
Abah dan Umi keluar kamar setelah Fatimah memberi tahu jika Larisa datang untuk menjenguknya.
Tubuh Abah sebenarnya belum sepenuhnya sembuh untuk mulai beraktivitas seperti biasa, namun Abah tetap memaksakan untuk menemui Larisa yang datang jauh-jauh hanya untuk menjenguknya.
Padahal awalnya Umi telah melarang Abah untuk bangun, namun Abah bersikeras untuk bangkit dari tempat tidurnya untuk menemui Larisa.
Umi sengaja melakukan itu pada Abah karena tak ingin jika suaminya akan semakin drop jika beraktivitas terlalu lama.
Ditambah lagi jika ia menemui Larisa, otomatis Abah akan duduk lama sekedar untuk menyapa dan berbincang-bincang dengannya, padahal dokter sudah mengatakan jika Abah harus beristirahat total agar kesehatannya bisa kembali pulih.
Abah berjalan dibantu Umi dengan memegangi sebelah tangannya.
Sesampainya diruang tamu, abah melihat ternyata ada Ardian juga yang datang menjenguknya.
Abah tersenyum melihat Ardian dan Larisa, melihat dua orang yang sudah membuat anaknya tertunda untuk menyandang gelar sebagai seorang istri.
Namun bukan Abah namanya jika ia tidak memaafkan kesalahan orang lain.
Sebesar apapun kesalahan orang lain kepadanya, Abah akan berusaha untuk memaafkannya, Abah menganggap selalu ada hikmah dan pembelajaran dari suatu kejadian, baik itu kejadian baik ataupun buruk.
Kita tidak tau apakah yang terjadi itu baik atau buruk bagi kita, karena sesuatu yang buruk belum tentu buruk bagi-Nya, dan begitu juga sebaliknya.
Kita manusia hanya bisa menerima ketetapan yang telah Tuhan takdirkan untuk kita, menerima sesuatu dengan lapang dada walaupun itu pahit dan sangat berat untuk kita terima.
Tidak ada gunanya menyimpan dendam pada seseorang, itu hanya akan membuat kita semakin sakit hati, jadi lebih baik kita saling memaafkan agar hidup jadi lebih berarti.
Larisa dan Ardian bangkit dari duduknya melihat Abah yang berjalan kearah mereka dibantu Umi disampingnya.
"Assalamualaikum Abah, Umi"
Ucap Larisa lalu mencium tangan Abah dan Umi, dan diikuti juga oleh Ardian.
Walaupun awalnya Ardian merasa canggung karena pernikahannya dengan Tiana batal, sebab ia merasa tidak enak hati pada kedua orang tua Tiana, namun Ardian berusaha untuk tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga mantan calon istrinya itu.
Ardian memandang wajah kedua orang tua Tiana dengan perasaan bersalah, ia melihat dua orang yang dulunya hampir menjadi mertuanya itu dengan tatapan yang sendu.
"Walaikumsalam nak Larisa, nak Ardian"
Ucap Abah memberikan senyuman terbaiknya dengan wajah yang masih sedikit pucat.
"Kenapa repot-repot kemari nak? Abah tidak enak sama kalian"
Tambah Abah, mulai duduk dikursi tepat dihadapan Ardian dan Larisa.
Ardian hanya tersenyum saja mendengar perkataan dari Abah.
Semenjak kejadian dimana Larisa memutuskan untuk hijrah, semenjak itu pula ia mulai diterima dikeluarga Tiana, Abah menganggap Larisa layaknya anak sendiri seperti Tiana dan Fatimah.
Sama sekali Abah tak menyimpan amarah ataupun dendam pada orang yang telah membuat alasan kenapa akhirnya pernikahan Ardian dan Tiana dibatalkan.
Larisa yang telah ditinggal pergi oleh papanya merasa sangat bahagia karena kedua orang tua Tiana mau menerima Larisa seperti anaknya sendiri, terlebih itu adalah Abah.
Dirinya merasa menemukan kembali sosok seorang ayah pada diri Abah, ia tak menyangka jika ternyata keluarga Tiana juga dengan senang hati menerimanya, mengingat apa yang telah Larisa lakukan.
__ADS_1
"Waktu Abah dirawat dirumah sakit sebenarnya aku ingin menjenguk Abah, tapi kak Tiana melarangku karena peraturan rumah sakit tidak memperbolehkan pasien menerima tamu terlalu sering"
"Maka dari itu, aku memutuskan menjenguk Abah saat sudah diperbolehkan pulang"
Ucap Larisa menjelaskan yang sebenarnya.
"Iya nak, Tiana sempat memberitahu Umi jika hari itu dia sempat bertemu denganmu dirumah sakit, tapi Tiana menyuruhmu untuk pulang saja karena pandemi dan kamu juga sedang hamil"
Tambah Umi, yang tiba-tiba saja keluar sambil membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan.
"Diminum dulu nak Ardian"
Ucap Umi, mempersilahkan Ardian untuk
meminum minuman yang telah Umi hidangkan didepannya, dan dijawab hanya anggukan oleh Ardian.
Ardian merasa sedikit malu dengan perlakuan Umi Tiana yang tetap baik walaupun ia tak jadi menikah dengan anaknya.
"Memangnya Abah sakit apa Umi, kenapa sampai harus dirawat dirumah sakit?"
Tanya Larisa sambil memasukkan camilan kedalam mulutnya.
"Penyakit jantung Abah kumat nak"
Jawab Umi singkat.
"Kenapa tiba-tiba penyakit Abah kambuh, selama ini Abah sudah menjaga pola makan, dan hidup sehat seperti yang dianjurkan dalam agama kita"
Tanya Balik Larisa.
Ucap Umi mencoba mengatakan yang sebenarnya.
"Betul itu Abah?"
Tanya Larisa sambil menoleh kearah Abah.
Namun Abah hanya menjawab pertanyaan Larisa dengan senyuman di bibirnya, yang menandakan apa yang dikatan Umi benar.
"Abah, Larisa sudah menganggap Abah seperti Ayah Larisa sendiri, kalo Abah sakit pasti Larisa akan sangat sedih, selama ini Abah selalu membantu Larisa, mengajarkan Larisa banyak hal tentang ilmu agama, Abah juga selalu memberikan nasehat agar Larisa mau berpegang teguh pada pendirian Larisa, sebab hijrah tidaklah mudah, namun istiqomah itu jauh lebih berat"
Ardian terpana mendengar perkataan yang keluar dari mulut calon istrinya itu.
Dirinya tak menyangka dengan perubahan besar dalam hidup Larisa, dan tak dipungkiri lagi jika semua itu berkat bantuan dari Tiana dan keluarganya
"Nak Ardian kenapa senyum-senyum terus melihat nak Larisa?"
"Saya hanya takjub dengan apa yang Larisa katakan, dan bahagia dengan perubahan Larisa sekarang, karena jujur ini adalah keinginanku dari dulu yang belum bisa Larisa lakukan, namun Larisa bilang semenjak bertemu dengan Tiana, ia akhirnya ingin hijrah menjadi pribadi yang lebih baik, itulah yang membawanya kenapa dia bisa ada disini sekarang"
Jawab Ardian mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Setelah aku berubah kau malah berselingkuh dengan Rara mas"
Gumam Larisa dalam hatinya.
__ADS_1
"Tapi Abah, kak Tiana mana, aku dari tadi tidak melihatnya"
Tanya Larisa memotong pembicaraan antara Abah dan Ardian.
"Ada, dia ada dikamar, Fatimah bilang sahabatnya waktu kuliah datang berkunjung, mereka sudah lama tidak bertemu makanya mungkin mereka sedang membicarakan banyak hal"
"Oh iya Abah"
Jawab Lariaa singkat.
"Atau Tiana tak ingin melihatku?"
Gumam Ardian dalam hatinya.
"Itu Tiana datang"
Ucap Umi membuyarkan lamunan Ardian.
"Assalamualaikum"
Ucap Tiana berdiri disamping Abah.
"Waalaikumsalam"
Jawab semuannya bersamaan.
Ardian memperhatikan wanita yang ada dihadapannya, wanita yang dulunya hampir menjadi istrinya.
Mata itu, ya, Ardian sangat memyukai mata milik Tiana, Ardian penasaran dengan kecantikan yang tertutup kain penutup yang ada diwajah Tiana.
Namun segera Ardian menghentikan pandangannya sebab, ia berpikir tak seharusnya dirinya seperti ini, apalagi ia akan menikah dengan Larisa.
"Apa kabar Larisa, mas Ardian?"
Deg
Jantung Ardian berdetak begitu cepat, mendengar suara yang sangat lembut keluar dari bibir Tiana yang menanyakan kabarnya.
"Alhamdulillah baik kak, aku rindu ingin mendengar kakak membawakan materi saat dikelas bersama santri wati lainnya"
Ucap Larisa.
"Baik Tiana"
Ucap Ardian kikuk.
Tiana hanya tersenyum, lalu duduk disamping Abah sambil memperbaiki kerah baju milik Abah yang sedikit berantakan.
Mereka berempat berbincang-bincang mengenai banyak hal, mengenai ilmu tentang agama, kehamilan Larisa, dan seputar pekerjaan Ardian, namun sesekali Ardian melirik kearah Tiana.
Ardian memandang mata indah milik Tiana, namun beberapa kali juga pandangan mereka bertubrukan membuat keduanya langsung memutus pandangan mereka dengan memalingkan wajah.
Karena Abah yang sudah terlalu lama duduk akhirnya, Umi memutuskan untuk membawa Abah kekamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Tinggallah mereka bertiga yang memandang kepergian Abah hingga hilang dibalik dinding penghubung antara ruangan satu dengan ruangan yang lainnya.