
Setelah mengakhiri perdebatan sengitnya, Larisa menuju kekamarnya setelah tadi ia yang memberi ancaman terlebih dulu kepada Mamanya.
Larisa sangat malu dengan perbuatan Mamanya. Apalagi perbuatannya tertangkap basah oleh Ibu mertuanya sendiri. Sehingga Larisa memberikan ancaman keras kepada Mamanya agar tak mengulangi perbuatannya itu.
Jika hanya menegur dengan kata-kata lembut Mama Larisa tidak akan jera, maka dari itu Larisa tak segan-segan mengancamnya dengan memasukkannya kedalam penjara jika Mama mengulangi lagi kesalahannya.
"Ada apa sayang?" Tanya Alex menoleh kearah istrinya yang baru saja masuk kedalam kamar.
"Mama sayang" Balas Larisa yang kini duduk dipinggiran tempat tidur dengan wajahnya yang ditekuk.
"Ada apa lagi dengan Mama?" Tanyanya lagi sambil menghampiri istrinya juga ikut duduk disampingnya.
Larisa memutar bola matanya malas. Sangat kesal dengan sikap Mama yang ketahuan mencuri tas miliknya.
"Mama tadi mencuri tas aku" Jawab Larisa kesal sangking kesalnya, ia sampai mengepalkan kedua tangannya karena merasa gemas pada Mamanya.
"Wah, ada yang abis belanja tas baru nih" Ledek Alex membuat Larisa semakin kesal karena suaminya yang tak menghiraukan kekesalannya pada Mama.
"Kamu kok biasa aja sih" Sewot Larisa menatap tajam kearah Alex.
Alex menghela nafasnya kasar. "Terus, aku harus bagaimana sayang?" Tanya balik Alex sambil mengelus pipi mulus istrinya.
"Aku yakin kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Kamu kan anaknya, jadi kamu yang harus menasehati dia pelan-pelan, agar dia tidak mengulangi kesalahannya lagi" Alex memberi nasehat kepada Larisa.
"Sebenarnya sikap Mama memang salah" Ucap Alex lagi langsung dibalas anggukan oleh Larisa, membenarkan apa yang suaminya katakan.
"Tapi kamu harus memberi nasehat dengan cara yang lembut, agar Mama tidak merasa sakit hati dengan perkataanmu. Orang tua terkadang bersifat sama seperti anak-anak, jadi kita juga harus menasehati mereka sama seperti kita yang menasehati seorang anak-anak" Tambah Alex lagi.
"Kamu belum tau sih sifat asli Mama makanya kamu bicaranya seperti itu" Balas Larisa sambil memonyongkan bibirnya yang seksi.
Cup.
Alex memberikan kecupan tepat dibibir istrinya yang mulai maju.
"Biar marahnya hilang" Ucap Alex cekikikan sedangkan Larisa hanya memutar bola matanya malas, tak menghiraukan kelakuan nakal suaminya karena kali ini Larisa benar-benar sudah muak dengan sifat Mamanya.
"Katanya ke Mall mau belanja seserahan Kak Tiana, tapi kayaknya ada yang ikut belanja juga nih" Alex mengalihkan pembicaraan agar Larisa tidak marah lagi. Kini Alex beralih pada tas yang tadi Larisa bawa masuk kesalam kamar.
__ADS_1
Seketika wajah Larisa berubah drastis, ia kini kembali mengingat mengenai Azam yang ternyata memiliki banyak uang. Buktinya Azam mampu membelikan Larisa tas mahal yang sejak kemarin menjadi incarannya.
"Oh iya aku lupa kasi tau kamu tadi" Jawab Larisa. Karena kekesalannya pada Mama. Membuat dirinya melupakan teka teki mengenai apa sebenarnya usaha lain dari Azam, sehingga ia bisa memiliki uang yang sangat banyak.
Karena jika ditotal-total untuk keseluruhan belanja seserahan tadi, Azam menghabiskan uangnya hampir satu miliar. Bukanlah nilai yang sedikit, mengingat Azam yang hanya bekerja sebagai seorang pengajar dipondok pesantren Abah Tiana.
"Apa itu?" Tanya Alex sambil memegang tangan istrinya, dengan tatapan serius ingin mengetahui apa yang ingin istrinya katakan.
"Tas ini bukan aku yang membelinya. Tas ini hadiah dari Ustad Azam" Larisa mulai menjelaskan sedangkan Alex hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya.
"Kok kamu malah senyum-senyum sih. Memangnya kamu tidak sepemikiran denganku?" Tanya Larisa melihat ekspresi wajah Alex yang hanya tersenyum.
"Sepemikiran bagaimana maksudnya?" Tanya balik Alex.
"Maksudku, memangnya kamu gak mikir dari mana Azam bisa mendapatkan uang banyak? Atau jangan-jangan..." Larisa menggantungkan ucapannya.
"Jangan-jangan apa?" Tanya balik Alex penasaran.
"Mungkin Ustad Azam adalah mafia besar yang sedang menyamar dan tinggal di pondok pesantren Abah. Makanya dia bisa punya uang banyak" Ucap Larisa mulai berasumsi. Namun Larisa heran karena suaminya kini yang malah tertawa.
"Apanya yang lucu?" Tanya Larisa heran dengan sikap suaminya.
"Aneh apanya sih? Kan bisa aja memang Ustad Azam itu seorang mafia atau anak orang kaya yang sedang menyamar" Ucap Larisa lagi membuat Alex kini tertawa terpingkal-pingkal.
"Ck. Menyebalkan" Larisa berdecak karena kesal Alex terus saja tertawa seperti tak mempercayai apa yang ia katakan.
Alex menghentikan tawanya karena Larisa yang mulai ngambek. "Kamu tidak usah heran kalo Ustad Azam memiliki banyak uang" Ucap Alex, spontan membuat Larisa menoleh kearahnya.
"Maksudmu?" Tanya Larisa penasaran.
"Ustad Azam itu memang orang kaya. Makanya dia punya banyak uang" Ucapnya lagi. Tetapi sepertinya Larisa belum juga paham dengan perkataan suaminya.
"Maksudku, bisa kau perjelas lagi ucapanmu itu, soalnya aku belum mengerti kenapa kamu bisa bilang kalo Ustad Azam itu orang kaya" Balas Larisa, sugguh ia kini begitu penasaran dengan pembahasannya mengenai teka teki siapa sebenarnya Azam.
"Azam itu rekan bisnisku sayang" Mata Larisa hampir saja keluar dari tempatnya saat mendengar kata yang berhasil keluar dari mulut suaminya.
"Aduh, aku kok makin gak ngerti ya. Tadi bilangnya orang kaya. Sekarang rekan bisnis" Ucap Larisa semakin bingung.
__ADS_1
"Azam adalah pengusaha kaya raya nomor satu di asia. Namun karena dia yang terlalu tertutup dan tak ingin terekspos dengan media, makanya banyak orang yang tidak mengetahui dirinya" Ucap Alex, kini Larisa hanya menjadi pendengar yang baik tanpa ingin menyanggah apa yang suaminya katakan.
"Saat kita datang diacara lamarannya dengan Kak Tiana waktu itu. Aku sejujurnya sangat terkejut melihat ternyata Azam yang kamu ceritakan kepadaku, adalah Azam orang yang aku kenal sebagai pengusaha terkaya di Asia"
"Waktu itu aku ingin menyapa dan ingin bertegur sapa dengannya. Karena aku memang sudah lama tak bertemu, apalagi dia sangat sulit ditemui mengingat ia adalah orang penting" Larisa mulai paham dengan apa yang dikatakan suaminya. Sedikit demi sedikit teka teki tentang siapa Azam mulai terpecahkan.
"Aku semakin terkagum melihat ia yang memiliki segalanya namun, memilih hidup sederhana dan terkesan malah menutupi jati dirinya" Larisa mengangguk membenarkan apa yang suaminya katakan. Karena tadi saja saat di Mall Azam hanya memakai celana kain dan baju koko. Sangat tidak terlihat jika ternyata dia adalah seorang pengusaha yang kaya raya.
"Berarti Ustad Azam jauh lebih kaya dan sukses darimu yang menurutku sudah luar biasa" Ucap Larisa yang spontan dibalas dengan anggukan kepala oleh Alex.
"Tentu saja, aku bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Azam" Balas Alex tersenyum.
"Pantas saja waktu di Mall total belanjaan hanya untuk seserahan Kak Tiana kalo aku itung-itung hampir satu miliar. Ckckck. Kak Tiana beruntung banget" Larisa terpukau mengetahui siapa Azam yang merupakan calon suami Tiana.
Namun sedetik kemudian Larisa nampak murung. Membuat Alex risau tak tau mengapa mood istrinya begitu cepat berubah.
"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah memberi tahumu siapa Ustad Azam sebenarnya" Alex meraih dagu istrinya agar kembali menoleh kearahnya.
Larisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Katakan apa yang kau inginkan? Jangan diam saja. Aku kan jadi bingung harus melakukan apa untukmu kalo kau terus saja diam" Tanya Alex. Tatapan mereka kini saling beradu. Namun Larisa memutuskan tatapan mereka berdua membuat Alex semakin tidak enak melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat sedih.
"Aku jadi iri deh sama Kak Tiana seserahannya saja luar biasa. Kamu mana pernah memberikan sesuatu untukku" Larisa mulai ngambek.
"Tenang saja sayang. Bahkan dunia dan seisinya akan aku berikan kepadamu" Balas Alex lalu mencium bibir seksi istrinya.
"Walaupun aku tak sekaya Azam. Tapi percayalah aku akan berusaha berjuang
dengan seluruh jiwa raga ini untuk membuatmu bahagia" Ucap Alex lalu memeluk tubuh istrinya.
"Aku mencintaimu" Balas Larisa juga memeluk erat tubuh suaminya.
"Tuhan yang menjadi saksinya, jika aku sangat mencintaimu istriku. Aku mencintaimu dan anak kita" Ucap Alex dengan mata yang berkaca-kaca, namun Larisa kini telah menitikan air matanya, karena begitu terharu sekaligus merasa bahagia mendapatkan cinta yang begitu besar dari suaminya.
"Aku mencintamu" Ucap Larisa lagi.
"Aku tau dan aku berharap cintamu tidak akan pernah berubah walaupun raga ini tak lagi muda. Walaupun maut memisahkan kita, aku ingin cinta ini kekal abadi selamanya" Ucap Alex, membuat Larisa semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu karena Allah" Ucap Larisa dalam hatinya. Memejamkan mata sambil menikmati pelukan hangat suaminya.