangan kelamaan mikir deh, nanti Ustad Azam ada yang ambil baru nyesel"
"Dengar dengar Ustad Azam duda, beneran?" Tanya Aisyah ingin mengetahui kebenaran apa yang ia dengar tadi dari Abah jika Azam adalah seorang duda.
"Ye jangan salah kak, Ustad Azam biar duda tapi gak kalah sama yang masih berlabel perjaka" Ucap Larisa dengan ekspresi yang dibuat lucu, membuat Aisyah tertawa melihat wajahnya.
"Tunggu apalagi sih, kasian nanti Ustad Azam kelamaan nungguin gadis perawan kayak kamu" Ucap Aisyah meledek Tiana yang kini terlihat malu-malu.
"Beruntung banget Ustad Azam dapetin Tiana, udah cantik, sholeha, perawan lagi"
"Ishh apaan sih malu tau di dengar orang" Ucap Tiana sambil memukul lengan Aisyah yang terus saja meledek dirinya.
"Nanti kita gosipnya di group aja kali ya, biar makin seru" Ucap Larisa sambil memperlihatkan Hp yang ada ditangannya.
"Iya betul, sering-sering hubungi aku yah, aku pasti bakalan kangen sama kalian" Ucap Aisyah kini mulai bersedih, membuat suasana yang tadinya seru, karena Aisyah dan Larisa yang terus saja meledek Tiana, kini berubah menjadi sedih karena mereka akan berpisah.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya berpelukan, membuat Aisyah kembali menangis karena tak lama lagi harus berpisah dengan sahabatnya.