PERNIKAHAN 2 CINCIN

PERNIKAHAN 2 CINCIN
BAB 27 AISYAH DAN PERMASALAHANNYA (2)


__ADS_3

"Kau sebaiknya melaporkan perbuatan suamimu ini kepolisi, dan buatlah kesepakatan agar dia tidak mengulangi lagi kesalahannya, jika ia terus memukulimu jebloskan saja ia kepenjara, yang penting sekarang kau harus memberikan suamimu kesempatan dulu untuk berubah, berdoa kepada-Nya dan memohon agar suamimu dibukakan pintu hatinya, jika ia tidak bisa merubah tabiatnya yang suka memukulimu, maka keputusan ada padamu"


Ucap Tiana memberikan solusi.


"Benar Aisyah, apa yang dikatakan Tiana itu benar, sebaiknya sekarang kau laporkan saja dulu perbuatan suamimu itu, jika kau diam saja ia akan berpikir untuk terus memukulimu dan menginjak harga dirimu, setidaknya saat ia tahu kau melaporkannya kepolisi, ia akan menyadari bahwa kau tidak main-main akan menjebloskannya kepenjara, sehingga ia menyadari untuk tidak memukulimu lagi"


Siti yang tadinya tenang kini mulai emosi.


"Perceraian memang tidak dilarang, tapi Allah sangat membencinya, percayalah jika kau bersabar menghadapi perihnya kehidupan maka kesabaranmu itu yang akan membawamu ke surga, sekarang kau beri dulu kesempatan kepada suamimu untuk memperbaiki kesalahannya, dan berdoa kepada-Nya agar diberikan kesadaran kepada suamimu, jika ia tidak berubah kau bisa memilih jalan mana yang akan kau tempuh, apakah kau akan bercerai dan menjebloskannya kepenjara, atau kau akan terus bertahan dan memohon kepada Tuhan agar diberikan kesabaran yang seluas samudra, sanggup tidak sanggup hanya dirimu yang tau, karena kau yang menjalaninya, orang lain hanya pandai menasehati tak tau bagaimana rasanya, hidup orang tidak semua sama, dan yakinlah tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki, maka dari itu, berdoalah agar Tuhan memberikan kesadaran pada suamimu, agar kau tak merasakan namanya perceraian"


"Semua itu tergantung padamu, kami sahabatmu hanya bisa menyemangatimu, memberi solusi dari permasalahanmu, sisanya ada padamu, keputusan terakhir kamu yang memilih, memohonlah petunjuk kepada-Nya, semoga diberikan yang terbaik untuk rumah tanggamu"


Ucap Tiana sambil memeluk sahabatnya, mereka bertiga berpelukan untuk memberikan semangat kepada Aisyah.


Tok..... tok..... tok.....


Pintu kamar diketuk, terdengar suara Fatimah yang meminta agar kakaknya segera membukakan pintu untuknya.


Tiana bangkit kemudian berjalan menuju pintu untuk membuka pintu kamarnya.


"Assalamualaikum kak"


"Walaikumsalam dek, ada apa?"


"Umi dan Abah sudah pulang"


"Tadi mereka menunggu kakak, tapi kakak tidak muncul-muncul, ditelpon tapi hp kakak tidak nyambung, makannya Umi dan Abah putuskan mereka pulang saja"


Ucap Fatimah sambil celingak celinguk didepan kamar Tiana.


"Astagfirullah, kakak lupa dek, hp kakak mungkin lobet makanya ditelpon gak nyambung"


"Abah dan Umi sekarang dimana?"


Tanya Tiana mulai panik.


"Ada tuh dikamarnya"


"Ya sudah kakak mau temui mereka dulu"


Namun langkah Tiana tertahan karena Fatimah menahannya.


"Ehh... Tunggu dulu, yang didalam kamar kakak siapa?"


Tanya Fatimah sambil terus melihat kedalam kamar Tiana.


"Ohhh itu, itu Siti sama Aisyah, sahabat kakak"


Jawab Tiana sambil melihat kearah sahabatnya.


"Ohhhh"


Fatimah hanya ber oh ria.


Tiana lalu meninggalkan Fatimah menuju kekamar Abah dan Uminya.


Tok tok tok


Tiana mengetuk pintu lalu membuka pintu kamar Abah dan Umi, ia lalu masuk dan melihat Abah yang sedang berbaring lalu disampingnya ada Umi sedang mengambilkan segelas air untuk Abah.


"Assalamualaikum Abah, Umi"

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Tiana lalu mendekat kearah Abah dan Umi, lalu menciumi tangan dan pipi kedua orang tuanya yang begitu sangat dia sayangi.


"Walaikumsalam"


Jawab Abah dan Umi bersamaan.


"Maafkan Tiana Abah, Tiana lupa menjemput Abah tadi dirumah sakit, hp Tiana lobet"


"Tidak papa nak, itu bukanlah suatu masalah, Abah juga tau kamu sedang mengurus pondok pesantren semenjak bapak sakit, justru bapak yang meminta maaf karena bapak sakit, kamu jadi sendiri mengurus semuanya"


"Abah jangan bicara seperti itu, walaupun seluruh tenaga dan umurku ku baktikan untuk mengurus pondok pesantren milik Abah, tidak akan bisa membalas kebaikan Abah dan Umi selama ini"


Ucap Tiana dengan suara yang dilembutkan.


"Sudah, Abah istirahat dulu, jangan banyak bicara lagi, Tiana mau abah lekas sembuh, Tiana sedih jika Abah seperti ini"


Umi lalu memeluk Tiana, ia merasa sedih karena kondisi suaminya.


"Umi jangan sedih, insyaAllah Abah akan segera sembuh"


"Tiana"


"Iya Abah"


Tiana lalu duduk didekat kaki abah, sambil memijat kaki abahnya dengan lembut.


"Kamu anak Abah paling tua, jika Abah sudah tidak ada, Abah tidak akan khawatir meninggalkan kalian, sebab ada kamu yang akan menjaga Umi dan adikmu Fatimah"


Ucap Abah sambil memandang wajah Tiana.


Memandang wajah putri sulungnya yang selama ini selalu menjadi kebanggaannya, terlihat pula senyuman dibibir Abah yang pucat.


Umi mulai terisak mendengar kata-kata dari suaminya, ia belum siap jika harus ditinggalkan oleh Abah.


Ucap Abah yang melihat air mata sudah membasahi kedua pipi istrinya.


"Abah hanya ingin melihat kamu bahagia nak, Abah ingin melihat anak-anak Abah menikah sebelum Abah pergi"


"Abah jangan berbicara seperti itu, jodoh sudah diatur, jadi kita manusia tak perlu khawatir, Tiana juga akan selalu berdoa kepada-Nya agar Abah diberikan umur yang panjang"


Ucap Tiana sambil memeluk Abah.


"Abah harus janji sama Tiana, abah janji harus segera sembuh"


Abah hanya menjawab perkataan Tiana dengan anggukan.


***


"Abah kamu sakit ya Tiana?"


Tanya Siti yang melihat wajah Tiana yang sedih sejak kembali dari kamar Abah dan Umi.


"Iya Abah sakit, sebenarnya tadi aku ingin menjemputnya dirumah sakit, karena hari ini Abah sudah dibolehkan untuk pulang, tapi aku lupa, hpku juga ternyata lobet makanya mereka tak bisa menghubungiku"


Ucap Tiana sambil menghembuskan nafas dengan kasar.


"Maafkan Aku Tiana, karena aku, kau jadi lupa untuk menjemput Abahmu"


Ucap Aisyah.


"Tidak papa, Aisyah"

__ADS_1


Ucap Tiana sambil tersenyum pada Aisyah.


"Jadi apa selanjutnya yang akan kau lakukan untuk memberi efek jerah kepada suamimu itu?"


"Besok aku akan kekantor polisi untuk melaporkan kasus ini, aku juga akan menghubungi pengacara orang tuaku agar mengurus masalah ini secepatnya, aku tak ingin mereka tau"


"Sudah cukup aku membuat mereka susah dengan membesarkanku, aku tak ingin mereka juga ikut pusing karena masalahku ini"


Ucap Aisyah sambil menghela nafas pelan.


"Benar Aisyah, sudah cukup lelah mereka membesarkan kita sampai seperti ini, jika belum sanggup untuk membahagiakan orang tua, minimal kita tak membebani mereka dengan permasalahan kita"


Ucap Siti nampak setuju dengan pendapat Aisyah.


"Tapi suamimu akan mencarimu, bagaimana jika mereka menghubungi orang tuamu?"


Tanya Aisyah.


"Dia tidak akan melakukan itu"


Ucap Aisyah dengan sangat yakin.


Tiana dan Siti nampak bingung, keduanya saling berpandangan, merasa bingung dengan perkataan Aisyah.


"Suamiku tidak akan melakukan itu karena, mertuaku dan Ayahku sudah bersahabat sejak mereka sekolah dulu, mertuaku memang mengizinkan poligami, tapi tidak dengan kekerasan, suamiku itu sangat takut kepada ayah mertuaku, jadi dia tak akan memberitahu kepada mertuaku apalagi pada orang tuaku"


"Kalian juga tau sendirikan bagaimana sifat ayahku, dia tidak akan segan-segan akan membuat perhitungan pada orang yang sudah menyakitiku, makanya aku tak ingin mereka tau"


"Baiklah besok kita akan kekantor polisi, aku akan menemanimu"


Ucap Siti sambil memegang tangan Aisyah, diikuti juga dengan Tiana.


"Aku juga akan ikut menemanimu"


"Kita, aku dan Siti akan menemanimu, melalui semuanya sama-sama"


Mereka bertiga lalu berpelukan, memberi dukungan kepada Aisyah agar tetap kuat karena ada Tiana dan Siti sahabatnya yang akan selalu ada untuk menemaninya melewati permasalahan dalam rumah tangganya.


"Sahabat untuk selamanya"


Ucap Tiana yang dibalas senyuman oleh Aisyah dan Siti.


"Jangan menangis lagi, bidadari surga"


Ucap Tiana sambil menghapus air mata dipipi Aisyah.


"Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti kalian, dan aku tak tau harus kemana jika tak ada kau Tiana"


"Untuk sementara kau bisa tinggal disini bersamaku, sampai masalah dengan suamimu selesai"


"Terima kasih Tiana, kau sahabat terbaikku"


Ucap Aisyah sambil memeluk Tiana begitu erat.


"Jadi sahabat terbaikmu hanya Tiana, jadi aku apa dong"


Ucap Siti.


"Remahan rengginang kau juga sahabat terbaikku"


Ucap Aisyah meledek Siti.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Aisyah, seketika tawa mereka pecah karena merasa lucu dengan apa yang Aisyah katakan.


__ADS_2