
Dirumah sakit tempat dimana Aisyah dirawat, Tiana yang sejak kemarin menemaninya sedang membereskan barang-barang milik Aisyah, karena hari ini mereka akan pulang, sebab dokter telah mengizinkan Aisyah untuk pulang karena kondisinya sudah lebih baik sekarang.
Karena usia kandungan Aisyah yang terbilang masih awal, sehingga tidak mengharuskan Aisyah untuk melakukan oprasi lagi. Dokter hanya memberikan beberapa obat yang bisa membuat kandungan Aisyah menjadi bersih. Dan setelah dilakukan USG dan dokter memastikan jika rahim Aisyah benar-benar sudah bersih, syukurnya Aisyah akhirnya diperbolehkan juga untuk pulang.
Semenjak hari itu dimana Aisyah mengusir Sidan, sampai hari ini juga ia belum datang kembali melihat bagaimana kondisi Aisyah. Tiana yang tau bagaimana perasaan sahabatnya itu memilih untuk tak membahas lagi tentang permasalahan rumah tangga mereka. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Aisyah.
Tiana melihat Aisyah yang duduk sambil bersandar di bangsal, Tatapan mata Aisyah kosong, ntah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, namun Tiana tau pasti jika sahabatnya itu sedang memikirkan tentang bagaimana kelanjutan dari rumah tangganya.
"Ayo kita pulang" Ucap Tiana kemudian duduk dikursi yang berada disamping Aisyah.
Aisyah memandang kearah pintu masuk, membuat Tiana yang sedang melihat Aisyah beralih juga ikut menoleh ke arah yang sama dengannya.
Tiana mengerti jika sahabatnya itu sedang menunggu seseorang, dan orang itu tak lain adalah suaminya.
"Kau menunggunya?" Tanya Tiana yang sedang melihat Aisyah yang tak henti-hentinya memandang kearah pintu masuk. Lalu dijawab dengan gelengan kepala oleh Aisyah.
"Jangan bohongi perasaanmu, jika memang kau masih mengharapkan rumah tanggamu tetap utuh, maka kembalilah kepada suamimu" Ucap Tiana sambil memegang pundak sahabatnya itu.
Aisyah menghela nafasnya pelan. "Aku tidak tau Tiana, aku ingin sekali kembali memperbaiki hubunganku dan suamiku, namun hatiku terus saja menolaknya. Hati kecilku berkata tidak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini, dan lebih baik jika aku dan suamiku cerai saja"
"Jangan selalu mengandalkan kata hati Aisyah, kita tidak bisa selalu mempercayai kata hati kita, karena bisa jadi itu hanya tipu daya muslihat setan, karena setan akan selalu membisiki kita agar mereka bisa membuat rumah tangga orang menjadi hancur"
"Aku takut jika Sidan akan kembali menyakitiku Tiana" Ucap Aisyah dengan ekspresi takut yang terlihat diwajah pucatnya.
Tiana mengerti akan ketakutan sahabatnya itu. Bagaimana pun setiap perempuan yang mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, maka kejadian itu akan membekas selamanya diingatannya. Jadi wajar saja jika Aisyah merasa takut dengan perlakuan suaminya.
"Bukankah kau sudah melaporkannya kepolisi, dan waktu itu kau bilang akan memberikan kesempatan kepada suamimu dan akan membuat kesepakatan kembali dengannya agar dia mau merubah sikapnya"
"Tapi karena dia juga sekarang aku harus kehilangan bayiku Tiana, aku takut jika hal itu akan terulang lagi" Ucap aisyah dengan nada suara yang kini sedikit lebih keras.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum pasti terjadi Aisyah, kau harus menjalani dulu apa yang sedang terjadi sekarang, setidaknya kau sudah memberikan kesempatan untuk suamimu, biarkan dia membuktikan jika memang benar dia telah menyesali perbuatannya"
__ADS_1
"Aku tidak bisa Tiana, aku tak sanggup lagi menjalani pernikahan yang penuh dengan air mata ini" Jawab Aisyah kini matanya mulai basah karena air mata yang keluar begitu saja.
"Istigfar Aisyah, setan sedang mempermainkan perasaanmu" Ucap Tiana sambil memegang erat tangan Aisyah.
Aisyah lalu memejamkan kedua matanya kemudian beristigfar seraya berdoa meminta petunjuk kepada Tuhan agar dirinya bisa menentukan apa yang harus ia pilih, apakah bercerai atau kembali memperbaiki rumah tangganya bersama Sidan.
Saat Aisyah membuka kembali matanya samar-samar ia melihat suaminya sedang berdiri dipintu masuk. Aisyah lalu mengucek-ngucek matanya ingin memperjelas apa yang dia lihat, apakah sosok itu benar adalah suaminya.
Aisyah membulatkan kedua Matanya karena melihat sosok yang sedang berdiri dipintu masuk, sambil memandang kearah dirinya adalah Sidan lantas membuat Aisyah menjadi sangat kaget.
Tiana yang melihat ekspresi wajah Aisyah kembali menoleh kearah pintu masuk dan melihat jika ada Sidan di sana yang sedang berdiri sambil menatap kearah sahabatnya yang kaget karena kehadirannya.
Perlahan-lahan Sidan kemudian melangkah mendekat ke bangsal tempat Aisyah sedang berbaring.
Melihat Sidan yang mendekat Aisyah lalu membalikkan tubuhnya karena tak ingin bertatap muka dengan orang yang telah membuatnya kehilangan bayinya.
Tiana bangkit kemudian membiarkan Sidan untuk duduk ditempat yang tadi ia duduki.
"Kumohon maafkan aku Aisyah, maafkan aku istriku" Ucap Sidan sambil mencium tengkuk Aisyah.
"Aku bukan istrimu lagi, kau lupa kau sudah menceraikan ku beberapa hari yang lalu"
"Waktu itu aku khilaf Aisyah, percayalah aku tak bersungguh-sungguh mengatakan itu kepadamu" Ucap Sidan kemudian memegang tangan Aisyah kemudian menciuminya.
"Aku janji akan berubah, aku sadar aku sudah salah padamu" Aisyah lalu membuka kedua matanya mendengar apa yang Sidan katakan.
"Sekarang kau berjanji besok akan kau ulangi lagi" Ucap Aisyah tersenyum sinis.
"Aku bahkan sampai hafal dengan janji yang selalu kau ucapkan itu tapi selalu saja kau ingkari" Lanjut Aisyah berhasil membungkam mulut Sidan.
"Lepaskan, jangan sentuh aku" Ucap Aisyah Lagi sambil berusaha melepaskan pelukan dari Sidan.
__ADS_1
Tiana yang melihat percakapan antara sahabatnya dan suaminya itu memilih untuk diam dan sedikit menjauh. Tiana duduk di sofa yang tak jauh dari bangsal Aisyah, Tiana sengaja melakukan itu agar mereka berdua lebih nyaman berbicara tanpa merasa canggung karena kehadiran Tiana disana.
"Beri aku kesempatan Aisyah, aku akan membuktikan jika aku benar-benar akan berubah" Ucap Sidan membuat Aisyah kemudian mulai berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia harus menerima kembali Sidan dan mau rujuk dengannya.
Beberapa saat Aisyah terus diam dengan pikirannya sendiri, sedangkan Sidan memutuskan kembali duduk disamping Aisyah.
"Aku akan menunggumu, sampai kau benar-benar akan memaafkan ku"
Tak lama kemudian akhirnya Aisyah membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Sidan yang sedang duduk disampingnya.
"Apakah kau yakin akan benar-benar berubah?" Tanya Aisyah ingin memastikan kesungguhan suaminya itu.
"Aku bersumpah, demi Tuhan aku akan berubah Aisyah"
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, kau yang melakukan kesalahan mengapa Tuhan yang harus kau ikut sertakan dalam masalahmu" Ucap Aisyah menatap tajam kearah Sidan.
"Aku janji akan berubah, berikan aku kesempatan maka aku akan membuktikannya kepadamu" Ucap Sidan sambil memegang wajah Aisyah.
"Dan jika kau mengulanginya lagi bagaimana?" Tanya Aisyah kini dengan ekspresi serius diwajahnya.
"Aku akan berusaha semampuku untuk tidak mengulangi kesalahanku lagi, jika aku mengulangi lagi kesalahanku, maka kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan termasuk membunuhku Aisyah" Ucap Sidan bersungguh-sungguh, membuat Aisyah yang mendengar perkataan Sidan serta melihat ekspresi darinya, merasa jika benar suaminya itu telah mengakui kesalahannya.
"Untuk berjaga-jaga aku akan tetap membuat surat perjanjian denganmu, aku tidak ingin kau bodohi lagi dengan terus mempercayaimu, sedangkan kau terus saja mengulangi kesalahanmu itu"
"Lakukan saja apa yang kau inginkan asalkan kita tetap bersama Aisyah, aku hanya ingin tetap mempertahankan rumah tangga kita, maafkan aku karena kesalahanku, kita harus kehilangan bayi kita" Ucap Sidan sambil memegang perut Aisyah, membuatnya meneteskan air mata karena ia harus kehilangan bayinya.
"Apakah kau juga akan tetap menikah lagi?"
Sidan tersenyum mendengar pertanyaan dari Aisyah, ia kemudian memegang pipi Aisyah sambil membelainya. "Tentu saja aku tidak akan melakukan itu, aku berpikir aku mempunyai istri 1 saja belum sanggup untuk membahagiakannya, apalagi jika aku menambah 1 istri lagi,
mungkin hanya akan membuat kalian berdua malah akan semakin menderita" Ucap Sidan, terlihat raut wajah penyesalan diwajahnya.
__ADS_1
Aisyah akhirnya tersenyum mendengar apa yang suaminya katakan, Aisyah merasa senang karena suaminya tak jadi membagi cintanya pada wanita lain dan hal itu juga yang membuat Aisyah sangat bersyukur.