
Plakkk...
Larisa mendaratkan kembali tangannya dipipi Rara, membuat Rara meringis kesakitan karena untuk kedua kalinya ia mendapatkan tamparan yang begitu keras di pipinya yang sama.
"Itu untuk perempuan tidak punya malu sepertimu" Ucap Larisa sambil menunjuk kewajah Rara yang kini memerah karena tamparan darinya.
"Kau..." Ucapan Rara tertahan.
Plakkk...
"Dan itu untuk perbuatanmu yang telah berani mempermalukan saudaraku dengan menarik cadarnya"
Belum sempat Rara melanjutkan kata-katanya, tangan Larisa mendarat lagi dipipi Rara di bagian lainnya. Membuat Rara semakin marah dan mengangkat tangannya ingin membalas Larisa, namun dengan sigap Larisa menahan perlawanan dari Rara dengan memegang tangan Rara dan mencengkram kuat tangannya. Membuat Rara semakin meringis kesakitan karena tangannya dicengkram begitu kuat oleh Larisa.
"Aauu, sakit. Lepaskan tanganku" Ucap Rara berusaha melepaskan cengkraman tangan Larisa. Namun akhirnya Larisa melepaskan juga cengkramannya.
"Dan satu lagi, aku ingin berterima kasih seperti abah yang berterima kasih kepadaku karena telah menjadi penghalang sehingga pernikahan Tiana dan Ardian dibatalkan. Karena kamu juga, aku tak jadi hidup dalam pernikahan yang penuh dengan air mata penderitaan karena sebuah penghianatan" Ucap Larisa saat akan meninggalkan Rara. Sedangkan Ardian hanya menatap wajah mantan calon istrinya yang kini menjadi istri Alex dengan tatapan penuh kebencian.
"Sekarang pergi dari sini, sebelum aku benar-benar menghancurkan wajah mulusmu itu" ancam Larisa, meninggalkan Rara yang masih diam berdiri dipintu masuk.
"Ayo pergi, tunggu apa lagi"
Rara kemudian keluar dari ruangan itu, ia berjalan lebih dulu meninggal Ardian yang kemudian ikut berjalan dibelakangnya.
"Kau tidak papa?" Tanya Tiana, kini ia telah memakai kembali cadarnya yang tadi sempat Rara tarik.
"Aku tidak papa"
"Terima kasih Larisa" Ucap Tiana sambil tersenyum melihat kearah Larisa.
"Untuk apa kak?"
__ADS_1
"Karena kau sudah memberi pelajaran pada wanita itu" Ucap Tiana sambil tertawa. "Kau hebat" Ucap Tiana lagi sambil mengangkat kedua jempolnya. Dan diikuti juga oleh Fatima Umi, dan Aisyah yang mengangkat juga kedua jempol mereka masing-masing.
***
"Sial, kenapa bisa jadi begini" Ucap Ardian sambil menendang-nendang mobilnya sangking kesalnya, karena kini ia berada diparkiran rumah sakit. Sedangkan Rara hanya diam tak mempedulikan apa yang bosnya itu lakukan.
"Waktu itu, saat kita pergi ke mall untuk membeli sebuah hadiah untuk Larisa. Sebenarnya dia dan wanita bercadar itu ada disana" Ucap Rara, membuat Ardian kini menyadari karena waktu itulah sehingga Tiana bisa mengetahui antara dia dan Rara.
"Mengapa kau tak memberi tahuku jika mereka berdua juga ada disana waktu itu?" Tanya Ardian sambil menjambak rambutnya karena frustasi dengan masalah yang ia hadapi, apalagi kini ia telah kehilangan Larisa yang sudah menjadi istri sah dari Alex. Namun Rara hanya diam, tak tau harus menjawab apa.
"Kenapa juga kau harus menarik cadar Tiana? kau ini membuatku malu saja"
"Aku hanya penasaran dengan wajah wanita itu pak" Jawab Rara membuat Ardian menggeleng-gelengkan kepala dengan apa yang Rara katakan.
"Tapi pak bagaimana dengan kerjasama kita dengan AGPWare? Setelah ini pasti mereka akan memutuskan kerjasama kita"
"Kau benar juga Rara, tapi biarlah itu menjadi masalah nanti. Aku sangat pusing, aku butuh ketenangan saat ini" Ucap Ardian kemudian masuk kedalam mobil, sedangkan Rara masih diam saja ditempatnya.
*
*
*
Pintu masuk ruangan Aisyah terbuka kembali, semua yang berada dalam ruangan kemudian menoleh kearah pintu, merasa khawatir jika saja kedua tamu yang tak diundang itu kembali dan membuat masalah lagi.
Beberapa saat mereka diam terpaku memandang kearah pintu, namun tiba-tiba yang masuk kedalam ruangan adalah Robi.
Semua yang ada didalam ruangan Aisyah menghela nafas lega karena mereka bersyukur ternyata yang datang adalah Robi, bukanlah 2 tamu yang tak diundang tadi.
"Dari mana saja kau, bukankah aku menyuruhmu untuk berjaga-jaga, jika saja ada yang menggangu acara ku hari ini" Ucap Alex sambil bertolak pinggang dan nada suaranya yang keras.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya tadi ketoilet sebentar karena saya merasa kebelet, apakah ada yg anda butuhkan?" Tanya Robi sedikit ketakutan karena ia melihat ekspresi marah di wajah Tuannya itu, namun ia tak tau apa sebenarnya yang membuat Tuannya bisa semarah itu, padahal beberapa saat tadi Tuannya masih terlihat sangat bahagia karena telah menikahi wanita yang sangat ia cintai.
"Aku ingin memutuskan kerjasama dengan AAGroup, dan buat perusahaannya jadi hancur, pastikan semua perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya, juga memutuskan kerjasama sama seperti kita. Aku benar-benar ingin menghancurkan perusahaan itu sampai hancur berkeping-keping karena telah menghina istriku" Ucap Alex berapi-api, terlihat dari wajahnya yang sangat menakutkan jika ia sedang marah namun tak mengurangi ketampanannya.
Robi yang mendengar perintah dari Tuannya kini mengerti apa yang membuat Tuannya menjadi marah seperti itu.
"Baiklah Tuan" Ucap Robi sambil memberi hormat pada Tuannya.
"Tunggu" Teriak Larisa, membuat Alex dan Robi kemudian menoleh kearahnya.
"Jangan karena amarahmu, sehingga menghilangkan sifat manusiawi dalam dirimu, aku tau kau orang yang baik, dan itu pula yang membuat hatiku merasa yakin memilihmu untuk menjadi imamku" Ucap Larisa menatap wajah tampan milik Alex yang kini telah menjadi suaminya.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti sayang"
"Jangan lakukan hal yang hanya akan merugikan dirimu sendiri, kumohon jangan lakukan itu pada mas Ardian. Jangan hancurkan perusahaannya"
Kening Alex berkerut mendengar apa yang larisa katakan. "Memangnya kenapa, aku tak suka karena Ardian telah menghinamu, kenapa kau malah melarang ku untuk memberikan pelajaran kepadanya?" Ucap Alex sambil memegang kedua pundak Larisa.
"Jangan lalukan itu, biarkan saja dia menghinaku. Tapi aku mohon jangan melakukan hal jahat kepada orang lain. Jika kita berbuat baik, maka kebaikan itu pula yang nanti akan berbalik kepada kita" Ucap Larisa berusaha memberi pengertian kepada suaminya yang baru ia nikahi beberapa saat tadi.
"Aku sudah memaafkannya, biarkan saja dia melanjutkan hidupnya. Yang terpenting sekarang hanya ada aku, kamu, dan anak kita" Ucap Larisa lagi sambil menempelkan tangan Alex diperutnya yang kini semakin membuncit.
"Aku sama sekali tidak membenci mas Ardian, aku tau jika ia melakukan itu dengan Rara karena wanita itu terus saja menggodanya. Tapi aku juga sudah memberi pelajaran pada wanita tak tau malu itu, dan sekarang perasaanku sudah benar-benar lega" Larisa tersenyum kearah Alex yang hanya memandangnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Apakah kau yakin?" Tanya Alex sambil menatap dalam-dalam mata Larisa ingin menemukan kebohongan didalamnya, namun ia sama sekali tak menemukannya. Alex berpikir mungkin benar jika istrinya itu kini telah benar-benar memaafkan orang yang telah menghinanya.
Larisa menganggukkan kepala. "Aku ingin memulai rumah tangga kita dengan awal yang baik, dan itu dimulai dengan menyingkirkan masa laluku. Maka dari itu aku tak ingin kau membalas perbuatan mas Ardian kepadaku, sebab aku tak ingin berurusan lagi dengannya"
"Baiklah jika itu mau mu. Tapi, sepertinya kau hanya harus berurusan denganku malam ini" Ucap Alex sambil menaikkan kedua alisnya kearah Larisa yang spontan saja membulatkan kedua matanya karena mendengar perkataan suaminya itu.
Robi yang mendengar percakapan antara kedua majikannya itu tertawa geli dibuatnya, namun segera menghentikan tawanya karena takut jika Tuannya itu akan melihatnya, yang sudah dipastikan ia akan mendapatkan hukuman karena perbuatannya.
__ADS_1
Akhirnya Alex dan Larisa memutuskan untuk pulang ke kediaman Alex, sedangkan Tiana tetap berada di rumah sakit menemani Aisyah sampai dia benar-benar sembuh dan diperbolehkan untuk pulang. Begitu juga Abah, Umi, dan Fatimah yang akhirnya juga kembali pulang ke pondok pesantren karena Abah harus mengisi materi untuk para santri.