
Setelah menjalankan sholat istikharah selama beberapa malam. Akhirnya Tiana memantaskan hatinya yang awalnya bimbang kini telah merasa pasti dengan pilihan yang akan dia putuskan.
Tiana hanya berserah diri kepada Sang Maha Pencipta. Semoga saja apa yang menjadi jawaban disetiap doa dalam sujudnya menjadi yang terbaik yang telah ditetapkan untuk dirinya.
Namun sebelum menyampaikan keputusannya itu, Tiana bermaksud akan bertanya lebih dulu mengenai masa lalu Azam yang selama ini selalu menganggu pikiran Tiana. Sehingga jawaban dari Azam merupakan alasan yang menjadi penentu dari keputusan akhir Tiana.
Setelah sepakat akan bertemu, Tiana sengaja mengajak Fatimah untuk ikut dengan dirinya untuk bertemu dengan Azam sehingga tidak menimbulkan fitnah nantinya. Dan begitu juga dengan Azam yang mengajak Rido untuk menemaninya bertemu dengan Tiana. Rido mengiyakan ajakan dari Azam sehingga mereka lalu bertemu di pinggiran sawah yang berada tepat di samping pondok pesantren milik Abah.
Tiana dan Azam kemudian duduk berjauhan dipondok yang biasanya para petani buat untuk tempat mereka beristirahat sejenak. Tak jauh dari situ Fatimah dan Rido sedang menunggu mereka berdua dalam kebisuan karena Fatimah dan Rido sama-sama merasa sungkan untuk saling menyapa, Rido takut mengingat Fatimah adalah Adik Tiana sekaligus anak dari pemilik pesantren tempat dia mengajar.
"Apa yang ingi kau bicarakan?" Tanya Azam yang kini memulai pembicaraan melihat Tiana yang sepertinya sungkan untuk memulai pembicaraan diantara mereka.
Tiana hanya menunduk tak berani manatap wajah Azam yang kini mulai berbicara dengannya. Tiana mulai menaut-nautkan jari tangannya karena sangat merasa gugup berbicara berdua dengan pria.
"Maaf jika aku lancang bertanya seperti ini kepadamu, selama ini memang kita sudah saling mengenal, akan tetapi masih banyak yang tidak kuketahui tentangmu. Sehingga aku mengajakmu untuk bertemu hari ini untuk membicarakan masalah ini langsung kepadamu"
"Apakah yang kau maksud mengenai masa laluku? Tentang pernikahanku yang pernah gagal? Itukah yang ingin kau tanyakan kepadaku?" Azam bertanya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Namun Tiana sadar jika apa yang Azam katakan memang benar adalah apa yang ingin ia ketahui kebenarannya.
"Benar, bukankah ketika dua orang yang berbeda jenis akan memulai hidup baru mereka pada tahap yang lebih serius, mereka harus saling terbuka dan tak menutup-nutupi apapun sehingga tidak menjadi permasalahan ketika mereka telah memutuskan untuk melangkah kejenjang yang lebih serius"
"Tak ada yang bisa aku ceritakan kepadamu mengenai pernikahanku yang sempat gagal, karena sama sekali tak ada yang istimewa karena aku pun menikah dengan mantan istriku karena memang awalnya kami dijodohkan oleh kedua orang tuaku" Ucap Azam sambil menatap wajah Tiana dari arah samping karena Tiana yang tak ingin bertatapan wajah dengannya.
"Jadi waktu itu kau juga dijodohkan? Lalu kenapa kalian bercerai?" Tanya Tiana lagi, terdengar jika dirinya yang begitu semangat ingin mencari tau tentang masa lalu Azam.
"Iya aku dan dia dijodohkan, dan kami bercerai karena aku tidak mencintainya dan aku merasa tidak cocok setelah satu tahun pernikahan kami. Itulah sebabnya aku memutuskan menggugat cerai mantan istriku" Ucap Azam dan akhirnya Tiana perlahan-lahan menoleh kearah Azam. Menatap dalam-dalam kedua matanya. Karena Tiana ingin mengetahui apakah Azam sedang berbohong atau tidak. Namun sama sekali Tiana tak menemukan kebohongan sedikitpun dari sorot mata Azam.
__ADS_1
"Bukankah kita juga dijodohkan? memang ketidak cocokan itu selalu ada dalam setiap rumah tangga, bukankah perbedaan itu yang membuat hubungan pernikahan menjadi lehih manis dan berkesan. Karena kadang kala memang rumah tangga ada bumbu-bumbu penyedapnya. Karena ketidak cocokan sehingga biasa menimbulkan pertengkaran, tapi bukankah semuanya bisa diselesaikan dengan dibicarakan baik-baik?"
"Dalam kasusku ini berbeda. Selain ketidak cocokan tadi. Aku sama sekali tidak mencintainya. Orang tuaku bilang cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Namun yang kurasakan malah berbeda, yang kurasa hanyalah kehampaan dan semakin membuatku tak menyukainya karena dia telah memfitnahku" Ucap Azam yang berhasil membuat Tiana kaget mendengar alasan yang Azam katakan mengenai perceraiannya dengan mantan istrinya.
"Fitnah? Memangnya apa yang sudah dia fitnahkan kepadamu? Kenapa dia begitu tega, memangnya dia tidak tau betapa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan"
"Dia memfitnahku dengan mengatakan kepada orang-orang bahwa aku mengidap penyakit impoten" Ucap Azam terdengar ragu-ragu. Ia takut jika Tiana mengetahui fitnah tentang dirinya yang selama ini ia tutup rapat-rapat, malah akan membuatnya menjadi semakin ragu untuk menerima perjodohan ini.
Fatimah menghela nafas kasar karena mulai merasa jenuh menunggu Tiana yang sedang berbicara dengan Azam. Rido yang melihat tingkah Fatimah hanya tersenyum karena dirinya tau apa yang membuat gadis itu kini mulai resah. Tentu saja karena ia ingin segera kembali kerumah dan memonton drama korea favoritnya.
"Ternyata adik Tiana manis juga" Gumam Rido dalam hatinya.
"Jika dia tau bahwa fitnah itu begitu kejam. Tentu saja dia tidak akan melakukan itu kepadaku"
"Iya kau benar juga, tapi apa sebabnya dia memfitnahmu?"
Kini pikiran Tiana dipenuhi teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi sehingga mantan istri Azam tega menfitnahnya? Dan apakah memang benar jika Azam itu mengidap penyakit impoten?
Sungguh kini Tiana berada dipuncak dilema dalam dirinya, membuatnya semakin bingung karena mengetahui sebagian cerita tentang masa lalu Azam. Benar, Ia hanya tau setengah dari ceritanya saja. Karena hanya mendengarkan apa yang Azam katakan.
Bukannya Tiana tidak mempercayai apa yang Azam katakan, hanya saja belum puas rasanya jika dirinya hanya mendengarkan alasan dari satu pihak saja yaitu Azam.
Tiana berpikir jika dirinya pun harus mendengar alasan dari pihak yang satunya lagi yaitu mantan istri Azam. Namun itu tidak mugkin, karena Tiana sendiri tak tau mantan istri Azam itu. Karena Azam sendiri mulai mengajar dipesantren Abahnya memang sudah menyandang status sebagai seorang duda.
"Dimana aku harus mencari tau tentang mantan istri Azam? Bukankah itu terlalu berlebihan jika aku harus mencari tau tentang mantan istrinya, tapi aku takut jika harus menikah dengan Azam dan akhirnya nanti kami bercerai" Gumam Tiana dalam hatinya.
__ADS_1
Membuat Azam kini menyadari jika kini Tiana mulai memikirkan apa yang ia katakan barusan.
"Apakah masih ada yang ingin kau tanyakan?" Ucap Azam yang melihat Tiana yang hanya diam seribu bahasa.
Tiana terlonjak kaget mendengar Azam yang berbicara kepadanya, ia akhirnya sadar dari lamunannya yang entah sejak kapan itu.
"Kurasa cukup" Ucap Tiana singkat lalu dibalas senyuman oleh Azam. Membuat hati Tiana berdesir menatap wajah tampan sang duda itu.
"Astaghfirullah" Gumam Tiana dalam hatinya secepat mungkin memutuskan pandangannya yang mulai terpana melihat ketampanan Azam.
"Baiklah saya permisi dulu, Assalamu'alaikum" Ucap Azam lalu bangkit untuk bergegas pergi meninggalkan Tiana.
Namun hanya beberapa langkah saja ia meninggalkan Tiana, ia lalu menghentikan langkahnya kemudian berbalik memandang kearah wanita yang kini benar-benar mengisi ruang hatinya.
"Apa pun keputusanmu aku akan menerimanya, dan jika kau memberiku kesempatan untuk membuktikan kebenaran diriku, maka aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia setelah menjadi istriku" Ucap Azam kemudian melanjutkan kembali langkahnya menemui Rido yang sedang menunggunya.
Fatimah bergegas menemui Tiana yang belum juga beranjak dari tempatnya. " Bagaimana kak, apa jawaban dari Ustad Azam?" Tanya Fatimah penasaran. Namun Tiana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Fatimah kini mulai bingung sekaligus jengkel karena mereka yang lumayan lama berbincang, namun belum juga mendapatkan jawaban yang pasti dari kelanjutan hubungan mereka.
"Kebenaran? Apakah maksud Azam ia tidak seperti yang mantan istrinya fitnahkan?" Tanya Tiana sendiri dalam hatinya.
"Kak kok bengong sih ayo pulang" Ucap Fatimah sambil mengibaskan tangannya didepan Tiana.
"Kalo tau begitu tadi, aku tidak usah temenin kakak kesini, percuma nungguin kakak lama-lama, kakak itu gak tau apa maunya" Ucapnya lagi kemudian meninggalkan Tiana karena merasa jengkel terlalu lama menunggu.
Tiana menghela nafasnya pelan sambil menatap kepergian Fatimah yang meninggalkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Fatimah benar, mungkin aku terlalu banyak maunya. Tapi kan, aku hanya ingin tau alasannya mengapa Azam cerai dengan istrinya. Itu saja" Ucap Tiana sambil memegang kepalanya yang kini mulai pusing karena terlalu banyak berpikir.